Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 116 : Aku Masih Cinta Sama Kamu


__ADS_3

''Hallo Mas..''


''Sayang, aku minta maaf, maaf.. maaf..'' ucap Edgar dengan suara yang khawatir.


''Iya Mas, nggak papa. Sekarang jelaskan apa yang terjadi?'' balas Mentari berusaha tenang.


Mentari menyandarkan punggungnya di dinding.


''Sayang, a-aku tadi nabrak orang. Aku nyetir normal, sayang. Tidak ugal-ugalan, demi apapun aku tidak sengaja. Aku tadi sudah hampir sampai supermarket. Dan aku panik, orang itu mengeluarkan banyak darah. Aku sampai nggak sempat mau kasih kabar ke kamu.''


''Sayang, maafkan aku.. kamu pasti nunggu lama ya? please, jangan marah ya..''


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam.


''Nggak kok Mas, aku nggak marah. Aku ngiranya kamu ada meeting mendadak jadinya aku juga langsung pulang.''


Sebenarnya Mentari tidak tega harus berbohong. Tapi, perasaannya masih terasa mengganjal, seperti ada sesuatu. Mentari juga tidak mengerti apa itu.


''Sekarang keadaan pasiennya gimana Mas?'' tanya Mentari.


''Sayang, sepertinya pasien itu lumayan parah. Aku terpaksa disini dulu untuk memastikan keadaan dia. Nanti kalau sudah ada kejelasan dari dokter, aku usahakan langsung pulang ya.. aku ceritakan di rumah.'' terang Edgar.


''Sayang, nanti aku hubungi lagi ya.. aku mau nelfon Jimmy.''


''Iya Mas.''


''Terimakasih sayang atas pengertiannya. I love you..''


Mentari menyimpulkan senyumnya yang tak terlihat oleh Edgar.


''Love you too..'' balas Mentari.


Mentari tidak tau apa yang ada benaknya. Seperti ada yang mendorongnya untuk segera mencari tahu siapa yang ditabrak oleh Edgar.


Setelah beberapa saat, Mentari keluar dari dalam toilet. Ia mencari ruangan dimana saat ini Edgar berada bersama seseorang yang di tabraknya.


Sekelibatan Mentari melihat suaminya masuk ke dalam ruangan. Mentari segera mempercepat langkahnya untuk kesana.


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam, ia melangkah pelan untuk berdiri di samping pintu ruangan itu. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Mentari bisa melihat pasien di dalam. Edgar berdiri berjarak.


Mentari bergeser saat melihat pasien itu akan duduk. Ia takut ketahuan berada disini.


''Cantik.'' gumam Mentari.


Mentari beralih memunggungi pintu ruang itu.


''Aku masih cinta sama kamu, Ei..''


Deg! Mentari mendengar suara itu sangat jelas.


Masih cinta?


Apa maksud dari ucapan itu. Siapa dia?


Mentari menebak-nebak di dalam benaknya. Ia semakin mempertajam pendengarannya.

__ADS_1


Mentari kembali menghadap pintu itu dengan sangat hati-hati. Dan kedua matanya langsung membulat sempurna ketika melihat sang suami berada di dalam pelukan wanita itu.


Mentari sangat shock, pikirannya langsung terarah pada seseorang. Ia langsung berbalik arah dan pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang menghadangnya.


''Dira? iya, kamu Dira, kan? kenapa disini? kenapa kamu panik?'' tanya seseorang.


Mentari berusaha menghindari tatapan mata orang itu. Mentari langsung pergi begitu saja dengan menyembunyikan wajahnya.


''Stop Dira, tunggu.''


Ah sial!


Orang itu berhasil meraih tangan Mentari dan tidak membiarkan lepas.


''Lepaskan tangan saya!'' gertak Mentari.


''Oke-oke, aku akan lepaskan, tapi, janji jangan kabur.''


Mentari menghembuskan nafasnya.


''Ya.'' jawabnya singkat.


Mentari berpaling dari pria yang yang bertemu dengannya itu. Ia tak mau beradu pandang dengan sosok yang seharusnya dekat, tetapi karena soal perasaan membuatnya harus menjaga jarak.


''Kamu abis ngapain di rumah sakit ini?''


''Jenguk orang.'' jawab Mentari cepat.


''Kenapa kamu menangis, Dira?''


Pria itu dengan beraninya meraih wajah Mentari dan mengusap air matanya. Mentari menepis tangan itu.


''Saya permisi.'' ucap Mentari.


''Aku antar.''


''Tidak perlu, terimakasih.'' balas Mentari.


''Ayolah Dira, aku hanya ingin mengantarmu pulang. Lagian, kita kan sekarang sudah menjadi saudara, kamu menikah dengan Edgar, itu artinya kamu juga menjadi sepupuku.''


''Tolong Mas, kita memang saudara, tapi, aku tidak ingin membuat persaudaraan kalian ini renggang gara-gara aku. Aku mohon jangan berlebihan.'' tegas Mentari.


''Dira, ohh sorry aku lupa, maksudku Mentari.. anggap itu semua sudah berlalu, aku sudah menerima takdir ini dengan lapang dada.''


''Syukurlah kalau begitu Mas, aku senang. Permisi..'' Mentari melambaikan tangannya saat taksi melintas di depannya. Ia tak ingin berlama-lama disana.


Ardi terus menerus memanggilnya, namun, ia tidak menggubris.


''Dira! Dira!!''


Sesaat kemudian, Ardi berbalik arah lalu di sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


''Gimana?'' Ardi menelpon seseorang.


''Beres..'' jawab seseorang disana.

__ADS_1


''Kerja bagus!''


Sesudah memberitahukan alamat tujuan kepada supir taksi. Mentari beralih menatap luar jendela. Mentari memejamkan matanya dan menarik nafas. Dadanya terasa sesak untuk melihat itu.


''Mereka saling mengenal? masih cinta?''


''Apakah wanita itu mantan istrinya?''


Dada Mentari semakin terasa sesak ketika melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain.


Mentari menyeka airmatanya agar tidak terus mengalir. Sebentar lagi ia akan tiba dirumah, ia tak ingin melihat para pekerja dirumah menatap curiga.


''Terimakasih Pak.'' ucap Mentari. Ia memberikan bonus pada supir taksi tersebut dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah.


Para pekerja yang melihatnya pun menatap keheranan. Terutama supir keluarga yang mengantarkannya tadi.


''Listi! cepat sini!'' panggil pak Mul.


''Iya Pak Mul, ada apa?''


''Eh Lis, non Mentari sudah pulang, tapi, tidak sama tuan Edgar. Bapak juga kaget. Terus, non Mentari seperti terburu-buru, kepalanya nunduk terus.'' jelas pak Mul.


''Loh tadi bilangnya nanti pulang sama tuan Edgar kan? ada apa ya Pak? apa mereka sedang bermasalah?'' tanya Listi.


''Mungkin.....''


''EHHMM!''


Pak Mul belum sempat melanjutkan kalimatnya, suara deheman tegas nan keras berhasil menghentikan perkataannya. Siapa lagi jika bukan pak Dar sang kepala asisten rumah tangga dirumah ini.


Listi langsung bergegas pergi untuk kembali ke dapur. Pak Mul juga mencari kesibukan lain.


°°


Edgar sedang berbincang serius dengan dokter.


''Jadi, apakah pasien mengalami luka yang sangat serius Dok?'' tanya Edgar.


Dokter tersebut terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu membetulkan kacamata yang bertengger di hidungnya.


''Tuan Edgar, sebetulnya saya sangat berat untuk mengatakan ini.''


''Untuk pemeriksaan awal, sepertinya pasien mengalami luka berat di bagian perut ke bawah. Dan itu bisa berakibat pada vaaginanya, Tuan.''


Edgar seketika terdiam.


''Saya akan bertanggungjawab terhadap pembiayaan selama pasien dalam masa pengobatan. Jika di rumah sakit ini tidak sanggup, akan saya rujuk ke rumah sakit yang lebih besar.''


''Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Rumah sakit kami sangat bisa. Kami akan memberikan pelayanan yang terbaik.''


Setelah selesai, Edgar langsung mengundurkan diri dari ruangan itu. Ia berniat untuk kembali ke rumah terlebih dulu. Ia sudah meminta para perawat untuk menjaga. Namun, sebelum kembali ke rumah, Edgar akan memastikan terlebih dahulu


PLAK


Tamparan keras mendarat di pipi Edgar ketika baru membuka pintu ruangan VIP itu.

__ADS_1


Edgar memegang sudut pipinya.


''Apa ini maksudnya?'' tanya Edgar dengan tatapan dinginnya.


__ADS_2