
Pusaran hitam besar terbuka lebar di tengah telaga.. Di dalam pusaran, tampak seorang manusia muncul, mengenakan jubah lusuh. Terdapat tongkat hitam panjang di tangan kanannya.
Ujung tongkatnya menyerupai tengkorak manusia, Penyihir berjubah lusuh itu, berjalan.. Lalu terbang melayang di udara. Ia melihat keatas bukit, tampak dari kejauhan sosok Pria tampan berpakaian serba hitam, berdiri sendirian sedang menatap tajam kearahnya.. Melihat itu ia berseringai.
Jura sedang memperhatikan sosoknya dari atas bukit, saat ia sedang siaga memperhatikan suasana sekitar.. Beberapa detik kemudian, Lannox pun muncul dan menghampirinya dengan panik.
"Kau di sini rupanya..! Dimana Putriku??" tanya Lannox, celingak-celinguk mencari keberadaan Putri kesayangannya.
"Kau tenang saja.. Dia berada di tempat aman sekarang, Gira telah membawanya ke Zona Mana." jelas Jura yang tampak masih tenang.
"Haah.. Syukurlah. Lalu.. siapa Penyihir lusuh itu?" tanya Lannox penasaran, sambil menatap Fokus pada penyihir, yang sejak tadi hanya terlihat diam memperhatikan mereka, ia tidak bergeming dari tempatnya tersebut ataupun menyerang.
"Entahlah, tapi melihat sosoknya.. Dia sepertinya menyembunyikan kekuatannya. Namun, ada sesuatu yang aneh darinya?" ujar Jura, memperhatikan penyihir tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Lannox lagi.
"Aku merasakan ada Kehadiran Dewa di sini..!!" ujar Jura, namun matanya menatap liar seperti sedang mencari sesuatu di sekitarnya. "Hanya saja ia sedang menyembunyikan keberadaannya."
"Kau benar! aku juga merasakannya. Perasaan mengerikan ini, hanya saja.. Energi ini terasa berbeda dengan Dewa yang kita hadapi waktu itu!" sambung Lannox, sambil mengernyitkan keningnya. "Cih, Sialan, ini benar-benar menyebalkan." umpatnya, mendecih kesal.
Jura hanya bungkam menyeringai, mendengar umpatan Ayah dari Masternya itu. Ia merenung sejenak. 'Kemungkinan besar, ini adalah salah satu ujian yang di maksud Paduka, untuk kami..! Melawan Penyihir itu adalah hal mudah.
Namun, yang jadi masalahnya saat ini.. jika musuh kami adalah Dewa itu sendiri!!' pikirnya yang teringat kembali pesan Dewa Zando.
'Aku masih ragu, meskipun Rubah Tua Rabarus sudah terlahir kembali dengan wujud sempurna dengan kekuatan yang tidak terbatas. Akan tetapi.. Dia tetap bukan tandingan Dewa!
Terakhir kali saat ia melawan Dewa Algudof, tulang-belulangnya patah dan kondisinya sangat mengenaskan. Jika sedikit saja kami terlambat, dia mungkin sudah menjadi mayat.
Namun takdir berkata lain, di balik kejadian tersebut.. Ada makna yang tersirat yang tidak kami mengerti.. Mungkin ini semua sudah di rencanakan Paduka sejak Awal. Tidak mungkin semuanya bisa terjadi secara kebetulan!' Jura bergelut dengan pikirannya sendiri.
Jura menyipitkan matanya, mengkaji setiap kejadian yang pernah mereka lalui. Setelah ia berpikir kembali tentang kejadian tersebut.. Ia jadi yakin jika semua ini, adalah ujian dari Dewa Zando.
'Jika di pikirkan lagi.. semuanya jadi tampak masuk akal. Haah.. Wahai Paduka Sang Dewa Agung! Sebenarnya siapa dirimu? Semakin aku memikirkan tentangmu, semakin aku bertambah bingung..!?' gumamnya dalam hati.
DEWA ZANDO
Sedangkan di tempat misterius yang tidak terjangkau oleh siapapun.. Sosok Dewa Zando menyeringai saat mendengar isi hati, pikiran Jura. ia duduk memperhatikan semuanya dari atas singgasana miliknya.
Dewa Zando duduk Bertopang dagu pada salah satu tangannya.. Menyaksikan semuanya sambil menyeringai. "Hmm..Hmm..., Tuk... Tuk... Tuk...Tuk... Tuk..." ketukan jarinya mengisi keheningan yang sunyi.
"Anak itu memang jeli.. Aku akan melihat, apa yang akan kalian lakukan! Ini adalah ujian pertama dariku untuk anak-anak itu.
Buktikan jika kalian memang layak menjadi pelindung Permaisuriku..!" gumamnya ambigu menyaksikan semuanya.
Di tengah ketegangan, yang meresahkan! Sosok Argus muncul langsung menyapa Lannox. "Master, apa yang telah terjadi?" ujarnya yang baru saja tiba.
"Tidak perlu bertanya pun, kau pasti sudah tau apa yang mereka inginkan..!" ujar Lannox bersedekap tangan, memperhatikan musuhnya dengan tajam.
Pantas saja.. Tiba-tiba saya merasakan getaran yang sangat mengerikan datang dari arah telaga!" ujarnya yang baru saja muncul, lalu berjalan menghampiri Sang Master, yang tengah berdiri di samping Jura.
Diam-diam Argus melirik kearah Jura, tampak matanya menyipit tajam saat melihat sosok Pria misterius itu. Berbeda dengan Argus, Pria berpakaian serba hitam, berperawakan tinggi dan tampan itu.. justru tidak merespon kehadirannya, seolah ia tidak tertarik sama sekali dengan kemunculan Argus.
'Dia..! Bukankah dia adalah Pria Yang waktu itu? apa sebenarnya hubungannya dengan Dewi dan Master!!? Mereka tampak akrab sekali. Lalu di mana Pria yang bersamanya waktu itu?
Saat itu! Aku melihat ia datang berdua dengan Pria yang sedang menggendong Dewi. Seolah mereka sudah akrab dan kenal lama.' gumamnya menyelidik dalam hati, ia teringat kembali saat ia pertama kali melihat Jura dan Garda.
__ADS_1
***
Sementara di Markas, Rabarus sedang bersandar pada jendela besar. Ia melihat keluar, sambil memperhatikan cuaca yang telah kembali normal. Dalam hati ia merasakan perasaan yang tidak enak..!
Namun ia masih belum tahu, perasaan apa yang membuatnya resah saat ini. Ia yang sedang duduk bersedekap tangan, sambil mengetukkan jarinya di lengan kirinya.
Ia menundukkan pandangannya menatap rumput yang bergoyang di tiup angin.. Lalu bergumam dalam hati.
'Eum..., kenapa firasatku tidak enak! Apa sebenarnya yang terjadi...?' Saat Rabarus di sibukkan dengan perasaannya yang gelisah, tiba-tiba Gira muncul dengan wajah panik.
Rabarus melihat kearah Gira yang sedang bertekuk lutut, sambil memegang kedua pundak Ravella. Ia hanya diam mendengarkan tanpa bertanya kenapa.
"Nak Dewi.. Bisakah kau tinggalkan kami berdua dulu." ujarnya pada Ravella.
"Memangnya apa yang terjadi Kek? Bukannya Kakek sudah berjanji padaku, setelah kita tiba di sini.. Kakek akan menceritakan semuanya." ujarnya menuntut jawaban Gira.
Ekspresi Gira berubah mengkerut, Ia teringat kembali perkataan Kaisar dan Jura. Yang melarang memberitahu Masternya, tentang apa yang terjadi. 'Sial, bagaimana ini..? Apa lagi Kaisar telah melarang memberitahu apa yang terjadi.' pikirnya kebingungan dengan pertanyaan Masternya.
Rabarus yang bisa membaca situasi, dan mendengar luapan hati Gira.. Mulai membuat pergerakan dan turun dari jendela yang ia duduki. Lalu datang menghampiri Keduanya.
Ia berdiri di antara keduanya.. Dan mengangkat satu alisnya, menatap lelah pada keduanya. Rabarus menghelah nafas panjang, melihat keduanya yang saling bertahan dengan prinsip masing-masing.
"Haah..., Nak Dewi, Kau tidak boleh bersikap egois seperti ini. Mereka pasti mempunyai alasan kuat, mengapa mereka tidak bisa jujur padamu. Dan itu mereka lakukan semata-mata hanya untuk melindungimu dari bahaya.
Kau harus belajar untuk peka dalam hal ini Nak! Apakah pernah mereka memaksamu untuk berbicara? Saat kau sendiri tidak bisa mengatakan apapun." ujar Pak Tua Rubah mengingatkan kembali secara tegas, apa yang pernah terjadi di kastil.
Ia melihat kearah Ravella.. Yang tampak mulai bereaksi dengan perkataannya. Menyaksikan hal tersebut, Gira tidak suka jika Masternya, jadi berubah murung.
"Apa kau tidak bisa berbicara baik-baik pada Masterku sialan!" umpatnya kesal.
"Haah.. Ternyata dewasa tidak menjamin seseorang itu menjadi pintar!" tegas Rabarus menyindir Gira.
Belum selesai ia berbicara, Rabarus mengarahkan tangan di hadapan Gira, agar berhenti menyela pembicaraan. "Kau diam dulu bocah ular.. Sebagai orang yang jauh lebih tua dari kalian Berdua, Sudah sepantasnya aku bersikap seperti ini.
Dan dimana sopan satunmu? Di saat orang tua sedang berbicara, kau tidak boleh memotong pembicaraan. Itu namanya tidak sopan.
Dengar.. Nak Dewi, Balik lagi ketopik awal. sekarang aku ganti posisi, dan balik bertanya padamu! Mengapa kau menangis waktu berada di tanah Elf? Dan kenapa kau hanya diam saat di tanya oleh Spiritmu? Ap..."
"Pak Tua.. Hentikan!" bentak Gira, memotong perkataan Rabarus, yang mendesak paksa, Masternya tanpa memberinya jeda sedikitpun untuk menjawab. Tampak Mata Ravella mulai merah karena di desak Rabarus tanpa henti.
Rabarus melirik sekilas kearah Gira, lalu ia mengabaikannya dan melanjutkan berbicara. Apa kau tahu betapa khawatirnya mereka padamu? Karena memikirkan keadaanmu yang menyedihkan, yang menolak mengatakan apapun.
Sampai-sampai mereka tidak berani menemuimu hanya karena takut kau masih marah pada mereka. Jika kau benar menyayangi mereka dan menganggap mereka keluargamu! kau tidak akan bertindak keras kepala seperti itu." tegurnya masih dengan intonasi lembut, namun, mengandung perkataan tajam dan dingin.
Air mata yang sejak tadi ia tahan.. Kini perlahan tumpah, karena merasa bersalah. Ia tidak membantah sedikitpun perkataan Rabarus, karena itu adalah kenyataannya. dia telah membuat Spiritnya khawatir.
Ia telah bertindak egois tanpa ia sadari, karena selama ini ia hanya memikirkan perasaannya sendiri. Sementara ia telah membuat banyak orang khawatir karenanya.
"Hiks.. Hiks.. Ma-ma-hiks.. Maafkan A-hiks.. Maafkan aku! A-a-aku tanpa sadar telah membuat semuanya khawatir. Ma-maafkan aku karena tidak berpikir dewasa.. Hiks.. Hiks.." tangis Ravella pecah.
Gira yang tidak sampai hati, langsung menyentuh kedua pipi Putri kecilnya yang ia sayangi. Gira Menghapus air mata yang sudah tergenang basah di kedua pipinya.
"Tidak apa-apa sayang, kau berhak melakukan apapun. Karena memang itu tugas kami sebagai Spiritmu Nak." jelas Gira lalu meraih tubuh kecil yang rapuh itu kedalam pelukannya.
"Hua... Hiks.. Hiks.. Aku janji tidak akan bersikap t-tidak e-egois lagi. Padahal a-aku sendiri yang bilang telah menganggap kalian keluargaku! Tapi aku yang tanpa sadar, malah telah melukai perasaan orang terdekatku.
__ADS_1
Maafkan aku Kek! Hiks.. Hiks.. Aku mengaku salah..." ujarnya tersedu-sedu.
Gira memeluknya, dan mengusap punggungnya pelan. "tidak apa-apa sayang, kami tidak pernah mengambil hati, dengan apa yang kau lakukan. Karena kau Putri sekaligus Master yang kami sayangi." jelas Gira menenangkannya.
Namun tanpa Ravella tahu, Gira menatap tajam pada Rabarus. Dan berujar mengumpat melalui pikirannya. Karena ia tahu Rabarus bisa mendengar pikirannya.
'Sialan Kau Pak Tua? Berani-beraninya kau membuat Putri kesayangan kami menangis hanya karena hal sepele.' umpatnya tidak senang, dengan apa yang dilakukan Rabarus.
Namun bukannya jera, Rabarus dengan tegas mengatakan..
'Mulai saat ini, aku tidak hanya akan mendidik kalian Para Spirit. tapi juga akan bersikap sama pada Dewi jika Dewi bertindak di luar batasan. karena ini demi kebaikannya di masa depan dan untuk kalian juga.'
'Tapi tidak seperti ini caranya.. Sialan, apa kau tidak lihat betapa sedihnya ia karena perkataanmu barusan.'
'Haah.. Justru itulah kesalahan kalian anak-anak lembut. Kalian memanjakannya, dan membiarkannya melakukan apapun meskipun itu salah. Apa kalian tidak berpikir, rasa sayang kalian yang seperti itu!
Malah akan menjerumuskannya menjadi peribadi yang manja dan egois.. Jika sudah besar ia bukan menjadi baik, tapi malah akan menjadi sombong dan akan bersikap semena-mena sendiri.
Justru karakternya.. Harus di tempa sejak dini, agar kelak ia menjadi peribadi yang rendah hati dan baik pekerti. Ingatlah pesanku ini Nak, sayang boleh-boleh saja. Namun harus pada tempatnya. Kalian harus bisa memisahkan mana yang perasaan peribadi dan mana yang bukan.
Cinta buta, hanya akan melahirkan petaka. sedangkan cinta murni.. berani menegur sebuah kesalahan, meskipun kau sangat menyayanginya karena tidak ingin ia salah jalan.
Sebuah kesalahan yang di biarkan atas dasar ketidak tegaanmu, akan berakhir menjadi bumerang untuk kalian sendiri. Mendidik untuk menjadikannya lebih baik itu harus.' Rabarus yang selalu bertindak bijak, kini bersikap tegas pada tempatnya.
'Sekarang, biarkan aku berbicara berdua dengannya. Bisakah kau tinggalkan kami sebentar?' ujar Rabarus, pada Gira.
Gira.. Menarik nafas dalam, dan melepaskan pelukannya. Untuk memberi ruang bagi keduanya berbicara. Namun sebelum pergi, ia memberi peringatan pada Rabarus.
'Jangan membuatnya menangis lagi, jika itu terjadi lagi.. Aku akan bertarung nyawa denganmu. Dan jangan lama-lama, karena aku juga mempunyai hal penting Yang harus dibicarakan padamu.' Gira memberikan peringatan pada Rabarus, setelah itu ia berlalu pergi meningalkan keduanya.
'Dasar, bocah keras kepala.' pikirnya menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap punggung Gira yang telah menjauh.
Kini ia kembali fokus pada Putri kecil, yang tengah menunduk senyap. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun sebenarnya tidak tega mendengar Tangisan Ravella.
'Apakah aku terlalu keras padanya...! Tapi jika aku tidak bertindak seperti ini, ia akan terus mendesak gira. Sedangkan anak itu juga tidak bisa berkata jujur, karena ini perintah dari Paduka.
Wajar saja jika ia menangis, meski mempunyai mental dewasa, bukan berarti ia telah dewasa. Dia tetap masih anak-anak yang membutuhkan bimbingan dari Para orang tua.'
Rabarus membelai puncak kepala Ravella dengan lembut.. 'Nak Dewi.. Aku menegurmu, bukan karena aku marah padamu. Tapi aku melakukannya karena aku menyayangimu seperti Putriku sendiri. Namun, jika aku diam.. Itu tandanya aku tidak peduli padamu.
Jadi, aku harap kau mengerti dengan maksudku Nak! Aku tidak ingin kau menjadi egois hanya karena kau Pemilik mereka!
Mulai sekarang, aku akan mendidikmu seperti Putriku sendiri.. Namun jika kau merasa tidak nyaman atau tidak menyukainya, kau bisa menolaknya." tegas Rabarus, sambil mengusap sisa air mata yang tertinggal di pipi Ravella.
Ravella yang sejak tadi hanya menunduk diam setelah, di tenangkan Gira. Kini mengangkat kepalanya, dan menatap lekat Rabarus. Ia memperhatikan kedalaman mata Rabarus, tampak ketulusan di matanya.. Terpancar tegas dan dalam.
Wajah yang masih sembab, karena menangis.. Kini menunjukkan sinarnya. Ia tersenyum lembut pada Rabarus, dan bergumam.
"Setelah mendengar perkatan Kakek barusan! Aku jadi sadar dan tahu kesilapanku, Karena selama ini tidak ada satupun yang menegurku, jika aku salah. Kecuali Ayah ku..!
Meski terkadang cara Ayah menegur dan mendidikku berbeda dengan Kakek.. Aku senang, Kakek sangat peduli padaku, dan mau menegurku.
Dari kehidupan lampau, hingga aku terlahir kembali sebagai seorang Putri Duke.. Baru Kakek yang pertama bertindak tegas padaku.
Terima kasih karena telah mengingatkanku, teruslah seperti ini.. Agar aku tahu mana yang boleh dilakukan, dan mana yang tidak. Selama itu masuk akal aku akan menerima nasehat Kakek.
__ADS_1
Namun Kakek juga harus bersabar dengan sikapku, yang terkadang tidak bisa aku kontrol. Bahkan aku bisa bertindak nekat diluar kendaliku, apalagi jika sesuatu yang aku yakini itu, adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat di gugah.
Aku juga tidak tahu, apa karena tubuh kecil ini..! Jadi perasaanku yang awalnya tenang, terkadang bisa meledak-ledak, karena terbawa emosi!" ujarnya polos sambil melihat kedua tangannya yang kecil.