
'Ada Apa Jura.. Kenapa kau tampak pucat?' tanya Gira.
'Benar kawan, setibanya kita disini.. Wajahmu langsung berubah, apa kau sedang tidak sehat?' sambung Saga, Khawatir.
'tidak, aku baik-baik saja.' ujar Jura tidak ingin membuat kedua temannya itu, khawatir.
'Tapi Jura.. Apa kau tidak merasa Curiga Pada anak ini?' tanya Gira yang juga merasakan Energi berbahaya tersebut.
'Hem.. Rasanya aku mengenal Aura anak ini..!!' ucap Saga membuat keduanya menoleh padanya.
'Apa maksudmu?' tanya Gira.
'Entahlah, mungkin perasaanku saja. Dan anak ini juga tidak datang sendiri, kau juga merasakannya bukan? Melihat bagaimana reaksimu barusan!!' ujar Saga kepada Jura.
'Jadi yang membuatmu pucat karena hal itu?' Ujar Gira yang baru paham, dengan situasi tersebut. 'Hem.. Aku tidak heran, karena kau lebih peka dari kami.' sambung Gira lagi.
'Ini baru pradugaku saja.. Yang pasti, diruangan ini tidak hanya ada kita.' ujar Jura, Namun ia tidak menyebutkan secara gamblang, apa yang ia rasakan.
Setelah itu Jura diam sambil bersedekap tangan, Ia memperhatikan Raffael dalam diam. Sambil bergumam dalam hati.
'Aku yakin wujud pria remaja pada anak ini, adalah sebuah penyamaran! dan aku tidak terlalu masalah dengan bocah ini. Meskipun ia mempunyai Aura Sihir yang sangat besar. Akan tetapi.. Yang mengikuti anak ini jauh lebih berbahaya.
Bahkan aku merasakan Energi yang sangat kuat darinya, dia lebih berbahaya dari si bocah Elf itu. Aku yakin sumbernya ada pada anak lelaki itu!' Gumam Jura, sambil memperhatikan Raffael.
Tiba-tiba terdengar seruan Garda, berbicara kepada Ketiga Spirit.
'Anak-anak.. Tidak perlu aku bilang kalian juga, pasti sudah tahu bukan!!'
'Ya, kami merasakannya.'
'Tapi, hehe.. kalian pasti akan terkejut dengan apa yang akan aku katakan ini..!'
Meski Garda berada di sisi Ravella, dan hanya fokus memperhatikan kedua anak manusia itu. Namun dalam diam, Garda juga tetap mengawasi situasi di dalam ruangan tersebut.
'Katakan yang jelas, jangan membuat kami menebak sesuatu yang tidak kami tahu!' ucap Gira, mendesak Garda.
'Aku akan memberitahu kalian nanti.' ujarnya menggantung, membuat ketiganya geram. Namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
...*****...
Sementara itu di tempat lain, di waktu yang sama.. lukas berjalan di area keramaian. Lalu ia berbelok kearah gang kecil dan menghilang. Lukas memasuki ruang dimensi yang berada dalam gang tersebut, Saat Lukas memasuki ruang dimensi.
__ADS_1
Tampak kolam air mancur besar.. Sang guru sedang berdiri menghadap kolam tersebut. Ia sedang mengenakan jubah hitam, lalu berdiri sambil melipat tangan kebelakang.
Melihat Guru yang sudah lama tidak dilihatnya.. Lukas datang menghampiri sang Guru. Ia melihat di sekeliling tempat tersebut, Nampak bunga-bunga Ros Pink mekar, berjejer menghiasi tempat tersebut.
"Kau sudah sampai muridku?" Julius berbicara sambil melipat tangan kebelakang, dan memunggungi Lukas.
"Ya, Guru." Lukas berjalan mendekati Julius, lalu ia berdiri disisi Gurunya.. Dan ikut memperhatikan air mancur tersebut.
"Tempat persembunyian yang bagus Guru..! Lalu bagaimana kondisi Baginda Raja sekarang? Apakah beliau baik-baik saja.. Setelah mendengar semua yang terjadi di Istana??"
"Haah.. Awalnya mungkin memang berat, saat mendengar kerajaan yang telah tumbuh bersamanya kini telah menjadi milik orang lain. Akan tetapi.. Beliau tampak jauh lebih baik daripada saat beliau menjadi Raja."
"Hem.. Apa maksud Guru?" tanya Lukas, menoleh kearah Sang Guru.
"Beliau sudah menerimanya dengan lapang dada, ia juga melarang siapapun membahas Gelarya Sebagai Raja. Karena ia sudah membuang nama itu." ujar Julius tersenyum.
"Yah, aku juga tidak heran akan hal itu Guru, setelah menghadapi Kaisar secara langsung! Aku jadi bisa mengerti kenapa Beliau merelakan negara dan posisinya sebagai Raja. Lantas, bisakah persingkat saja.. apa yang ingin Guru ketahui dariku?"
"Bagaimana kabar kalian, dan kondisi di istana??" ujar Julius sambil melihat kearah Lukas.
"haah.. Seperti yang Guru tahu, posisi kami juga sedang terjepit saat ini, karena pergerakan kami selalu di awasi oleh Kaisar."
"Lalu.. bagaimana kau bisa keluar meninggalkan istana??"
"Hem.. Hem.. Puuk-puuk, aku mengerti. Hanya kau murid yang bisa kuandalkan Lukas. Bimbinglah kedua temanmu, karena kau yang paling senior di antara mereka." ujar Julius menepuk bahu Lukas.
"Jangan bertele-tele, sebaiknya katakan apa maksud Guru?" desak Lukas yang mulai curiga, dengan sikap Gurunya.
"Mungkin, ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir, Lukas."
"Tidak, apa yang Guru bicarakan?? Apa kau akan meninggalkan kami begitu saja..!" teriaknya kesal.
"Muridku, kau tahu sendiri.. aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk kembali. Karena Kaisar tidak akan membiarkanku begitu saja. Aku dengar Kaisar masih mencari keberadaan kami.
Dan sekarang, suasana terasa begitu tenang, namun bukan berarti dia membiarkan kami lolos begitu saja.. Ini hanya taktik untuk membuat kami percaya jika kami telah aman. Aku sangat mengerti pola pikir seperti itu..!
Dan aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti..? Apapun itu! aku harap kau tidak membalasnya. Karena musuhmu yang sesungguhnya ada di antara kalian. Kau pasti mengerti maksudku bukan!!"
Setelah Julius mengatakan apa yang ingin dia utarakan.. Tak lama ia pun pergi meninggalkan Lukas, termenung sendiri dalam ketidak berdayaan.. Dan terdengar suaranya dari kejauhan sambil melambai tanpa menoleh kebelakang.
"Jika aku masih hidup nanti, kelak takdir pasti akan mempertemukan kita kembali. Jaga dirimu baik-baik Muridku, sampaikan salamku untuk yang lain.. Dan terimalah tanda mata dariku untuk kalian bertiga."
__ADS_1
Tak lama setelah kalimat terakhir Sang Guru, muncul tiga Cincin di saku celana Lukas. Lukas merasa ada sesuatu di sakunya.. Ia lantas memeriksanya. Tampak tiga Cincin hitam di dalam lingkaran tersebut, disitu tertera tiga nama. (ARLO, ZORA, DAN LUKAS.)
Baru saja Lukas ingin bertanya apa kegunaan dari Cincin tersebut, Julius sudah tidak ada lagi, dan menghilang.
'Untuk apa Guru sampai membuat Cincin ini? sepertinya ini terbuat dari kuku Naga! Bagaimana bisa Guru tahu ukuran tangan kami bertiga?' Ia memperhatikan Cincin tersebut, lalu melihat kearah tempat Gurunya menghilang! 'Aku akan selalu mendoakanmu Guru. Haah.. Sudah saatnya aku kembali, sebelum sihir Ilusi yang kuciptakan menghilang.'
Tak lama Lukas pun keluar dari ruang dimensi tersebut, dan kembali menaiki kereta kuda khusus, pengangkut barang keperluan dapur Istana.
***
Di dalam dunia bayangan.. Zion sedang berbaring sambil bertopang Dagu di atas Kedua tangannya yang besar, Singa Muda itu mendengar semua perkataan Lannox.
'Cih, aku tidak menyangka Bocah itu cukup pintar menangkap maksudku! Kalau begitu aku tidak perlu lagi khawatir. Toh, dia juga sudah tahu tanpa aku katakan.
Omong-omong dimana Kakek? Sudah beberapa hari ini, aku tidak melihat keberadaannya!? Hah.. Entahlah, nanti saja aku pikirkan, sebaiknya sekarang aku tidur saja.'
***
Setelah berbincang dengan Ravella.. akhirnya Raffael kembali. namun ia tidak kembali keistana! Ia pergi ke Ibu kota untuk membeli Rumah sederhana sebesar dua tingkat, agar jejaknya tidak dicurigai. Dan ia akan tinggal Selama satu bulan penuh di negara itu, agar selama keberadaannya.. ia bisa selalu mengunjungi Ravella.
Setelah membelinya, Mereka langsung tinggal di Rumah tersebut, sementara yang lain beres-beres, Raffael duduk di bibir jendela di dekat loteng rumah itu. sambil bersandar ia melihat keluar jendela.. Tampak burung-burung berterbangan hinggap di atas atap.
Sementara itu Razak.. Yang sedang memperhatikan Masternya senyam-senyum sendiri, bergumam padanya.
"Baginda.. Apa anda tidak merasakan keberadaan wujud lain? saat kita di Mansion Putri."
"Apa maksudmu?" Tanya Raffael langsung melempar pandangan kepada Razak.
"Saya merasakan ada tiga ekor Musang, yang sedang mengawasi kita tadi."
"Lalu.. Kenapa kau tidak menangkapnya?" Tanya Raffael ketus.
"Hem.. Bukankah Baginda melarang saya untuk membuat kekacauan!?" ujar Razak tersenyum tenang, sambil melipat kedua tangannya.
"Benar! Apakah mereka tahu Siapa aku??"
"Sepertinya tidak, namun mereka bisa merasakan keberadaan saya."
"Kenapa kau tidak menyembunyikan keberadaanmu?"
"Hehe.. Karena Saya hanya ingin memberi peringatan kepada tiga Musang tersebut, dengan begitu mereka tidak akan berani macam-macam dengan Baginda." ujarnya menyeringai.
__ADS_1
"Hem.. Hem.. Kerja bagus Razak, kau memang selalu bisa kuandalkan. Tapi.. Omong-omong apa mereka ada keterkaitannya dengan Calon Pengantinku??"