Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 224 : Aku Juga Merasakan Hal Itu


__ADS_3

Ketika pembahasan yang serius itu masih belum bisa di terima oleh Edgar, tuan Erick meminta pada Mentari untuk membujuk putranya itu agar menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Setelah menuruti, keduanya langsung ke atas.


Sesampainya di kamar, Mentari menutup pintu kamarnya karena Edgar berjalan di depannya. Setelah menutup pintu dengan pelan, ia lalu berdiri memunggungi pintu, kemudian menarik nafas panjang. Edgar pun juga menghentikan langkahnya sembari memegangi kepalanya yang semakin cenat cenut memikirkan kisah asmara sang adik.


Mentari masih diam, ia memperhatikan setiap pergerakan sang suami dan menanti agar terlihat lebih tenang. Edgar masih menarik nafasnya berkali-kali, juga dengan posisinya yang membelakangi sang istri.


''Apa yang harus aku lakukan sekarang, sayang?'' tanya Edgar sembari berbalik menghadap Mentari yang masih berdiri memunggungi pintu.


Mentari maju dua langkah, ia meraih tangan Edgar lalu ia genggam dengan erat. Tak lupa ia berikan ciiuman di punggung tangan suaminya itu dengan manis. Ia mendongak dan keduanya saling menatap lekat.


''Bicaranya sambil duduk ya.'' pinta Mentari setelah selesai menciium punggung tangan Edgar.


Edgar mengangguk nurut, apalagi melihat sikap manis dari sang istri, mana bisa ia menolaknya. Tanpa melepaskan genggaman tangan keduanya, mereka melangkah bersama untuk duduk di sofa.


Setelah duduk di sofa, keduanya saling berhadapan.


''Silahkan bicara, Mas. Aku ingin kamu lega, aku mau pikiran dan hati kamu plong sekarang juga. Jangan sampai apapun yang kamu tahan sekarang, bisa berakibat fatal pas kamu di kantor." Ujar Mentari.


Edgar melepaskan genggaman tangan itu, lalu memijat pelipisnya yang masih pusing.


"Alasanku masih sama, sayang. Aku belum siap melihat Erin di sentuh pria lain." Keluh Edgar lalu menunduk sembari menopang kepalanya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Mas, masih ada waktu satu tahun ke depan. Masih lama, dan Erin 'kan bakal kembali ke luar negeri, jadi mereka tidak akan ketemu sesering mungkin. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan selama Jimmy pun tetap ada di Indonesia."


Edgar terdiam, ia mendongak menatap langit-langit kamar.


"Jimmy hanya melakukan sebagaimana yang diharapkan seorang perempuan, Mas. Sediam apapun Erin, meskipun dia belum siap untuk menikah dalam waktu dekat ini, tapi, dia juga akan bahagia kalau laki-laki yang dicintainya meminta izin langsung ke orang tuanya, bukankah itu tanda Jimmy benar-benar serius dengan Erin?"


"Apa kamu tidak bahagia dengan kejujuran Jimmy? Daripada terus-menerus mereka bersembunyi. Aku yakin Jimmy tidak mau terus terusan seperti itu."


Mentari menatap Edgar yang masih belum memberikan jawaban atas kalimat panjang lebarnya. Ia tau yang ada dipikiran Edgar tentu saja sedang merenung.


"Sama halnya ketika kamu mendatangi bu Maryam meskipun itu tanpa kamu sengaja. Sebagai seseorang yang menjadi orangtua penggantiku, bu Maryam sangat bahagia, aku juga merasakan hal itu, Mas." Lirih Mentari.


Edgar mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


''Aku menyadari kesalahanku pada Erin, sayang. Tapi, kenyataannya saat berhadapan langsung, aku masih berat untuk bilang iya.'' ungkap Edgar jujur.


Mentari tersenyum, apa yang dikatakan oleh Edgar tentu saja hal yang sering dirasakan oleh sesama seorang kakak, meskipun tidak semuanya sama.


''Sekarang ... tenangkan pikiran kamu, pernikahan Erin bukan dilaksanakan besok pagi. Mending fokus untuk hal-hal yang seharusnya kita urus dalam waktu dekat.'' ujar Mentari.


Edgar mengangguk lalu tersenyum.

__ADS_1


''Kamu benar, sayang. Aku terlalu memikirkan seolah-olah semua itu akan dilaksanakan besok pagi.'' jawab Edgar dengan senyum tipisnya.


''Kalau senyum begitu kan jadi makin tampan, suamiku.'' goda Mentari.


Edgar langsung terkekeh kecil.


''Emmm, Papa tidak rindu kami, kah?'' Mentari mengusap lembut perutnya sendiri sembari menirukan suara anak kecil.


Tidak mungkin Edgar akan menjawab tidak. Ia pun langsung memeluk dan menciumi perut Mentari.


''Sepertinya Mama kalian tau resepnya untuk membuat Papa tersenyum ya, Nak.'' bisik Edgar lalu mendongak mengedipkan satu matanya pada Mentari.


''Papa kalian mulai genit, Nak.'' balas Mentari.


Mereka pun langsung tertawa kecil, tangan Edgar dan tangan Mentari berada di atas perut. Keduanya mengusap-usap lembut secara bersama.


''Yuk.'' bisik Edgar sembari meniupkan nafasnya tepat ditelinga Mentari. Sehingga membuat Mentari merinding di sekujur tubuhnya.


Mentari sudah paham, ia langsung mengangguk, apalagi dirinyalah yang memancing lebih dulu. Demi kedamaian lagi, tidak ada kata nanti yang terucap dari bibirnya.


Waktu terus berjalan, keduanya saling memadu kasih hingga berkeringat bersama. Melupakan sejenak pikiran yang kalut tentang cinta antara Jimmy dan Erin. Sekarang hanya ada antara Edgar dan Mentari, yang lain pikirkan esok lagi.

__ADS_1


__ADS_2