
''Bu-bukan begitu Tuan..''
Edgar mencondongkan badannya.
''Kalau kau tidak mau menerima ini, ya sudah, lebih bagus ku buang saja.'' Edgar meraih paper bag yang masih berada di tangan Mentari.
''Jangan Tuan, jangan!'' seru Mentari.
Edgar menghentikan langkah dan balik menghadap Mentari.
Mentari langsung bergegas menyusul Edgar yang sudah berjalan menuju pintu balkon.
''Kenapa?''
''Dalam rangka apa Tuan memberikan itu kepada saya?'' tanya Mentari tanpa berani menatap suaminya, tentu saja ia khawatir Edgar meminta sebuah imbalan.
''Dalam rangka apa?'' Edgar mengulang pertanyaan Mentari.
''Iya.''
''Menurutmu apakah salah jika seorang suami memberikan hadiah kepada istrinya?''
Mentari menggeleng.
''Tapikan kita..'' Mentari ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
''Apa? kita kenapa? bukankah kita memang suami istri? ohh ya, ya.. kau pasti mau bilang kita beda.''
''Aku tidak ada maksud apa-apa, ganti ponselmu yang retak itu dengan ini, kau tinggal memakai dan sudah ku masukkan nomor-nomor penting.''
''Terimalah atau kau akan menerima hukuman karena membuat waktuku tersita..'' ucap Edgar.
Akhirnya Mentari berani mendongak menatap wajah Edgar. Ia sudah menyimpulkan kemana arah kata hukuman yang dimaksud oleh Edgar.
''Ya, saya terima.'' jawab Mentari lalu merebut kembali paper bag itu.
__ADS_1
Edgar tersenyum tipis setelah ancamannya berhasil menaklukkan Mentari.
''Bagus.. kalau gitu aku mau mandi.''
''Hah iya, iya silahkan Tuan.'' jawab Mentari gugup.
''Mau ikut?'' goda Edgar.
Kedua mata Mentari langsung terbelalak tajam.
''Serius sekali kau..'' ujar Edgar seraya terkekeh.
Mentari langsung berpaling agar tidak beradu pandang dengan Edgar.
Melihat Mentari tak mau menghadapnya, Edgar langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, Mentari cepat-cepat mempersiapkan pakaian ganti untuk Edgar, kemudian ia langsung duduk di sofa. Ia membuka kotak ponsel pemberian dari Edgar, yang konon katanya itu sebuah hadiah dari suami untuk istrinya.
Mentari menekan tombol on, setelah menyala ia terbelalak saat melihat wallpapernya.
''Foto pernikahan? siapa waktu itu yang fotoin kita? kok aku nggak sadar difoto?'' gumam Mentari tengah berfikir.
Mentari membuka daftar nomor dikontak ponsel barunya, disana tertera nama Erinka, Bu Maryam, Papi, Mami, dan terakhir "SUAMIKU YANG TAMPAN''
''Diihh, pede banget..'' gumamnya.
''Kangen Rita.. tapi, nggak berani buat hubungi dia.'' gumamnya lagi.
Mentari sangat merindukan pekerjaannya, teman-teman terutama Rita, rumahnya yang penuh dengan kenangan. Namun, statusnya yang kini sudah menjadi istri dari seorang penerus Raymond group, membuatnya takut untuk melangkah sendiri.
''Gimana? kau suka?''
Jantung Mentari langsung berdetak lebih keras karena terkejut dengan suara Edgar yang sudah selesai mandi.
Mentari pun menghela nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
''Terimakasih Tu-an.'' ucap Mentari seraya berbalik arah dengan maksud menatap Edgar agar tidak dianggap cuek.
Namun, seketika Mentari kembali berputar arah lagi dengan menelan salivanya karena melihat roti sobek sang suami. Ia yang tadinya ingin menunjukkan senyum manisnya pun tiba-tiba hilang karena kegugupannya.
Edgar yang masih menyisir rambutnya menatap Mentari dengan mengernyitkan keningnya, ia bingung kenapa Mentari terlihat gugup.
''Kau kenapa?'' tanya Edgar.
''Stop! stop! jangan mendekat!'' seru Mentari.
''Kenapa?'' tanya Edgar serasa tidak bersalah.
''Pokoknya jangan mendekat! cepat Tuan pakai baju itu! sudah saya siapkan!'' seru Mentari masih dengan tidak mau menatap Edgar, ia hanya menunjuk-nunjuk asal.
Edgar menoleh ke arah pakaiannya, ia tersenyum melihat salah tingkah dari Mentari, menurutnya itu menjadi sangat lucu.
''STOOOOPPPP!!''
''Aku sudah pakai baju.'' sergap Edgar.
Mentari langsung menarik tangannya dan pelan-pelan memberanikan diri menatap Edgar.
''Ehehe..''
Mentari seperti orang bod*h yang cengengesan.
Edgar melanjutkan langkahnya dan duduk di sofa bersama dengan Mentari.
''Ponsel ini jangan sembarang kau isi nomor orang lain yang tidak penting. Dan untuk ponsel lamamu, lebih baik kau simpan saja, gunakan yang ini.'' ucap Edgar.
''Tuan, apakah saya tidak boleh menghubungi teman-teman dikantor?'' tanya Mentari.
Edgar menarik nafasnya.
''Sabar ya, aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, kita sekarang fokus untuk resepsi pernikahan dulu. Dan soal teman-teman kantormu, mereka pasti akan mendapatkan undangan.''
__ADS_1
''Baik Tuan.''
°°