Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 229 : Tetap Nggak Boleh Lengah


__ADS_3

Edgar semakin memburu-buru langkah Erin yang masih berada di genggamannya itu untuk segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan keramaian taman tersebut. Selain ramai, terik matahari pun semakin menyengat badan.


''Kenapa Kakak belikan makanan untuk bapak pemulung tadi?'' tanya Erin saat mereka sudah kembali masuk ke dalam mobil.


Saat meninggalkan pria tadi, Edgar dan Erin yang sudah hampir tiba di tempatnya memarkirkan mobil melihat gerobak penjual makanan. Edgar menunda masuk ke dalam mobil dan melangkahkan kakinya menuju ke penjual itu.


Erin pun hanya mengamati saja dan tidak ingin banyak tanya, apalagi disana sedang ramai juga. Edgar pasti juga tak akan memberikan jawaban, paling-paling hanya melengos atau memberikan kode untuk tidak berbicara sekarang.


Setelah memesan makanan dan minuman, Edgar menjelaskan ciri-ciri bapak yang ditemuinya tadi. Penjual tersebut menyanggupi apalagi ada uang lebihan yang Edgar tolak saat dikembalikan.


''Nggak tau, Kakak hanya kasian melihatnya. Sepertinya bapak itu sangat lelah dan lapar.'' jawab Edgar sembari menghidupkan mesin mobilnya.


Erin samar-samar mengangguk lalu menatap lurus ke depan, apa yang dikatakan oleh sang kakak juga sama dengan pikirannya. Di sepanjang perjalanan, Erin sangat menikmati pemandangan kota ini. Meskipun kemacetan kerap terjadi, Erin tetap mencintainya.


''Ini-ini! jangan di ganti!'' seru Erin saat Edgar memutar sebuah lagu. Tangannya langsung sigap mencegah jari telunjuk Edgar supaya menyingkir.


''Iyaa!'' jawab Edgar.


Erin langsung mengikuti irama lagu tersebut, dari salah satu penyanyi solo wanita Indonesia yang suaranya sangat bagus.


Seketika ide jail Edgar muncul di benaknya tanpa Erin ketahui. Apalagi Erin menyanyikan lagu itu dengan penuh ekspresi. Kedua tangannya pun bergerak semua penuh penghayatan. Kedua matanya sampai terpejam-pejam saking menghayatinya.


''Lihat kelakuan calon istri kamu, Jim!'' seru Edgar dengan tatapan matanya yang fokus ke depan. Hanya melirik sekilas lalu cepat menatap ke depan lagi


Seketika Erin langsung menutup mulutnya, ia celingukan mencari yang dimaksud oleh sang kakak.


Hahaha


Edgar langsung melepaskan tawanya karena berhasil mengerjai Erin. Padahal dirinya juga tidak mungkin akan bermain ponsel saat sedang mengemudi seperti ini. Namun, Erin justru terkena jebakannya.


Dua kali timpukan mendarat di lengan kiri Edgar.


''Kakak ih suka banget iseng sama adiknya!'' protes Erin.


''Daripada iseng sama anaknya tetangga, nanti di pukul sama emaknya. Mending sama adik sendiri, masih kecil juga ... masih imut-imut seperti anak tikus, hahaha''


''KAKAAAKK!!!'' teriak Erin membuat gendang telinga Edgar langsung mau pecah.


''STOOPP!!!'


''Hmmmh!'' Erin membuka tangan kiri Edgar yang tengah membungkam mulutnya itu.


''Apa ini yang dinamakan momen permintaan maaf?'' protes Erin sembari mengusap bibirnya.


''Momen permintaan maaf yang lain dari yang lain, adikku. The one and only.'' jawab Edgar dengan santai.


''Masih aja ya!'' sungut Erin.


Edgar masih menahan gelaknya lalu nenda bulat itu langsung ia belokkan ke gedung besar.


Perkelahian antara kakak beradik itu memang sudah kerap terjadi. Tapi, mengenai hubungan Erin dan Jimmy memang membuat Edgar sangat shock sehingga keduanya saling sama-sama canggung. Edgar dengan rasanya yang sulit untuk dijelaskan, sementara Erin dengan perasaan takutnya yang tiada henti.


Namun, hari ini Edgar dan Erin sudah kembali berkelahi dengan cara seperti yang dulu, persis seperti Tom and Jerry. Meskipun begitu, hal itulah yang selalu mereka rindukan saat sedang berjauhan. Ketika dekat, perkelahian yang selalu menjadi obat kerinduan. Mami sampai pusing melihat anak-anaknya.


''Nonton film action ya, Kak!'' pinta Erin yang sudah lupa dengan percekcokan di mobil.


''Siap, Nona!'' jawab Edgar lalu langsung merangkul pundak Erin.


Tidak hanya di taman saja yang ramai pengunjung, disini pun juga sangat ramai. Film bergenre action-komedi itu sepertinya sukses dalam promosinya sehingga peminatnya hari ini terlihat paling banyak.


Perlakuan Edgar benar-benar layaknya seorang kakak yang melindungi sang adik. Sejak tadi Erin tidak lepas darinya.


Setelah mendapatkan popcorn dan minuman dingin, Edgar dan Erin masuk ke gedung bioskop bersama para pengunjung lainnya.

__ADS_1


Dua jam pemutaran film itu, Erin sangat mengikuti alur ceritanya. Sementara Edgar tidak fokus karena kepikiran Mentari yang di rumah. Ia begitu merindukan sang istri.


''Kak, sudah selesai!'' ujar Erin.


''Oh ya? cepat sekali.'' jawab Edgar.


''Ya lah, orang Kakak malah tidur.'' protes Erin.


Tidak salah yang dikatakan oleh Erin, karena sejak film mulai separo perjalanan tayang, ia malah memejamkan kedua matanya tanpa tidur dengan sungguh-sungguh.


''Hehe, sepertinya Kakak ngantuk.'' jawab Edgar beralasan.


''Tapi, sekarang sudah nggak ngantuk lagi karena Kakak berubah jadi lapar.'' sambungnya.


Waktu pagi sudah beranjak siang hari. Keduanya keluar dari bioskop dan mencari makan terlebih dahulu sebelum ke tempat lainnya, karena Erin ingin membeli buku.


Edgar memilih tempat duduk yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan pengunjung lain. Sehingga ia bisa merasakan kenyamanan.


''Kamu nggak pengin cerita sama Kakak soal kedekatan kamu sama Jimmy?'' ujar Edgar memancing Erin untuk membahas hal itu.


Erin langsung memicingkan mata.


''Kakak penasaran ya?''


Edgar mengangguk tanpa ragu.


Dengan wajahnya yang malu-malu, Erin menceritakan awal mula kisahnya dan Jimmy. Edgar mendengar cerita sang adik serasa ingin tertawa. Ntahlah, dibenaknya masih tetap kata anak kecil itu belum juga hilang. Tapi, mending sekarang ingin tertawa daripada emosi seperti kemarin-kemarin.


''Memangnya ada yang lucu?'' tanya Erin.


''Iya, kamu lucu.'' jawab Edgar.


''Permisi..,'' ucap seseorang datang mengantarkan pesanan mereka.


Kediaman Raymond


Papi, mami, dan Mentari baru saja selesai makan siang bertiga.


''Kamu yakin Edgar benar-benar mau minta maaf sama adiknya, sayang?'' tanya mami pada Mentari.


''Yakin, Mi. Setidaknya mas Edgar sama Erin kalau ribut ya seperti biasanya kayak Tom and Jerry, berantem sewajarnya kakak beradik.'' jawab Mentari.


Mami pun akhirnya mengangguk setuju.


Edgar dan Erin keluar dari pusat perbelanjaan itu. Erin sudah mendapatkan buku yang ia cari. Ia sedang tidak minat mencari pakaian ataupun aksesoris. Karena berbelanja dengan pria itu tidak asik bagi Erin, apalagi Edgar yang ia tau sudah menahan ingin cepat-cepat pulang dan nempel pada kakak iparnya.


Setelah menghabiskan waktu akhir pekan ini berdua, Edgar dan Erin akhirnya sudah dalam perjalanan menuju pulang ke rumah karena Erin juga sudah tidak ingin kemana-mana lagi.


''Buku ini nih yang ku cari, Kak! rame banget di online.'' ujar Erin sembari membuka buku barunya itu.


''Siapa penulisnya?'' tanya Edgar menoleh sekilas lalu kembali menatap ke depan dan fokus pada kemudinya.


''Nama penulisnya Cimai.'' jawab Erin yang sudah mulai membaca.


''Kurang terkenal.'' cibir Edgar spontan.


(Author : Spontanmu sungguh tega, Mas Edgar!! hiks)


''Awas namamu dihilangkan lho, Kak!'' protes Erin.


''Hahaha, nggak ada hubungannya.'' sahut Edgar dengan mengusapkan telapak tangannya ke wajah Erin.


Sebuah teriakan kembali keluar dari mulut gadis itu.

__ADS_1


''Tangan Kakak itu bau!'' protes Erin.


Edgar semakin cekikikan sendiri.


''Ehm!''


Edgar berdehem keras, ia melirik sekilas ke arah Erin. Ada hal yang ingin ia sampaikan pada Erin.


''Erin, Kakak tidak pernah membenci hubungan kamu dan Jimmy. Jadi, berhenti menganggap Kakak tidak merestui kalian. Hanya saja Kakak perlu waktu untuk menerima semua itu.'' jelas Edgar.


Erin langsung menutup buku barunya itu. Ia tersenyum tipis dan terlihat sisi dewasanya.


''Aku ngerti kok, Kak.'' jawabnya.


''Thank you.'' ucap Edgar lalu mengusap kepala Erin.


''Sama-sama.'' jawab Erin.


''Tapi, ingat! jangan ciuman dulu!'' ceplos Edgar tanpa sensor. Tatapan matanya sudah menandakan larangan keras itu.


''Terus ... kalau cium pipi?'' balas Erin dengan pertanyaan.


''Tidak boleh juga! dulu Kakak pertama kali cium kak Mentari juga pas sudah menikah.'' jawab Edgar langsung membandingkan dirinya yang sebenarnya jelas saja berbeda.


''Tapi, aku yang lebih dulu mencium kak Jimmy.'' ujar Erin dan langsung menutup mulutnya.


Ciiitt


Suara decitan roda mobil itu terdengar sangat keras.


''APA!!'' pekik Edgar yang langsung menginjak remnya.


Sementara itu Erin juga terkejut karena sudah keceplosan. Ia langsung nyengir sembari menepuk-nepuk bibirnya dengan pelan.


''Maaf, Kak.'' ucap Erin lirih.


Untung saja mereka sudah sampai di jalanan yang sedikit lengang, sehingga tidak membuat bahaya pengendara lain karena rem mendadak yang dilakukan oleh Edgar.


Edgar langsung bingung mau mengatakan apa. Niatnya mewanti-wanti sang adik, malah adiknya sendiri yang memulai.


''Terus Jimmy balas mencium pipi kamu?''


Erin menggeleng.


Edgar langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


''Jaga diri kamu baik-baik! jangan sampai kehilangan harga diri hanya karena cinta! Kakak tau kamu yang lebih dulu mendekati Jimmy. Kalaupun sekarang Jimmy sudah mencintai kamu, kamu juga tetap nggak boleh lengah. Ingat itu ya!'' tegas Edgar.


Erin mengangguk tanpa memberikan jawaban.


Sementara Edgar kembali menghidupkan mesin mobilnya ketika sudah bisa mengendalikan rasa terkejutnya yang keluar dari mulut sang adik.


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah. Mentari menyambut kedatangan suami dan juga adik iparnya itu.


"Happy?" tanya Mentari.


"Jelas happy, doong!!" jawab Erin dengan suara nyaringnya.


"By the way, terima kasih untuk hari ini. Aku mau istirahat. Bye bye."


Mentari menatap Erin yang sedikit berlari itu.


"Kita ke kamar juga yuk." ajak Edgar. Mentari pun langsung mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2