Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 145 : Akur Dua Menit, Berantemnya Lima Jam


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.25 dinihari. Satu keluarga itu masih duduk mengelilingi meja yang diatasnya terdapat kue tart ulang tahun Edgar.


Piring-piring kecil itu sudah bertumpuk di sebelah kue. Edgar memotongnya sesuai dengan wadahnya, ia langsung mengisi piring-piring kecil itu dan ia letakkan di depan semuanya.


''Karena kalian semua spesial, jadi kita makan kue ini secara bersama-sama.'' ujar Edgar menatap semua secara bergantian.


''Ohh so sweet sekali kamu Nak..'' ucap mami mengusap pipi Edgar.


Karena biasanya mami yang mendapatkan potongan pertama dan sekarang sudah ada perubahan.


Edgar tersenyum kepada maminya.


Potongan kue yang sudah berada di tangan Mentari tidak langsung ia makan, karena ada sesuatu hal yang ingin ia lakukan.


''Mas.'' panggil Mentari.


Edgar langsung menoleh ke arah Mentari yang disebelahnya.


''A..'' Mentari memandu Edgar agar membuka mulut.


Edgar terkekeh kecil melihat sang istri ternyata akan menyuapi potongan kue itu.


Tentunya dengan senang hati Edgar membuka mulutnya untuk menerima suapan itu.


Setelah potongan kue itu masuk ke dalam mulutnya, ia yang bergantian menyuapi potongan kue itu untuk sang istri.


''Terimakasih sayang, i love you.'' ucap Edgar lalu menciium kening Mentari.


Mami spontan bertepuk tangan sendiri melihat putranya benar-benar sudah bahagia dengan pasangan pilihannya sendiri. Meskipun awalnya memang sudah direncanakan akan dijodohkan dengan Mentari, ternyata sebelum rencana itu berjalan, Edgar sudah bertemu dengan Mentari terlebih dahulu.


Mentari reflek mundur.

__ADS_1


''Malu Mas.'' bisiknya dengan melirik ke arah mertuanya yang sedang senyum-senyum.


Sikap malu-malu Mentari justru membuat kedua mertuanya tertawa. Sedangkan Erin terbawa perasaannya sendiri.


''Ahh rasanya senang sekali, meskipun masih ngantuk haha. Tapi, lumayan jadi ilang nih ngantuknya .'' ujar Edgar diikuti tawanya.


''Setiap tahun selalu ada kejutan yang kalian kasih untuk aku, kalian tau kalau aku pelupa untuk hari lahirku sendiri, jadi sudah pasti kejutan itu akan berhasil. Yah.. walaupun biasanya papi sama mami nggak datang secara langsung, datangnya beberapa hari setelahnya. Biasanya Erin dan Jimmy yang selalu nekat tengah malam gedor-gedor pintu kamar. Kalian luar biasa, tahun berikutnya aku harus ingat biar kalian tidak berhasil bikin kejutannya haha..''


''Kalau tahun besok sudah inget, pura-pura aja lupa Kak. Pura-pura terkejut gitu, biar kami seneng. Ya nggak Pi? Mi? Kak Mentari?'' sahut Erin lalu mencari persetujuan.


Ketiganya pun mengacungkan jempol tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Erin.


''Anak kecil suka nyari pasukan, huuuu..''


''Kakak ih..!!'' sungut Erin karena pipinya diolesi dengan cream berwarna putih itu.


Erin menggerutu tidak jelas sambil membersihkan pipinya.


''Mentari, jangan kaget ya lihat aslinya suamimu dan adiknya begitu. Kami pun kalau lagi berempat juga suka pusing melihat mereka itu susah akurnya. Akur dua menit, berantemnya lima jam, heran..'' ujar papi lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


''Iya Pi, Mi, mereka seru kok.'' jawab Mentari.


''Nggak kok sayang, kita mah akur banget ya Rin..'' ujar Edgar lalu menangkup kedua pipi adiknya itu dengan kuat-kuat.


Awalnya Erin sedikit termangu karena terbayangkan akan seseorang yang menangkup kedua pipinya, tetapi ketika terasa semakin kencang, membuatnya sadar bahwa itu tangan kakaknya.


Karena tangan Edgar semakin kencang, sehingga membuat bibir Erin pun membulat lucu. Hal itu membuat semuanya tertawa.


''KOKOK OH!!'' seru Erin tidak jelas.


Hahahaha

__ADS_1


Edgar langsung melepaskan tangannya.


''Kokok kokok! emangnya ayam..!'' protes Edgar.


''Mirip..'' balas Erin.


''Beginilah kami sayang, kalau nggak gitu nggak seru kayaknya.''


''Marahin Kak, manusia es lilin itu suka menyiksa adiknya.'' lapor Erin kepada Mentari.


''Siaap.'' jawab Mentari menahan tawanya.


Kakak beradik selalu unik, ada yang sering berinteraksi, ada yang saling cuek. Banyak juga yang terlihat cuek, padahal aslinya sangat peduli, hanya saja dia tidak bisa menyampaikan secara langsung.


Banyak yang sering berinteraksi dengan cara yang normal. Dan ada juga interaksinya dengan cara mencari keributan agar terlihat ramai, seperti Erin dan Edgar. Setiap pertemuan sama saja siap melihat keributan.


''Sudah-sudah, Kakak mau bicara serius.'' ungkap Edgar.


Semuanya langsung siap menghadap ke arah Edgar.


''Di momen pertambahan usia ini, aku hanya ingin mengucap syukur sebanyak-banyaknya. Keluarga kita tidak berjalan dengan mulus, banyak sekali kerikil-kerikil kecil, bahkan sampai batu yang hampir menjatuhkan kita, hampir menghancurkan keluarga kita, aku bersyukur kita bisa bersatu dengan utuh untuk menghadapi semuanya. Dan berharap, yang lalu biarlah berlalu untuk kita jadikan pelajaran yang berharga, jangan pernah mengulang kesalahan yang sama.''


Erin mengernyitkan dahinya mendengar kalimat Edgar, lalu menyimpulkan bahwa itu tentang Edgar dan Mychelle. Sedangkan papi terlihat menarik nafas panjang.


''Maafkan Papi, anak-anakku..'' bathinnya.


''Tahun ini, sangat spesial karena ada hadiah terindah yang nggak pernah aku duga sebelumnya. Mungkin di antara kita juga nggak pernah menduga, tiba-tiba aku memutuskan untuk menikah.'' ucap Edgar dengan menatap Mentari.


Mentari membalas tatapan mata Edgar.


''Istriku, kamu hadiah terindahku. Aku sangat-sangat bahagia dengan kehadiran kamu, sayang. Tetap disisiku ya..''

__ADS_1


Mentari mengangguk lalu menunduk. Tatapan mata Edgar yang tidak bergeser dan kalimat romantis yang terucap dari bibirnya membuat Mentari terharu.


''Ouuhh so sweet..'' lirih Erin dengan menutup mulutnya.


__ADS_2