Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 155 : Salah Dalam Mengartikan Rasa Cintanya


__ADS_3

Makan malam bersama sebelum berpisah sementara waktu lagi. Keluarga ini selalu berusaha untuk menciptakan kehangatan.


Sesekali Mentari melirik sekilas pada adik iparnya yang sedang fokus dengan makanan di depannya yang hampir habis.


''Permisi Tuan, Nyonya.''


''Ya, Pak Dar, ada apa?'' jawab mami.


''Ada tamu di depan.'' jawabnya.


''Tamu? siapa?'' tanya mami yang sudah selesai makan.


''Nyonya Lenna, Nyonya.'' jawabnya.


''Lenna?'' balas mami lalu melirik papi.


''Oh ya, terimakasih, Pak. Sebentar lagi kami ke depan.''


''Baik, Nyonya.''


Pak Dar segera kembali ke depan untuk menyampaikan kepada tamu.


''Apa Papi ada perlu dengan Lenna?'' tanya mami.


Keadaan keluarga besar sempat bersitegang ketika Ardi dan Edgar terlibat permasalahan yang tidak kecil itu. Jika tuan Erick bisa sedikit meredam, beda halnya dengan mami yang mudah terpancing emosi ketika tidak di dampingi keluarganya.


Meskipun sudah saling memaafkan, tetapi mengingat kejadian itu membuat mami kembali menarik nafasnya dalam-dalam, karena bagaimanapun juga keluarga tetaplah keluarga, apalagi bagi anggota keluarga yang tidak tau apa-apa.


''Tidak Mi, mungkin Lenna hanya ingin silaturahim dengan keluarga kita.'' jawab papi.


''Baiklah, kalau gitu ayo ke depan.''


Mami yang sudah selesai lebih dulu langsung beranjak dari kursi, diikuti juga oleh papi.


''Mas, siapa itu Lenna?'' tanya Mentari.


''Ibunya Ardi.'' jawab Edgar pelan.


''Ooohh, iya-iya, maaf aku lupa, Mas.'' balas Mentari.


Mereka hanya bertemu saat di acara resepsi pernikahan. Sedangkan saat itu Mentari masih lebih fokus pada nasib pernikahannya yang akan serius atau main-main. Perkenalan dengan beberapa anggota keluarga suaminya yang tidak lama dan jarang bertemu membuat Mentari tak sengaja melupakan nama-nama mereka.


''Iya, tidak apa-apa. Kita memang jarang bertemu juga.''


''Erin..'' panggil Edgar pada adiknya itu.


''Em, iya Kak?'' jawab Erin.

__ADS_1


''Kamu temui tante Lenna sebentar, dan setelah itu ke kamar dulu ya. Sepertinya tante datang akan membahas masalah itu.'' tutur Edgar memberikan pesan pada adiknya.


Setelah mendapatkan peringatan dari Mentari, sebisa mungkin Edgar berusaha untuk lebih lembut pada adiknya. Walaupun di dalam benak adiknya menduga apakah si kakak tengah kesambet.


''Ohh, iya Kak.''


''Ya sudah kamu duluan aja, Rin.'' ujar Edgar.


''Iya Kak.''


Erin mengusap tangannya dengan tissu, lalu bergegas menuju ruang tamu dimana Lenna berada.


Di meja makan, Mentari sembari menyusun piring-piring kotor itu.


''Eh Non, biar kami saja.'' ujar Listi yang melihat Mentari.


Mentari langsung tersenyum.


''Iya, nggak papa.''


Untuk membuat pekerjanya melakukan aktivitas dengan leluasa, Mentari langsung mengajak Edgar untuk segera meninggalkan meja makan.


''Mas, gimana kalau tante Lenna benar-benar membahas masalah itu? dan gimana kalau seandainya beliau nggak terima?'' tanya Mentari cemas.


Melihat kecemasan di wajah sang istri membuat Edgar gemas. Ia menangkup wajah Mentari dengan gemas.


''Jangan berpikir yang macam-macam ya..,'' pinta Edgar pada sang istri. ''Sepertinya sudah cukup, ayo ke depan.'' ajak Edgar yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


Melihat Edgar dan Mentari datang, Erin langsung beranjak.


''Aku ke belakang dulu.'' ujar Erin.


''Oh, iya.''


Edgar mengulurkan tangannya terlebih dulu di depan Lenna, yang langsung di sambut hangat


''Apa kabar, Tante?'' tanyanya.


Kemudian Mentari mengikuti untuk bersalaman dengan mencium punggung tangan Lenna.


''Kabar Tante baik, Gar.''


Lenna beralih menatap Mentari, sosok wanita yang sangat dicintai oleh putranya.


''Duduk Tan.'' titah Edgar.


''Oh iya-iya.'' jawab Lenna.

__ADS_1


''Tante sendirian?'' tanya Edgar.


''Nggak kok, Tante diantar supir, dari menjenguk Ardi.'' jawabnya sambil tersenyum.


''Oohh..'' balas Edgar dengan mengangguk-angguk.


Lenna terlihat mengatur nafas lalu menatap empat orang di depannya secara bergantian.


Mereka langsung saling menatap juga, keadaan ini semakin membuat canggung.


''Rick, Neet, Edgar, Mentari..''


Ke empatnya menatap Lenna.


''Kedatanganku kesini untuk meminta maaf kepada kalian semua. Khususnya untuk mewakili Ardi.'' ucapnya lirih.


''Aku tau Neet, kamu pasti masih sangat kecewa melihat putraku seperti itu. Sama halnya dengan kamu, aku pun juga merasa kecewa.''


''Aku dengar kalian akan ke luar negeri dalam waktu dekat. Aku harap, kepergian kalian tidak membawa rasa kebencian pada keluarga kami.'' ucapnya lirih lalu menunduk.


''Lenna, sekecewa apapun kita, tidak akan pernah kami berniat untuk menyimpan kebencian. Berpikirlah positif.'' balas tuan Erick.


''Putramu yang juga keponakanku itu hampir saja menghancurkan segalanya, Lenn.'' ujar mami dengan mata yang sudah berembun.


Lenna semakin menunduk.


''Putraku tidak pernah merusak apalagi merebut miliknya. Kenapa putramu tega melakukan itu semua? huh''


''Iya Neet, aku tau.''


Mentari menjadi serba salah, namun, ia juga tidak berani menengahi ketegangan itu. Ia memilih memberikan kode pada Edgar supaya menyudahi pembahasan yang sudah beberapa kali dibahas itu. Baginya hal itu sudah selesai, tidak ada yang perlu dibahas lagi. Saat ini dan seterusnya digunakan untuk memperbaiki yang salah.


''Ehm, Tante, Mami.. sudah, stop, jangan bahas tentang masalah itu lagi.'' timpal Edgar membuat kedua wanita itu menatapnya.


''Bukankah permasalahan ini sudah selesai? mari kita perbaiki semuanya, jangan buat keadaan semakin renggang seperti ini.''


Mami pun terdiam menyadari amarahnya yang kerap kali terpancing. Begitu juga dengan Lenna yang langsung terdiam.


''Kedatangan Tante kesini hanya untuk meminta maaf.'' ucap Lenna diikuti senyumnya.


''Terutama untuk kamu, Mentari. Kamu memang sangat layak bersanding dengan Edgar. Maafkan putra Tante yang sudah salah dalam mengartikan rasa cintanya.'' ucap Lenna.


Kedua wanita itu memang sudah lama tidak bertemu, apalagi saat mengurus permasalahan, Mentari tidak diberikan izin untuk ikut karena sudah diketahui sedang hamil. Hanya beberapa kali awalnya saja, itupun saat belum diketahui tengah hamil.


Mentari mengangguk. ''Terimakasih, Tante.'' ucapnya.


Tidak banyak yang di bahas atas kedatangan Lenna di kediaman Raymond. Selain karena keadaan masih terlihat canggung, waktu juga semakin malam.

__ADS_1


__ADS_2