
''Asal kamu tau sayang, dulu waktu Mami meminta suamimu untuk segera punya pasangan lagi, dia malah nyuruh Mami cepat-cepat pulang ke luar negeri saja. Memang dasar anak nakal, bukannya cepat-cepat bawakan menantu, eh Maminya sendiri malah diusir.'' ujar Mami kesal mengadu pada menantunya.
Mentari masih menahan tawanya.
''Abisnya Mami bawel banget, setiaap hari yang di bahas itu mulu. Lagian aku ditakdirkannya ketemunya dengan istriku.'' sahut Edgar.
''Kamu kok tega sih Mas ngusir Mami? ah seharusnya waktu itu Mami saja yang balik mengusirnya, itukan rumah Mami..'' Mentari meledek suaminya.
''Benar juga ya, ah sayangnya waktu itu Mami tidak kepikiran.''
''Hmmmm, ngadu.. mulai deh Mami.'' protes Edgar.
Papi menggelengkan kepalanya.
''Kalau aku kapan disuruh cepat-cepat nikahnya, Mi?'' timpal Erin membuat semua mata menatapnya tajam.
Erin langsung menutup mulutnya yang melupakan adanya Edgar.
''Nanti tunggu umurmu 35 tahun.'' jawab Edgar seenaknya.
Belum juga maminya menjawab pertanyaan dari Erin, si putra sulungnya sudah menyahut lebih dulu.
''Dih! nggak maulah!'' protes Erin tidak terima.
''Kakak aja waktu itu belum genap 30 tahun sudah menikah, terus Kak Mentari sekarang baru berusia 27 tahun. Masa aku disuruh nunggu 35 tahun! nggak mau!'' protes Erin.
''Sudah-sudah, sekarang kamu fokus aja belajarnya, jangan mikirin jodoh dulu. Nanti akan tiba waktunya.'' timpal papi menengahi.
Erin menatap tajam kakaknya sembari memberikan isyarat omelan yang tak bersuara.
Edgar langsung membuang arah pandangannya ke udara sehingga membuat sang adik semakin jengkel.
__ADS_1
Mentari yang berada di tengah-tengah keduanya hanya bisa mengelus dada. Mengusap lengan keduanya agar damai.
''Kalau serius 35 tahun baru boleh menikah, apa kabar umurnya? oh noooo.. nggak mau!! pokoknya nggak mau!!!'' bathin Erin gusar.
"Pokoknya nggak mau!!!"
Erin langsung berdiri beranjak dari duduknya. Suara batinnya semakin menguat hingga mengeluarkan suara di kalimat terakhir. Erin tiba-tiba berteriak membuat semuanya terkejut.
''Kamu kenapa, Nak? Erin..'' panggil mami ikut berdiri hendak menyusul putrinya.
''Palingan juga lagi halu sama aktor-aktor kesayangannya itu, Mi.'' jawab Edgar santai.
Mami mendengus kesal, menatap Edgar sekilas.
Mentari terdiam, ia teringat ketika tidak sengaja memergoki adik iparnya itu sedang melakukan percakapan dengan seorang laki-laki. Meskipun ia juga belum mengetahui secara pasti, yang jelas suara itu pasti nyata, bukan khayalan seperti yang dikatakan oleh suaminya.
''Sudah gelap, lebih baik kita masuk ke rumah.''
Ia tidak menangis, hanya perasaan kesal tengah menyelimuti perasaannya karena sikap seenaknya dari sang kakak.
Erin menyandarkan tubuhnya di sofa, ia meraih ponselnya yang berada di atas meja. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya ke udara.
''Aku sudah dewasa, Kak. Aku tidak selamanya menjadi anak kecil. Cepat atau lambat, setahun, dua tahun, tiga tahun, atau empat tahun, bisa jadi lebih cepat dari itu, aku pasti mengungkapkan yang saat ini sedang aku rahasiakan dari kalian semua.''
Erin kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya ke udara.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Erin.
''Iya sebentar.'' sahut Erin dari dalam kamarnya.
Erin beranjak dari sofa lalu membuka pintu kamar. Mentari sudah berdiri di depan pintu kamarnya sembari memasang senyum.
__ADS_1
''Boleh Kakak masuk?'' tanya Mentari meminta izin.
Erin terkekeh.
''Masuklah Kak, tidak perlu izin. Bukan kamarnya pak presiden ini haha..'' jawab Erin seraya tertawa kecil.
Keduanya masuk beriringan dan duduk di sofa.
''Maafkan Kakakmu ya..'' ucap Mentari.
''Ohh, jadi Kakak kesini karena mau mewakili kak Edgar? ah itu mah sudah biasa kak Edgar begitu, sudah kebal aku tuuh.''
Mentari menatap kedua mata adik iparnya itu dengan lekat.
''Yakin kebal?'' tanya Mentari.
Erin terlihat gugup. ''Iya, ya-yakin, yakin banget.''
Mentari langsung mengalihkan tatapannya sembari menahan senyum melihat respon dari Erin.
''Syukurlah kalau kebal. Kakak berusaha untuk menasehati kak Edgar supaya tidak berlebihan meledek kamu. Tapi, ya begitu deh.. sepertinya membuat adiknya marah itu suatu hiburan yang menyenangkan.'' jelas Mentari.
Erin memeluk Mentari sangat erat. Ntah kenapa ia ingin melakukan hal itu. Mentari terkejut, tapi, ia membiarkan Erin memeluknya, ia pun juga membalas pelukan itu.
''Hanya Kakak yang peka kalau aku bisa dewasa.'' ujar Erin.
Mentari ingin tertawa, lucu juga Erin mengatakan hal itu.
''Ya sudah.. Kakak keluar dulu, sekitar tiga puluh menit lagi makan malam siap.'' ujar Mentari.
''Iya Kak, terimakasih banyak sudah menjadi kakak iparku yang baik.'' ucap Erin.
__ADS_1
''Terimakasih sudah menjadi adik ipar yang baik.'' balas Mentari lalu mencubit hidung Erin yang lancip itu.