
Ponsel yang sebelumnya lebih dekat dengan Edgar itu, ia serahkan pada Mentari. Mentari pun langsung menjawabnya.
"Iya, halo.. Dini," jawab Mentari melalui sambungan telepon itu.
Nama kontak yang tertera, nomor milik Dini. Pantas saja Edgar langsung menyuruhnya untuk menjawab.
Edgar langsung mengurangi volume suara televisi saat Mentari tengah menjawab telepon masuk.
''Kakak, apa kabar?'' tanya Dini dari balik telepon.
''Kabar Kakak baik, kamu sendiri gimana kabarnya?'' Mentari pun balik bertanya.
''Kabar kami juga sangat baik, Kak.'' jawab Dini.
Mereka pun melakukan obrolan ringan terlebih dahulu. Meskipun kebersamaan mereka dulu belum lama, tapi, ketika mengobrol langsung terasa nyambung. Apalagi semenjak terjadi permasalahan beberapa waktu yang lalu, Dini dan Mentari juga juga beberapa kali berkomunikasi melalui pesan. Baik Mentari maupun Dini, keduanya sama-sama merasa tidak enak kalau berkomunikasi melalui telepon. Keduanya sama-sama khawatir menganggu.
''Em, Kak Mentari.'' panggil Dini ketika keduanya selesai dengan tawa karena usai membicarakan hal lucu tentang Ashilla.
''Iya Din?''
Mentari menoleh ke arah Edgar yang juga tengah menatapnya.
Edgar masih terjaga di sebelah Mentari. Mentari juga menambahkan volume suara supaya Edgar bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Dini.
''Emm, Ashilla sebentar lagi mau bikin acara ulang tahun kecil-kecilan di resto kami. Aku pribadi ingin mengundang Kakak dan tuan Edgar tentunya untuk hadir di acara Shilla nanti.'' ujar Dini yang sangat hati-hati itu.
Mentari dan Edgar langsung tersenyum tipis, keduanya saling menatap. Edgar memberikan anggukan kecil supaya sang istri mengiyakan permintaan dari Dini tanpa ragu.
''Tentu saja kami akan hadir untuk Shilla sayang.'' jawab Mentari.
Disana Dini langsung tersenyum lebar. Karena baginya ini hal yang sangat spesial juga, selain seluruh keluarga besarnya.
''Terima kasih, Kak.'' ucap Dini dengan senyum sumringahnya.
__ADS_1
''Kapan acaranya, Din?'' tanya Mentari.
''Oh iya, aku sampai lupa belum kasih tau waktunya hehe''
Dini menepuk keningnya sendiri, lalu memberitahukan jadwal pelaksanaan acara ulang tahun putrinya.
''Sebenarnya tanggal lahir Shilla bukan hari itu, tapi, dua hari sebelumnya. Tapi, karena masih hari kerja, jadi di ambil hari Minggu saja supaya keluarga juga bisa hadir semuanya.'' terang Dini mengenai ulangtahun sang anak.
''Ohh, iya-iya, benar. Lagian acara ulangtahun anak-anak tidak mungkin akan dilaksanakan malam hari.'' balas Mentari.
''Nah, benar sekali, Kak.''
''Terima kasih ya sudah mengundang kami.'' ucap Mentari.
''Ohh, sama-sama, Kak. Aku sangat berterima kasih dan senang Kakak menyanggupi undanganku. Tadinya aku bingung harus mengundang melalui apa, maaf.'' balas Dini.
Mentari terkekeh kecil.
''Haha, kamu ada-ada saja, Din. Kayak sama siapa saja, jangan sungkan-sungkan sama Kakak, selagi hal yang wajar.'' pinta Mentari.
Perayaan ulang tahun pasti sepaket dengan tema, apalagi anak-anak.
''Emm, kami mengambil tema hello Kitty, Kak. Yaaa, pink-pink gitu deh, pokoknya Shilla tuh cewek banget, xixi.''
Mentari hampir tidak bisa menahan tawanya saat melihat reaksi Edgar yang langsung melotot. Mentari sudah membayangkan Edgar mengenakan pakaian yang berwarna pink. Sungguh menggemaskan sekali pastinya, jadi makin tidak sabar.
''Oohh, oke-oke, kami akan persiapkan baju warna pink untuk hadir di ulang tahun Shilla sayang.'' ujar Mentari.
Dini sudah lega karena Mentari menerima undangannya.
Setelah melakukan perbincangan panjang, mereka menyudahi obrolan karena Shilla yang tadinya masih bersama papanya beralih merengek ke mamanya.
Mentari meletakkan ponselnya di atas meja setelah Dini menyudahi panggilan telepon itu.
__ADS_1
''Harus banget ya pakai baju warna pink?'' tanya Edgar.
Hahaha
Mentari langsung tertawa senang.
''Wajib, Mas. Membuat orang lain bahagia bisa nambah pahala, hihi''
Edgar menghela nafas pasrah.
''Aku sudah kepikiran untuk ngasih kado apa.'' ujar Edgar.
Mentari menatap Edgar, ''Apa itu?'' tanyanya.
Edgar menceritakan ide yang langsung masuk ke pikirannya tadi saat Dini mengatakan acara ulang tahun putrinya. Menurutnya, hadiah spesial itu sangat layak untuk diterima oleh Shilla.
Mentari mengangguk setuju.
''Eumm, suamiku sweet banget siiihh, jadi makin cinta.'' puji Mentari sembari meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Edgar dan menggerakkan ke kanan dan kiri dengan gemas. Apalagi melihat bibir Edgar sampai mengerucut, membuatnya tertawa cekikikan.
Edgar membiarkannya, melihat tawa sang istri yang begitu tulus membuatnya tiba-tiba merasa terenyuh. Hal yang sangat sederhana, mampu membuat Mentari tertawa seperti itu. Sungguh ia pria yang benar-benar beruntung.
Dan akhirnya, Edgar menarik bahu Mentari dan membawa ke dalam pelukannya. Tanpa kata, ia memeluk Mentari dengan erat.
''Aku mencintaimu.'' bisiknya setelah beberapa saat terdiam.
...****************...
Menunggu memang hal yang membosankan. Tapi, kalian tidak akan merasa bosan kalau menunggu sembari baca cerita yang keren banget dari othor ''SANTI SUKI'' 😍
"TETANGGAKU .... MANTANKU"
Jangan lupa mampir dan langsung masukkan ke rak favorit kalian 😍
__ADS_1