Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 98 : Seperti Bukan Pria Normal


__ADS_3

''So... ini pada mau cerita nggak siihh?'' protes Erin menatap kedua kakaknya bergantian.


''Nggak''


''Iya''


Edgar dan Mentari kompak menjawab, tetapi jawaban mereka berbeda.


''Duuuhhh, yang kompak dong, biar seperti best couple yang selalu kompak dalam segi apapun.'' protes Erin yang rasa penasarannya sudah di ubun-ubun.


''Eriinn.'' mami menatap tajam putri bungsunya itu.


Erin langsung terdiam dengan menutup mulutnya.


''Cerita aja ya..'' lirih Edgar pada Mentari.


''Nggak malu kah Mas?'' lirih Mentari memastikan kepada suaminya.


''Nggak.'' jawab Edgar santai.


''Boleh ya..'' pinta Edgar lagi.


''Yaudah terserah kamu saja Mas..'' Mentari akhirnya mengalah demi menjawab rasa penasaran yang ada di benak mertua dan juga adik iparnya tersebut.


Selain itu, ia ingin melihat bagaimana reaksi dari keluarga sang suami setelah mendengarkan cerita dari Edgar.


''Boleh ya Kak.. pleaseee....'' Erin memohon.


''Aku yang akan bercerita.'' ujar Edgar.


Semuanya siap memasang telinga menghadap Edgar. Sedangkan Mentari hanya pasrah mengkoreksi jika apa yang diceritakan oleh Edgar terdapat kesalahan.

__ADS_1


Edgar memulai ceritanya waktu pertama kali berjumpa dengan Mentari, sosok wanita mungil yang menabrak mobilnya dengan motor. Mengingat ekspresi wajah Mentari kala itu membuat Edgar kembali terkekeh gemas, apalagi saat pasrah dengan menyerahkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah dan juga menyerahkan KTPnya.


''Buahahaha''


Erin tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari kakaknya.


''Terus-terus?'' Erin semakin dibuat penasaran dengan pertemuan kedua kakaknya itu.


''Sabaarr.'' balas Edgar.


Edgar kembali melanjutkan ceritanya, meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi. Dan akhirnya Mentari benar-benar bertanggung jawab dengan mengirimkan uang sepuluh juta.


''Ya ampun, maafkan suamimu ya, sayang..'' ucap mami menatap menantunya. Putranya itu ternyata sudah bersikap diluar dugaannya.


''Iya Mi, sudah dimaafkan kok.'' jawab Mentari.


Sementara papi masih menjadi tukang nyimak, beliau akan berbicara nanti.


''Ya untungnya kak Mentari bukan kamu.'' sahut Edgar.


''Terus gimana lagi?'' Erin semakin penasaran.


Mentari yang ikut sebagai pendengar juga sesekali menahan rasa malu dan juga tawanya ketika otomatis ikut mengingat setiap momen kala itu.


Momen yang campur aduk antara marah, sedih, gregetan. Tidak disangka-sangka ternyata ia akan menikah dengan bosnya sendiri. Pernikahan yang dulunya seperti permainan, lambat laun kini sudah semakin baik.


''Langsung aja ya pas nikahnya.'' pinta Edgar.


''Ih Mas, kamu percaya diri banget sih cerita tentang waktu itu..'' ujar Mentari dengan berusaha menahan tawanya.


''Lihat di wajah mereka tuh menyimpan rasa penasaran, sayang. Kasian nanti tidurnya pada nggak nyenyak.'' ujar Edgar kemudian terkekeh.

__ADS_1


Edgar pun sebentar-sebentar menahan tawanya sendiri ketika mengingat sikapnya dulu. Menutupi perasaannya yang masih sulit untuk ia simpulkan.


''Gara-gara Mami tuh.'' ujar Edgar setelah selesai dengan ceritanya.


''Dih kok Mami?'' protes mami tidak terima.


''Bilang aja kalau dari awal bertemu, kamu sudah tertarik, tapi, kamunya masih gengsi.'' sambungnya.


''Kenapa Mami bilang begitu?'' wanita yang masih terlihat cantik itu menatap suami dan anak-anaknya bergantian.


Semuanya menggeleng.


''Kenapa Mi?'' tanya Mentari penasaran.


''Mami yakin kalau Edgar sudah bercerita tentang masalalunya ke kamu kan, sayang? jadi, kamu tidak akan cemburu lagi.''


Mentari tersenyum.


''Iya Mi, nggak kok..''


''Mami jangan aneh-aneh.'' Edgar cemas.


Mami hanya menatap sekilas kepada putranya itu.


''Sebelum bertemu dengan kamu, Mami sudah sering meminta suamimu untuk menikah, jawabnya selalu bikin sakit telinga Mami, huuhh. Mami sampai stress sendiri, saat belum kembali ke Indonesia, sudah beberapa wanita Mami jodohkan, tapi, tetap aja acuh. Suamimu seperti bukan pria normal yang nggak berselera dengan lawan jenis. Semua perempuan yang Mami coba kenalkan, selalu di acuhkan. Dari yang asli orang sini, orang Indonesia yang sedang kuliah disini, semuanya dia tolak mentah-mentah.''


Edgar melotot mendengar penuturan maminya, sedangkan Mentari, Erin, dan juga papi langsung menutup mulutnya karena hampir kelepasan dengan tawanya.


''Mami suka ngarang kalau bicara.'' protes Edgar kesal karena selama itu dirinya dianggap bukan pria normal oleh ibu kandungnya sendiri.


''Sebelum protes, coba ingat-ingat dulu gimana kamu yang dulu..'' sungut mami tak kalah kesalnya.

__ADS_1


__ADS_2