Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 228 : Menerima Hukuman Atas Perbuatanku


__ADS_3

Edgar memandangi wajah Erin yang sedang menikmati semangkuk bakso beranak, isinya satu butir telur dan bakso-bakso yang berukuran kecil. Keduanya tidak seperti anak orang kaya, mereka terlihat begitu santai.


Ini kali pertama bagi Erin mencoba bakso beranak. Hal itu karena dulu belum ada, ia sudah terlalu lama menetap di luar negeri dan saat pulang ke Indonesia, selalu tidak ada kesempatan untuk mencicipi kuliner yang satu ini. Karena jadwal kedua orangtuanya yang sering sibuk, sedangkan dulu ia tidak diizinkan keluar sendiri.


''Tisu nih.'' ujar Edgar sembari menyodorkan bungkus tisu kecil. Ia melihat sedikit belepotan pada Erin.


''Kak Edgar bawa tisu dari rumah?'' tanya Erin dengan tangan kanannya menerima tisu itu.


Edgar mengangguk. Karena yang membawakannya itu tentu saja Mentari. Mentari sudah berjaga-jaga kalau keduanya mampir ke tempat yang tidak menyediakan tisu, dan ternyata memang benar


''Ternyata rasanya sangat enak sekali, Kak.'' ujar Erin yang sudah terasa kenyang.


Mangkuk kosong itu ia taruh di pinggir bangku. Ia menyeruput teh hangat yang masih banyak. Karena tadi pas baru datang masih sangat panas.


''Oh, ya, kata bapak penjual bakso itu, beliau tetangganya kak Mentari, lho.'' ujar Erin.


''Oh, ya? terus bicara apalagi?'' balas Edgar.


''Itu aja sih, Kak.'' jawab Erin.


Orang-orang yang datang di taman itu semakin ramai padahal waktu semakin menjelang siang. Tampak beberapa keluarga datang membawa perlengkapan untuk mainan anak-anak agar tidak rewel mencari mainan.


Edgar menatap ke arah keluarga itu dengan senyuman. Ia melihat anak kecil yang sangat antusias mengeluarkan mainannya dari sebuah kotak. Wajah polos tanpa dosa itu menunjukkan tawa yang tulus sebelum mengerti dunia tipu-tipu ketika nanti sudah tumbuh dewasa.


''Jimmy tau Kakak ajak kamu jalan hari inj?'' tanya Edgar menyudahi keheningannya sendiri.


Erin sedikit terkejut, ia juga tengah menatap kerumunan orang-orang yang berada disana.


''Hah! e... itu, tau Kak.'' jawab Erin dengan rasa gugupnya.


''Tapi, aku nggak minta kak Jimmy buat ikutin kita kok, sumpah!'' seru Erin agar semakin meyakinkan, namun, sesaat kemudian ia langsung menutup mulutnya karena tersadar suaranya yang keras dan sempat membuat orang yang lewat di depannya langsung menoleh.


Edgar langsung tertawa kecil melihat raut wajah ketakutan yang tergambar jelas di wajah Erin. Ia bermaksud hanya bertanya saja, tidak lebih. Sedangkan Erin menerimanya dengan dugaan lain.


''Haha, Kakak juga tidak nuduh kamu suruh Jimmy ikutin kita, 'kan?'' balas Edgar dengan berusaha menahan tawanya.


''Ehehehe''


Erin langsung nyengir menutupi rasa malunya. Ia pun langsung menatap arah lain untuk menghindari tatapan dari Edgar.


''Iya juga ya, kak Edgar 'kan nggak nuduh. Duuhh! kenapa malah jadi bikin malu diri kamu sendiri. Dasar Erin!'' rutuk Erin dalam hati.


Jam di pergelangan tangan Edgar menunjukkan pukul setengah sebelas, sinar matahari semakin bergerak ke atas. Bawah pohon yang tadinya masih sejuk karena belum terkena sinar matahari, kini berubah menjadi panas. Terlihat beberapa orang pindah dan mencari tempat bersantai yang terlindungi dari sengatan sinar matahari.


''Sepertinya kita harus cari tempat lain?'' ujar Edgar.


''Kemana lagi yang mau kamu kunjungi?'' tanya Edgar pada Erin.


Tadinya Erin semangat dan ingin mengutarakan keinginannya. Tetapi ia langsung berubah, ia tidak enak ketika bayangan kakak iparnya yang sedang dirumah, sedangkan suaminya malah asik menuruti keinginannya.


''Kita pulang saja Kak, nanti kak Mentari nungguin. Kasian.'' jawab Erin.


Edgar tersenyum tipis setelah menerima jawaban dari adiknya itu.


''Asal kamu tau, semua ini ide dari kakak kamu ... dari baju yang Kakak pakai sekarang ini pun juga sudah dipersiapkan sama kak Mentari.''


''Sebenarnya Kakak juga maunya kita jalan bertiga, tapi, kak Mentari tetap maunya Kakak sama kamu aja.'' jelas Edgar dengan jujur.


Erin menatap kedua mata kakaknya itu, ia tersenyum.


''Ohh, jadi ini ide dari kak Mentari??'' tanya Erin


''Hahaha, iya. Waktu Kakak melamun, kak Mentari tau kalau isi hati Kakak itu mau mau minta maaf ke kamu, tapi, bingung gimana caranya.'' jawab Edgar.

__ADS_1


''Dan ini cara permintaan maaf Kakak ke kamu atas rekomendasi dari kak Mentari.''


''Mau kasih maaf ke Kakak nggak? kalau nggak sih sungguh terlalu.'' ujar Edgar.


''Hahaha, mana ada minta maaf tapi, tetap mengancam.'' protes Erin.


Edgar justru tertawa kecil agar tidak menjadi tatapan mata orang-orang disekitarnya. Tidak ada yang begitu mengenalinya karena Edgar mengenakan masker.


''Ada, nih, kakak kamu. The one and only!'' jawab Edgar dengan bangganya.


Erin kembali terkekeh, ia sangat terhibur dengan sikap kakaknya hari ini.


''Tapi, serius aku nggak enak sama kak Mentari, Kak.'' ujar Erin setelah menghentikan tawanya.


''Kakak sih sebetulnya juga maunya nempel terus, tapi, gimana lagi demi mendapatkan maaf dari little girl alias princess kesayangan bapak Erick Raymond dan ibu Neeta.'' ujar Edgar diikuti gelak tawanya. Karena ia sedang tidak memuji sang adik, tetapi lebih tepat sedang meledek.


Pug!


Erin menepuk lengan kakaknya itu dengan spontan, bibirnya langsung mengerucut sempurna.


''Jelek banget sih! kok ya Jimmy mau sama kamu, haha!'' ledek Edgar lagi langsung sigap berdiri sebelum mendapatkan timpukan dari sang adik.


Erin langsung mengikuti Edgar dan mengejar dengan mempercepat langkahnya.


''Kakaaaakk!!'' seru Erin dengan suara sempurnanya sehingga membuat pengunjung taman itu terkejut, terutama pada orang-orang yang berpapasan dengannya.


Seketika Erin langsung tersadar, Edgar pun langsung kembali mendekati Erin dan membungkam mulut adiknya itu.


''Kelepasaann!!'' tekan Erin dengan suara berbisik.


''Gara-gara Kakak!'' omelnya lagi.


Erin langsung menatap orang-orang disekitarnya dan meminta maaf.


''Kirain bakal lebih kalem kalau sudah bahas pernikahan, ternyata masih aja suka teriak-teriak. Awas nanti suamimu kabur.'' ancam Edgar sekaligus menakut-nakuti adiknya itu. Tak lupa disertai ejekan karena membuat adiknya marah adalah hal yang sangat menyenangkan bagi seorang kakak. Sampai hari ini pun ntah permintaan maaf macam apa yang Edgar lakukan, karena ia tetap memancing sang adik untuk marah-marah.


Namun, disaat Erin berusaha menyamai langkah Edgar yang sedang jail meninggalkannya, tiba-tiba ...,


Dug!


''Aw!'' rintih Erin sembari mengusap lengannya sendiri yang baru saja bertabrakan dengan seseorang.


Edgar yang sudah berjalan lebih dulu langsung kembali lagi.


''Maaf.'' ucap Erin cepat.


''Ma-maaf, maaf, sungguh saya tidak sengaja.'' ucap pria berpakaian lusuh itu.


''Iya-iya, tidak apa-apa, Pak.'' jawab Erin.


''Saya juga minta maaf.'' sambungnya.


''Kenapa ini? ada apa?'' pekik Edgar langsung menarik lengan Erin.


Edgar menelisik pria di hadapannya itu. Sedangkan pria itu menatap Edgar sekilas lalu kembali menunduk, ia menurunkan topinya agar semakin menutup wajahnya.


''Maafkan saya, saya tidak sengaja.'' ucap pria itu lagi.


''Apa itu benar, Erin?'' tanya Edgar pada Erin.


''E.. iya Kak. Bapak ini lagi mengambil botol bekas disini, pas balik badan bersamaan sama aku yang jalan cepat mau nyusul Kakak, akhirnya bertabrakan. Tapi, untungnya bapaknya nggak jatuh.'' jelas Erin. Karena memang kenyataannya seperti itu, pria berpakaian lusuh itu tidak salah. Ia sudah takut melihat tatapan tajam dari sang kakak.


Edgar mengangguk-angguk dengan samar-samar sembari ekor matanya menatap pria itu. Apakah pria itu mengenalinya sehingga tampak enggan memperlihatkan wajahnya.

__ADS_1


''Bapak baik-baik saja, 'kan?'' tanya Erin.


''Ah, iya saya baik-baik saja.'' jawab pria itu mengangkat wajahnya sekilas lalu kembali menunduk dan menurunkan topinya lagi.


Edgar semakin mengernyitkan keningnya.


''Saya permisi ya, Pak. Hati-hati..,'' ucap Erin.


''Terima kasih.'' jawab pria itu tanpa menatap keduanya.


Tidak mau hal tadi terulang kembali, Edgar langsung menggandeng tangan Erin untuk mempercepat langkahnya sampai ke mobil. Momen itu terlihat sangat manis antara kakak beradik ini.


Sedangkan pria itu, menatap kepergian Edgar dan Erin.


''Siapa perempuan itu?''


''Apa dia adiknya kok memanggil kakak?''


''Terlihat mirip sekali.''


Pria itu memilih istirahat terlebih dahulu di bawah pohon dekat pintu masuk setelah sejak pagi mencari barang-barang bekas yang sudah ia masukkan ke dalam karung. Tubuhnya yang sudah tidak muda lagi semakin mudah merasa lelah, apalagi di dalam tubuhnya sudah tidak seutuh dulu.


Hanya di taman itulah pencari barang bekas seperti dirinya diperbolehkan masuk, tentunya dengan syarat tidak membuat pengunjung taman merasa terganggu.


Pria itu menyandarkan kepalanya di batang pohon, ia memejamkan kedua matanya dengan kuat. Keringatnya sudah bercucuran, dan handuk kecil itu yang membantu untuk mengeringkannya.


''Dunia ini berputar, aku telah menerima hukuman atas perbuatanku.'' gumam pria itu.


Pria itu masih memejamkan kedua matanya, namun, ia tidak tidur. Ia sedang mengingat tindakannya yang merugikan banyak orang.


''Pak.. Pak.'' panggil seseorang.


''Iya, iya.!'' jawab pria itu langsung berdiri karena kaget dan takut diusir.


''Saya diminta sama seseorang buat antar ini.'' ujar seorang pria yang datang membawa satu buah plastik.


Pria itu langsung celingukan mencari sesuatu.


''Terima kasih.'' jawabnya sembari menerima kantong plastiknya.


Pria satunya mengangguk.


''Maaf Pak, tapi, siapa yang kasih ini ke saya?''


''Maaf Pak, saya juga tidak kenal. Dan orangnya juga sudah pergi setelah membayar pesanan itu.''


''Sekali lagi terima kasih.''


Pria satunya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan pria berpakaian lusuh itu.


Kantong plastik yang sudah berada di tangan pria itu langsung ia buka. Ia tersenyum lebar karena isinya satu bungkus makanan dengan lauk ayam goreng dan juga air mineral. Tak menunggu lama, ia pun langsung duduk kembali. Membuka terlebih dahulu tutup botol air mineral itu untuk ia gunakan mencuci tangannya yang kotor.


''Ternyata masih ada kebaikan yang aku dapatkan.'' gumamnya.


-


-


Hallo semuanya 🙏


Mari berteman dengan Cimai di sosial media ya😁


IG : cimai_author

__ADS_1


FB : Ci Author


Terima kasih dan salam kenal 🙏❤️


__ADS_2