AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SEKARANG KELUARKAN SURAT ITU


__ADS_3

hi all sedang menunggu ya..! untuk bab kali ini saya kasih bonus sedikit panjang untuk klean so happy reading.


setelah makan siang, merekapun ingin pergi kezona mana namun, hal tak terdugapun terjadi.


"tap.. tap.. tap.. lapor yang mulia."


melihat ekspresi lannox yang dingin, sang kesatria itu merasa tidak enak, namun harus tetap melaporkannya.


"ada apa?"


"yang mulia! itu dipintu gerbang mantion, ada kereta kuda sedang menunggu izin untuk bertamu."


"siapa..?"


"saya tidak tahu yang mulia, dia hanya bilang ingin bertemu dengan yang mulia putri."


"lancang sekali, siapa yang berani bertemu tanpa membuat janji terlebih dahulu! apa dia perempuan atau lelaki?"


"le..lelaki yang mulia."


"suruh dia pulang."


"ta..tapi, yang mulia.. dia bilang ada hal penting yang harus disampaikan pada yang mulia putri."


"aku tidak peduli, suruh dia pergi.. lancang sekali sudah tidak membuat janji malah memaksa untuk bertemu, ah tunggu dulu, dari keluarga mana dia berasal?"


"dia hanya bilang dia datang dari benua barat, dan ingin menyampaikan pesan untuk yang mulia putri!"


"pergi tanyakan lagi.. dari keluarga mana dia? dan katakan pesan apa yang ingin dia sampaikan, jika dia tidak mahu menjawabnya, suruh saja pergi! gerbang tidak akan dibuka untuk tamu yang tak diundang."


"baik yang mulia"


kesatria itupun segera berlari untuk menyampaikan pesan dari lannox.


'ini sangat mencurigakan? dia tidak memperkenalkan gelar bangsawannya. dan hanya mengatakan ingin menyampaikan, pesan.'


"ada apa ayah?"


"sayang, apa kau ada mengenali keluarga bangsawan dari negara lain?"


"hmm, tidak ada ayah."


"baiklah! kita akan tahu jawabannya nanti?"


"apa tidak bisa! tapi ini.., kalau begitu bisakah kau panggilkan yang mulia putri? saya hanya ingin menyampaikan pesan ini hanya untuk yang mulia putri."


"tidak bisa, kalau begitu berikan saja pesan itu kepada saya, biar saya sampaikan kepada yang mulia putri."


"tidak bisa! ini hanya bisa diberikan langsung kepada yang mulia putri."


sang kesatria sedikit bingung dengan gelagat pria itu? karena dia tetap ngotot ingin bertemu sang putri.


"dari keluarga mana anda? beraninya anda ingin menemui yang mulia putri tanpa membuat janji terlebih dahulu."


"ma..maafkan atas kelancangan saya sebelumnya, karena tidak memperkenalkan diri, saya adalah dolchan. saya datang kemari hanya untuk menyampaikan surat buat yang mulia putri."


'hmm.. aneh sekali, mengapa yang mulia meminta data keempat para prajurit dan, sampai harus di rahasiakan segala? entahlah! terkadang aku tidak mengerti pola pikir yang mulia.?'


sementara disebuah kota tempat rog berada, rog berjalan ingin kembali pulang kemarkas, namun saat ia sedang melangkah terdengar suara bisikan lirih ditelinganya.


"kita bertemu besok malam ditempat biasa datanglah pada pukul sepuluh."


'suara ini..?'rog menoleh kesamping dan, kebelakang. namun tidak ditemukan siapapun, ia jadi merinding sendiri dan segera mempercepat langkahnya. keesokan harinya, ia datang tepat seperti hari yang dijanjikan saat melirik kesekitar penginapan setelah benar-benar merasa aman, dia melangkah dengan pasti. dan saat tangannya akan menyentuh gagang pintu, terdengar suara bariton dari dalam.


"masuklah." rog sedikit kaget, karena kedatangannya sudah diketahui. diapun memegang gagang pintu dan membukanya perlahan, "ceklik" tampak dua sosok pria tampan dengan santai sedang duduk dikursi sambil menyesap teh hangat.


"halo tuan, apa saya terlambat?"


suasana hening sesaat, dan beberapa detik kemudian terdengar suara bariton milik tama.


"nak kau sedang diikuti seseorang, seharusnya kau berhati-hati saat kesini."


'sebenarnya siapa pria ini.. dia terlihat hanya tua beberapa tahun dariku tapi kenapa dia suka sekali memanggilku nak..! dan darimana dia tahu ada yang mengikutiku, bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya!' tama dan gira yang terlihat sangat muda bagi rog dan, rog merasa mereka tidak berbeda jauh dari usianya padahal kenyataannya akan membuatnya sangat terkejut "apa maksudmu? saat aku kesini aku sudah sangat berhati-hati dan melihat kesekitar namun..."


"sssstttttt, diamlah."


"ada apa" tanyanya pelan.


"ada beberapa orang diluar."


tama menatap roya, roya mengangguk mengerti. kemudian ia mehilang dalam sekejap, dan membuat rog terkejut. roya melihat rog sedikit kaget, tama tersenyum dan menepuk pundak rog.


"tenanglah bukankah kau sudah sering melihat hal seperti ini, tapi kenapa kau terlihat terkejut begitu! dasar bocah aneh."


masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, namun keinginan itu kembali ia kubur dalam-dalam. dari pertemuan awal hingga sekarang semua yang terjadi benar-benar diluar nalar.


"tu..tuan!" tama menoleh pada rog.


"siapa anda sebenarnya?"


"hmm nak, sepertinya kau mulai diawasi, situasimu sekarang sudah tidak aman lagi disini?"


tama mengalihkan pembicaraannya.


"a.. apa maksudmu?"


"tik" tama menjentikkan jarinya, dalam waktu bersamaan sosok girapun muncul kembali. tenanglah nak, aku sudah memasang sihir peredam suara, jadi bicaralah dengan santai, seru tama menyeringai.


"ya kau tenang saja bocah! para penyusup yang mengikutimu telah aku kirim pulang kehutan larangan, heh ya.. itupun sukur-sukur kalau mereka masih hidup." seru roya santai, rog jadi bergidik ngeri mendengarnya.


'hutan larangan? bukankah itu tempat orang-orang sering hilang secara misterius disana!'


"jika kau tidak punya tempat untuk dituju, ikutlah bersamaku." ujar tama

__ADS_1


rog merenung sejenak wajahnya dipenuhi keraguan.


"lalu bagaimana dengan adikku?"


......................


dikekaisaran sang kaisar yang tengah jengah menghadapi pergolakan diruang rapat, perdebatan seakan tidak ada habis-habisnya.


"apa kalian sudah selesai..?"


suasana yang berisik menjadi hening dalam sekejap, karena teriakan sang kaisar.


"apa kalian sudah selesai berdebat? lalu apakah kalian sudah menemukan solusi terhadap wabah yang menyerang di kota vala!"


"ma..masih belum baginda!"


"lantas, apa yang kalian perdebatkan sejak tadi? jika tidak menemukan hasil dari masalah ini? kalian hanya membuang-buang waktuku saja. pokonya aku tidak mahu tahu, temukan cara untuk menyelesaikan kasus ini. aku beri waktu tujuh hari, dalam tujuh hari jika kalian masih tidak menemukan solusi..! kalian akan aku pecat, kita akan bertemu lagi tujuh hari mendatang, rapat selesai."


semuanya pada terdiam dan, kaisarpun pergi dengan raut wajah yang masam.


"yang mulia! dia hanya bilang ingin menyampaikan surat untuk tuan putri, ah, dia menyebutkan nama tuannya rael. dan, katanya yang mulia putri mengenali tuannya."


"rael, mmm oh ia ravel pernah bertemu dengannya sekali."


'tapi apanya yang begitu penting sampai harus menyampaikan surat segala! huh daripada pak tua ini membuat keributan lebih besar lagi, ada baiknya kutemui saja orang itu.'


"ayah tidak apa-apa! biarkan ravel yang menemuinya."


"hmm.. apa kau yakin..!"


"ayah tenang saja."


"baiklah, biarkan ayah mengantarmu."


"ah tidak perlu, ayah tunggu disini saja, aku tidak akan lama kok."


ravellapun bergegas pergi sebelum ayahnya berubah pikiran.


'hmm, aku yakin dia pasti sangat kesal karena orang asing dengan lancangnya memaksa bertemu dan tetap ngotot tidak mahu pergi, kalau sampai dia ikut aku yakin, orang itu pasti pulang meninggalkan nama huh merepotkan sekali..! tidak bisakah tidak menggangu waktuku?'


"ah maafkan saya yang mulia putri, karena telah memaksa anda untuk bertemu. karena jika saya tidak menyampaikannya secara langsung kepada anda, ini juga akan menyulitkan bagi saya, terimakasih karena anda telah sudi meluangkan waktu anda yang berharga."


'hmm dilihat dari pembicaraannya, jika aku tetap menolak dia pasti akan dimarahi.'


"hmm, ada apa anda ingin bertemu denganku?"


"ah iya, saya kebanyakan bicara hingga lupa, maafkan saya. ini saya datang kemari ingin menyampaikan surat dari tuan rael untuk anda yang mulia."


"hmm baiklah" ravella mengambil surat itu "sebenarnya kalian berasal darimana?"


"kami berasal dari negara gyoura, saya adalah dolchan tuan saya adalah Marques rael."


"mm.. begitu ya, baiklah terimakasih telah jauh-jauh datang kemari. anda pasti sangat lelah! mampirlah dulu?"


"baiklah, maaf aku tidak bisa mengantarkanmu!"


"ah, tidak perlu! anda pasti sedang sibuk, maaf telah mengganggu waktu anda! saya mohon undur diri dulu."


"hmm, silahkan." kemudian ravellapun pergi menyusul sang ayah yang sudah menunggu sejak tadi, diruang tamu.


'huh, pak tua itu masih menunggu rupanya. tumben sekali dia menunggu dengan sabar! biasanya dia akan protes atau emosi jika aku terlalu lama.' ravella menghampiri sang ayah yang sedang menikmati bacaannya. "maaf ayah apakah ravel terlalu lama!"


"bak, tidak juga, setidaknya lumayan menghabiskan beberapa halaman cerita dibuku ini."


'hah, sepertinya dia terlihat sedikit kesal. lebih baik aku berinisiatif memegang tangannya ya.. lumayan meredakan amarah pak tua ini.' merekapun berjalan sambil memasuki lorong. "maaf yah, aku sedikit berbicara kepadanya tentang asal-usulnya yang tidak diketahui."


"lalu apa yang dikatakannya?"


"hmm dia berasal dari negara gyoura, apakah ayah tahu itu terletak di negara mana?"


"ya, itu adalah negara dari benua barat. hmm bagaimana bisa dia mengenalimu?"


"ah itu! waktu penyambutan ayah diistana kaisar dulu, tidak sengaja ravel tersandung dan dia menolongku."


"siapa dia?"


"hmm namanya rael, tadi kalau tidak salah gelarnya marques."


"lainkali jangan sembarangan berkenalan dengan orang asing, apalagi jika kau tidak mengenalinya. dan jangan sembarangan memberitahu identitasmu pada orang yang tidak dikenali pokoknya semua orang yang terlihat mencurigakan."


"baik, akan ravella ingat pesan ayah."


merekapun sampai diruangan kerja lannox, lannox menggendong putrinya lalu mengajaknya duduk didekat sofa. seperti biasa ravella didudukkan dipangkuan sang ayah.


"sekarang keluarkan surat itu."


"apa, tapi aku bisa membacanya sendiri, ayah tidak perlu repot."


"melihat seorang pria dari jauh sampai repot-repot ingin bertemu dengan putriku hanya untuk satu surat, apa memurutmu ayahmu ini bisa merasa tenang?"


"hah ya, baiklah." ravella mengeluarkan suratnya dan memberikannya kepada sang ayah yang sedang menahan kekesalannya.


'hmm benar dugaanku jadi ini adalah surat cinta berkedok basa-basi. beraninya dia mengincar putriku, sepertinya ada bocah yang sudah bosan hidup rupanya.' lantas lannox mengepal surat itu dan membakar dengan mananya. "putriku, mulai sekarang siapapun yang mendekatimu harus segera merasakan ganjarannya!"


"hah.. memang ada apa dengan suratnya? kenapa wajah ayah terlihat kesal begitu!" tanya ravella pura-pura tidak tahu. 'padahal aku sudah membacanya diluar tadi.'


"jangan pernah percaya dengan lelaki manapun, mereka itu seperti buaya yang sedang kelaparan berpura-pura pasif padahal agresif."


"termasuk ayah?"


"itu pengecualian, karena aku adalah ayahmu. dan kau adalah putriku. siapapun yang berani menyentuhmu berarti menantangku. sekarang ayo kita kezona mana milikmu, ayah juga penasaran dengan apa yang sudah terjadi!"


"baik ayah." ravella membuka mata ketiganya dan sesampainya disana, dilihatnya semua orang sudah pada berkumpul, yang memang sejak tadi sudah menantikan kehadirannya."

__ADS_1


"ah, nak kau sudah disini!" zion menghampiri ravella dan lannox. sementara gapi, sengaja ditinggal ravella bermain di taman bersama para pengawal. "kakek kalian semua sudah disini?"


"zion kaupun disini? sebenarnya kau ini spirit milikku atau putriku!"


"dua-duanya hihihi." ravella hanya tersenyum melihat sifat sang ayah yang kekanak-kanakan.


"sialan, dasar kau pengkhianat."


"aku bukan pengkhianat, tapi kalian sudah seperti putra-putriku."


"heh, sejak kapan aku menjadi putramu, tidak sudi."


"hahaha jangan begitu bocah." zion menyodorkan kepalanya pada bahu lannox "minggir jangan menyentuhku."


"kau semakin lucu kalau merajuk."


"siapa yang merajuk, cih dasar minggir sana, kau banyak berutang penjelasan kepadaku."


"yah, baik-baiklah akan kujelaskan nanti. cih, dasar tempramennya kambuh lagi."


"nak kau sudah bangun? karena kau sedang tertidur tadi, jadi kami tidak ingin mengganggumu."


"anda siapa?"


"aku adalah jura spirit milikmu nak."


"tok..tok..tok.." pintupun terbuka. "baginda saya sudah menyampaikan seperti apa yang anda perintahkan .


"ah benarkah! lalu apa katanya?"


"beliau tidak memberi balasan, baginda."


"begitu ya..! ya sudah.., kita tunggu saja dalam sebulan ini, jika dia tidak memberi balasan berarti kita yang akan kesana."


"ya itu keputusan bagus baginda."


"kau tenang saja, kau bisa membawa adikmu bersamamu?"


"benarkah..? apa kau bisa menjamin keselamatan kami..! ya, kau tahu sendiri pekerjaanku ini penuh resiko. jika tidak! mana mungkin mereka tidak mengincar orang terdekatku otomatis mereka juga akan mencari kelemahanku anda tahu bukan adikku adalah segalanya bagiku?"


"hei, kau tidak perlu khawatir apa kami terlihat terlalu remeh bagimu?"


"bukan begitu, aku hanya ragu apa kalian bisa menjamin hidup kami."


"tenanglah nak, aku punya rencana lain, untuk itu aku butuh jawaban apa kau mahu ikut bersama kami..! atau tinggal disini dan menunggu dibunuh. kau lihat sendiri bukan tadi kau sudah diincar."


"jika kalian bisa menjamin keselamatan kami, aku akan setuju untuk mengikutimu."


"bagus, apa kau sudah yakin dengan jawabanmu?"


"tentu sa.. tunggu dulu, jika aku diincar berarti adikku.. bagaimana adikku! aku harus menyelamatkannya. cepat atau lambat mereka pasti akan tahu identitasku dan menemukannya.! kau tahu sendiri bukan?, mereka tidak hanya memegang orsi gelap, tapi mereka juga mempunyai serikat jaringan informasi terbesar di dunia. mereka bisa mendapatkan informasi yang sulit hanya dalam waktu sekejap"


"kalau soal itu, kau tidak perlu khawatir, sebelum kau mengatakannya kami sudah mengatasi masalah itu terlebih dahulu."


"a..apa maksudmu? bagaimana mungkin!"


"hehe apa kau meremehkan kami nak, bahkan sebelum mereka aku lebih dulu tahu identitasmu yang telah lama kau sembunyikan selama ini."


'benar juga, dia dengan mudahnya mengetahui info tentangku. apa aku bisa mempercayai mereka? ini sama saja mengadu nasib jika salah memilih maka matilah jawabannya. ya coba saja mempercayai mereka, daripada harus bertahan disini, dan menjadi buronan, sekarang saja aku sudah jadi incaran? jika bersama mereka masadepanku dan adikku akan terjamin, kenapa tidak! bahkan mati untuk merekapun aku rela asal aku dan adikku selamat.'


"hmm.. anak yang lucu." tama dan roya mendengar apa yang dipikirkan rog, roya hanya tersenyum dan berkomunikasi dengan tama melalui pikiran.


'ya kau benar tama, kau tidak salah pilih, bocah ini memang sangat menarik, dewi pasti sangat senang jika kita membawanya bukan?'


'tentu saja, kan aku sudah bilang padamu sejak awal, aku akan membuatnya berada dipihak kita, ya tidak hanya itu! adiknya bisa menjadi teman bermain untuk dewi.'


'hahaha iya benar sekali tama, usia mereka juga tidak terpaut jauh bukan! dewi kita jadi mempunyai teman bermain. walaupun pikiran dewi jauh lebih tua daripada usianya!'


"ke..kenapa kalian tersenyum? apa ada yang lucu!"


"oh tidak, hanya ingin tersenyum apa tidak boleh?"


"hah terserah kalian saja, yang jelas jawabanku tetap sama! aku akan mengikuti kalian asal kalian menepati janji."


"baiklah! dengan begini kau tidak lagi bekerja untuk orsi."


"lalu apa rencana kalian?"


"untuk sekarang kami akan kembali."


"kembali, jadi kalian bukan berasal dari sini?"


"ya tepat sekali! kami disini hanya untuk menjalankan misi. tapi sebelum itu masih ada sedikit urusan yang harus diselesaikan, besok kita akan mengurus surat adopsi untuk adikmu." tama melihat kearah royaa 'roya, sebelum mengurus surat adopsi, tanyakanlah pada dewi, apa dia mahu mengadopsi anak dari panti, kalau sibocah rusuh itu pasti tidak mahu.'


'baik akan kulakukan' roya mengeluarkan kertas dan kertas itupun secara otomatis menulis laporan tengtang semua yang terjadi "tik" jura membakarnya dalam sekejap surat itupun menghilang.


"ke..kertas apa itu?" ujar rog sedikit takjub


"ini adalah sihir pos, kami menyerahkan laporan."


"apa semudah itukah." rog mulai tertarik. "sebenarnya siapa tuan, kalian?"


"heh, kau akan tahu nanti. setelah urusan kita selesai disini, kita akan segera menemuinya."


"kakek jura.., kau terlihat sangat berbeda kek!" jura masih dalam wujud manusianya. ravella mendekati jura, lalu memeluknya. 'aura dan tekanan kakek juga sangat berbeda sekali, dia lebih terlihat mirip dengan kek garda.' ravella melepaskan pelukannya "aku sudah lama tidak melihatmu kek! syukurlah kau baik-baik saja."


"ya sayang, maaf telah membuatmu menunggu lama!" jura mengusap kepala ravella


"hmm tidak apa-apa, lalu siapa kelima orang ini, aura mereka terlihat mirip denganmu kek garda?"


tiba-tiba api biru hitam muncul dihapan ravella! dan tampak surat beramplokan warna hitam jatuh ditangan ravella. 'astaga, kenapa harus sekarang! disaat ada ayah.' lannox dan yang lainnya melihat apa yang terjadi barusan. bagi garda dan spirit lainnya beserta zion, sudah kedua kalinya mereka melihat surat itu muncul secara tiba-tiba ditangan ravella, namun tidak untuk jura, lannox dan saudara garda yang lainnya!"


"hmm, apa itu sayang?"

__ADS_1


__ADS_2