Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 61 : Sampai Terkumpul Kesebelasan


__ADS_3

Keluarga Raymond sedang menikmati breakfast di hotel ini, semuanya menikmati sarapan tanpa kata-kata, hanya suara pisau kecil dan garpu yang saling beradu, itupun juga sangat lirih.


''Mami, papi, dan Erin tidak bisa berlama-lama disini, sayang.. kita akan terbang nanti malam.'' ujar mami memulai percakapannya setelah menyelesaikan sarapan.


''Loh kok mendadak gini bilangnya? kenapa nggak nunggu beberapa hari lagi?'' tanya Edgar.


''Ini sudah termasuk banyak menunda.'' jawab mami.


Mami beralih menatap menantunya seraya tersenyum lalu menggenggam tangannya.


''Mentari, Mami percayakan Edgar padamu. Begitupun juga dengan Edgar, Mami tidak akan tinggal diam kalau dia macam-macam sama kamu, meskipun Edgar putra kandung Mami. Kalau ada apa-apa lapor sama Mami.''


''Iya Mi.. terimakasih Mi..'' ucap Mentari.


°°


Sebelum kembali berangkat ke luar negeri nanti malam, keluarga ini menikmati sore hari di taman belakang seraya menanti matahari terbenam.


Tuan Erick berbincang-bincang tentang bisnis dengan putra sulungnya itu. Sementara mami, Mentari, dan Erin lebih banyak mengobrolkan soal fashion, lebih tepatnya sih Mentari hanya sebagai pendengar setia antara ibu dan anak itu.


''Bereskan pekerjaanmu, lalu ambil cuti, ajak istrimu pergi honeymoon.'' usul tuan Erick.


''Iya betul, Mami setuju.. jangan bekerja terus, kalau dirumah terus istrimu akan bosan. Ajak ke Amerika, Eropa, atau kemana saja terserah kalian.'' sahut mami menimpali ucapan papi.


''Nggak papa kok Pi, Mi.. saya tidak bosan dirumah.'' jawab Mentari.


''Kak Mentari gimana siiiihh.. pada umumnya pengantin baru itu pasti akan pergi bulan madu, Kakak juga harus paksa tuh si tuan Edgar, jangan kerja mulu melototi laptop.'' sindir Erin.


''Eriin..'' bisik mami.


''Iya tenang saja semuanya, aku sudah membuat jadwalnya, untuk itu besok aku sudah kembali bekerja karena banyak yang harus diselesaikan.'' jawab Edgar lalu menatap Mentari dengan memberikan senyuman.


Mentari hanya bisa membalas senyuman itu, ia berpikir Edgar hanya sedang membuat orangtuanya dan juga Erin agar tidak membahas lebih lanjut tentang bulan madu.


''Waahhh good...'' seru Erin.


''Ehehehe..'' Erin langsung cengengesan karena tersadar volume suaranya yang keras dan membuat empat orang didepannya menatapnya.

__ADS_1


''Sabar ya sayang, ditunda dulu honeymoonnya. Tapi, itunya nggak perlu nunggu nanti pas honeymoon juga bisa kan.. biar cepet jadi.'' bisik mami menggoda menantunya.


Wajah Mentari langsung memerah karena malu dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya, ia pun hanya tersenyum tipis.


Sedekat ini dengan seseorang yang dulunya menjadi bos untuk Mentari, pasti hal ini masih terasa canggung baginya.


''Becanda yang sayang, ikuti saja alurnya, yang penting tidak boleh ditunda.'' pinta mami.


''Hehe iya Mi.'' jawab Mentari.


''Kalau bisa setiap tahun beranak Mi, sampai terkumpul kesebelasan.'' sahut Edgar dengan santainya.


BUG!


Mami reflek memukul lengan putranya itu dengan keras.


''GOOD JOB anak Papi! hahaha'' seru tuan Erick diikuti gelak tawanya, namun, sedetik kemudian tawa itu tertahan karena mendapatkan pelototan dari sang nyonya.


Erin mencari aman dengan menahan gelak tawanya dengan menutup mulut.


''Kamu kira istrimu itu kucing?!!'' seru mami.


Kalimat andalan itu manjur mengalihkan perhatian mami, beliau langsung membuka aplikasi kamera dan melihat wajahnya dengan seksama.


''Dasar anak nakal!'' seru mami pada Edgar dan langsung beranjak pergi.


Tuan Erick pun langsung mengikuti sang istri yang masuk ke dalam rumah.


Edgar terkekeh.


''Mas.. mami marah?'' tanya Mentari lirih.


''Nggak kok, tenang aja.. mami memang begitu, itu masuk ke dalam karena mau permak wajah lagi.''


''Nanti kalau mami sampai ngomel ke kamu, itu kata-kata andalan biar mami berhenti ngomel.'' imbuh Edgar.


Mentari merasa gemas mendengar cerita suaminya tentang keunikan mami.

__ADS_1


''Mami lucu ya Mas..''


''Iya, kamu juga lucu, bikin gemes, mau digigit nggak?'' goda Edgar.


''EHHEEMM!! DISINI ADA MANUSIA NIIHHH! DIAJAK NGOBROL KEK!!!'' seru Erin.


Mentari benar-benar terlupa adanya Erin diantara mereka.


''Yaampun maafin Kakak ya..'' Mentari langsung mendekati Erin dan memeluknya.


''Erin nggak marah sama kak Mentari, tapi, sama itu tuuuh..'' sindir Erin lalu melirik kakaknya.


''Apa?!!'' tanya Edgar.


''Dasar anak kecil, malam-malam mau nelpon kakak-kakaknya, kurang kerjaan.''


Mentari mengurai pelukannya lalu menatap Edgar dan Erin secara bergantian dengan tujuan mencari jawaban atas kalimat ambigu ini.


''Hehehehehehe''


Erin kembali cengengesan dengan harapan tidak mendapatkan kemarahan.


''Tadi malam hp kita sengaja tak off kan, soalnya sudah waspada bakal ada pengganggu, tadi pagi buru-buru tak hidupkan lagi. Kebukti kan..'' Edgar menunjukkan panggilan tak terjawab yang masuk beberapa kali di ponselnya sendiri.


Mentari langsung ikut mengecek ponselnya dan ternyata semua itu benar. Kelakuan adik iparnya ini benar-benar membuat Mentari langsung menggelengkan kepalanya.


''Maafin aku ya Kak.. Kak Edgarku yang paling tampan sedunia, Kak Mentariku yang paling cantik sedunia.. yang baik, rajin, suka menabung.. pokoknya sempurna dimataku.'' ucap Erin berusaha merayu kakak-kakaknya.


''Dasar anak kecil..'' ledek Edgar kepada adiknya.


''Ayo sayang masuk ke dalam rumah aja.'' ajak Edgar langsung menarik tangan Mentari.


''Huuuuuu''


''Mas, udah..'' cegah Mentari berusaha menahan tangan Edgar yang sudah berada di atas kepala Erin.


Kegagalan Mentari membuat Edgar langsung gerak cepat mengacak-acak rambut Erin sambil tertawa puas.

__ADS_1


Hahahaha


''KAKAAAAKKKK!!'' seru Erin sambil mengejar kedua kakaknya.


__ADS_2