AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
JIKA KAU INGIN TAHU, COBA SAJA!


__ADS_3

'Hem... kenapa aku merasa Perasaan yang tidak menyenangkan, dari Rubah ini..! apa aku habisi saja langsung...?' pikirnya yang kini tengah mengelilingi Rabarus.


Rabarus masih berusaha bersikap tenang, menyembunyikan ketakutannya, meski perasaan mengancam sedang mengitari dirinya.


"Hehehehe..." Dewa itu menyeringai, lalu memetikkan jarinya, dan...! Dalam sekelip mata.. Rabarus terhempas jauh hingga berguling-guling di lapangan luas.


Ia berusaha bangun dan duduk sejenak sambil mengibas kotoran tanah dan rumput yang menempel pada bajunya.. Lalu bergumam dalam hati.


'Aku kira jika aku berpura-pura tidak melihatnya, maka dia akan mengabaikan ku, dan pergi begitu saja. Hah.. Rupanya itu cuma khayalan ku.' pikirnya yang masih mengabaikan Dewa tersebut. yang kini tengah memperhatikan kelakuannya yang masih berpura-pura menganggap itu hanya kecelakaan biasa.


Dewa itu menyipitkan kedua matanya.. Merasa heran dengan pengabaian Rabarus, terhadap serangannya! Hingga salah satu alisnya terangkat keatas. 'Hah.. Apa dia terlalu naif? Kenapa Rubah itu masih tampak tidak perduli dengan apa yang terjadi pada dirinya?? Apa dia tidak tahu, jika dia telah di serang!!' pikir Dewa, masih mengamati gerak-gerik Rabarus.


Rabarus bangkit berdiri.. kepalanya celingak-celinguk mencari sesuatu, ia melihat kearah sekitar apakah masih ada orang atau tidak.


Untuk memastikan kekhawatirannya itu! Ia bertelepati dengan Duke. 'Hei Nak! Apa kau mendengarku?' gumamnya membuat Lannox terkejut, saat mendengar suaranya.


'K-kau, Pak Tua Rubah! Ya, aku mendengarmu? Ada dimana kau?? Apa kau tahu keadaan di sini sedang gent...' ucapannya langsung di potong dengan Rabarus.


'Haah.. Ya aku tahu, maafkan aku karena terlambat datang. Tapi kau tidak perlu khawatir Nak, Spiritmu baik-baik saja.' ujarnya yang bisa merasakan khawatiran di hati Lannox.


'Benarkah? Jika begitu mengapa dia tidak menjawab panggilanku?' desak Lannox penasaran.


Sang Dewa, yang sedang mengamati Rabarus! Merasa penasaran. Kenapa Rabarus bisa-bisanya bersikap santai di saat seperti ini, seolah ia tidak menganggap serius dengan apa yang telah terjadi padanya.


'Ya, anak itu sekarat. T..' belum selesai ia bicara, keterkejutan Lannox langsung menghentikan ucapannya.


'Apa!!!!!!! Pantas saja aku merasakan dadaku sakit dan sesak, lalu dimana Pak Tua Itu sekarang??' sambungnya khawatir.


'Haaah... Dengar dulu Nak, aku belum selesai berbicara. Kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Spiritmu. Karena saat ini dia berada di tempat yang paling aman. Hanya saja.. Kau tidak akan bisa menghubunginya untuk sementara waktu, Karena perbedaan dimensi.


Dan, aku menghubungimu! karena aku ingin menanyakan sesuatu, apa kau telah mengevakuasi seluruh pasukanmu, dan para pelayan yang berkeliaran di luar Mansion..?' tanya Rabarus memastikan.


'Yah, aku sudah melakukannya. Kenapa memangnya?' tanya Lannox ketus.


'Bagus.. Dengan begini, aku bisa leluasa bertarung. Ah, tapi omong-omong Spiritmu yang satu lagi, masih tersisa di luar.


Bukankah sebaiknya kau memanggil bocah itu..!!' ujar Rabarus, memperhatikan Argus, dari kejauhan. Yang kini tampak sedang kesulitan menghadapi Musuh.

__ADS_1


'Tidak apa-apa, biarkan saja. Dia akan kembali setelah selesai.' ujar Duke, bersikap tidak acuh.


'Hem.. Hem.. Sepertinya kau tampak tidak perduli padanya!' ujar Rabarus menyeringai, sambil mengamati Argus dari kejauhan, sedangkan Sang Dewa, saat ini tengah mendekat kearahnya.


'Hanya perasaanmu saja, Pak Tua..' jawab Duke, malas.


'Haah.. Baiklah, Aku sudahi dulu perbincangan kita!' merasakan kehadiran Sang Dewa, menghampirinya! Rabarus langsung memutuskan koneksi.


'Hmm.. Apa yang terjadi? Tapi setidaknya aku bersyukur Pak Tua itu, ada di sini..' pikir Duke, merasa lega.


Berbeda dengan tanggapan Duke, Rabarus saat ini sedang berhadapan dengan Dewa yang terus mengamatinya. Dewa itu terbang menghampiri Rabarus, yang sedang berpura-pura meregangkan badan.


"Haah.. Bagaimana bisa aku terjatuh? Badanku jadi sakit semua. Apa karena aku kelelahan..?" ujarnya beralasan.


Dewa yang sedang melihat Rabarus, menyeringai. dan agak meragukan perkataan Rabarus barusan. 'Hem..hem.. Benarkah begitu! Baiklah, ayo kita pastikan lagi. Setelah ini apa kau masih menganggap ini hanya kebetulan!?' pikirnya yang mulai tertarik dengan Rabarus. "TIIK"


Dewa menjentikkan jarinya.. Dan seketikan Rabarus terlempar jauh kedalam hutan, hingga menabrak beberapa pohon pinus. ''Bug.. Bug.. Bug.. Gedebraak..." 'Egh! sial. Berapa lama lagi aku harus bertahan dengan sifatnya yang kekanak-kanakan itu?


Berpura-pura tidak melihatnya saja.. Sudah membuat aku tersiksa. Apalagi jika aku menanggapi serangannya, entah apa yang akan terjadi?' pikir Rabarus, yang masih lemas terlentang menatap langit.


'Haah.. Paduka, apa yang harus hamba lakukan? Lawan hamba terlalu kuat untuk di hadapi, mampukah hamba menghadapinya!!' pikir Rabarus, yang kini sedang meragukan kekuatannya sendiri.


'Hem... Hem.. Jika kau ingin tahu, coba saja!'


'Pa-Paduka Dewa!! Be-benarkah i-ini Paduka yang sedang berbicara dengan hamba?' ujar Rabarus memastikan pendengarannya. namun, setelah ia tahu itu suara siapa? ia jadi merasa senang, sekaligus gugup dalam waktu yang bersamaan. Lalu ia dengan cepat mengubah posisinya duduk bersila.


Dewa terus mengawasi Rabarus dari ketinggian udara, dan kini ia turun melayang perlahan mendekat untuk mencari tahu apa yang sedang di lakukan Rabarus saat ini.


'Hmm.. Kau sama saja seperti Jura. Tetaplah tenang bocah, kau sedang di awasi sekarang.' ujar Sang Dewa Zando, memperingatkan Rabarus.


'Ah! Ia, haha.. Habisnya karena terlalu senang mendengar suara Paduka, hamba hampir saja melupakan keberadaannya. Kalau hamba boleh tahu, siapa sebenarnya Dewa itu, Paduka?' tanya Rabarus bersemangat.


*****


Mahluk hitam itu terbang menyerang Argus, merasakan adanya aura mistis yang sangat kental, dari kehadiran mahluk hitam tersebut. Argus mulai bersikap waspada pada sekitarnya.


'Gara-gara penyihir sialan itu, Kesempatan ku untuk melihat Monster Singa besar itu jadi gagal. Aku tidak menyangka jika ia masih mempunyai trik menyeramkan seperti ini..!' gumam Argus dalam hati.

__ADS_1


Mata Argus mulai liar memperhatikan sekitar.. Puluhan bayangan hitam terbang mengitari Argus. Melihat kehadiran mereka, Argus mulai kesal dan jijik.


Argus mencoba meraih salah satu bayangan yang sedang terbang liar kearahnya.. Alhasil sekelebat bayangan tersebut, tak tersentuh oleh tangannya.


'Hah.. Mereka tidak bisa di sentuh! Lalu bagaimana bisa Penyihir sinting itu memerintahkan mahluk seperti ini untuk menyerangku? Apa dia sudah gila?' pikirnya memperhatikan Si Penyihir, yang kini hanya diam mengamati mereka.


Tiba-tiba kelebat puluhan bayang hitam itu mulai bertindak aneh, kali ini mereka tidak mengelilingi Argus lagi. Tapi mereka menggabungkan diri menjadi satu..


Dan terbentuklah sebuah bayangan hitam besar.. kelebat bayangan hitam itu, kini berubah menjadi bayangan hitam besar seperti sosok yang sedang mengenakan jubah hitam.


kedua matanya yang berubah semerah darah, dengan mulut hitamnya. ia menggenggam tongkat sabit yang berada di kedua tangannya, dan bayangan itu kini menatap lekat kearah Argus sambil menyeringai seram.


"Khi..khi..khi.." seringainya bergema Menjadi sangat mengerikan. saat ia menyeringai, seperti terdapat banyak suara pada tawanya.


perubahannya tersebut, membuat udara di sekitar tiba-tiba berubah menjadi dingin mencekam, dan udara di sekitar Argus dipenuhi kabut hitam yang entah datang darimana?


langit seketika berubah menjadi gelap gulita, menjadikan suasana tersebut semakin gelap dan mengerikan.


'bisa-bisanya mahluk menjijikkan seperti itu! menjadi satu orang. kini mereka jadi tampak semakin jelek.


Egh, sial.. kenapa suhu di sini jadi semakin dingin?' Argus tiba merasakan suhu dingin yang amat sangat menusuk hingga ketulang. dan wajahnya tiba-tiba berubah memucat dan tubuhnya mengigil. rasa dingin yang mencekik, serasa berada di ujung kematian.


"A-apa-apaan i-ini.. ba-bahkan si-sihirku ti-tidak bi-bisa berfungsi..!" ujarnya kesejukan.. riak wajah yang tadinya penuh dengan keangkuhan, kini berubah dipenuhi rasa cemas.


Sihir Argus tidak bisa digunakan, ia bahkan tidak bisa menghangatkan suhu tubuhnya dengan memakai Sihir miliknya. kini Argus menjadi tak berdaya tanpa sihir.


perasaan mencengkam merasuk menyerap ketakutan Argus, ia seakan berada di ambang kematian, rasa cemas, panik, dan takut seketika merasuk pikiran Argus. di saat ia sedang tenggelam dalam keputusasaan. tiba-tiba terdengar suara mengerikan berbicara padanya.


"Hahaha.. bersiaplah wahai jiwa yang lezat. baru kali ini aku menemukan jiwa yang membuatku berselera tidak sabar untuk melahapnya. hahahaha.. aku sangat suka melihat ekspresi wajah itu.


Kini kau telah masuk kedalam Zona kekuasaanku, siapapun yang telah berada dalam jangkauan yang telah aku tandai.. Tidak akan ada yang bisa melepaskan diri. Jiwamu begitu bersinar, aku sangat menyukainya. Hahahaha.. Ahahahaha..!" bayangan hitam itu tertawa senang.


Melihat itu, Argus mencoba mengunakan segala cara untuk lepas dari belenggu yang telah di buat oleh sosok Bayangan hitam tersebut.


Namun upayanya utuk melepaskan diri dari belenggu, lagi-lagi gagal. Bahkan Aura yang ia lepaskan tidak berfungsi sama sekali.


'Celaka..! Tidak hanya sihir, bahkan Auraku tidak bisa kugunakan sama sekali. Karena ruang lingkup di sekitarku, kini telah berubah menjadi area hitam yang telah di tandainya.

__ADS_1


Dasar Bayangan sialan yang menjijikan. Aku harus mencari cara untuk lepas dari belenggunya...!'


__ADS_2