
Jimmy masih berdiri di depan pintu, tak berapa lama kemudian, dokter tersebut sudah selesai menangani luka Rita.
Jimmy membuka pintu, lalu masuk ke dalam.
''Apakah lukanya parah, Dok?'' tanya Jimmy.
''Tidak, Tuan. Untung saja segera di bawa ke rumah sakit, jadi langsung bisa kami bersihkan lukanya, dan untuk obat-obatnya nanti akan saya buatkan resepnya, dan bisa ditebus di apotek depan.'' jawab dokter pria yang sudah mengenali sosok Jimmy itu.
''Syukurlah.'' jawab Jimmy mengangguk.
''Berarti saya boleh langsung pulang kan, Dok?'' sahut Rita.
Dokter tersebut tersenyum ramah.
''Iya, karena tidak ada luka yang parah, jadi anda bisa langsung pulang setelah menerima resep obatnya. Tapi, meskipun luka itu tidak parah, tetap saja jangan disepelekan.'' jawab dokter lalu memberikan pesan pada Rita.
''Kalau begitu saya permisi, saya harus segera membuatkan resep obat.'' ujar dokter.
Jimmy dan Rita pun mengangguk.
Dokter itu pun langsung keluar dari ruangan diikuti oleh perawat yang tadi membersihkan luka di tangan dan juga kaki Rita. Sekarang hanya ada Rita dan Jimmy di ruangan itu. Rita masih belum nyambung untuk memulai kata-kata. Ia memilih terdiam dengan wajah menunduk sembari berpikir untuk mengeluarkan kalimat pada Jimmy.
Jimmy yang biasanya dingin dan cuek saat berdekatan dengan Rita, biasanya hanya berbicara sesuai dengan keperluan saja, itupun juga atas perintah dari bosnya. Tapi, kali ini mereka seperti berganti peran. Rita menjadi sosok yang sangat diam, sedangkan Jimmy ingin mempertanyakan beberapa hal, tetapi masih ragu.
''Terima kasih, Tuan, karena sudah menolong saya. Anda bisa langsung pulang, karena saya benar baik-baik saja. Nanti saya pulangnya bisa memesan kendaraan online lagi.'' ujar Rita lalu menatap Jimmy sekilas.
Penampilan Jimmy sangat berbeda dengan biasanya saat berjumpa di tempat bekerja. Biasanya, pakaian formal tidak lepas dari Jimmy, sehingga tampak kewibawaannya. Namun, penampilan yang berbeda kali ini membuat wanita dihadapannya itu menjadi gugup sendiri ketika melihat otot lengan Jimmy.
Sementara hari ini, Jimmy mengenakan kaos oblongnya berwarna abu gelap dan berlengan pendek. Sehingga memperlihatkan otot tangannya yang kekar. Ingin rasanya Rita memeluk lengan itu. Tapi, Rita langsung menepis bayang-bayang tentang hal yang tidak akan mungkin untuknya.
__ADS_1
''Saya sendiri yang akan memastikan kamu sampai rumah dengan aman.'' jawab Jimmy tanpa memandang Rita.
Rita menatap Jimmy dengan wajah datar.
''Saya tidak mau merepotkan anda, Tuan.'' ujar Rita.
''Apa saya mengatakan hal ini sudah merepotkanku?'' balas Jimmy berbalik tanya.
Jimmy menatap Rita sedikit tajam.
''Tidak.'' jawab Rita.
''Saya hanya khawatir pacar anda akan salah paham jika mengetahui anda bersama perempuan lain.''
Setelah menjawab, Rita langsung menunduk.
''Calon istriku orang yang mau mendengarkan penjelasan.'' jawab Jimmy.
''Kamu jangan kemana-mana, saya ada keperluan sebentar.''
Tanpa menunggu jawaban dari Rita, Jimmy langsung bergegas keluar dari ruangan itu.
Rita memandangi kepergian Jimmy hingga menghilang dari pandangannya.
Seketika ia tersenyum kecut, tangannya memegangi dadanya.
''Calon istriku?'' gumam Rita.
Tiba-tiba airmatanya menetes begitu saja tanpa aba-aba. Perasaannya terasa sangat sakit mendengar kata-kata itu.
__ADS_1
''Ayolah Rita! jangan bod0h! dia juga tidak tau perasaan kamu seperti ini! jangan sakiti diri kamu sendiri!''
Rita memukul-mukul ranjang sembari merutuki dirinya sendiri.
Di luar ruangan, Jimmy langsung mengambil ponselnya.
''Oh my God ... maafkan Kakak, sayang.'' bathin Jimmy.
Jimmy melihat panggilan telepon masuk tak terjawab dari orang yang sama. Ia merasa bersalah atas hal itu.
Jimmy pun langsung menghubungi kekasihnya itu. Tak lama kemudian di seberang telepon sudah terdengar suara.
''Maafkan Kakak ya. Tadi ada sedikit problem.'' ucap Jimmy.
''Problem?? maksudnya Kakak? ada masalah apa? Kakak baik-baik aja, kan?'' tanya Erin panik.
''Bukan Kakak, tadi Kakak pulang cepat dari ngegym. Pas di perjalanan pulang, justru lihat orang kecelakaan. Dan ternyata orangnya itu karyawan disini.''
''Terus apa yang Kakak lakukan? Kakak nolongin orang itu apa nggak?'' tanya Erin.
Mendengarkan itu membuat Jimmy tersenyum.
''Iya, Kakak bawa dia ke rumah sakit. Sekarang Kakak pun masih disini. Untuk itu, Kakak nggak bisa lama-lama ngobrol sama kamu sekarang. Nanti kalau semuanya sudah selesai dan Kakak sudah di apartemen, Kakak ceritakan lebih detail.'' jawab Jimmy.
Erin merasa bersalah karena sudah sempat berpikiran negatif pada kekasihnya. Ia juga belum bertanya panjang lebar, karena Jimmy sudah berjanji akan menceritakan nanti.
''Aku minta maaf karena sudah sempat berpikiran negatif.'' ucap Erin.
''Iya tidak apa-apa, nanti dilanjutkan lagi ya, sayang ..,'' ujar Jimmy langsung menyudahi panggilan telepon bersama kekasihnya itu.
__ADS_1