
''Kenapa lari-lari?'' cegat Edgar saat berpapasan dengan adiknya itu.
''Nggak papa Kak, bau keringat, mau mandi!'' jawab Erin dan langsung melanjutkan langkahnya dengan cepat.
Tak lama kemudian, Jimmy masuk ke dalam rumah bersama pak Dar.
''Ayo Jim langsung berangkat sekarang.'' ajak Edgar.
Jimmy mengangguk.
''Baik Tuan.''
Edgar berpamitan dengan mami dan juga istrinya terlebih dahulu.
''Hati-hati Mas.. nanti beneran sarapan di kantor ya.'' ucap Mentari.
''Iya sayang.'' balas Edgar.
Kedua pria itu langsung meninggalkan rumah tersebut untuk menuju kantor. Beberapa meeting akan Edgar lakoni guna mempertahankan rekan bisnis yang selama ini sudah menjalin kerjasama dengan baik. Namun, gara-gara pemberitaan itu sempat membuat beberapa memiliki wacana untuk mundur.
Tapi, setelah mendengar pemberitaan baru mengenai konflik Raymond. Akhirnya mereka kembali ingin melanjutkan kerjasama.
''Duduk sini dulu, sayang.'' ujar mami kepada menantunya yang masih berdiri itu.
Mami menepuk sofa kosong disebelahnya.
Mentari mengangguk dan langsung duduk disana bersama mertuanya.
''Kamu benar-benar bahagia kan sama Edgar?'' tanya mami khawatir.
Mentari menggenggam tangan ibu mertuanya itu.
''Tentu saja bahagia, Mi..'' jawabnya.
Mami tersenyum lega.
__ADS_1
''Apa pernah Edgar membanding-bandingkan kamu dengan mantannya?'' selidik mami lagi.
Kekhawatiran sesama wanita. Karena tidak sedikit di dunia ini yang pernikahan pertamanya harus mengalami perpisahan, ntah itu berpisah karena perceraian atau berpisah karena kematian.
Banyak yang setelah melewati banyak waktu, dan akhirnya memilih untuk melanjutkan kehidupan dengan orang baru, seorang oknum membandingkan miliknya sekarang dengan apa yang dimilikinya saat dulu. Lebih parahnya, ada kalimat yang terlontar kalau yang pertama tetap yang terbaik. Padahal kalimat seperti itu sangat tidak baik jika sampai terdengar ke pasangan barunya, karena bisa memancing kesedihan dan rasa cemburu.
''Mami tidak perlu cemas untuk itu. Mas Edgar sangat mengerti untuk menghargai posisiku sekarang.''
''Bukan cuma mas Edgar yang harus menghargai posisiku, tapi, saya juga berusaha melakukan hal yang sama.''
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
''Kita memiliki kisah yang sama-sama berkaitan dengan masalalu, Mi. Yaahhh sebisa mungkin untuk saling memahami tentang itu.'' tutur Mentari.
''Kamu memang benar-benar yang dibutuhkan oleh Edgar. Edgar sangat beruntung memilikimu, sayang.'' ujar mami.
''Ah itu hehe.. bukankah seharusnya aku yang beruntung dipinang oleh bos sendiri?'' balas Mentari.
''Yang kelihatannya bahagia dengan harta, belum tentu bahagia dengan hatinya.'' balas mami.
Bahagia. Tentu saja Mentari sangat bahagia diterima dengan baik di keluarga ini.
''Ayo sarapan dulu.'' ajak tuan Erick yang baru keluar dari kamar.
''Sebentar nunggu Erin masih mandi.''
''Rin, buruan!!'' seru tuan Erick.
''Husstt Papi! nggak usah teriak-teriak nanti asmanya kumat!''
Tuan Erick langsung mengusap dadanya.
''Huuhh suka lupa kalau sudah tua.'' ujarnya dan membuat Mentari langsung terkekeh pelan.
Erin yang sudah selesai memenangkan jantungnya di dalam kamar mandi langsung cepat-cepat mandi dengan benar. Ia sudah memastikan kalau semuanya sudah menunggu.
__ADS_1
''Hayy Papi, Mami, Kak Mentari.. nungguin aku ya? hehe..''
''Ya sudah ayo sarapan sekarang, Papi benar-benar sangat lapar.''
°°
''Terimakasih sudah kembali melanjutkan kerjasama dengan kami, Pak..'' ucap Edgar.
''Tentu saja, kami sangat senang bisa bekerjasama dengan anda.''
Meeting ketiga hari ini membuat Edgar dan Jimmy bernafas lega. Semua kembali dengan positif setelah hampir di hancurkan oleh berita yang dibuat oleh Mychelle.
''Jim, sepertinya kita melewati kantor polisi. Aku akan menemui Ardi sebentar.'' ujar Edgar.
''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.
Seperti yang diperintahkan oleh Edgar padanya, Jimmy mengendalikan benda bulat itu dengan baik menuju rumah tahanan yang di dalamnya ada Ardi.
Kedatangan Edgar dan Jimmy tentu di sambut baik oleh petugas kepolisian. Edgar langsung menyampaikan tujuannya untuk bertemu dengan Ardi.
''Baik Tuan, silahkan menunggu sebentar.''
''Baik..'' jawab Edgar, dan Jimmy mengangguk.
Setelah beberapa saat, polisi tersebut kembali datang dengan membawa Ardi.
Pria itu diarahkan untuk duduk berhadapan dengan Edgar dan Jimmy yang sudah menunggunya.
''Maaf Pak, boleh beri kami waktu untuk berbicara bertiga saja.'' ucap Edgar kepada polisi tersebut.
''Baik Tuan, silahkan..''
Polisi tersebut langsung beralih ke tempat lain.
''Ada apa?'' tanya Ardi ketus setelah kepergian polisi itu.
__ADS_1