
Aktivitas di kantor Raymond selalu seperti biasanya yang selalu sibuk. Meskipun bathinnya sedang tidak baik-baik saja, Edgar harus tetap menjaga profesionalnya.
''Permisi, Tuan.'' ucap Jimmy.
''Masuk.'' jawab Edgar.
Jimmy langsung masuk ke dalam ruangan Edgar dengan membawa laptop dan juga berkas lainnya.
''Ini hasil laporan anggaran akhir mengenai pembangunan, Tuan.'' jelas Jimmy.
Jimmy menyerongkan laptopnya dan juga meletakkan berkas di atas meja Edgar.
''Sudah kamu cek lagi, Jim?'' tanya Edgar.
''Sudah, Tuan.'' jawab Jimmy.
Edgar memeriksa isi file itu dengan teliti.
''Kirimkan ke emailku.'' pinta Edgar.
''Baik, Tuan.''
Jimmy langsung melampirkan file tersebut ke email yang akan ia kirimkan pada Edgar.
Laporan dengan jumlah yang tidak sedikit. Pembangunan itu sudah mengeluarkan banyak dana. Apalagi sempat ditangani oleh penanggung jawab yang tidak memiliki rasa tanggung jawab, karena tergiur dengan anggaran dana yang dipercayakan kepadanya. Bukannya digunakan untuk hal yang semestinya, justru di korupsi untuk bermain wanita.
Namun, hal itu sudah tidak terjadi lagi ketika Edgar memecatnya dan mengganti dengan penanggung jawab yang baru. Tak lupa juga dengan surat perjanjian agar hal serupa tak terulang lagi untuk yang kedua kalinya.
Jimmy sudah selesai dengan urusannya di ruangan Edgar, ia langsung permisi.
''Tunggu, Jim.'' cegah Edgar.
Langkah Jimmy langsung terhenti dan kembali menghadap Edgar.
''Iya, Tuan?''
Edgar tampak berpikir sejenak.
''Tidak jadi, silahkan kembali ke ruangan kamu.''
Kening Jimmy langsung mengernyit heran. Tapi, ya sudahlah tidak ada yang perlu dipaksakan, meskipun sebenarnya ia penasaran dengan raut wajah Edgar yang memanggilnya lagi itu.
''Baik, Tuan.''
Jimmy langsung meninggalkan ruangan Edgar dengan hati yang bertanya-tanya.
...•Sebenarnya Kakak mau bicara apa sama papi dan mami?•...
__ADS_1
Sebuah pesan dari Erin membuat sudut bibir Jimmy terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Ia pun segera membalas pesan yang sudah pasti ditunggu-tunggu balasannya oleh Erin.
...•Nanti kamu akan tau, jangan berpikiran yang macam-macam ya, sayang•...
Balasan itu yang Jimmy kirimkan. Ia langsung menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali meletakkan ponselnya ke atas meja.
-
Malam ini, tak di pungkiri jantungnya juga berdebar kencang. Ia menatap dirinya sendiri di depan cermin. Memastikan bahwa dirinya pantas untuk menghadap bos besar dan juga seseorang yang ia harapkan akan menjadi mertuanya kelak.
Beberapa kali Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam untuk membuat debar jantungnya lebih terkontrol.
Huuhhhh
Jimmy membuang nafas dengan kuat lalu meraih kunci mobilnya yang ada di atas nakas dan siap membelah jalanan kota ini untuk menuju kediaman keluarga Raymond.
''Apa Jimmy benar-benar mau datang kesini?'' tanya Edgar dengan raut wajahnya yang serius pada Mentari.
''Mungkin sebentar lagi orangnya datang, Mas.'' jawab Mentari dengan santai, tak lupa senyum mengiringi jawabannya.
Kedua alis Edgar pun langsung bertautan.
Keluarga itu makan malam bersama, Jimmy masih belum datang. Erin lebih banyak berdiam diri, selain perasaannya yang takut pada respon dari Edgar, ia juga bingung dengan dirinya sendiri.
Ia menyantap makan malamnya dengan kaki yang terus gemetaran di bawah meja.
Bertepatan dengan mereka selesai makan malam, bersamaan Jimmy tiba ke rumah tersebut.
''Selamat malam Tuan, Nyonya.'' sapa Jimmy.
''Malam, Jim.'' jawab keduanya ramah.
Jimmy juga membungkukkan badannya untuk menyapa Edgar, Mentari, dan pastinya sang kekasih, Erin.
''Ayo duduk, kenapa malah jadi model begini.'' celetuk mami sehingga membuat tuan Erick, Jimmy, dan Mentari sedikit terkekeh. Sedangkan Edgar masih wajahnya yang datar penuh pertanyaan. Sementara Erin tetap dengan kecanggungannya di dalam situasi ini.
Mereka pun langsung duduk di sofa ruang tamu. Mami meminta pada art untuk membuatkan minuman.
Obrolan pembuka tidak jauh-jauh dari perkembangan perusahaan Raymond. Hingga minuman yang art buatkan sudah datang.
''Sebenarnya Jimmy mau bicara apa?'' bathin Edgar yang sudah semakin tidak sabar.
Obrolan tuan Erick dan Jimmy terlihat sangat akrab. Walaupun kenyataannya keakraban mereka memang sudah terjalin sejak lama. Tapi, cara pandang Edgar jelas saja sudah berubah. Ia juga melirik sang adik yang menunduk dengan sesekali menarik nafasnya.
''Apa Erin bisa gugup juga?'' tanyanya dalam hati.
Edgar justru tidak menyimak obrolan itu lagi, pikirannya sudah terfokus pada rasa penasarannya tentang kedatangan Jimmy malam ini dan menebak-nebaknya di dalam hati.
__ADS_1
''Sorry nih, Jim ... kan Edgar sudah menemukan jodohnya, kami juga berharap kamu memikirkan masa depanmu sendiri.'' ujar mami dengan sedikit candaan agar Jimmy tidak tersinggung.
Jimmy tersenyum, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa gugupnya. Erin pun langsung mengangkat wajahnya dengan sorot matanya yang tidak berkedip. Mentari menatap semuanya yang ada disana secara bergantian. Ia mengusap lengan Edgar supaya bisa mengontrol ekspresi wajahnya yang tidak santai itu.
''Tuan ... Nyonya ..,'' Jimmy menghadap kedua bosnya itu.
''Untuk itu, kedatangan saya malam ini bukan hanya sekedar silaturahim. Tapi, saya ingin meminta izin untuk hubungan yang sudah saya jalani.'' ungkap Jimmy dengan hati-hati.
Erin semakin terbelalak mendengar perkataan Jimmy. Mentari pun langsung menggenggam tangan Erin agar tetap tenang.
Tuan Erick dan mami langsung saling menatap, keduanya terlihat terkejut.
''Hubungan?'' tanya tuan Erick.
''Siapa gadis yang beruntung itu, Jim?'' timpal mami semangat. Baginya Jimmy adalah pria yang sangat baik.
Jimmy tersenyum lalu menatap ke arah Erin yang juga menatapnya.
''Sebelumnya saya mohon maaf karena telat mengatakan hal ini. Tapi, sekarang sudah seharusnya saya katakan sejujurnya.''
''Saya mencintai dan menjalani hubungan dengan nona Erin.''
''WHAT?!'' seru papi dan mami bersamaan.
Kedua pasangan senior yang tadinya duduk santai sembari bersandar itu langsung menegakkan duduknya. Mereka menatap Jimmy dan Erin secara bergantian.
Erin langsung menunduk dalam, bersiap-siap untuk menerima segala hal, termasuk jika ada amarah.
''Maafkan aku, Pi, Mi ...'' ucap Erin di dalam tunduknya.
''Bentar, tolong katakan lebih jelas lagi.'' ujar tuan Erick yang kembali menatap Jimmy.
''Saya dan Erin sudah menjalani hubungan beberapa bulan ini. Dan saya mencintainya bukan untuk main-main. Saya mencintainya dengan tujuan yang pasti, yaitu pernikahan.'' Jimmy menjeda ungkapannya lalu menatap Erin sekilas. Bibirnya terus membentuk sebuah senyuman, menandakan ia yakin akan hal ini.
Mentari mendengar penuturan Jimmy dengan tersenyum, ia terharu Jimmy bersikap layaknya pria sejati yang langsung menyampaikan pada orangtua sang kekasih. Meskipun sudah sedekat apapun, mencari kepastian itu tetap harus segera didapatkan.
''Maafkan saya harus menjalani hubungan ini dengan cara sembunyi. Tapi, saya tidak akan meneruskan cara seperti itu. Saya ingin meminta izin kepada Tuan dan juga Nyonya mengenai hubungan kami. Apapun jawabannya, saya siap menerima dengan lapang dada.'' ujar Jimmy.
Tuan Erick dan mami pun saling menatap, beberapa detik kemudian mereka tersenyum.
''Terima kasih atas kejujuran kamu, Jim.'' ucap tuan Erick.
''Ya ... sepertinya tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menerima kamu sebagai menantu kami. Ya 'kan, Mi?'' tuan Erick meminta persetujuan pada sang istri.
''Tentu saja, kami sebagai orang tua, sangat merestui kalian.'' ujar mami lalu menatap Jimmy dan putrinya secara bergantian.
Senyum lebar itu tidak bisa Jimmy tutupi lagi. Erin juga langsung menutup mulutnya, dan kemudian membalas genggaman tangan Mentari. Sedangkan Edgar hanya mengusap kepalanya sendiri karena tidak tau harus berekspresi seperti apa. Saat melihat yang lain tersenyum lebar, ia ikut tersenyum tipis saja.
__ADS_1