
Di Mansion.. Keenam spirit berpencar kebeberapa tempat. Untuk membuat sebuah Perisai perlindungan. Tama, dan ayahnya.. Menuju arah Barat. Gira dan Saga, pergi kearah Selatan. Zaku dan Roya, di Timur. Sementara Jura sendiri, memilih arah Utara.
Kedua pria berparas hampir sama, sudah tiba di tempat tujuan. Yang membedakan keduanya hanyalah Umur dan karakter. Keduanya berjalan melihat kesekitar, suara angin menderu kencang. Rabarus berdiri menikmati pemandangan nun hijau, luas terbentang. Ia berdiri di antara bukit, sambil melihat matahari yang masih tertutup awan
"sepertinya, musim GUGUR akan segera tiba. Sebenarnya, apa yang terjadi? Sehingga kalian bergegas ingin membuat Perisai." Tanya Pria Paruh Baya itu, penasaran.
"Hmm.. Ya, kalau ayahanda ingin tahu! Kita tunggu saja malam ini." Jawabnya ambigu.
"Emm.. Selain itu, aku juga sangat penasaran, siapa sebenarnya Master Kalian?? Kenapa aku belum melihatnya sama sekali..!!"
"hehe.. Kalau itu Rahasia khi.. khi.." Jawabnya, membuat Ayahnya semakin penasaran.
Melihat tidak ada jawaban yang ia inginkan, Rabarus tampak kesal pada Putranya.
"Dasar bocah nakal, beraninya kau mempermainkanku."
"Cih.. Meskipun kita baru bertemu, Bukan berarti aku bisa langsung mempercayaimu!! Jadi jangan sok akrab denganku, Dasar Pak Tua jelek." Jawabnya ketus.
Mendengar ucapan Tama, hati Rabarus menjadi mendung seketika. Ia sangat sadar, konsekuensi dari pilihannya tersebut. karena ia telah pergi meninggalkan keluarganya, hanya demi mengejar keinginannya sendiri.. untuk waktu yang sangat lama. Jadi sangatlah wajar, bila Putranya bersikap Asing dan menolak kehadirannya tersebut.
Karena itu Dia ingin melakukan pendekatan diri, untuk mengambil hati Putranya.. Meskipun itu sudah sangat terlambat dilakukan.
'ini adalah Akibat yang harus aku terima, semuanya butuh proses, tidak ada yang instan. agar Putraku, bisa menerima keberadaanku kembali sebagai Ayahnya, Aku harus melakukannya perlahan. Jika aku terlalu memaksa untuk melakukan pendekatan, sama saja dengan membuatnya semakin menjauh dariku.' ia kemudian menarik nafas panjang. "haaah..."
Lalu.. Ia melihat kearah Tama, yang tampak sedang berkomunikasi, menunggu aba-aba dari temannya.
'Semuanya.. apa kalian sudah sampai di tempat tujuan?' tanya Tama pada yang lainnya.
Gira dan Saga, yang telah tiba lebih dulu, langsung menyahut.
'Ya, kami sudah ada disini..' Ujar Gira. 'Bagaimana dengan kalian?' tanya Saga.
Begitupun Roya dan Zaku, keduanya telah tiba di tempat tujuan. Hanya Jura yang masih belum menjawab. Tak lama.. Terdengar Suara dari orang yang dibicarakan.
'Maaf kawan-kawan, aku sedikit terlambat.' Ujarnya yang baru saja muncul.
'darimana saja kau?' tanya Tama penasaran.
'heh.. Aku Kezona Mana dulu! Ada yang tertinggal disana.. Kalau begitu, mari kita mulai.' ujarnya memberi aba-aba pada yang lainnya.
'baik.' jawab semuanya bersamaan.
Namun, sebelum mereka mulai, Tama.. Melirik kearah Ayahnya, Yang tampak sedang melamun. Lalu ia memanggilnya!
"Pak Tua.." panggilnya.
Rabarus, yang sedang berdiri melihat pemandangan dikaki bukit, sambil bersedekap tangan, kini menoleh Kepada Putranya.
"Apa kau butuh bantuanku?" tanyanya, kepada Putranya.
"Ehem.. Ya, bisakah kau membatuku mengawasi dari atas, kalau-kalau ada gangguan disaat kami sedang Fokus." Ujarnya kelihatan Canggung
__ADS_1
Rabarus terlihat senang, karena merasa dibutuhkan. Ia tersenyum mendengar permintaan Putranya, yang tampak masih enggan.
"Hem.. Apa yang tidak untuk Putraku." Ujarnya senang.
"cih, aku hanya memintamu untuk mengawasi, jadi tidak perlu sesenang itu." Gumamnya acuh.
Rabarus, melayang terbang melihat dari ketinggian. Dari jauh, Tampak keenam Cahaya berbeda menyilaukan, muncul dan menyebar perlahan, menyerupai dinding transparan.
Rabarus, yang mengawasi dari ketinggian.. Bergumam dalam diam!!
"Hmm.. Aku sangat penasaran, Musuh seperti apa yang akan mereka hadapi. Sampai-sampai membuat Perisai sebesar ini..!" Gumamnya penuh tanya.
Rabarus, melipat tangan kirinya.. Lalu, tangan kanan memegang dagu. Setelah dinding tersebut menyatu menjadi satu, cahaya yang terpancar tadipun kini telah menghilang, Dan kembali menjadi seperti biasa lagi. Setelah mereka menyelesaikan membangun Perisai, semuanya kembali kemansion. Di mansion.. tampak Lannox sedang duduk di Sofa.
Ia melakukan pekerjaan dikamarnya, selain tidak ingin melewati momen penting saat putrinya sadar.. Ia juga dipenuhi dengan kekhawatiran,yang membuatnya gelisah tidak tenang. Namun, ia menyembunyikan kekhawatirannya itu.. Dengan melakukan kesibukan.
Tak lama.. Ketujuh Pria telah kembali. Lannox yang sudah terbiasa dengan kehadiran Para spirit, tidak merasa heran lagi.. akan kehadiran mereka. Akan tetapi, ia masih belum sadar, dengan kehadiran kedua sosok lainnya. Sangking fokusnya, memeriksa dokumen.
"Cih, mau dimanapun kau berada.. Dirimu selalu tampak sibuk ya.. Bocah!" Gumam Tama, pada Lannox.
"Ya.. ini sudah menjadi rutinitasku setiap hari.." Jawabnya tanpa menoleh, beberapa saat kemudian, ia yang masih fokus, langsung berhenti melihat dokumen. Karena baru tersadar akan sesuatu, lalu ia menoleh kearah suara tersebut.
"Kapan kau kembali?" tanyanya sedikit terkejut.
"kemarin, saat kau masih tidur." Ujarnya santai.
"Hmm.. Pantas saja aku tidak tahu." angguk Lannox.
"Siapa dia?"
Meskipun ia tampak sedikit lebih tua, tetapi.. wajahnya tidak kalah tampan dari Tama, ia juga mempunyai fisik yang sangat sehat, dan kuat, Layaknya anak muda.
"Hah.. Dia Ayahku." Jawabnya sedikit enggan.
Rabarus, menyapa dengan senyuman ramah. 'apakah dia Master dari anakku?' sesekali ia memperhatikan Lannox. 'tapi, aku tidak merasakan apapun darinya..! Oh, atau mungkin.. Dia menyembunyikan kekuatannya..? Ya, bisa saja begitu!! Hehe.' Pikir Rabarus.
"Begitu rupanya.. Ternyata hanya mirip dari luarnya saja, kenyataan sangat berbeda." Gumamnya dengan satu alis yang terangkat.
"Haha.. Kubilang juga apa? berarti mataku ini.. tidak salah bukan?" celetuk Zaku, tampak senang dengan ekpresi Tama.
"cih, berisik.. bisakah kau diam..!" Ujar Tama tampak kesal.
Sementara yang lainnya.. hanya menjadi penonton, melihat ketiganya. Sedangkan Jura, dibalik ketenangannya yang tampak santai.. Terdapat kekhawatiran di dalamnya. Ia menatap keluar jendela.. Melihat kelangit terang, tampak BULAN terlihat samar, di siang hari.
'Meskipun kami sudah membuat Perisai.. entah kenapa? hatiku masih terasa tidak tenang. Haah.. Rasanya aku seperti tidak ingin melihat malam!!' Ia menarik Nafas, lalu memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan yang masih terlipat.
Rabarus memperhatikan Jura, yang sedang duduk bersandar dimuka jendela. Ia lalu datang menghampiri Jura.
'Ada apa anak muda!! Aku melihat ada riak kegelisahan dipermukaan Wajahmu?' ia masuk berbicara, menembus melalui pikiran Jura, tanpa ada yang tahu.
Mendengar Pikirannya.. Bisa ditembus oleh tamu yang tak diundang, secara tiba-tiba Jura menjadi kesal. selain, Kaisar, Master, dan saudaranya, tidak ada yang bisa melakukan itu.. Tanpa seizin darinya. Kecuali, hanya Orang yang telah melakukan kontrak dengannya. Melihat kelancangan Rabarus, Jura, tanpa basa-basi langsung mempertanyakan identitas Rabarus.
__ADS_1
Pandangannya, langsung menghujam tajam kearah Rabarus. Menyadari tatapan Jura, yang terlihat seperti ingin membunuh! Rabarus hanya membalasnya dengan senyum hangat, seolah tidak terjadi apapun pada mereka berdua.
'katakan, siapa kau sebenarnya???' tanya Jura, langsung keintinya.
...****************...
Di tempat lain, di menara sihir. Tampak ketegangan menguasai meja bundar, suasana di dalam ruangan tersebut, menjadi hening. Tak ada satu pun, yang berani berbicara. Para Dewan terdiam membisu, dicekam oleh ketakutan masing-masing. Dan, hanya Rhagel yang tampak tenang Seolah tak terjadi apa-apa.
"diiirrtt braaag.. Maafkan saya Baginda?!!" Sanders yang tampak sangat ketakutan, dan dengan cepat ia menjatuhkan diri. Berlutut didepan Sang Kaisar.
"Heh.. Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari hadapanku, Kau tidak dibutuhkan lagi dalam rapat ini. mulai sekarang, kau dikeluarkan dari Anggota Dewan. Dan Gelarmu sebagai Baron, akan dicabut, beserta semua aset yang kau miliki.. Semuanya Akan disita."
"ti..tidak..tidak Baginda, saya mohon, maafkan atas kesalahan saya, Baginda. saya mengaku salah, karena telah menyembunyikan Masalah ini, dari Baginda... Baginda.. Tolong Baginda Baginda...!!!" Pintanya momohon belas Kaisar.
Baron Sanders loman, kini mendapat hukuman. menjadi Rakyat biasa. tanpa harta, dan tanpa gelar.
"Pengawal, keluarkan dia dari menara ini. Dan, Jauhkan dia dari pandanganku sekarang, selama aku masih bisa menahannya." perintahnya marah, sambil menahan rasa keinginannya, untuk membunuh mantan Baron.
"Baik Baginda." jawab kedua pengawal, patuh.
"Baginda.. Tolong ampuni saya Baginda, beri saya kesempatan sekali lagi.. Saya berjanji akan memperbaikinya Baginda. Baginda... saya mohon...."
Kedua pengawal itu pun, dengan sigap langsung membawa paksa, Sander, Dari hadapan Sang Kaisar. Setelah kepergian Sanders, suasana di dalam ruangan kini, menjadi tenang kembali. Lalu.. Kaisar muda itu, menoleh pada ketujuh Dewan yang tersisa. Sadar akan tatapan Kaisar, semuanya hanya menunduk ketakutan. Tidak ada satupun, yang berani mengangkat kepala dihadapannya.. Termasuk Rhagel, yang tadi kelihatan tenang.
Sang Kaisar kembali duduk di kursi miliknya. Lalu.. Ia mulai berbicara kembali. Ia memperhatikan semua wajah, yang ada dihadapannya dengan tatapan menyelidik dan dingin.
"Dengar semuanya.. Jadikan ini pelajaran untuk kalian semua, aku akan memberi kalian satu kesampatan. dan untuk masalah KASUS diperbatasan." ia menatap Rhagel.
"gulp." menyadari tatapan menusuk Kaisar padanya, ia menelan ludah karena cemas. 'aku pikir hanya dikeluarkan saja, tapi ternyata.. Tidak cukup hanya di pecat. Beliau juga.. Mencabut Gelar, serta menyita segala aset yang telah dimiliki, Ini lebih mengerikan dari yang aku pikirkan.'
"Akan aku serahkan KASUS MUSIMAN kepada Rhagel, dengan ini Rapat ditutup."
"kalau begitu, kami pamit undur diri Baginda." ujar semuanya serentak lalu Pergi.. Begitupun Rhagel.
"Rhagel.."
"S..saya Baginda." jawabnya gugup.
"Kau tetap disini."
"Baik Baginda." jawabnya patuh.
Setelah semuanya pergi.. Rhagel duduk di samping Kaisar. Ia menunggu dengan patuh perintah selanjutnya. Namun, karena melihat Kaisar tidak kunjung berbicara. Rhagel memberanikan diri, membuka percakapan.
"Apa yang bisa saya bantu, Baginda?" tanya Rhagel sangat hati-hati.
Raffael duduk bersandar pada kursinya, ia diam sejenak, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Dengarkan aku baik-baik Rhagel, sepertinya aku tahu, siapa dalang dibalik KASUS ini."
"Apa maksud Baginda?" tanya Rhagel mulai tertarik.
__ADS_1