
Di suatu tempat yang tenang dan penuh dengan misteri.. tiba-tiba muncul lubang hitam, di pinggir sungai. membuat Para penghuni hutan yang merasakan ancaman, berlari ketakutan dan bersembunyi menyelamatkan diri mereka masing-masing.
di antara kedua lubang hitam itu, muncul kedua sosok asing yang belum pernah mereka lihat, dan juga tidak mereka kenali.
Dari kejauhan tampak sosok Jura dan Zion, sedang terbaring kaku di atas tumpukan dedaunan yang berguguran. keduanya terbujur kaku tak berdaya. pemandangan di sekitar hutan, sangatlah tenang dan damai.
Suara air terjun mengalir deras mengusir keheningan tempat tersebut, daun-daun hijau bergoyang pelan tertiup angin. Burung-burung bernyanyi seolah sedang menyambut kemunculan sosok yang tidak terduga.
Bunga-bunga bermekaran di setiap tempat, Para penghuni hutan saling berbisik dan juga penasaran, akan siapa kedua sosok yang tiba-tiba muncul dan terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri tersebut.
Rasa penasaran dari Para penghuni hutan tersebut.. menimbulkan ragam pertanyaan. membuat semuanya berlari keluar dari tempat persembunyian mereka, hanya untuk mematikan dari dekat dan mencari tahu siapa sebenarnya sosok yang telah membuat heboh tersebut!
Para penghuni tempat tersebut berkerumun mengelilingi kedua sosok yang kini tengah sekarat. Jura yang masih dalam wujud manusianya.. Terbaring kaku, tubuhnya tampak hampir dingin membeku, dan bibirnya setengah membiru.
Sedangkan sosok Singa Putih yang sebesar tubuh Gajah itu, juga sedang terbaring mengenaskan. Namun yang lebih parahnya lagi.. Tulang-belulangnya remuk akibat terkena cengkraman keras.
Para hewan penghuni hutan berkerumun mengelilingi kedua sosok yang kini tengah berada dalam keadaan kritis.
Keduanya berada di ujung kematian.. Tepatnya, antara hidup dan mati. Di tengah kerumunan tersebut.. tiba-tiba seekor Tupai berbicara mengutarakan pendapatnya.
"Hei.. Siapa mereka? Aku baru kali ini melihat ada Ras manusia dan Ras Singa Buas. sepertinya, ini pertama kalinya mereka ada di sini..!" ujar si Tupai, membuka topik pembicaraan.
"Benar, Lalu apa yang harus kita lakukan pada kedua Ras asing ini? Apa lagi Ras Singa! akan sangat berbahaya jika sampai salah satu dari mereka sadar dan kelaparan." sambung si Kelinci lagi.
"Ya, Ras buas sepertinya bisa saja melahap Hewan Herbivora seperti kita! hanya dalam waktu singkat. Ini sangat berbahaya bagi Ras kita. Apa lagi.. Aku mencium bau yang sangat mengerikan dari manusia ini..!!" ujar Si Rakun bimbang, lalu melirik pada keduanya.
"Memangnya, bau seperti apa yang kau rasakan Rakun??" tanya si Monyet penasaran.
"Hmm.. Entahlah! yang jelas, itu seperti bau Raja pemangsa yang sangat mengerikan..!" sambung Rakun lagi, tiba-tiba bergidik ngeri sendiri.
Mendengar perkataan Si Rakun, timbul kecemasan di balik wajah polos mereka. Tak lama setelah mereka di landa ketakutan,
Semua penghuni hutan, mengalihkan pandangan mereka, pada sosok yang sangat mereka Agungkan, dan mereka hormati.
Para Hewan Herbivora tersebut melihat kearah sosok cahaya putih, yang kini tengah berjalan mendekat kearah kerumunan. Sosok Cahaya Putih bertanduk terang, datang dari arah kedalaman hutan rimbun. Sosok itu pun berjalan pelan, melewati area kerumunan Para Penghuni Herbivora.
__ADS_1
"Yang Mulia..." ujar mereka bersamaan, menyapa sopan pada sosok Rusa Putih yang bercahaya terang itu. semuanya menunduk hormat padanya, yang saat ini tengah berjalan melewati kerumunan.
"Sruk.. Sruk.. Sruk.. Sruk.. Sruk.." ia berjalan diatas tumpukan daun yang telah berguguran di tanah. dan berhenti tepat di depan kedua Spirit, yang saat ini sedang terbaring kaku tidak sadarkan diri.
Seekor Rusa Putih besar bercahaya.. memandangi dengan tenang, pada kedua sosok tersebut. Rusa itu sama besarnya dengan ukuran Zion, Tanduk putihnya yang besar dan di penuhi dengan banyak cabang rumit.
Yang menandakan jika usianya sudah jutaan tahun, dan cahaya itu adalah bukti keberadaannya. sebuah tanduk yang melambangkan mahkota bagi Para Penghuni hutan. karena terlihat sangat indah bercahaya.
tubuh Rusa yang bercahaya lembut namun tidak menyilaukan mata itu, berdiri di antara kedua sosok tersebut.
Sang Rusa misterius yang pernah di temui Jura dulu, saat bersama Rabarus. Dialah yang di panggil sosok Rusa Pertapa oleh Rabarus.
Ia melihat kearah Jura dan Zion.. namun fokusnya teralihkan pada sosok Zion yang semakin lemah. melihat itu.. ia menghampiri Zion.
'Luka anak ini jauh lebih fatal di bandingkan yang satunya!' Para Herbivora yang saling melihat satu sama lain, merasa takut jika sampai Sang Rusa Pertapa, menyembuhkan Zion.
Yang menurut mereka, kesadaran Singa besar itu justru bisa mengancam kesejahteraan mereka, jika sampai Zion bangun dan sadar.. dia akan berbalik menelan, melahap mereka hidup-hidup pikir mereka yang merasa tidak tentram.
"Yang Mulia.. Bukankah sebaiknya Singa Itu di biarkan mati saja! Karena saya takut dia lebih berbahaya dari Manusia itu!" ujar Si Monyet dengan cepat, mengutarakan kekhawatirannya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di area barat Mansion.. Gira tengah berhadapan dengan amukan Zaku, yang saat ini tengah berada di luar kesadarannya.
'Cih, Sial, jika aku berbicara dengannya di saat seperti ini.. itu sama saja dengan bohong!
Percuma saja, karena dia tidak akan mendengarkan ku sama sekali. Eum, aku harus membuatnya pergi dari tempat ini segera.
Jika dibiarkan semakin lama.. tempat ini secara perlahan akan hancur menjadi puing-puing. karena amukannya yang tidak terkontrol itu.' pikirnya merenung, lalu tiba-tiba sekelebat bayangan Jura dan Zion muncul di benaknya.
'Ini salah ku, karena terlalu banyak berpikir menunggu jawaban Pak Tua Rubah. jika saja aku tidak perdulikan jawaban Rubah Tua itu!
Dan langsung kemari.. mungkinkah keduanya tidak akan mengalami hal semengerikan ini..? Cih, aku terlalu percaya diri dan berpikir jika Jura mampu, karena levelnya lebih tinggi dari kami.' Gira merasa menyesal, dan larut dalam rasa bersalahnya.
Namun amukan Zaku, kembali menyadarkan lamunannya. seketika ia dengan cepat menghindari serangan laser Zaku.
__ADS_1
"PYUUUNNNGGG.. BOOOOMMMMM!"
'Ah Sial! bocah merepotkan itu, kini malah menyerangku membabi buta. aku harus cepat mencari cara untuk membawanya pergi dari tempat ini.' pikirnya mulai tertekan.
Gira kembali melayang di depan Zaku, dan Bergumam padanya membuat Zaku berang.
"Hei Kucing pemarah, kalau berani ayo kesini hadapi aku dengan seluruh kekuatanmu! gulp" ujarnya terdengar sedang mengejek. Namun, Gira sampai menepan salivanya.. ada kekhawatiran muncul di permukaan wajahnya. Mendengar ucapan Gira, Zaku tanpa pikir panjang langsung menyerang.
'Ow.. ow.. sepertinya dia benar-benar terpancing, bagus ini kesempatan ku.' pikirnya langsung terbang keudara.
Melihat Gira kabur, Zaku langsung mengikutinya, dan terbang mengejar Gira.
*****
Sedangkan di sisi lain, Rabarus tersenyum saat melihat sosok Gira berhasil mengalihkan perhatian Zaku.
'Hmm.. bagus Bocah! dengan begini aku bisa leluasa menghadapi Musuh terkuat.' pikirnya sambil mengamati Sang Dewa, yang tampak kecewa, karena hiburannya pergi melarikan diri.
"Cih, mereka benar-benar telah mengganggu kesenangan ku. dan itu semua karena Rubah ini." ujar Sang Dewa yang kini mulai serius menatap Rabarus.
Merasa Jika ia masih tidak terlihat, Dewa itu menatap tajam pada Rabarus, yang saat ini sedang berpura-pura tidak melihatnya.
Rabarus masih berpura-pura melihat kearah langit, dan dalam hatinya ia merasa sangat lega. karena berhasil mengirim Jura, dan Gira, sampai ketempat tujuan.
Sebuah tempat yang paling aman.. yang telah di rencanakan oleh Rabarus, untuk kebaikan keduanya.
'Hem.. Aku percayakan mereka berdua padamu, Pak Tua!' gumamnya dalam hati, ia memejamkan kedua matanya sambil menyilangkan kedua tangannya.
Sementara bahaya, yang sangat mengerikan. sedang melayang mendekatinya. Keringat dingin mengucur membasahi pelipisnya.. Rabarus mulai waspada, ia menyembunyikan ketakutannya agar Sang Dewa tidak Curiga.
Dewa yang sedang melayang itu! bergumam dalam pikirannya.
'Hem... kenapa aku merasakan Perasaan yang tidak menyenangkan, dari Rubah ini..! apa aku habisi saja langsung...?' pikirnya yang kini tengah mengelilingi Rabarus.
Rabarus masih berusaha bersikap tenang, menyembunyikan kekhawatirannya, meski perasaan mengancam sedang mengitari dirinya.
__ADS_1
"Hehehehe..." Dewa itu menyeringai, lalu memetikkan jarinya, dan...!