Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 215 : Masih Tetap Saja Bergetar


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu sejak operasi Rita dilakukan, sekarang kondisi kesehatan gadis itu sudah jauh lebih baik dan juga sudah kembali bekerja seperti biasa. Sejak hari itu, Rita kembali harmonis dengan keluarganya meskipun tidak selalu tinggal bersama karena aktivitas orang tua angkatnya yang berada di daerah lain dan juga sang adik yang sedang menempuh pendidikan.


Tubuh Rita yang terbiasa tidak kurus dan sempat mengalami penurunan pun kini perlahan kembali ke semula. Pasca Jimmy, Edgar, dan Mentari melakukan perbincangan serius dengan kedua orang tua Rita, mereka berjanji akan selalu memperhatikan Rita. Mereka selalu mengantar saat sudah tiba waktunya Rita kontrol ke dokter dan juga konsultasi ke psikiater.


Setidaknya itu yang bisa Mentari dan lainnya lakukan. Mentari sudah mengalami ketidakutuhan di keluarganya sendiri, ia tidak ingin Rita mengalami hal yang sama. Sekarang hidupnya sudah dicukupi dengan harta yang Tuhan berikan melalui pernikahannya dengan Edgar. Ia pun tidak ingin harta yang ia terima habis begitu saja tanpa digunakan untuk membantu sesama, terutama orang-orang terdekat. Karena semua harta itu sudah ada pertanggungjawabannya kelak.


Hari ini akhir pekan, Edgar dan Mentari berjalan kaki di jalan depan kediaman mereka. Perut Mentari sudah semakin membuncit, tak ayal membuat Edgar semakin sering mengusap-usap karena gemas melihat hasil karyanya itu.


''Seminggu lagi mereka akan datang. Aku sudah nggak sabar, Mas.'' ujar Mentari dengan raut wajahnya yang terlihat senang karena akan berjumpa lagi dengan mertua dan juga adik iparnya itu.


Erin dan kedua mertuanya itu akan pulang ke Indonesia setelah beberapa waktu selalu menunda dengan alasan pekerjaan dan juga Erin yang masih menjadi anak baru. Meskipun kejadian sebenarnya hanya Jimmy yang tau.


''Aku juga sudah nggak sabar untuk menjewer telinga Erin, sayang.'' jawab Edgar dengan entengnya sembari menatap langit.


''Ihhhh! Mas Edgar!''


Mentari mencubit pinggang suaminya itu dengan bibirnya yang mengerucut. Sedangkan Edgar malah tertawa lebar karena berhasil menjaili sang istri.


''Jangan manyun-manyun gitu, nanti ku makan disini.'' bisik Edgar dengan suaranya sengaja dibuat menggoda.


Spontan Mentari mengusap telinganya dengan cepat.


''Makan angin, sana!'' ujar Mentari kesal, lalu berjalan mendahului Edgar.


Edgar langsung mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah sang istri yang benar-benar meninggalkannya.


Mentari juga sedang iseng pada suaminya itu. Ia tidak bisa benar-benar marah. Dan keduanya langsung sama-sama tertawa setelah memasuki gerbang rumah.


''Huuhhh! maaf ya, Nak.'' ucap Mentari sembari mengusap lembut perutnya sendiri.


''Kita cukup berkeringat pagi ini, besok pagi lagi ya.'' sambungnya.


Edgar langsung mengusap keringat di wajah sang istri dengan kedua tangannya.


''Sekarang Mama istirahat sambil nemani Papa olahraga ya.'' ucap Edgar seraya mengusap perut Mentari.


"Aku ke dapur sebentar, Mas." ujar Mentari.


Edgar mengangguk.


Mentari ke dapur untuk menemui Listi terlebih dahulu, setelah menyampaikan tujuannya, ia langsung kembali bersama Edgar lalu menuju ruangan olahraga yang berada di ujung lantai bawah.


Sesampainya disana, Mentari duduk di sebuah sofa kecil lalu meneguk air mineral yang baru saja di antarkan oleh Listi. Tak hanya air mineral, tetapi juga menu lengkap untuk sarapannya pun menyusul. Karena Mentari sudah merasa lapar dan ingin sarapan sambil melihat sang suami olahraga.


''Terima kasih, Lis.'' ucap Mentari.


''Sama-sama, Non.'' jawab Listi lalu membungkukkan badannya, kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


Edgar sudah melepaskan kaosnya, ia hanya mengenakan celana kolor, sehingga roti-roti sobeknya pun semakin terpampang nyata.


Pemandangan yang sudah biasa Mentari lihat, bahkan bisa ia sentuh setiap hari. Tetapi, jika melihat seperti ini membuat perasaan Mentari masih tetap saja bergetar dan merasa gugup, bahkan ia langsung menelan salivanya lalu menatap arah lain sambil mengigit roti dengan kuat.


Dari sana, Edgar memperhatikan pergerakan sang istri. Ia paham apa yang ada di pikiran Mentari, sehingga membuatnya hanya bisa menahan tawanya.


Edgar meletakkan benda berat itu dengan perlahan agar Mentari tidak mendengar, mumpung masih menatap ke arah lain.


''Kenapa lihatnya ke arah sana, hem?'' bisik Edgar tepat di telinga Mentari.

__ADS_1


PLAK


Mentari reflek memukul perut Edgar dengan telapak tangannya yang terbuka lebar. Sedangkan Edgar tidak merasa kesakitan sama sekali, justru telapak tangan Mentari lah yang terasa panas.


''Mas Edgar kebiasaan suka ngagetin!'' omel Mentari lalu meniup-niup telapak tangannya itu.


Edgar kembali tertawa dan menggenggam pergelangan tangan Mentari lalu membantu meniup telapak tangan sang istri.


"Panas ya, sayang?" ledek Edgar.


"Nggak usah meledek, Mas." jawab Mentari.


Edgar terkekeh lalu menyomot roti yang masih di pegang oleh Mentari. Mentari ingin ngomel lagi, tetapi ia tahan.


''Ternyata aku juga lapar, sayang.'' ucap Edgar.


''Kalau lagi makan, dilarang berbicara.'' sahut Mentari.


Edgar pun langsung mingkem dengan mengacungkan jempolnya tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergerak karena sedang mengunyah.


''Kamu sambil sarapan aja, tiga puluh menit lagi aku selesai.'' tutur Edgar lalu menciium kening Mentari sekilas dan kembali dengan alat-alat olahraganya.


Mentari mengangguk lalu melanjutkan menikmati sarapannya. Ia hanya bisa menahan tawa pada dirinya sendiri yang bisa gugup saat menatap tubuh sang suami. Padahal setiap hari juga ia melihatnya. Sangat aneh, tapi, Mentari memang masih seperti itu. Ia pun juga heran dengan dirinya sendiri.


Tiga puluh menit berlalu, Edgar yang sudah di penuhi oleh keringat pun kembali menghampiri sang istri yang sudah selesai dengan sarapannya. Ia duduk di lantai dengan kaki yang ia luruskan dengan menyandarkan kepalanya di paha sang istri.


''Modus nih.'' ujar Mentari.


Hahaha


''Sudah hafal, Mas, haha''


Mentari pun juga ikut tergelak, lalu menutup mulutnya.


Edgar langsung berbalik arah untuk memeluk Mentari agar duduknya lebih maju, karena ia ingin menciiumi perut sang istri.


Akhir pekan ini tidak ada rencana kemana-mana, Mentari enggan keluar rumah. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama sang suami di rumah saja tanpa suara bising dan keramaian yang ada di luar sana.


Edgar pun menuruti apa yang di mau oleh Mentari, karena baginya, kebahagiaan yang dirasakan oleh Mentari merupakan kebahagiaannya juga.


''Nanti sarapanku biar di antar ke atas saja.'' ucap Edgar.


''Biar aku saja yang ambilkan nanti, Mas.'' jawab Mentari.


Edgar langsung mendongak.


''No!''


''Aku minta tolong mereka.'' tolak Edgar yang tidak ingin sang istri bolak balik meskipun sekarang sudah menggunakan lift.


''Hmm ... aku sudah risih, Mas, ke atas yuk.'' ajak Mentari tidak akan memaksa.


''Let's go.'' jawab Edgar langsung sigap berdiri.


Setelah keringat dirasa sudah cukup berkurang, Mentari mengajak Edgar untuk ke atas. Sejak tadi keduanya sama-sama belum membersihkan badan.


''Pak Dar, nanti boleh antar sarapan saya ke atas saja.'' pinta Edgar.

__ADS_1


''Oh, iya Tuan, baik.'' jawab pak Dar.


"Sekalian sama cemilan untuk istri saya."


"Baik Tuan, akan segera saya sampaikan.'' jawab pak Dar.


''Terima kasih.'' ucap Edgar yang langsung mendapat balasan dengan kepala yang ditundukkan oleh pak Dar.


Karena Mentari sudah lebih dulu sarapan, Edgar tidak mau sarapan sendirian di meja makan meskipun ditemani sang istri. Ia ingin menikmati sarapannya sembari duduk di bangku yang ada di balkon sembari melihat udara hari ini.


''Mandi bareng ya.'' bisik Edgar sambil mengedip-edipkan matanya.


''Nanti kalau pak Dar kesini antar sarapan kamu gimana coba?'' balas Mentari.


''Kamu mau pak Dar menunggu?'' imbuhnya lagi.


Edgar pun tampak berpikir.


''Kalau mandi berdua pasti nggak selesai lima menit.'' ujar Mentari.


Hahaha


Edgar tertawa lagi, karena apa yang dikatakan oleh Mentari tidak salah alias sangat benar. Ia sedang menyesali kekeliruannya yang seharusnya nanti saja meminta pak Dar untuk mengantarkan sarapan. Namun, ia sudah terlanjur berucap, masih punya malu untuk membatalkan permintaannya itu.


''Ya sudah kamu duluan yang mandi.'' Edgar akhirnya mengalah.


Mentari langsung bergegas menuju ke kamar mandi sembari kepalanya menggeleng pelan.


"Untung cinta." gumamnya sambil menutup pintu kamar mandi.


Tok tok tok


Dan benar saja, tidak lama Mentari masuk ke dalam kamar mandi, pintu kamar mereka ada yang mengetuk. Edgar langsung melangkah cepat untuk membuka pintu kamar. Tampak pak Dar sudah berdiri disana dengan tangan yang tidak kosong.


''Saya mengantarkan sarapan anda dan juga cemilan sehat untuk nona Mentari, Tuan.'' ucap pak Dar.


''Terima kasih, Pak. Biar saya bawa.'' jawab Edgar dengan mengambil alih nampan dari tangan pak Dar.


''Oh, baik Tuan''


''Permisi.'' ucap pak Dar setelah nampan yang ia bawa sudah berpindah tangan pada tuannya.


Edgar mengangguk dan kembali menutup pintu kamarnya setelah pak Dar berlalu.


''Ternyata benar apa yang dikatakan istriku. Coba kalau tadi aku maksa, haha''


Edgar tertawa sendiri membayangkan bagaimana jadinya jika yang ada di pikirannya itu terjadi.


Nampan tersebut masih lengkap dengan penutupnya. Mentari juga sudah selesai membersihkan badannya, kini giliran Edgar langsung masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, Edgar dan Mentari duduk di balkon. Edgar menikmati sarapannya, sedangkan Mentari sedang menikmati cemilan.


Sesekali Edgar memberikan suapan untuk sang istri yang tidak menolak, meskipun masih menikmati cemilan. Nafsu makannya yang meningkat membuatnya seperti tidak memiliki rasa kenyang. Rasa kenyangnya hanya bertahan sebentar saja.


"Sudah Mas, nanti aku gendut." tolak Mentari.


Edgar terkekeh kecil tanpa menjawab. Mengiyakan saja akan lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2