AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
BAGAIMANA BISA.. KAU SEYAKIN ITU?


__ADS_3

Di tempat lain, Dean, mengikuti para penjaga.. saat memasuki lorong gelap.


"buk.. buk.. bak.. bak.."


dalam sekejap para penjaga, sudah terkapar tak sadarkan diri.


'heh.. apa ini? bukankah mereka terlalu mudah untuk di tangani..!'


Dean, melihat kearah dua pintu besar yang berdekatan, dengan lorong yang ia dekati. ia langsung menuju kearah kedua pintu, yang sudah usang tersebu dan membukanya!


"ngiiikk...."


Dean langsung bergegas masuk kedalam, mencari dokumen asli. ia membuka tutup, semua laci, dan membongkar rak buku. namun, tidak di temukan barang yang ia cari.. ia juga mengusap kasar wajahnya, karena kesal.


'sialan, dimana mereka menyembunyikan Dokumen itu??'


Dean mondar-mandir di dalam ruangan tersebut, karena lelah.. ia melihat meja kerja, yang ada di dekat sudut ruanga, berdekatan dengan rak Dokumen. lalu ia menghampiri meja itu.. Dean menarik kursi, dan duduk di sana dengan lesu.


"haah.."


Ia terus mengetuk jarinya dimeja, sambil berpikir keras, di mana letak dokumen rahasia tersebut. ia memperhatikan dengan teliti, semua ditail yang ada dalam ruangan kerja itu. melihat dari langit-langit atap, dinding, hingga kelantai. tidak ditemukan kejanggalan apapun! namun, saat Dean, melempar pandangannya sekilas kebawah meja, lalu melihat lagi kearah lain, terdapat harapan dimatanya. dan.. tiba-tiba saja ia mengerutkan keningnya. lalu.. segera bangun menarik kursi yang ia duduki, dibawah meja itu.. ada sebuah lantai kayu, yang berbeda dari lantai lainnya!


Dean melihat ada ukiran sihir, dibawah meja tersebut, dengan ukiran geometris segi tiga, bewarna hitam.


'Pola sihir ini.. Aku pernah melihatnya dulu, semoga apa yang Aku pikirkan ini benar! tapi untuk memastikannya.. sebaiknya aku coba dulu.'


Dean mengiris telapak tangannya dengan belati yang selalu ia bawa, keluar darah segar dari telapak tangannya. dengan cepat, ia langsung mengepal telapak tangannya dengan kencang, dan darah mengucur keluar mengenai ukiran sihir tersebut.


alhasil, ukiran itu menyala terang dan, tak lama.. tampak sebuah pintu kecil terbuka dengan sendirinya.


'heh.. ternyata benar, mereka menggunakan sihir hitam, untuk mengelabui.'


Dean langsung menjulurkan kakinya kebawah.. menuruni tangga, memasuki lubang kecil, seukuran badan manusia. ia masuk menuruni tangga, karena gelap, ia menggunakan mana untuk menerangi jalannya. semakin lama tangga itu, semakin jauh kedalam, hingga sampai ketangga terakhir.. ada lorong sempit.


"lorong apa ini..ni..ni..?"


suara Dean, bergema didalam lorong lembab dan gelap. ia sempat ragu untuk melewati lorong tersebut, karena tampak suram dan mengerikan.


'tempat yang aneh? haruskah aku masuk lebih dalam lagi.. mencari tau! atau kembali..'


ada keraguan dihatinya, ia berpikir sejenak.


'adakah yang bisa menjamin, jika aku bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini..! atau malah akan berakhir mengenaskan? tanpa ada yang tau keberadaanku kelak!'


tiba-tiba.. kesadarannya kembali merenggut keraguannya, dari pikirannya.


'ah! perduli setan, kenapa aku jadi ragu seperti ini? sialan, apapun yang ada didalam sana! harus aku hadapi. demi membuktikan kesetiaanku, kepada beliau.'


Deanpun, berjalan menyusuri lorong panjang, gelap, lembab, dan sunyi itu. di dalam kesunyian yang mencekam, di kejauhan, terdengar suara yang membuatnya merinding seketika.


"hehehehe...." suara tawa rendah, bergema membuat bulu kuduknya berdiri.

__ADS_1


'sialan, suara siapa itu? atau mungkin.. cuma perasaanku saja!!'


nyalinya sempat menciut seketika, karena terkejut. lalu.. ia kembali melanjutkan langkah kakinya.. yang sempat terhenti.


"apakah sudah waktunya bagiku, makan siang?" suara itu melempar tanya padanya.. seolah sudah akrab.


"katakan siapa kau?" ujarnya penasaran. "kau tidak tampak seperti penjaga! apa kau orang baru?"


Melihat tidak ada jawaban, suara itu tiba-tiba terdiam, membuat jantung Dean, mulai berpacu kencang seolah ingin keluar, suasana di lorong menjadi sangat sunyi.


"sssssshhhh........"


angin sejuk berhembus pelan, dan entah datang darimana.. dikejauhan, tampak mata merah menyala, sedang menatap nyalang kepadanya.


'mahluk apa sebenarnya itu? aku merasakan tekanan mengerikan darinya, tepatnya.. ini adalah aura membunuh yang sangat kental.'


entah kenapa! nyalinya kembali menciut lagi, dan bergerak mundur, selangkah demi selangkah.. Dean, merasa seakan Ia tak bisa bernafas.


kedua mata merah itu.. hanya diam memperhatikannya.. dari kejauhan, dan dalam sekejap, kedua mata merah sudah mendekatinya dengan niat membunuh, dan ingin menerkam. kaki Dean, langsung membeku tidak bisa bergerak. meskipun ia memaksanya.. tetapi kakinya, tetap saja tidak mau digerakkan, seolah sedang di sihir oleh mahluk itu.


saat mahluk misterius itu.. datang mendekat, dan ingin mecengkram tubuh Dean! dengan tangannya yang besar, dan kuku hitamnya yang panjang.


"phuuuunnngggggg.... gedebag..."


"Anda... ba.. bagaimana Anda, bisa ada disini?!!"


mata Dean tampak senang, sosok pria tinggi dan tampan, mengenakan jubah hijau, muncul tepat di hadapannya. dan entah datang darimana! kemunculannya yang tiba-tiba, langsung menendang perut mahluk berukuran besar tersebut, hingga tercampak jauh.


"Kau beruntung Nak, karena Aku ditugaskan oleh yang mulia, untuk menjemput kalian berdua. pergilah dulu temui temanmu diatas, ia sangat mencemaskanmu."


"Kau tidak perlu khawatir, dokumennya sudah ada bersamaku. bisakah Kau pergi sekarang! agar tidak menjadi beban buatku."


"ah hehe, baiklah.. Aku mengerti, maafkan Aku. kalau begitu.. Aku akan menunggu Anda diatas."


"hem..."


Argus sangat tenang, berbicara santai dengan Dean, tanpa memperhatikan lawannya. merasa dicuekin, monster itu menjadi sangat berang.. dan langsung mendekat menerkam Argus, dengan kuku tajamnya.


"wuuusshhh bruuugg.." Argus, mengelak, dan langsung menjentik dahi Monster besar itu.. sehingga Monster itupun terplanting menghantam tembok lorong.


"bruuuuggg bag.."


"egh.. siapa kau sebenarnya? berani-beraninya, kalian mengganggu waktu makan siangku!"


Monster itu bangkit berdiri, menatap nyalang kepada Argus, dengan ganasnya.


......................


diatas lorong, Dean yang baru saja tiba, melihat Robi, sedang mondar-mandir dalam ruangan.


"hei, apa kau tidak pusing! mondar-mandir sejak tadi?" tanya Dean.

__ADS_1


mendengar suara yang tidak asing, wajah Robi mulai cerah.


"Dean, kau selamat?" tanyanya khawatir, setelah memastikan keadaan Dean. baik-baik saja, ia baru merasa lega.


"hah syukurlah, aku cepat!"


"Cih, kau meremehkan Aku! kenapa kau membuat keributan, meminta sampai meminta pertolongan yang mulia? kalau sudah begini, sama saja Kita telah gagal dalam misi. hah.. aku jadi tidak sanggup menghadap wajah beliau."


"hei kawan, bukankah seharusnya kau berterima kasih kepadaku!"


"ya terima kasih" ucap Dean singkat.


"aku ragu, kau bisa mengatasinya..! soalnya, setelah dua hari menunggu, kau masih tidak kelihatan. jadi karena merasa khawatir, tiba-tiba saja aku teringat pesan Yang Mulia. dan langsung menghubungi beliau, untuk meminta bantuan."


"sialan Kau, bukannya aku tidak berterima kasih kepadamu, tapi, dengan begini.. kita pasti akan dimarahi oleh Yang Mulia."


"kau tenang saja.. beliau tidak seperti itu."


"bagaimana bisa.. kau seyakin itu?"


"tentu saja, walaupun cuma sebentar.. tapi aku pernah mengikuti Yang Mulia dalam misi. jadi sedikit banyak, aku tau watak beliau."


"ya kuharap, memang begitu!" gumamnya, sambil melipat kedua tangannya.


"oh, iya! Dean, maksud dari pesanmu itu! aku tidak mengerti, puas aku memutar Otakku, tapi, tetap saja.. aku tidak bisa menemukan jawabannya!"


"hah.. teka-teki semudah itu, kau tidak bisa menebaknya!"


"cih, Aku tidak pandai berteka-teki. jadi lain kali, jangan pakai cara itu lagi. Aku bisa tersesat karena teka-teki bodohmu itu, langsung saja keintinya. karena Aku tidak suka repot-repot berpikir. cepat katakan, apa artinya pesanmu itu?"


"cih, dasar bodoh, padahal itu sangat mudah. artinya, (pergilah kedanau, Kita akan segera bertemu dan kembali dengan membawa hasil.)"


"apa Kau yakin itu artinya?" gumam Robi memastikan, dengan wajah bingungnya! dan mata sedikit menyipit.


melihat ekspreai Robi, yang menganggapnya seperti lelucon, Dean langsung menjadi jengkel, lalu meludah dengan kata-kata.


"sialan Kau.. Aku yang membuatnya, tentu saja Aku yakin." gerutunya kesal.


"sepertinya, kau tidak berbakat dalam membuat teka-teki kawan. haha.. sebaiknya kau tidak menggunakan cara itu lagi.."


...----------------...


"oh, aku hanya pejalan kaki biasa, yang kebetulan lewat. dan kau, monster jelek, sejak kapan kau berada di tempat ini? wajahmu sungguh menjengkelkan, aku jadi ingin mengulitimu."


"cih, mulutmu sungguh kotor, rasakan ini...!"


"hah.. kau sangat merepotkanku, sebaiknya Aku mengurungmu, dan menyerahkanmu kepada Yang Mulia, untuk segera ditangani. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. tik.."


belum sempat Monster itu menyerang, Dengan petikan kedua jari Argus, mahluk itupun menghilang. setelah Argus, kembali ketempat Robi dan Dean berada. sambil berjalan santai, Argus menatap keduanya.. dengan ekspresi dingin tanpa emosi.


"ayo Kita kembali."

__ADS_1


"baik Tuan." jawab keduanya serentak, dan langsung mengikuti Argus, dari belakang.


dan ketiganyapun, tiba dimansion dalam waktu singkat, dengan bantuan Argus.


__ADS_2