Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 157 : Kak Jimmy Itu Cinta Pertamaku


__ADS_3

''Emm ... Erin, Kakak boleh tanya sesuatu?'' tanya Mentari.


''Tanya? haha''


''Kenapa harus izin segala sih, Kak. Kayak sama siapa aja, tanya apa nih, Kak?'' balas Erin.


Mentari menatap adik iparnya itu, dan membuat Erin semakin penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh kakak iparnya.


Gadis itu menjadi gugup ketika mendapatkan tatapan mata yang tak biasa dari Mentari.


''Sejak kapan?''


Pertanyaan dari Mentari berhasil membuat Erin langsung mengernyitkan keningnya.


''Sejak kapan apanya, Kak?'' balas Erin berbalik tanya.


Mentari beralih menatap lurus ke depan.


''Kakak tau kedekatan kamu dan Jimmy bukan hanya sekedar anggapan kakak dan adik. Tapi, lebih dari itu.'' ujar Mentari lirih dengan kembali menatap adik iparnya.


Erin dibuat melongo mendengar pernyataan Mentari.


''Ma-maksud Kak Mentari?''


Melihat Erin gugup seperti itu membuat Mentari langsung tersenyum gemas.


''Hmmm, kamu pacaran kan sama Jimmy?''


Erin memastikan pintu kamarnya tertutup rapat, sehingga tidak akan ada yang mendengar pembicaraan itu. Karena akan bahaya jika satu orang di luar tau tentang ini.


''Kakak tau dari mana? dan dari siapa?'' selidik Erin dengan suara berbisik.


Keterkejutan Erin membuat Mentari terkekeh kecil. Untung rasa ingin tertawanya masih bisa ditahan.


''Kak, pleaseee........'' ujar Erin memohon.


Erin menyatukan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


''Apa kak Edgar juga tau tentang ini?'' tanya Erin cemas.


''Arrgghh, aku harap jangan dulu.'' imbuhnya.


Meskipun belum lama menjalin hubungan yang lebih, keduanya sama-sama saling berkomitmen untuk kemana arah hubungan ini akan dibawa.


Meskipun menjalaninya untuk tujuan serius, keduanya masih kompak untuk merahasiakan sementara dari semua orang karena belum siap. Sementara di sisi lain, ternyata rahasia itu bisa bocor juga. Kebocoran rahasia itu juga langsung menjadi tanda tanya besar bagi Erin, karena selama ini selalu berusaha untuk menutupinya.


''Sepertinya cuma Kakak aja kok yang sudah tau.'' jawab Mentari santai.


''Hah? Kakak yakin? serius?''


Mentari mengangguk. ''Iya.''


''Sejak kapan Kakak tau?''


''Dan pertanyaanku tadi belum Kakak jawab, tau dari mana dan dari siapa.''


Erin sangat penasaran, apalagi Mentari tidak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaan yang ia berikan.


''Kakak tau belum lama sih, dan taunya langsung dari kamu.'' jawab Mentari.


''Ciee ngaku juga akhirnya.'' goda Mentari.


''Hah?''


Erin langsung menutup mulutnya. Wajahnya sudah merah merona karena malu.


''Nggak papa, aman kok. Kakak kamu belum menyadari hal itu.'' ujar Mentari agar adik iparnya itu bisa bernafas lega.


Mentari melanjutkan menjawab rasa penasaran Erin. Gadis itu tentu saja sangat penasaran bagaimana yang sebenarnya Mentari bisa menyadari hal itu.


Mentari akhirnya mengungkapkan awal mula mengetahui bahwa adik iparnya itu tengah menjalin hubungan dengan Jimmy, hanya berawal dari sebuah foto kontak nomor telepon.


''Kak Jimmy itu cinta pertamaku, Kak.'' ungkap Erin malu-malu.


''Pertama dan terakhir, bukan?'' balas Mentari.

__ADS_1


''Maunya gitu.'' ujar Erin masih mode malu-malu kucing.


Meskipun bukan gadis ABG lagi, tetapi sikap Erin yang menggemaskan itu membuat Mentari gemas karena sering memancing tawanya.


''Harus optimis dong.'' ujar Mentari.


Erin menatap kakak iparnya lalu tersenyum senang.


''Kak, kira-kira, apa kak Edgar, mami, dan papi bakal merestui hubungan kami?'' tanya Erin.


Mentari menggenggam tangan adik iparnya itu dengan lembut.


''Kakak yakin, kalian akan di restui oleh mereka. Hanya saja ..,'' Mentari menggantungkan kalimatnya.


''Hanya saja kenapa Kak? Kak Mentari ragu-ragu ya?'' Erin menatap lekat kakak iparnya itu.


Mentari tersenyum tipis lalu mengusap punggung tangan adik iparnya.


''Mungkin akan banyak pertanyaan dan kakak kamu. Jadi kalian harus bersiap-siap untuk itu. Terutama Jimmy, karena Kakak yakin, kakak kamu harus benar-benar yakin kepada siapa adiknya yang cantik ini akan bersanding.''


''Sekalipun itu Jimmy.'' imbuhnya.


''Tapi, Kakak yakin kok, pasti papi sama mami merestui. Kakak aja yang begini tetap diterima, haha''


Sedikit tawa keluar dari bibir Erin ketika mendengarkan kakak iparnya merendah.


''Ah, Kak Mentari suka merendah gitu. Karena Kakak mempunyai keistimewaan tersendiri, yang bikin kak Edgar klepek-klepek.'' balas Erin.


''Tau bahasa klepek-klepek juga ternyata.'' ujar Mentari.


''Mami tuh sering bilang gitu.''


''O, gitu ...''


Erin menjadi lebih lega karena mendapatkan seorang kakak perempuan yang bisa ia jadikan sahabat untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Meskipun masih tergolong baru sebagai saudara, keduanya bisa beradaptasi dengan baik.


"Jangan ragu untuk cerita apapun, Kakak siap menjadi pendengar. Kalau diminta untuk memberikan pendapat, Kakak berusaha memberikan yang terbaik.'' ujar Mentari.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak. Aku menyayangi Kakak." balas Erin, lalu memeluk kakak iparnya itu.


__ADS_2