Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 118 : Tolong Dengarkan Penjelasanku


__ADS_3

Setelah melalui proses yang rumit, akhirnya pemberitaan mengenai Edgar sudah hilang dari media manapun. Meski begitu, beberapa pengusaha sudah menerima berita tidak sedap ini. Bahkan ada yang menarik sahamnya setelah berita itu muncul.


Edgar dibuat tidak tidur semalaman karena kedua orangtuanya juga memantau sampai berita itu benar-benar hilang.


''Papi benar-benar kecewa atas adanya berita ini, Edgar! dewasa kan dirimu! bertanggungjawablah!''


Edgar mengacak-acak rambutnya mengingat kalimat kemarahan yang terucap dari ayahnya itu.


''Mentari..'' gumam Edgar.


Edgar langsung bergegas keluar dari ruang kerjanya dan kembali ke kamar. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati dan juga saat menutupnya kembali.


''Sayang.. maafkan aku.'' lirih Edgar.


Rasa bersalah menyelimuti perasaan Edgar. Ia harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa kecelakaan itu bukan hal yang murni kecelakaan.


Edgar menciium kening Mentari dengan lembut lalu turun dari ranjang, meninggalkan Mentari yang masih terlelap.


''Mas, sebenarnya aku benar-benar cemburu!'' bathin Mentari setelah perginya Edgar.


Ia juga tidak bisa tidur memikirkan konflik yang sedang terjadi.


Sinar matahari sudah mulai mengintip dari arah timur. Edgar sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit dan juga mengurus kantor yang mendapatkan efek dari pemberitaan kemarin. Ia ke rumah sakit akan di dampingi oleh pengacara yang sudah dipersiapkan oleh Jimmy.


''Sayang..'' Edgar meraih kedua bahu Mentari.


''Iya Mas?''


Mentari mengernyitkan keningnya karena Edgar terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.


''E... gini, sebaiknya kamu tidak perlu ikut dulu. Maksudnya bukan apa-apa, aku takut ada pihak yang menyakitimu. Biarkan aku, Jimmy, dan pengacara nanti yang akan menghadapi mereka.''


Mentari langsung menatap tajam suaminya.


''Oh gitu ya?''


''Takut ada yang menyakitiku atau takut kalau aku ikut, kamu jadi tidak bisa menerima pelukan hangat dari cinta pertama?!'' sindir Mentari.


Edgar langsung terbelalak.


''Kenapa Mas? kaget?''


''Nggak papa silahkan kalau mau nostalgia.''


''Sayang.. kamu salah paham. Kejadiannya tidak seperti itu.'' bantah Edgar.


Mentari langsung menyingkirkan kedua tangan Edgar yang masih berada di bahunya.


''Oh tidak seperti itu? so.. apakah bukan hanya sekedar menerima, tetapi SALING BERPELUKAN?! iya?''

__ADS_1


Mentari bertepuk tangan di depan suaminya.


''Manis sekali kalian!''


''Sayang.. aku mohon jangan salah paham, tolong dengarkan penjelasanku dulu.''


Edgar meraih tangan Mentari, tetapi Mentari langsung menepisnya.


''Sayang.. aku mohon, dengarkan aku dulu.''


''Oke, aku nggak tau kamu dengar cerita itu dari siapa, tapi..''


''Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Mas! bukan dengar cerita siapapun!'' sahut Mentari.


Edgar semakin dibuat terkejut. Tapi, sepertinya Mentari sudah terlanjur marah. Dan kemarin hanya pura-pura belum tau hanya untuk mendengarkan cerita langsung darinya.


Mentari membelakangi suaminya, ia berdiri sembari menatap udara.


''Sayang..''


''Apa jangan-jangan ini hanya settingan yang kalian buat untuk kembali merangkai cerita yang sempat bersambung?!'' selidik Mentari menatap tajam suaminya lalu kembali menatap udara.


''Sayang..''


''Awalnya aku menebak ini hanya rencana yang sengaja dibuat oleh pihak sana saja, ternyata kalian berdua!'' sahut Mentari tanpa memberikan celah kepada Edgar untuk melanjutkan perkataannya.


''Sayang, aku mohon jangan berpikir negatif, aku tidak melakukan apa yang kamu katakan. Pasti aku buktikan. Tapi, untuk hari ini, aku benar-benar tidak bisa membawa kamu, sayang. Aku tidak mau kamu ikut terseret dalam pemberitaan yang kemarin muncul. Aku benar-benar tidak mau hal itu terjadi. Please.. percayalah, sayang.''


Beberapa detik Mentari terdiam, ia hanya berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya tanpa mau menjawab.


''Pergilah, Mas!''


''Baik.. aku akan cepat-cepat menyelesaikan masalah ini.''


''Dan.. untuk masalah pelukan itu. Aku juga terkejut tiba-tiba dia memeluk, tapi, setelah itu aku langsung melepaskan. Aku tidak membalas pelukan dia.''


''Kamu mau percaya atau tidak, itu kejadian yang sebenarnya, sayang.''


Edgar berusaha menjelaskan tentang kemarin. Berharap Mentari bisa mempercayainya.


Flashback on


Edgar menemui Mychelle di dalam ruangannya setelah seorang dokter beserta perawat keluar dari ruangan itu dan memintanya masuk. Karena saat setelah kejadian itu, pihak keluarga Mychelle belum ada yang datang.


Edgar masuk dengan ragu, tetapi tidak ada pilihan lain. Ia melangkahkan kakinya lebih dekat dimana Mychelle berbaring.


Mychelle yang melihat kedatangannya langsung menoleh dan tersenyum.


''Aku masih cinta sama kamu, Ei.. maafkan aku.''

__ADS_1


Edgar tidak menjawab ucapan itu.


Tiba-tiba, wanita itu langsung memeluknya dengan erat sembari terisak-isak. Edgar sempat shock beberapa detik.


''Lepaskan Mychelle!'' gertak Edgar.


Mychelle enggan melepaskan tangannya, dengan itu membuat Edgar melepaskan secara paksa.


''Ei, kenapa kamu menjadi kasar sekali sama aku?''


Mychelle semakin terisak.


''Stop menyebutkan nama itu! kamu sudah tidak berhak!''


''Kenapa Ei? bukankah kamu sangat menyukai panggilan itu?''


''Itu panggilan sayang kan kata kamu?''


''Stop Nona Mychelle!''


''Saya disini atas rasa tanggung jawab, bukan untuk mendengarkan drama anda!''


Edgar hendak meninggalkan ruangan itu.


''Kamu pasti masih cinta kan sama aku, Ei? masih sayang kan? kamu pasti hanya menikah kontrak kan dengan wanita cupu itu?''


Edgar memejamkan kedua matanya sembari menarik nafasnya.


''Jaga ucapan anda!''


Edgar menutup pintu ruangan itu dengan kencang. Ia langsung menuju ruangan dokter.


Flashback off


Edgar sudah menyimpulkan kemarin Mentari ternyata mengikutinya di rumah sakit. Dan saat kejadian itu, setelah melihat Mychelle memeluknya, Mentari langsung pergi begitu saja tanpa menunggu apa yang terjadi setelah itu.


AARRRGGGHHH


Edgar berteriak kencang di dalam mobil. Pagi-pagi kepalanya seperti mau pecah.


"Percayalah sayang.." gumam Edgar.


Mentari masih belum beranjak dari kursi yang berada di balkon. Ia duduk melamun, sarapan yang di antar oleh Listi hanya termakan sedikit. Airmatanya lagi-lagi lolos mengalir di pipinya.


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam, sedari tadi dadanya terasa sangat sesak.


''Ternyata bukan aku yang memberimu kejutan, Mas. Nyatanya malah kamu.''


Mentari tersenyum getir lalu mengusap pipinya yang basah.

__ADS_1


__ADS_2