Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 62 : Siapa Manusia Es Lilin?


__ADS_3

Erin menerobos ditengah antara kedua kakaknya, sehingga tangan Edgar yang berada di bahu Mentari langsung terlepas.


Buahahaha


Edgar terbahak-bahak melihat rambut adiknya yang acak-acakan, sedangkan Mentari berusaha menahan tawanya.


''Nggak lucu!'' sungut Erin.


''Nambah cute kok..'' ujar Mentari sambil menutup mulutnya karena menahan tawa.


''Kak Mentari nggak usah ketularan ngeledek kayak manusia es lilin ini deh..'' gerutu Erin.


''Siapa manusia es lilin?'' tanya Mentari pura-pura tidak paham.


''Suami kakaklah.'' jawab Erin.


''Kakak kamu dong?'' tanya Mentari lagi.


''Suka lupa kalau punya kakak.'' sindir Erin.


''Kalau kakaknya es lilin, adiknya es serut.'' sahut Edgar sambil mengacak-acak rambut Erin lagi.


''ERIIINN! LEPAS!'' seru Edgar karena tangannya digigit oleh Erin.


''Wleeeeeee... hahahaha''


Erin tertawa puas karena berhasil membalas dendam kepada kakaknya yang sangat gemar menjahilinya.


''Jorok banget sih kamu, Rin.. mana bau jigong.'' omel Edgar kepada adiknya.


''Kakak sama adik nggak ada bedanya..'' ujar Mentari lalu berjalan mendahului keduanya.


Edgar langsung mendorong lengan adiknya agar menjauh.


''Huss sana, sana.. mandi.'' usir Edgar.

__ADS_1


''Isshhh!''


Edgar menyusul Mentari yang sudah menaiki tangga, sedangkan Erin langsung menuju ke kamarnya sambil mengomel. Dikamar ia segera membersihkan diri karena nanti malam akan melakukan penerbangan. Untuk urusan perlengkapan yang akan dibawanya sudah siap.


°°


Bandara


''Semoga penerbangan lancar ya, Mi..'' ucap Mentari.


''Aamiin.. kalian baik-baik ya disini.'' ucap mami.


''Iya Mi..''


''Kakak bakal kangen lihat kamu dan kakakmu berantem.'' ujar Mentari pada Erin.


''Kirain kangen sama aku, ternyata sama berantemnya.''


''Sama semuanya dong adikku sayang..'' ujar Mentari lalu memeluk Erin.


Setelah pamitan satu persatu, kedua orangtua Edgar dan Erin masuk ke dalam bandara.


Lambaian tangan perpisahan antara anggota keluarga baru ini membuat Mentari merasa senang.


''Sudah, ayok kita pulang.'' ajak Edgar.


''Iya Mas.'' jawab Mentari.


Edgar dan Mentari ikut ke bandara hanya sekedar mengantar, waktu berangkat Erin bersama mereka dan berhasil membuat Edgar kesal karena adiknya itu memaksa Mentari ikut duduk di belakang, sehingga ia seperti seorang supir yang sedang mengantar penumpang. Sedangkan mami dan papi diantar oleh supir.


Sudah lama rasanya tidak menikmati perjalanan malam dengan tujuan yang santai seperti ini.


''Mas, terimakasih ya..'' ucap Mentari membuka percakapan.


Edgar yang masih fokus dengan kemudinya langsung menoleh dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


''Untuk apa?'' tanya Edgar.


''Untuk hal-hal baik yang sudah diberikan.'' jawab Mentari.


''Awalnya aku sangat takut kalau keluarga ini tidak bisa nerima kehadiranku.'' imbuh Mentari.


''Karna nggak goodlooking, karna orang miskin.. gitu kan?'' sahut Edgar.


''Hehe..''


Edgar sudah hafal dengan kalimat minder yang akan dikatakan oleh Mentari.


''Nggak usah bahas itu.. bahas kita yang sekarang aja.'' ujar Edgar.


Mentari mengangguk.


Edgar mengendalikan kemudinya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Mentari. Meskipun begitu, ia tetap fokus menatap kedepan, dan akan menoleh ke istrinya saat jalanan tidak terlalu ramai.


''Aku tadi sudah pesan martabak untuk orang-orang dirumah, kita nanti mampir tinggal ngambil.'' ucap Edgar.


''Kamu pesan sendiri martabaknya?'' tanya Mentari tidak percaya.


''Iya, memangnya kenapa?'' tanya Edgar balik.


''Nggak papa sih, biasanya bos kan suka nyuruh-nyuruh hehe.. apalagi ini beli martabak, wow aja gitu.''


''Bos juga manusia biasa, sayang. Kita dibiasakan untuk mandiri dan tidak pilih-pilih. Kita juga diajarkan kalau nggak suka dengan tempat atau pun makanan ya sudah pergi, bukan mengatakan hal-hal yang buruk.'' terang Edgar.


''Jempol empat buat papi sama mami.'' puji Mentari.


''Tapi, ya kita masih suka khilaf kok, kadang masih suka nyuruh-nyuruh. Namanya juga manusia biasaa..'' lanjut Edgar diikuti tawanya.


''Ohhh pantesan Mas dan Erin tau es lilin sama es serut.'' ucap Mentari.


''Haha iya, kami sering makan itu, dulu belinya nyuruh-nyuruh mbak dirumah buat nyari dan kami minumnya ngumpet dibelakang karna kalau ketahuan mami suka diomelin karena keseringan, sesekali sih boleh-boleh aja.''

__ADS_1


Mentari ikut tertawa mendengar cerita tentang suaminya. Ternyata dibalik kakunya seorang Edgar diluar sana, ia bisa sehangat ini kepada orang yang membuatnya nyaman.


__ADS_2