
Edgar duduk di sofa kamar, dan Mentari tiduran dengan menggunakan paha Edgar sebagai bantal.
Edgar menonton televisi sembari menikmati cemilan, sedangkan tangan kirinya mengusap-usap lembut perut sang istri.
''Kenapa di pindah-pindah sih, Mas?''
''Aku jadi pusing lihatnya.'' protes Mentari.
Sedari tadi Edgar belum menemukan tontonan yang menarik. Beberapa channel televisi sudah ia tonton sebentar-sebentar, dari berita-berita sampai drama.
''Nggak ada yang bagus.'' jawab Edgar.
''Bukan nggak ada yang bagus, tapi, kamunya yang memang nggak ada hasrat buat nonton.'' balas Mentari lalu mengambil alih remote tersebut.
Edgar pun langsung tertawa, karena memang kenyataannya seperti itu. Ia kurang minat dengan layar televisi. Untuk mengetahui informasi, ia selalu menggunakan media laptop dan ponsel yang dimanapun bisa ia akses secara pribadi. Saat menonton televisi di kamar, biasanya memang Mentari yang lebih menguasai.
Mentari mencari channel yang membuatnya suka. Dan berhenti di salah satu channel yang menampilkan kartun.
Remote masih dalam genggaman Mentari, ia tertawa-tawa melihat kartun tersebut. Sedangkan Edgar hanya bisa mengernyitkan keningnya.
''Sayaang, kok kartun?'' tanya Edgar.
''Daripada nggak ada yang di tonton, Mas. Lucu tau, tuuhh, hahaha''
Edgar menggaruk tengkuknya karena belum menemukan dimana letak kelucuannya. Sedangkan Mentari sudah mengeluarkan tawanya.
''Yaaahh habis, kamu sih Mas dari tadi sibuk pindah-pindah channel.'' gerutu Mentari.
''Orang nggak ada yang cocok buat ditonton.'' balas Edgar
''Makanya sebelum menonton, harus ada hasrat buat nonton dulu.''
''Aku memang nggak ada hasrat nonton televisi, karena hasratku cuma ke inii.'' goda Edgar.
''Maaasss!''
Mentari langsung bangkit dari tidurannya.
''Mesum!''
''Kamu mancing terus.'' balas Edgar sembari terkekeh kecil.
Televisi pun akhirnya dimatikan oleh Mentari karena daripada buang-buang listrik.
__ADS_1
''Terus, memangnya kamu ikan, gitu?''
''He'em.'' jawab Edgar santai.
''Mmm-maaasss!''
Edgar menciium pipi Mentari dengan gemas sehingga membuat pemilik pipi tersebut menjadi terkejut. Apalagi ciiuman dari Edgar sangat ekstrim dan ditambah gigitan kecil.
Sepertinya berat badan Mentari sudah mulai mengalami peningkatan, terlihat dari pipinya yang lebih chubby dari sebelumnya. Wajar saja kalau Edgar sangat gemas. Sejak dari awal merasakan ada sesuatu pada dirinya, nafsu makan Mentari memang mengalami peningkatan.
''Bumilku kok gemesin banget sih.''
Edgar meletakkan kedua telapak tangannya di pipi sang istri.
''Aku gendut ya, Mas?'' tanya Mentari.
''Belum.'' jawab Edgar.
''Berarti kamu yakin aku bakalan gendut?''
''Kenapa memangnya kalau kamu gendut hem?'' balas Edgar berbalik tanya.
Mentari langsung diam, ia takut saat mendengar tentang seseorang yang mencintai karena fisik. Sedangkan fisik itu lambat laun akan mengalami perubahan.
Edgar menciium kening Mentari dan mengusap lembut rambut sang istri yang menenggelamkan kepala di dadanya.
''Jangan khawatir, sayang. Aku sangat mencintai kamu. Aku cinta apapun yang ada pada diri kamu.''
Mentari mendongak menatap mata sang suami. Keduanya saling menatap satu sama lain, menemukan cinta dengan tatapan yang penuh makna.
''Oh ya sayang, sebetulnya ada yang mau aku tanyakan sama kamu.'' tutur Edgar.
''Apa, Mas?''
''Tentang Jimmy dan juga Rita.''
Mentari langsung menatap Edgar. ''Kenapa dengan mereka, Mas?'' tanya Mentari.
Dibalik pertanyaannya kenapa, Mentari menyimpan rasa khawatir.
''Menurutmu, apa mereka memiliki hubungan khusus?'' tanya Edgar.
''Tidak.'' jawab Mentari cepat dan membuat Edgar mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
''Sepertinya kamu sangat yakin.'' balas Edgar.
''Iya aku sangat yakin, karena Rita sudah berjanji akan cerita kalau sudah punya pacar.'' jelas Mentari.
Edgar mengangguk-angguk.
Beberapa waktu yang lalu, saat acara makan malam bersama tengah berlangsung. Dimana Erin dan Jimmy tengah menyanyikan sebuah lagu. Tanpa di sengaja Mentari melihat ekspresi wajah Rita yang tampak menutupi rasa sedih.
Mentari senang melihat adik iparnya itu bahagia dengan Jimmy. Tapi, Mentari juga sangat sedih melihat Rita seperti itu.
''Memangnya kenapa, Mas? kok tumben tanya tentang mereka?'' tanya Mentari.
Edgar menarik nafasnya.
''Aku sudah beberapa kali lihat Jimmy lagi telfonan sama seseorang dan juga senyum-senyum sendiri lihat ponselnya. Tapi, nggak jelas siapa karena Jimmy masih belum bisa menjawab. Katanya nunggu kekasihnya siap.'' tutur Edgar.
''Aku juga sudah tanya ke Jimmy, apakah perempuan itu adalah Rita, dianya malah ngerem mendadak, untung saja kita masih aman.''
''Terus Mas, kenapa kamu kepikiran kalau itu Rita?'' tanya Mentari penasaran.
''Yaa ... karena beberapa kali mereka pergi bersama, siapa tau dari situ tumbuh benih-benih cinta. Aku nggak mau Jimmy yang terlalu fokus pada pekerjaan sampai lupa dirinya sendiri. Dia juga punya kehidupan pribadi yang juga penting untuk masa depannya.'' jelas Edgar.
Mendengarkan penjelasan Edgar membuat Mentari menarik nafasnya. Di dalam benaknya juga sempat terbesit tentang hal yang sama. Tetapi, setelah melihat duet pada malam itu, Mentari semakin yakin hubungan antara Jimmy dan Erin bukan hanya sekedar kakak beradik.
''Kekasih Jimmy itu adik kita, Mas.'' bathin Mentari.
''Ya sudah kita tunggu saja sampai pacarnya Jimmy siap untuk dikenalkan ke kita semua.'' ujar Mentari.
''Iya sayang. Aku jadi penasaran, wanita seperti apa yang bisa mengambil hati seorang Jimmy.''
''Wanita yang cantik, cerdas, memiliki sisi imut, manja, dan dewasa yang tak terlihat.'' jawab Mentari dalam hati.
''Yang pasti perempuan itu bukan wanita sembarangan, Mas.'' jawab Mentari.
''Iya sayang.''
''E... Mas, apa kamu akan langsung menyetujui siapapun perempuan pilihan Jimmy?'' tanya Mentari.
''Tentu saja, dia sudah melakukan yang terbaik untuk aku selama ini. Jadi, aku akan mendukung apapun keputusan dan siapapun pilihannya nanti. Dan aku juga yakin, Jimmy tidak mungkin salah memilih.''
Jawaban Edgar membuat Mentari tersenyum. Semoga saja memang benar begitu. Setidaknya sekarang Mentari bisa bernafas lega, meskipun ikut merasakan sedih jika mengingat Rita.
''Kamu akan bahagia dengan seorang pangeran tampan yang selalu menjadi do'a-do'amu selama ini, Rit.'' bathin Mentari.
__ADS_1