
ANS Cafe & Resto
Mentari membuat perjanjian untuk bertemu di salah satu restoran. Mantan mertua Mentari pun sudah datang lebih awal di tempat itu. Ia terlihat duduk seorang diri. Mentari tersenyum tipis melihat wanita yang tengah menunggu kedatangannya itu.
Rencana awal Mentari akan datang bersama dengan sang suami. Tetapi, karena sebuah meeting yang mendadak, akhirnya Mentari pergi di antar oleh supir.
''Permisi Ma, maaf sudah lama menunggu.'' ucap Mentari yang berdiri di sisi meja.
Mantan mertuanya pun langsung bangkit dari duduknya.
''Ohh tidak apa-apa sayang, Mama juga baru saja datang kok.'' jawab wanita itu ramah.
''Silahkan duduk.''
Keduanya cipika-cipiki sebentar lalu duduk di kursi masing-masing.
''Kamu sendirian?'' tanya wanita itu.
''Seperti yang Mama lihat.'' jawab Mentari.
Wanita itu pun mengangguk sembari tersenyum kaku. Ia melirik pada penampilan mantan menantunya yang kini jauh lebih fashionable dibandingkan saat masih menjadi menantunya dulu.
Dari ujung kepala sampai ujung kaki, wanita itu bisa menilai harga-harga fantastis yang menempel di tubuh Mentari. Meskipun yang dikenakan Mentari tampak sederhana dan simpel, tetapi kualitas tidak bisa dibohongi. Apalagi sekarang Mentari semakin terlihat terawat.
''Ehmm..'' Mentari berdehem untuk menghentikan tatapan mata mantan mertuanya itu.
Wanita itu langsung gelagapan, dan spontan memesan minum.
''E.. kamu beruntung ya bisa jadi istri orang kaya.'' ujar wanita itu.
''Ini yang dinamakan hikmah setelah musibah, Ma.'' jawab Mentari santai.
__ADS_1
Wanita itu sedikit terbelalak dengan jawaban Mentari yang membuatnya tertohok.
''Oh ya, sebentar Ma..''
Mentari mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Lembar kertas kecil tapi, sangat berharga. Mentari menyodorkan kertas tersebut di atas meja, ia berikan kepada mantan mertuanya.
''Ini cek yang sudah bisa dicairkan, Mama bisa gunakan untuk apa saja, terserah kalian.''
''Semoga papa tidak menjadi benar-benar sakit jantung gara-gara ini.''
Belum sempat wanita itu menjawab, pelayan datang membawa minuman.
''Sebentar ya Ma, aku minum dulu.'' ujar Mentari tetap berusaha untuk tenang.
Wanita itu terlihat melengos, ia mulai terpancing emosi atas apa yang dikatakan oleh Mentari.
''Apa maksud kamu? kamu tidak mempercayai Mama kalau papa kamu pernah terkena serangan jantung?''
''Gimana ya Ma.. coba Mama bertanya pada diri Mama sendiri. Sikap Mama apa masih bisa untuk di percaya?''
''Kamu!'' wanita itu semakin terpancing.
''Iya aku? kenapa aku?'' tunjuk Mentari pada dirinya sendiri.
''Mama terkejut kenapa aku tidak takut lagi? kenapa aku tidak hanya menangis dan tertunduk?''
Nafas wanita itu terlihat memburu menghadapi perubahan dari Mentari.
Mentari menunjuk pada otaknya sendiri beberapa kali seraya tersenyum.
__ADS_1
''Karena aku bisa berpikir, Ma.''
''Jangan anggap orang diam akan selamanya diam.''
''Kemarin, aku sempat berpikir bahwa kehadiran Mama memang benar-benar ingin melanjutkan kekeluargaan kita. Ternyata..'' Mentari tersenyum menyeringai.
''Judulnya masih sama, uang lagi.. uang lagi.'' Mentari menggelengkan kepalanya.
''Kamu benar-benar keterlaluan, Dira!'' seru wanita itu langsung menggebrak meja.
Pengunjung lain pun di buat terkejut mendengar suara gebrakan meja itu. Sedangkan Mentari masih bersikap tenang.
Pegawai restoran hampir melangkah ke arah mereka. Tetapi, Mentari mengangkat tangannya dengan tenang memberikan kode agar pegawai tersebut tidak melanjutkan langkahnya.
Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berbisik-bisik dengan asumsinya masing-masing. Mentari tidak peduli dengan asumsi mereka.
Para pegawai restoran dan security-nya sudah berjaga-jaga karena cemas jika terjadi sesuatu di antara kedua wanita itu. Beberapa orang mengenali sosok Mentari sebagai menantu dari pengusaha, Erick Raymond.
''Itukan menantunya Erick Raymond.'' bisik salah satu pegawai.
''Eh iya, kamu benar. Kira-kira dia kenapa ya? terus siapa wanita itu?''
Teman di sampingnya mengangkat kedua bahunya.
''Aku juga tidak tau.''
Wanita paruh baya itu masih berapi-api menghadapi perubahan dari Mentari.
''Tenang Mamaku sayang, keep calm.. aku santai kok, tidak perlu pakai otot. Tarik nafaaass..''
Wanita itu semakin kesal dibuatnya. Ia melengos ke arah lain.
__ADS_1
''Jika Mama memang benar-benar ingin menyambung persaudaraan kita yang dulu Mama putuskan sepihak, ayo.. aku siap kok, Ma.''
Mentari menekankan dan juga menaikkan volume bicaranya. Orang-orang pun langsung semakin dibuat penasaran dengan kisah apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.