Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 156 : Kasian Juga Lihat Erin dan Jimmy


__ADS_3

Nanti malam, tuan Erick, mami, dan Erin akan segera terbang ke luar negeri. Waktunya selama berada di Indonesia sudah digunakan untuk melakukan berbagai macam aktivitas.


Pagi ini Edgar akan berangkat ke kantor seperti biasanya. Seperti hari-hari biasanya, Mentari selalu memasangkan dasi dan juga memastikan pakaian Edgar agar terlihat rapi.


''Tampan sekali suami aku..'' puji Mentari untuk suaminya.


Tinggi badannya yang tidak seimbang dengan Edgar membuat Mentari selalu mendongak ketika berbicara dengan sang suami saat posisi berdiri.


''Cantiknya istri aku..'' balas Edgar dengan menangkup kedua pipi Mentari dan memberikan ciiuman bertubi-tubi.


''Jangan genit ya Mas.'' pinta Mentari lalu sedikit cemberut.


''Cemburu cie..'' goda Edgar lalu menoel-noel hidung mancung Mentari. Meskipun masih lebih mancung hidungnya sendiri.


''Maaasss..'' sungut Mentari.


Edgar meraih tengkuk Mentari untuk ia sandarkan di dadanya.


''Jangan khawatir, karena hanya kamu yang ku cintai.''


Mentari sedikit mendongak. ''Nggak bohong, kan?''


''Kelihatannya bohong apa nggak?'' balas Edgar balik tanya.


''Emmm, nggak tau.'' jawab Mentari lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada Edgar.


''Aku sangat mencintaimu, Mas.''


''Terima kasih sayang, i love you.'' balas Edgar.

__ADS_1


Edgar dan Mentari berpelukan lama, sampai akan turun ke bawah pun di tunda karena Edgar terpancing untuk melakukan olahraga ringan meskipun hanya di sisi tempat tidur.


Edgar mengusap bibir sang istri dengan ibu jarinya. Senyumnya yang menawan selalu membuat Mentari terpesona.


''Mine.'' kata Edgar.


Mentari tersenyum tipis lalu mengalungkan tangannya di leher sang suami.


--


Sebelum berangkat ke kantor, keluarga Raymond melakukan sarapan bersama seperti biasa.


''Kasian juga lihat Erin dan Jimmy. Gimana ya caranya supaya mereka bisa bertemu dan ngobrol langsung sebelum Erin berangkat nanti malam? hmm..'' bathin Mentari.


Di saat semuanya sedang fokus menikmati menu sarapan, pikiran Mentari justru bercabang pada adik iparnya.


''Hati-hati ya Mas.'' ucap Mentari setelah menciium punggung tangan suaminya.


''Iya sayang, baik-baik ya di rumah. Kalau ada apa-apa langsung telfon aku.''


Mentari mengangguk. Edgar langsung masuk ke dalam mobil setelah mendaratkan kecupan manis di kening Mentari.


''Lho, Papi sama Mami mau kemana?'' tanya Mentari saat berpapasan dengan kedua mertuanya di ruang tamu.


''Papi sama Mami mau ada keperluan, sekalian nanti mau mampir jenguk Ardi.'' jawab papi.


''Maaf ya sayang, Mami nggak bisa ajak kamu.'' timpal mami.


''Nggak papa, Mi. Lagian pasti nggak di kasih izin juga sama mas Edgar hehe''

__ADS_1


Untuk berurusan langsung dengan Ardi, Edgar sudah menghimbau dengan serius untuk tidak mengajak Mentari. Karena bagaimanapun juga, ia masih tetap sakit hati dan cemburu pada sepupunya itu.


''Pasti itu, sayang. Ya sudah kami jalan dulu ya.'' pamit mami.


''Iya Mi, Pi. Hati-hati..'' ucap Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh mertuanya.


Setelah mobil yang dikendarai mertuanya sudah menghilang dari pandangannya, Mentari langsung menuju kamar Erin.


Tok tok tok


Pintu kamar Erin tertutup, ia tidak mau langsung masuk jika kondisi pintu nutup. Hal pertama tentu saja terasa tidak sopan.


''Iya sebentar.'' ujar Erin dari dalam kamar.


Suara itu terdengar berteriak.


Tak lama kemudian, Erin membuka pintu kamarnya.


''Ehh Kak Mentari, kirain siapa hehe''


Begitu melihat kakak iparnya berdiri di depan pintu kamarnya, Erin langsung membuka pintu kamar dengan lebar dan mempersilahkan Mentari masuk ke dalam kamarnya.


''Aku abis mandi, Kak. Makanya lama ya nungguin aku buka pintu?''


''Hmm, lumayan sih.''


''Sudah beres packing nya?'' tanya Mentari.


''Sudah Kak, tadi malam packing. Nggak banyak juga yang di bawa.'' jawab Erin menunjukkan kopernya yang sudah siap.

__ADS_1


__ADS_2