AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA ALASANMU?


__ADS_3

dean yang telah sampai dikota vala.


"sialan aku telat selangkah, tapi kenapa aku tidak melihat orang itu..?"


dia melihat kesekeliling, disepanjang jalan hanya bangkai mayat, ada yang sudah dikerubungi lalat. bahkan ada yang tinggal tulang dengan daging yang sudah meleleh, menetes dari sela-sela tulang.


'cih.. ini benar-benar sadis, tidak hanya disiksa dari dalam. bahkan sampai ketubuh yang lain, sepertinya sihir ini tidak hanya memakan organ dalam, tapi lama kelamaan dia akan menggerogoti dan merambat hingga keseluruh tubuh. aku harus cepat menemui orang itu, hanya dia yang bisa melawan orsi.'


setelah melihat sisa tulang belulang dari bangkai manusia, dean langsung bergerak pergi meninggalkan tempat itu.


sementara, rey.. yang berada di tempat lain, telah melakukan gerak cepat, hampir tiga puluh lima persen dari penduduk kota vala, telah ia bunuh dengan bantuan sang penyihir hitam.


"ini masih belum cukup." rey melihat kearah penyihir yang berada disampingnya. "hei.. tidak bisakah kau melakukannya lebih cepat? cara ini terlalu membuang waktu, mengapa tidak kau gunakan sihirmu yang besar itu.. untuk menghabisi seluruh penghuni kota ini sekaligus..!"


"mudah bicara karena bukan kau yang melakukannya! jika aku memaksakan kekuatanku, itu sama saja dengan bunuh diri."


"apa maksudmu?"


"ya tentu saja.. jika ingin melakukan hal besar maka harus ada pengorbanan besar juga."


"kalau begitu, jadikan saja seluruh penghuni kota ini, sebagai persembahan."


"tidak semudah itu, jika aku menjadikan mereka sebagai persembahan, maka harus aku sendiri yang membunuh mereka. aku tidak boleh menggunakan bantuan sihir apapun, setelah mereka aku bunuh, baru aku bisa melakukan persembahan. tapi lain ceritanya dengan sekarang! aku telah menggunakan sihirku untuk membunuh mereka. berarti secara tidak lagsung, aku telah dibantu dengan sihirku, dan orang yang telah dibunuh dengan sihir tidak bisa dijadikan persembahan."


"hem begitu.. yah cukup rumit dan merepotkan sih, aku tidak suka hal-hal repot seperti ini."


"jika begitu.. maka kau harus bersabar. memang cara ini terlalu lama dan membuang waktu, tapi inilah cara yang paling aman."


"baiklah terserah kau saja, yang penting misi ini berjalan dengan lancar" 'aku harap misi ini cepat selesai, agar aku bisa melaporkannya lebih dulu sebelum dean. dan siapa tahu! dengan begini.. posisiku juga akan cepat naik.'


setelah rey bicara, merekapun terdiam, dan melanjutkan lagi perjalanan mereka, untuk mencari korban selanjutnya.


"sepertinya hanya satu orang."


Lukas mendekati semak-semak yang berdekatan dengan pohon besar.


"grasak grusuk."


lukas memberi kode pada, mike. mike yang mengerti maksudnya, langsung menarik pedangnya, dan menebas kearah semak-semak yang mencurigakan.


"wuuuuuussssshhhh"


"ngok.. ngok.."


"ternyata hanya seekor babi hutan."


lukas menyipitkan matanya.


"tidak, ini jebakan."


"apa maksud anda, tuan lukas?"


"kita tertipu, sepertinya.. jejak tadi palsu."


"apa....! bagaimana mungkin, jelas-jelas itu adalah langkah kaki yang sama, tidak ada yang bisa menipu asap hitam milik anda! apa jangan-jangan, mereka juga mempunyai wizard?"


"terimakasih, kau datang di saat yang tepat..! muri."


"ya.. berkat bantuan baginda, kami bisa tiba dengan tepat waktu."


"lalu.. bagaimana dengan yang lainnya? timku, pasti juga sedang diincar bukan."


"tenang saja.. aku datang tidak sendiri, temanmu pasti sudah aman sekarang."


"syukurlah jika begitu, aku sudah janji bertemu dengan mereka ditempat biasa, kalau begitu.. ayo kita pergi muri."


"tidak, mulai dari sini, kau harus pergi sendirian."


"apa maksudmu muri?"


"selain menyelamatkanmu, aku juga punya misi lain dari baginda, yang harus aku selesaikan."

__ADS_1


"baiklah jika begitu, berhati-hatilah. mereka tidak bisa dianggap remeh."


"heh, aku sudah tahu itu..! untuk itulah kami disini, aku pergi dulu satu.. bwushhh."


wanita bertopeng naga, itupun menghilang dalam sekejap.


sesudah keberangkatan lannox dari mantion, malamnya count arnold mendatangi kamar lannox, karena ravella dirawat dikamar sang duke.


"apa aku boleh mengunjungi tuan putri..?"


para kesatria saling menoleh, tiba-tiba terdengar suara dari dalam.


"biarkan dia masuk."


"baik yang mulia"


dua pengawal didepan pintu saling memandang dan menggangguk, lalu melihat kearah count.


"silahkan tuan." mereka membukakan pintu.


'yang mulia... bukankah duke sedang dalam misi, lalu siapa lagi yang dipanggil yang mulia selain duke??'


saat pintu terbuka, arnoldpun masuk kedalam, dengan dipenuhi rasa penasaran. dan saat ia akan melangkah menghampiri ranjang sang putri, ia dibuat terkejut, dan kakinya menjadi berat tidak bisa bergerak.


"astaga.. apakah anda adalah spirit yang mulia duke..?"


dilihatnya singa putih besar.. sedang berbaring sambil meletakkan wajahnya diatas kedua lengan besarnya yang disilang, ia berada disamping ranjang tempat ravella tertidur, dekat dengan jendela


"heh.. kenapa sampai harus terkejut..? bukankah, kau sudah mengetahui tentang keberadaanku..?"


"ma..maafkan sa..saya.. yang mulia, saya memang sering mendengarkan tentang anda..! tapi, saya baru kali ini melihat wujud anda yang seperti ini."


'kupikir wujudnya tidak berbeda jauh dengan singa biasa, tapi ukuran ini.. benar-benar tidak normal.'


"sudahlah, silahkan duduk, bukankah kau ingin menemui putriku..?"


Arnold kebingungan,,


"putriku.....?"


"ba..baik.. yang mulia."


arnold duduk dikursi yang ada disamping ranjang, lantas ia melihat sang putri yang sedang terbujur kaku, dengan wajah polos tak berdosa, rambut peraknya tergerai indah, dan terlihat bercahaya.


'dia mirip sekali seperti mendiang duchess Arabella. cantik sekali, bahkan lebih dari itu.. dia sangat indah.. pantas saja jika yang mulia sangat menyayanginya! dan tidak pernah memperkenalkannya secara resmi kehadapan publik. aku yakin.. kelak, yang mulia pasti akan sangat kerepotan. jujur saja, akupun terpesona dengan anak ini, sayang sekali.. aku hanya memiliki tiga orang putri.'


tiba-tiba terdengar suara berat dari zion, yang memecah lamunan arnold.


"apa kau sudah selesai..? jika sudah kembalilah."


"ah ba..baik yang mulia, kalau begitu saya pamit dulu."


setelah kepergian arnold.


'cih, aku tahu tatapan itu. hem.. tapi kenapa dia terlihat gelisah, apa ada sangkut pautnya dengan masalah orsi..? ya.. tidak heran, kek tama dan kek roya juga, belum memberikan hasil laporan kepada dewi. karena keadaan dewi yang Sekarang! jadi tidak memungkinkan, apalagi setelah melihat keadaan mereka yang mematung seperti itu, ini semakin rumit saja. haah.. entahlah.' zion melihat kearah ravella. 'kira-kira, kapan kau akan bangun nak?'


"hufftt hari ini.. aku hanya bisa menangkap seekor rusa kecil saja. besok, aku harus mencari yang lebih menantang lagi."


setelah memakan hasil buruannya.. gapi berjalan mencari tempat untuk bersantai, ia melihat ada pohon maple besar dibelakang mantion, ia pergi kepohon itu dan membersihkan dirinya, serta menjilat sisa-sisa darah yang masih menempel disela-sela jarinya.


"haah.. kapan dewi akan bangun? dan bermain denganku lagi..! hari-hari tanpa dewi, benar-benar sangat membosankan."


gapipun tertidur nyenyak, tanpa sadar hari sudah memasuki pukul sebelas malam, tiba-tiba cahaya kecil berdatangan dan menghampirinya. iapun tersadar dan cahaya tadi langsung menghilang, iapun segera bangkit dan kembali kemantion.


sementara ditempat lannox, setelah melewati masa krisis, para kesatria dan dokter bisa beristirahat dengan lega. keadaan kamp menjadi sangat tenang dan sunyi, hanya suara kayu bakar yang masih menyala ditengah keheningan malam.


"roland bagaimana keadaan para pasien?"


"semuanya sedang beristirahat, dan kondisi para pasien juga sudah membaik, kata dokter, besok para pasien sudah bisa pulang yang mulia, ini semua berkat air suci yang anda berikan."


lannox diam tak ada jawaban, seolah sedang berpikir.

__ADS_1


"hmm roland.."


"ya yang mulia.. mengenai empat orang yang kau selidiki.. apa mereka mencurigaimu!?"


"ah tentang itu.. sepertinya tidak ada yang mulia, mereka masih menganggap kita belum mengetahui.. kalau mereka adalah mata-mata yang dikirim kaisar."


"hem..!" lannox menyeringai


'senyuman itu..?'


"bagus, teruslah bersikap seolah-olah kau percaya kepada mereka."


"euh, ba..baik yang mulia."


"pergilah."


"baik yang mulia."


rolandpun keluar dari kamp, dan duduk berjaga diluar sambil melempar kayu bakar. setelah melihat punggung roland semakin menjauh, dan menghilang dari pandangan! lannox duduk sambil mengelap pedang panjangnya.


'dasar ular tua, berani-beraninya dia memata-mataiku. sepertinya, anak-anak bodoh itu, terlalu nyaman berada didalam kediamanku.'


lannox melihat ujung pedangnya yang runcing, tampak senyum samar melengkung dibibirnya.


'aku harus segera menemukan dalang dari akar masalah ini, gegara mereka, waktuku jadi habis terbuang sia-sia, hanya untuk mengatasi wabah sialan ini. waktu berhargaku dengan putriku jadi berkurang, haaahh.. aku jadi merindukannya.'


lannox merentangkan tangannya, dan muncul batu kristal yang menyala.


"zion.. bagaimana dengan keadaan putriku?"


"oh kau selamat rupanya, cih sayang sekali..! seperti yang kau lihat, putrimu masih tertidur."


"tentu saja aku selamat, mana mungkin aku membiarkan posisiku tergeser. hanya karena masalah ini."


"hehe dasar sialan, seharusnya kau mati saja disana."


"maaf saja kucing besar, sepertinya keinginanmu itu tidak akan terkabul."


"cih, oh ya.. nak. tadi, arnold datang mengunjungi putrimu, tapi kelihatannya dia sangat gelisah!"


"hmm.. dia pasti memikirkan kasus orsi, karena akhir-akhir ini, mereka terlalu tenang, dan asal kau tahu saja pak tua. wabah ini juga ada sangkut pautnya dengan para orsi."


"benarkah..? ya aku sudah menduganya."


"ya.. kediaman mereka selama ini, hanyalah pengalihan sementara."


"ternyata mereka benar-benar pintar memanipulasi keadaan."


"dilihat dari pergerakan mereka sekarang..! sepertinya mereka mengincarmu nak, berhati-hatilah."


"heh.. apa ini..? bukankah barusan kucing besar ini, menginginkan kematianku..! kenapa sekarang sudah berubah lagi?"


"cih! aku hanya kasihan jika kau mati sia-sia, bagaimana jika putrimu bangun? melihat ayah kesayangannya tidak ada! aku hanya tidak ingin, direpotkan dengan pertanyaan aneh."


lannox tersenyum, dan mengerti jika spiritnya ini sangat mengkhawatirkannya.


'istriku benar, dia lebih mirip seperti keluarga daripada spirit.'


"hmm.. zion, apa kau ingat empat orang yang aku selidiki..?"


"kenapa memangnya?"


"awasi mereka, dan perintahkan mereka untuk menjaga perbatasan. dan, jangan biarkan mereka berada di mantion."


"apa alasanmu?"


"aku tidak ingin mereka tahu keadaan putriku, dan bunuh merpati pos yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi."


"baiklah, seperti keinginanmu, akan aku lakukan nanti."


"aku percayakan putriku padamu zion, kabari aku, jika putriku sudah sadar."

__ADS_1


"ya kau urus saja masalah disana, urusan disini, biarkan menjadi tanggung jawabku."


komunikasipun terputus, setelah berbicara dengan zion, lannoxpun keluar dari kamp. karena tidak bisa tidur, ia pergi keluar kehutan untuk latihan.


__ADS_2