Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 65 : Tampan Sekali Suaminya Ghadira Mentari


__ADS_3

''Masih sakit?'' tanya Edgar lembut.


Dalam cahaya remang itu Mentari menggeleng pelan, ia menutupkan selimut hingga menutupi lehernya.


''Kayaknya sudah lebih baik.'' jawab Mentari.


Edgar mengusap lembut wajah Mentari dengan jari telunjuknya.


Keduanya sudah bangun tidur, tetapi melihat jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 4 lebih, Edgar masih bermalas-malasan.


''Jadi pingin dirumah aja.'' tutur Edgar lalu menelusup ke leher Mentari.


''Akkh Mas.. geliii..'' lenguh Mentari tanpa ia sadari.


Edgar sedikit mendongak menatap Mentari.


''Kamu menggodaku, sayang?''


Mentari membulatkan matanya karena tidak merasa melakukan hal itu.


''Siapa yang menggoda? kamu yang jahil Maas..'' protes Mentari.


Edgar terkekeh pelan.


''Sekali lagi ya biar aku semangat ngantor.'' pinta Edgar dengan menciumi leher Mentari hingga semakin kebawah, sehingga membuat pemiliknya melenguh.


''Alasan..'' protes Mentari.


''Haha tau aja, mau ya sayang? lihat nih..''


Edgar kembali mengurung tubuh Mentari setelah menunjukkan senjatanya yang siap tempur. Kali ini ia menggoyangkan panggungnya lebih lembut sehingga Mentari tampak lebih menikmati pergerakannya.


°°


Edgar sudah bersiap-siap untuk kembali berangkat ke kantor memulai aktivitasnya. Mentari memakaikan dasi untuk sang suami hingga rapi.


''Tampan sekali suaminya Ghadira Mentari ini..'' ujar Edgar memuji dirinya sendiri saat berdiri di depan cermin.


Mentari pura-pura tidak mendengar, ia pura-pura sibuk membersihkan kasur. Karena sebenarnya ia mendengar kepercayaan diri Edgar, Mentari berusaha keras merapatkan bibirnya untuk menahan tawa.

__ADS_1


Edgar melirik Mentari dari cermin, tetapi istrinya itu tidak menatap ke arahnya, apalagi meresponnya.


''Sayang..'' panggil Edgar.


''Hemm.'' jawab Mentari tanpa menoleh.


''Kamu nggak denger aku ngomong apa?''


Mentari hanya menggeleng.


Melihat istrinya masih tidak berbalik arah, apalagi ranjangnya sudah rapi. Edgar pun langsung mendekati Mentari.


''Hahaha''


Akhirnya Mentari melepaskan tawanya setelah melihat wajah Edgar.


''Oooohhhh pinter ya.. mulai berani jail nih sama suaminya.''


''Maasss!'' Mentari berteriak karena Edgar memeluknya kencang dan menciumi dengan rakus.


''Siapa suruh pura-pura nggak denger?''


''Iya-iya Mas Edgar Raymond yang tampan tiada tandingannya..''


''Mas Edgar tampan suaminya Ghadira Mentari yang cantiiikk..''


''Hahaha..'' Edgar balik tertawa.


''Masa sih cantik? Emmmm...''


Edgar menangkup kedua pipi sang istri hingga membuat bibir Mentari mengerucut.


''Ohh iya cantik, beautiful.. I love you.''


Edgar menciumi bibir Mentari yang mengerucut itu.


''Mas ih.. aku bukan anak kecil.'' sungut Mentari.


''Udah sana berangkat.'' usir Mentari.

__ADS_1


''Ikut yuk..'' Edgar masih terasa enggan melepaskan pelukannya.


''Nggak mau.'' tolak Mentari.


''Maass.. tuan Jimmy pasti udah datang, cepetan ih.''


''Sekarang panggil Jimmy tanpa tuan, oke.''


''Oke Jimmy tanpa tuan.'' jawab Mentari.


''Tanpa tuannya nggak usah disebut sayaang..'' protes Edgar.


''Iya-iya Maass, becanda..''


Edgar menghela nafasnya lalu tersenyum tipis.


''Berangkat kerja dulu ya, aku nggak akan lembur.'' ujar Edgar.


Mentari mengangguk.


''Iya Mas, semangat..''


Edgar dan Mentari turun ke bawah, segera menemui Jimmy yang benar saja sudah datang dan sedang menunggu Edgar diruang tamu.


''Sudah dari tadi Jim?'' tanya Edgar.


''Belum Tuan, sekitar tiga puluh menit yang lalu.'' jawab Jimmy setengah menyindir.


''Oohhh belum se jam, ayo berangkat.'' ajak Edgar santai.


Mentari mencium punggung tangan suaminya, lalu Edgar mencium kening Mentari di depan Jimmy.


''Mari Tuan..''


Mentari langsung bergeser karena langsung rikuh mendapat teguran secara tidak langsung dari Jimmy.


''Huufftttt iya percaya pengantin baru, sabar sabaaarrr..'' bathin Jimmy.


°°

__ADS_1


Edgar kembali memulai aktivitasnya di depan layar laptopnya dan juga berkas-berkas yang harus ia periksa dan juga ditandatangani.


''Satu minggu ini harus kelar, minggu depan waktunya mengajak Mentari pergi honeymoon.'' gumamnya sembari membayangkan sang istri.


__ADS_2