
''Jangan mentang-mentang kamu sudah menjadi istri orang kaya, jadi seenaknya menghina Mama seperti ini. Mama juga punya perasaan, Dira.''
Wanita itu berubah bersikap seolah menyedihkan. Hal itu membuat Mentari tidak khawatir, ia masih tetap tersenyum.
''Kemampuan akting Mama masih tetap bagus ya, ikut casting film gih, siapa tau kebagian jadi pemeran manusia silver.''
Orang-orang yang mendengarnya hampir tertawa. Tontonan yang sangat menghibur di tengah pusingnya memikirkan tagihan listrik yang semakin membengkak.
(Diihh.. othornya malah curhat terselubung😂🤭)
''Mama, sudah cukup ya dramanya. Ayo hidup di dunia nyata, yuk bisa yuukk..'' ujar Mentari memberi semangat.
Mentari menyandarkan punggungnya.
''Dulu, aku dan mendiang ibuku sangat mempercayai keluarga kalian. Ibuku mempercayai putri satu-satunya ini untuk dinikahi putra Mama yang pandai bersikap manis itu. Aku sangat mencintai putra Mama waktu itu, tapi, nyatanya, kalian semua tega.''
''Kak Nando berpamitan akan dinas ke luar kota, nyatanya?? dia pergi bersama wanita lain dan bukan dalam rangka kegiatan kantor.''
Dada Mentari langsung terasa sesak. Air mata emosional pun lolos dari pelupuk matanya yang sedari tadi ia tahan.
''Sakit Ma, sakit..'' ungkap Mentari dengan suara bergetar.
Wanita itu semakin geram. Nafasnya semakin memburu.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam.
''Lalu, setelah itu.. uang-uang dari santunan kematian yang selesai aku urus, semua kalian minta tanpa sisa. Aset-aset yang kami kumpulkan selama menikah kalian minta. Bahkan setelah itu, aku harus menanggung hutang-hutang putra Mama yang uangnya ntah untuk apa.''
''Aku tidak menyesali kehilangan uang-uang itu. Aku hanya menyayangkan sikap kalian yang hanya memikirkan uang dan menghilangkan rasa kemanusiaan.''
''Pasti Mama puas kan menertawakanku karena sebod*h itu. Huuhh! ya-ya.. tapi, apa Mama tau dibalik itu hidupku dipenuhi ancaman jika tidak membayar hutang-hutangnya? sedangkan kalian semua lepas tangan!''
''Aku yang hanya hidup berdua dengan ibuku harus kehilangan sosok pahlawanku itu. Ibuku meninggal dunia setelah tau putrinya harus menanggung beban hutang. Dan kalian lagi-lagi tidak peduli sama sekali."
__ADS_1
''Coba.. dimana hati kalian waktu itu? adakah sedikit saja rasa empati dari kalian untuk aku dan ibuku?''
''Tidak kan?''
''Kalian senang-senang, shopping, pergi traveling, oh my God.. applause dulu untuk Mama.''
Mentari bertepuk tangan sendiri di depan wajah mantan mertuanya itu.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lagi, ia sangat emosional jika kembali membahas hal ini.
''Jika Mama sekarang masih heran dan bertanya-tanya bagaimana bisa aku menikah dengan putra tuan Erick yang pada dasarnya bos tempatku bekerja. Tuan Erick Raymond yang dikenal kaya raya. Semua itu sudah digariskan Allah, ada pelangi setelah hujan. Ada hikmah dibalik musibah. Dan suamiku beserta mertuaku sekarang tidak pernah mempersoalkan tentang masalaluku. Bahkan suamiku juga tidak keberatan menemaniku ziarah ke makam kak Nando.''
''Aku selalu terbuka untuk menerima kedatangan Mama dan keluarga. Mari kita sambung lagi.. tapi, jika hanya ingin memanfaatkan aku untuk mendapatkan uang dari suamiku, maaf.''
''Stop! cukup Dira! cukup!''
''Tidak usah banyak bicara omong kosong!''
''Tidak usah mengumbar kejelekan anak saya! belum tentu juga itu benar! kamu pembohong, Dira!''
Semua orang yang mendengarnya pun langsung terkejut. Ternyata menantu dari pengusaha Erick Raymond sebelumnya sudah berstatus janda. Informasi yang menarik bagi mereka si tukang ghibah.
BRAK!!
Wanita itu langsung terkejut dengan kedatangan Edgar yang langsung menggebrak meja dan menatapnya tajam. Termasuk pengunjung lainnya, mereka yang tadinya hendak pulang menjadi tertahan karena adanya tontonan mendadak.
''Coba katakan sekali lagi di depan mata saya!''
Nyali mantan mertua Mentari pun langsung menciut. Kakinya terasa gemetar.
''Ayo katakan!'' gertak Edgar.
''Saya bisa membuat anda menjadi janda sekarang juga!''
__ADS_1
''Tinggal pilih, mau cerai mati atau cerai hidup?!''
Wanita itu terbelalak mendengar ancaman Edgar.
''Ma-maafkan saya Tuan, sa-saya tidak bermaksud. Jangan celakai keluarga saya.''
Edgar menarik nafasnya lalu menarik lengan sang istri agar mendekat ke arahnya.
"Kamu tidak papa, sayang?"
Mentari menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Mas."
Edgar tersenyum kepada Mentari, lalu kembali menatap mantan mertua dari istrinya itu.
''Jangan pernah merendahkan status seseorang! apalagi kepada orang yang sangat saya cintai.''
''Dan perlu anda ketahui, saya yang tergila-gila kepada istri saya sejak pertama kali bertemu.''
''Perlu anda ketahui juga, istri saya sangat menyayangi putra anda, selama itu dia tidak membuka hati untuk siapapun.''
Edgar menyodorkan amplop cokelat yang bisa ditebak isinya adalah uang.
''Silahkan tinggalkan tempat ini dan jangan ganggu istri saya lagi.''
''Maaf, permisi.. ada apa ini?'' tanya seseorang yang baru saja datang.
...••••••••...
Kira-kira siapa ya yang datang?
Hemmmmm 🤔
Jangan lupa like like likeeee 👍
__ADS_1
Komentarnya juga doong💞
Silahkan yang mau follow author, pasti nanti di follow balik hehe 🤭