AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
GERHANA


__ADS_3

dipegunungan, ketujuh spirit sedang berdiskusi tentang kejadian, yang membuat seluruh jagat raya gempar. tidak hanya para spirit, para dewa juga ikut merasakan kehadiran kekuatan dari sang dewa rummanoz.


dewa pembantai yang tengah duduk disinggahsana megah miliknya, nenyeringai sinis.


"bagaimana bisa dia hidup? setauku, saat aku kembali lagi kemedan perang! kulihat dengan mataku sendiri, jika dia telah mati. tapi.. bagaimana bisa! kekuatan semengerikan itu muncul lagi? apalagi itu terjadi didunia manusia. apa mungkin dia bersembunyi disana? hmm.. ini benar-benar berbahaya, jika benar dia masih hidup! aku harus segera membunuhnya. karena akan sangat merepotkan jika dia hidup dan menghalangi jalanku, apalagi.. jika sampai dia juga ikut mengincar anak itu! aku harus segera bertindak, dewi itu hanya boleh menjadi milikku. siapapun yang menghalangi jalanku untuk memiliknya! harus dimusnahkan. tapi, sebelum itu.. aku harus mencari tau keberadaan rummanoz lebih dulu, untuk menyingkirkannya.


setelah kabur dari istana, argus kembali kekota awal, untuk mencari keberadaan sang duke. namun sayangnya, lannox telah pergi dari kota itu. dan keadaan kota tersebut juga telah aman, para pasien yang dulunya terlihat sakit-sakitan. kini telah sembuh dan beraktivitas seperti biasanya, para warga bekerjasama untuk saling membangun kota tersebut.


'hmm.. kelihatannya, semua telah kembali seperti semula! syukurlah.. berarti yang mulia telah berhasil mengatasi wabah yang sudah merebak dikota ini. jika begitu.. aku harus menemui yang mulia, dan menjelaskan apa yang terjadi padaku! karena aku tidak ingin dianggap pengkhianat olehnya.'


para spirit semakin dibuat penasaran, dengan jawaban sang kaisar. namun ditengah rapat! tampak jura tengah memperhatikannya, ia merasa bingung dengan apa yang dilakukan sang kaisar.


zando mengetukkan satu jarinya, dan tak lama setelah itu waktupun kembali berjalan seperti semula. keenam raja spirit yang melihat ketukan jari sang kaisar merasa heran! dan panggilan dari gira, memecah keheningan dalam rapat tersebut.


"kaisar, apa yang terjadi? kelihatannya anda sedang tidak fokus dalam rapat ini."


"hmm.. tidak ada, aku masih tetap menyimak dan mendengar semua pembicaraan kalian. hanya saja..! ada yang sedang aku pikirkan."


"jika boleh tau, apa yang mengganggu pikiran anda?" tanya tama kepada kaisar.


"lupakan saja, kalian tidak perlu khawatir tentang spirit itu, kalian fokus saja menjaga dewi. karena sepuluh hari dari sekarang! akan terjadi gerhana, saat purnama penuh. dan saat itu tiba..! kalian tetaplah berada disisi dewi, jangan tinggalkan dia apapun yang terjadi."


"apa maksud anda kaisar? dan apa hubungannya gerhana dengan dewi?!!" tanya roya penasaran.


"kalian akan tau nanti, dan yang paling penting dari semua itu! kalian harus melindungi dewi dan katakan pada lannox dan zion juga. agar terus berada disisinya, karena akan ada serangan yang tidak terduga saat hari itu tiba." ucap sang kaisar berwibawa.


"aku serahkan tugas ini kepada kalian, dan jangan terlalu khawatir dengan kehadiran spirit itu. meskipun ragaku tidak bersama kalian, tapi aku selalu tau apa yang terjadi. baiklah, rapat ini cukup sampai disini." dalam sekejap mereka sudah berada didalam ruangan, tempat sang dewi terbaring, dan saat mereka tiba! sang kaisarpun telah menghilang.


"bagaimana bisa kita sudah ada disini?" ucap roya dan tama bersamaan.


"heh.. itulah kehebatan kaisar!" ujar zaku bangga, sementara roya dan tama tampak tidak senang melihat reaksi zaku.


"sepertinya.. banyak hal yang telah kita lewatkan ha..!" ucap tama ketus.

__ADS_1


"cih, kekanakan." ejek roya.


"haa.....! kau bicara apa..? aku tidak dengar." teriak zaku pura-pura tuli.


"cukup, apa kalian tidak sadar! ini dimana? jika ingin berdebat pergilah ketempat lain, jangan mengganggu dewi yang sedang tidur." setelah mendengar teguran jura, ketiganya langsung terdiam dan tidak berbicara lagi.


sementara ditempat lain, digazebo didekat danau. zion yang tengah duduk sambil memandangi danau, sesekali tampak ikan-ikan kecil sedang berkejar-kejaran didalam air, hingga menimbulkan riak kepermukaan.


"apa yang sedang kau pikirkan nak?"


suara garda memecah keheningan, sosok biru tersebut, menghampiri zion dan berdiri disampingnya, sambil melihat pemandangan hijau yang terbentang luas didepan mata.


"tidak ada, hanya saja.. kenapa kakek jura kelihatan seperti sedang terburu-buru sekali..! apakah telah terjadi sesuatu yang tidak kita tau?"


"jangan khawatir, mereka hanya sedang berkumpul sesama raja spirit, jadi tidak ada yang bisa kita lakukan."


"begitukah! lalu, apa yang kakek lakukan disini? kelihatannya kakek ingin pergi..!"


"hahahaha aku ketauan ya.. aku kesini memang ingin berpamitan denganmu!"


"ada urusan yang harus aku selesaikan, bisa jadi aku akan pergi sedikit lama. jadi kau tidak perlu merindukanku hihi."


"cih, bukankah jauh lebih bagus jika kau tidak ada disini..!"


"heh.. kalau aku tidak ada, lalu siapa yang akan menjagamu nanti?"


"kau bicara seakan aku ini masih bocah saja, jangan remehkan aku kakek tua."


"ya.. ya.. dasar kucing galak, haah sepertinya sudah waktunya untukku pergi, jagalah dewi baik-baik nak. karena aku tidak tau apa yang akan terjadi.. saat aku tidak ada nanti!"


"ya tenang saja, kalau soal itu memang sudah menjadi tugas kita bersama bukan!"


"hmm.. baiklah, aku pergi dulu, jaga dirimu." tak lama setelah mengucapkan beberapa kata, gardapun menghilang.

__ADS_1


...****************...


"i..itu, sa..saya lupa mengatakannya, a..apalagi, ayahanda dan ibunda juga! tidak pernah kembali lagi, setelah kepergian kalian yang terakhir kali." ucap raja agak gugup.


"tidak kembali bukan berarti kami tidak ada, apa kau ini bodoh? walaupun kami tidak berkunjung..! tapi kami selalu memperhatikan kalian, dan memantau perkembangan cucuku." ujar wanita itu tegas.


"sa.. saya benar-benar tidak tahu, jika kalian berdua seperhatian itu kepada keluarga kami."


"raja seperti apa kau ini? sampai tidak tau hal sesederhana itu..!" sang raja tidak bisa berkutik, dan berkata apapun. dia melirik kepada sang penasehat, badar yang menyadari lirikan itu! langsung mengerti.


"ehem.. ehem.. yang mulia, maafkan atas kebodohan raja hamba." raja langsung menatap nyalang kepada badar, saat mendengar kata bodoh. badar yang menyadari tatapan itu segera mengalihkan pandangannya, dan berpura-pura tidak melihat. "beliau.. terlalu sibuk, hingga tidak sempat memikirkan diri sendiri begitupun yang lainnya."


"sebaiknya kau diam, jika tidak ingin kehilangan lidahmu." seru sang wanita kepada badar. raja sedang menahan tawanya, sambil mengumpat dalam hati.


'hahahaha rasakan itu, kau ingin mengambil kesempatan itu! agar aku terlihat bodoh didepan mertuaku, heh pada akhirnya dia terkena jurusnya sendiri.'


"kau juga faran, sebaiknya kau cepat panggil helmina sekarang! sudah lama aku tidak bertemu dengan putriku."


"t..tapi ibunda.., helmina tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk.."


"aku tidak ingin dengar alasanmu! cepat temukan dia sebelum aku merubahmu menjadi nyamuk."


"ba..baik ibunda, sa..saya akan mencarinya sekarang." Sekarang gantian badar yang menahan tawa, dalam hati ia benar-benar sangat senang. dimana.. ia melihat sang raja seperti anak-anak yang sangat patuh saat dihadapan orang tuanya.


'pemandangan yang sungguh langka! aku sangat beruntung bisa melihatnya. biasanya beliau sering menindasku, kini.. gantian baginda yang merasakan penderitaanku hihi.' setelah beberapa langkah raja pergi.. badarpun ikut menyusul raja faran dari belakang. ia tidak mau terlalu dekat, karena takut dijadikan pelampiasan sang raja. namun saat dia beranjak pergi.. terdengar suara menghentikan langkahnya.


"tunggu.. kau tetap disini." badar menoleh melihat kekiri dan kekanan, untuk memastikan apakah benar ia yang dimaksud!


"apa kau tuli?" badar baru sadar, ternyata yang dimaksud memang benar dia sendiri.


'hmm.. semua telah kembali normal, dan pertemuan anak itu dengan permaisuriku akan segera terjadi dalam waktu dekat..! dan tidak lama lagi.. bocah penyihir itu juga akan datang untuk menemuinya. jura..'


'ini.. suara paduka! ya benar paduka, saya mendengarkan.'

__ADS_1


'awasi bocah bernama argus, dan beritau kepada yang lainnya, untuk menyembunyikan aura raja milik mereka.'


'apa yang harus saya katakan paduka? saya tidak yakin, apakah mereka akan mendengarkan ucapan saya!'


__ADS_2