
''Kok nggak ganti baju tidur? bukankah itu kaos pria?'' tanya Edgar saat melihat Mentari keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos oblong yang seharusnya untuk Edgar.
''Nggak ada baju tidur.'' jawab Mentari sedikit kesal, ia langsung menuju sofa dan kembali menonton televisi.
Edgar mengernyitkan keningnya, rasanya tidak mungkin jika tidak disiapkan karena ia sudah memastikan tidak ada yang kurang. Akhirnya Edgar menutup laptopnya dan memastikan sendiri membuka lemari lalu melihat isi didalamnya sekalian ia juga akan berganti pakaian.
Gelak tawa tertahan di bibir Edgar, ia melihat pakaian dinas yang bisa tembus pandang itu. Bukan hal asing baginya, ia sudah sangat paham dengan benda itu, hanya saja sudah sangat lama tidak melihatnya.
"Kelakuan Jimmy haha.." batinnya.
Edgar melirik Mentari yang sudah kembali duduk di sofa dan menatap layar televisi. Bisa ia pastikan jika Mentari sedang bete. Tiba-tiba muncul ide jahil di benak Edgar.
(Author be like : Tiati... jahil-jahil ntar beneran baper sendiri...)
Edgar mengambil pakaian tersebut dan juga pakaian gantinya. Edgar berganti pakaian terlebih dulu lalu membawa pakaian tipis itu ke Mentari, ia langsung duduk saja disamping Mentari tanpa permisi.
''Tuan! saya kaget.'' seru Mentari.
''Maaf.'' imbuhnya.
''Kenapa kau nggak pakai ini? kan memang buat tidur?'' balas Edgar berusaha menahan tawanya.
Mentari yang sedari tadi tidak memperhatikan apa yang dibawa oleh Edgar, ia langsung kembali menoleh.
Bola mata indah Mentari langsung terbelalak melihat apa yang berada ditangan suaminya itu.
''Eittsss!'' Edgar menyembunyikan pakaian itu dibelakang punggungnya saat menyadari Mentari hendak merebut.
''Tuan, kenapa anda mengambil itu?'' protes Mentari.
''Kenapa memangnya? kan aku cuma tanya kenapa kau nggak memakainya? siapa tau tadi kau nggak lihat.'' jawab Edgar.
Mentari mendengus kesal.
''Itu tidak layak pakai, Tuan.'' kesal Mentari.
__ADS_1
''Masa sih? ini masih baru loh, harganya juga mahal, kau pasti akan nyaman tidurnya.'' goda Edgar masih berhasil menahan tawanya.
''Bukan nyaman, yang ada saya akan masuk angin.'' jawab Mentari semakin kesal.
''Kalau Tuan mau pake ya silahkan.'' imbuhnya.
''Iya kah? kalau gitu aku akan pakai.'' goda Edgar.
Mentari terdiam, ia terbayangkan sesuatu.
''Sini bajunya, Tuan.. anda pasti lelah, jadi silahkan istirahat.''
Mentari berusaha merebut paksa, tetapi Edgar yang memiliki badan lebih besar dan tinggi tentu saja sangat menyulitkan bagi Mentari.
''Eittss..'' Edgar seperti sedang bermain-main, ia sangat senang melihat ekspresi wajah Mentari yang kesal, baginya sangat imut.
''Tuaann..''
Edgar beranjak dari sofa tersebut dan berlari-lari menghindari Mentari yang berusaha keras merebut pakaian itu dari tangannya.
''Tidak bisa yeeee.. hahaha''
Tidak patah semangat, Mentari terus berusaha mengejar Edgar. Televisi yang masih menyala bergantian menonton aksi mereka.
''Tuan tolong jangan aneh-aneh!'' seru Mentari.
''Ini ambil..'' seru Edgar meledek.
Mentari diam beberapa detik seraya mengatur pernafasannya yang tersengal-sengal karena mengejar langkah Edgar yang panjang.
''Ya sudah pakai saja kalau Tuan mau.'' seru Mentari pasrah dan terlihat bibirnya sudah mengerucut.
''Beneran?'' tantang Edgar.
''Iya!''
__ADS_1
''Oke, siapa takut.'' balas Edgar semakin menantang.
Bukan hanya sebuah ucapan, Edgar benar-benar melepaskan bajunya dan berganti kain nerawang itu yang sangat seksi karena tanpa lengan. Mentari yang tadinya hanya ingin menggertak saja malah terjebak sendiri oleh kelakuan suaminya.
''Stop.. stooopp!'' seru Mentari saat melihat Edgar hendak melepaskan celananya tanpa rasa malu.
''Loh kenapa? katanya suruh pake?'' goda Edgar.
Lagi-lagi Mentari mendengus kesal.
''Kalau Tuan mau pake yasudah, saya mau tidur di ruang tamu.'' ujar Mentari cuek tanpa menoleh ke arah Edgar.
Mentari meraih selimut di atas ranjang dan mendekapnya. Ia langsung keluar menuju sofa yang ada di living room dan merebahkan tubuhnya disana.
Edgar terkekeh sendiri karena berhasil membuat Mentari ngambek.
''Ahaha lucu juga, seru ya..'' gumam Edgar.
''ASTAGA!!'' pekik Edgar.
Edgar yang tidak sengaja melintas didepan cermin terkejut dengan penampilan dirinya sendiri.
''Pantesan Mentari geli haha..'' gumam Edgar dan langsung melepaskan pakaian tipis itu.
Sudah tidak ada suara lagi, Mentari juga tidak kunjung kembali ke dalam kamar. Edgar yang penasaran dan juga merasa ada yang kurang langsung menyusul Mentari.
Senyum mengembang diwajahnya melihat Mentari sudah tertidur pulas di sofa dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Edgar berjalan pelan-pelan menghampiri Mentari, ia membuka selimut yang menutupi wajahnya dengan hati-hati.
''Ooppssss!'' Edgar terkejut karena bersamaan dengan Mentari bergerak.
''Sepertinya masih tidur..'' batinnya.
Edgar tidak tega melihat Mentari tidur di sofa yang tidak lebar itu, ia khawatir Mentari bisa terjatuh. Dengan hati-hati, Edgar mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamar.
Semua lampu sudah dipadamkan, tersisa cahaya remang untuk menemani tidur mereka, rasa kantuk juga menyerang Edgar. Selesai merebahkan tubuh Mentari, ia langsung merebahkan tubuhnya sendiri disamping istri.
__ADS_1
''Good night, Mentariku..'' gumam Edgar, ia mendaratkan kecupan manis di kening Mentari lalu menutupkan selimut ke tubuh mereka.
Soal kalau Mentari ngomel kenapa bisa tidur di dalam pelukannya, itu urusan besok haha.