
Dalam perjalanan di dalam Kastil, Duke berjalan santai sambil melihat-lihat Kastil yang telah lama ia tinggalkan.
'Semuanya.. Masih tampak sama, tidak ada yang berubah sedikitpun.' gumamnya dalam hati.. sambil melihat sekeliling Kastil.
Sedangkan Zion yang tidak ingin mengganggu momen Kedua Ayah Dan Anak itu.. Berlalu pergi kearah lain, ia mengajak keempat Pria jangkung berjalan-jalan melihat Kastil bersama mereka.
Sambil jalan mengikuti Zion dari belakang.. Tiga Pria tampan itu saling berbicara membahas perubahan Putri yang tiba-tiba menjadi murung. Kekhawatiran tampak di wajah ketiganya.. Sedangkan Garda, hanya diam menyimak mendengarkan perbualan ketiga Pria di sampingnya itu.
"Aku benar-benar tidak tahan dengan perasaan ini, Dewi kita sedang sedih sekarang. aku bisa merasakannya.. karena beliau adalah Master kita." ujar Saga, kepada yang lainnya.
"Benar.. Rasa ini sangat menyiksa dadaku. Beliau belum pernah sesedih ini sebelumnya, entah kenapa hari ini berbeda dari biasanya! Apa yang sebenarnya terjadi?" sambung Gira, bertanya-tanya sendiri.
"Ini adalah luapan emosi dari masa kecilnya.. Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul kepermukaan, bagaimana beliau tidak sedih! Karena seseorang telah mengungkit luka lama yang selama ini telah ia lupakan.
Dan melihat bagaimana reaksi dari Sang Ayah, yang juga sangat sensitif jika membahas tentang istrinya. Karena rasa sayangnya yang terlalu dalam, hingga membuatnya sulit untuk melupakan kenangan bersama instrinya itu.
Jadi menurutku, sangatlah wajar.. Jika ada yang menyentuh perihal tersebut, akan mendatangkan reaksi tak terduga seperti tadi!" sambung Jura lagi, sambil bersedekap tangan.
Sedangkan Garda, hanya menyimak dalam diamnya..! karena ia tidak ingin ikut campur, atas apa yang terjadi pada Dewi kesayangan Padukanya itu.
'Sebaiknya aku tidak perlu ikut berkomentar dalam urusan kali ini.. karena ini menyangkut masalah perasaan Dewi sendiri. Luka batin yang ia dapatkan sewaktu kecil, pasti sangatlah dalam.
Hingga meninggalkan banyak bekas luka yang sulit untuk dilupakan! Jadi saat ada yang membahas tentang Ibunya.. Hal pertama yang ia ingat adalah saat ia dilahirkan, Dan saat itu juga Ibunya pergi..!
Aku pun tidak tahu harus berkata apa? Tentang masalah ini. Karena ini adalah Takdir yang harus dihadapi Dewi..'
Berbeda dengan Zion yang hanya diam sejak tadi, Meski ia mendengarkan apa yang Para Kakek Spirit bicarakan.. Tapi ia tidak menggubris atau menyela pembicaraan mereka smasekali. ia terus berjalan.. sementara pikirannya berada di tempat lain.
'Aku mengerti apa yang Nak Dewi rasakan! karena selama ini aku selalu memperhatikannya dalam diam. Bagaimana cara ia tumbuh tanpa adanya kasih sayang dari kedua orang tuanya.. Terutama sosok ibu.
Meski begitu, ia tetap tegar.. Berusaha tertawa bahagia walau batin terluka. Terkadang, ia hanya bisa mengintip punggung Ayahnya secara sembunyi-sembunyi, sosok yang sangat ia rindukan dan sering mengabaikan keberadaannya seolah ia tidak pernah ada.
Haah.. Baru kali ini aku melihat Nak Dewi menangis, dulu.. Meskipun ia di abaikan dengan Ayahnya sekalipun, ia masih tetap berusaha tertawa walau pahit ia tetap menghibur dirinya sendiri.
Tidak tahu jika itu hanya luarannya saja.. Karena aku juga tidak senantiasa ada untuknya selama dua puluh empat jam.
Bisa jadi dia menangis di saat malam menjelang, disaat semua orang sudah pada tidur. Karena anak itu sangat pintar menyembunyikan emosinya dari orang lain!
Haah.. Ini semua gara-gara Emilio menyentuh pertanyaan sensitif di situasi yang tidak tepat. tapi aku juga tidak bisa menyalahkan anak itu! Karena sejak kepergian mendiang Arabella.. Lannox tidak pernah lagi menjejakkan kakinya Kekastil ini.
Jadi Emilio tidak tahu apapun, tentang kematian Arabella. sangatlah wajar jika ia bertanya! Hem.. Para Kakek juga bisa merasakan apa yang Dewi Rasakan.
Makanya mereka bisa sehati.. Karena Ketika kami menjalin kontrak dengan pemilik kami.. Secara otomatis apa yang dirasakan oleh Master kami, kami juga bisa merasakan perasaan mereka.
Mau itu perasaan Marah.. Gelisah, Sedih, bahkan Bahagia. Kami bisa merasakan semua perasaan itu.. jika sudah menjalin kontrak.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ravella mengalungkan kedua tangannya di leher Duke, sambil menyandarkan kepala kecilnya.. di dada sang Ayah. Air mata terus mengalir tanpa ia minta, meski ia sendiripun merasa heran akan hal tersebut.
__ADS_1
Duke yang sedang mengenakan pakaian santai, yaitu kemeja hitam dan celana hitam. Ia bisa merasakan bajunya basah terkena linangan air mata Putrinya.
Meski ia tidak mengeluarkan suara isak tangis, tapi ia menangis dalam diam, Lannox tahu itu.. Dan tidak ingin menanyakan apapun. ia membiarkannya begitu saja.. Sambil menepuk pelan punggung Putrinya, dengan penuh kelembutan.
'Aku tidak tahu kenapa air mata ini tidak mau berhenti? Mungkinkah ini perasaan Ravella yang sebenarnya..! Tubuh ini merespon begitu saja ingatan masa kecilnya.. Saat aku menyebut tentang kelahiranku, Air mataku langsung jatuh begitu saja.. tanpa aku tahu penyebabnya?
Padahal ini adalah ingatan dan kenangan Ravella, akan tetapi.. justru aku bisa merasakan kesedihannya.. seolah aku yang telah mengalaminya secara langsung. Haah.. Ravella, kau pasti sangat menderita bukan!
Seorang bayi yang tumbuh sendiri hanya ditemani dengan satu pengasuh, dan tinggal di mansion besar dan sunyi.. dimana tidak ada siapapun selain mereka berdua. Terabaikan oleh keadaan, dimana kesepian adalah penjara yang telah mengekangnya.
Jadi wajar jika tubuh ini bereaksi pada ingatan Ravella. Uaaggghhhh.. Karena kebanyakan menangis aku jadi mengantuk. Bahkan aku sampai lupa, menikmati pemandangan indah di dalam Kastil, Karena perasaan yang menyesakkan ini.
sebaiknya aku tidur saja.. Untuk menata ulang kembali, pikiran dan perasaanku yang sedang berkecamuk tidak saling sinkron.'
"Ayah.." ucapnya lirih.
"Ya Sayang."
"Ravel, ngan-tuk." ujarnya manja.
"Tidurlah, Ayah akan membangunkanmu nanti."
"Ng? Apa Ayah tidak lelah menggendongku?" suara Ravella terdengar sayup dan semakin mengecil.
"Hem.. Tidak Sayang, Ayah tidak pernah lelah jika itu bersamamu."
"........." tidak ada jawaban.
Benar saja.. Beberapa saat kemudian Ravella tertidur nyenyak dalam pelukan Sang Ayah. Ia lalu memindahkan Putrinya, di kamar utama miliknya dan mendiang Istrinya.
Setelah memindahkan Ravella keranjang, Duke duduk di lantai di samping ranjang. Ia menatap wajah mungil yang sedang terlelap di buai mimpi, Tampak kedua kelopak matanya yang masih sembab karena menangis.. Duke lalu membelai rambut panjang Putrinya itu.
Warna rambutnya sangat mirip dengan milik Duke.. Paras cantiknya mewarisi perpaduan antara Duke dan Duchess. Duke lalu mengambil tangan mungil itu.. Lalu menggenggam dengan kedua tangannya yang besar.. Ia mengecup lengan kecil itu penuh sayang.
Tak lama dalam kediammannya memperhatikan momen Putrinya yang sedang tertidur.. Muncul Zion dari belakang, ia memperhatikan sosok Sang Master yang masih tidak beranjak dari tempatnya! Melihat itu, lalu Zion bergumam padanya.
"Bagaimana keadaanya?" ujarnya yang juga khawatir, dengan keadaan Ravella.
Lannox tiba-tiba bergumam...
"Sejak ia di lahirkan hingga sekarang, baru hari ini aku melihat Putriku menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia bahkan tidak pernah mengeluh dan menyalahkanku!
Atau menanyakan kenapa dan mengapa?? Zion..." panggilanya sambil menggenggam tangan Putrinya.. Ia mendekatkan genggamannya kekeningnya.
"Ya.."
"Aku sungguh Ayah yang paling kejam dan terburuk di dunia.. Bagaimana bisa aku mengabaikan Putriku yang sangat baik dan tak berdosa sepertinya.
Ia telah tumbuh dengan baik, tanpa memiliki rasa dendam, amarah, dan kekecewaan terhadapku! Jika itu aku, aku akan membantai semua orang yang telah mengabaikanku, dan menelantarkanku.
__ADS_1
Seperti yang telah aku lakukan pada kedua orang tuaku dan kakak-kakakku dulu..! Mereka semuanya mengabaikanku, dan tidak pernah menganggap aku ada. Bagi mereka, aku hanyalah kotoran yang menjijikkan yang hadir di dalam kehidupan mereka.
Tidak ada satu haripun yang terlewatkan tanpa bisa merasakan ketenangan, pukulan dari kedua kakakku.. Dan ibuku, adalah makananku sehari-hari. Sedangkan Ayahku hanya menutup mata, mengabaikan penyiksaan yang telah mereka lakukan terhadapku.
Padahal aku juga anaknya.. Tapi kenapa ia tidak pernah meperlakukanku sama seperti ia memanjakan kedua saudaraku? Heh.. Bahkan aku sempat berpikir, ingin bunuh diri.
Tapi, aku terlalu pengecut untuk melakukan itu! Jadi aku mengurungkan keinginanku. Dan suatu hari, muncul ide untuk membunuh atau meracuni keluarga busuk itu.
Dengan memberi racun kedalam makanan atau minuman mereka.. Tapi aku masih berusaha menahannya, dan percaya jika suatu saat mereka akan berubah.
Hingga waktu berganti minggu.. Bulan berganti tahun.. Tapi tidak kulihat perubahan pada mereka. Bahkan tidak ada penyelesalan di wajah mereka semua!! Hingga aku tertawa di sudut ruang yang sepi dan gelap.. Dengan suhu lembab dan pengap.
Dimana aku di kurung hanya karena aku melawan Kedua Kakakku untuk membela diri.. Hingga akhirnya aku sadar, jika mereka masih tidak peduli denganku, mereka juga membuangku.. Menganggap aku sebagai aib keluarga.
Hanya karena Ayah dan Kedua Saudaraku tidak mewarisi gen dari Kakek, mereka juga tidak memiliki warna rambut dan mata merah yang hanya dimiliki Keluarga Rallex, bisa dibilang, aku adalah duplikat kakek!
bahkan mereka juga tidak bisa melakukan kontrak dengan Spirit, hanya karena itu mereka menyalahkan keberadaanku.. Dan menyiksaku. Jadi bukankah sangat setimpal, dengan apa yang telah aku lakukan terhadap mereka.
Untungnya ada seorang kesatria baik, seorang pengembara yang mau mengajarkanku berpedang. Lalu aku berlatih setiap hari tanpa sepengetahuan dari siapapun, dan setelah yakin dan benar-benar siap. Aku membantai habis semuanya hanya dengan pedangku!"
"Haah.. Aku paham perasaanmu Nak, Tapi, yang jadi pertanyaanku sekarang! Apa hubungannya masa lalumu dengan Putrimu??" ujar Zion, Bertanya dengan tegas.
"Hem.. Aku hanya heran! Kenapa Putriku tidak membalas perbuatanku selama ini, terhadapnya. Seperti yang pernah aku lakukan pada keluargaku, berbeda denganku.. Ia malah memberiku kesempatan merasakan kehangatan sebagai seorang Ayah.
Jika direnungkan kembali.. Aku tidak pantas di maafkan." ujarnya sambil mengernyitkan kening.
"Lalu.. Apa kau sudah yakin dan siap, jika dibenci olehnya? Apa kau sudah benar siap di tinggalkan Putrimu?!" pertanyaan Zion terus menekan Lannox.
Lannox tersentak kaget, dengan pertanyaan yang dilemparkan Zion padanya..
"Tidak, aku tidak siap dengan semua itu..! Bahkan, jika harus merantai kedua kaki dan tangan Putriku, akan aku lakukan daripada harus melihatnya pergi tanpa mengatakan apapun padaku.
Aku lebih rela ia membenciku, dan membunuhku dengan tangannya sendiri. Karena aku memang pantas mendapatkannya."
"Heh.. Tapi sayangnya Putrimu yang terlalu baik itu, berkebalikan denganmu Nak! Ia bahkan tidak mempunyai pikiran buruk dan sifat dendam sepertimu. Karena memang ia terlahir bukan untuk itu..!
Bersyukurlah kau memiliki Putri sepertinya.. Dia bahkan sangat peduli dan sayang padamu."
***
Sementara itu tanpa mereka tahu.. Seseorang telah mendengar pembicaraan keduanya. di bawah alam sadar Ravella, ia tengah duduk di atas bongkahan batu besar.. Sambil memeluk kedua lututnya. Ia bisa melihat dan mendengarkan semuanya.
'Aku tidak menyangka! Jika Ayah mempunyai masalalu yang sangat kelam. Para Kakek juga pernah cerita, jika Ayah sebenarnya sangat baik. Hanya saja.. Keadaan yang mendesaknya hingga menjadi seorang yang berdarah dingin dan kejam.
Haah.. Pantas saja Ayah sangat menyayangi Ibu! Karena ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Sementara dengan Ibu.. ia bisa merasakan semuanya.. Dan bagaimana rasanya dicintai dan mendapatkan kasih sayang yang benar-benar tulus dan hangat.
Jadi sangat wajar jika Ayah tidak bisa melupakan Ibu, Cintanya telah medarah daging hingga menusuk ketulang. Tidak ada yang bisa menggantikan tempat Ibu di hati Ayah!
Karena hati dan pikirannya telah di penuhi dengan Ibuku. Haah.. Tapi bagaimana caranya aku merawat Bayi Tua itu..!! Ia sekarang tidak bisa jauh dariku, dan terlalu takut kehilanganku.
__ADS_1
Heeh.. Aku jadi berpikir, sebenarnya aku ini anaknya, atau hewan peliharaannya??
Aku merasa seperti kucing gendut yang dibawa kemanapun oleh Kakek Tua.' pikir Ravella sambil membayangkan ia menjadi seekor kucing gemuk, dan Ayahnya sebagai Kakek tua yang membawanya kemana saja, karena tidak ingin berpisah dengan kucing kesayangannya itu.