Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 97 : Patut Dilestarikan


__ADS_3

Nasip menjadi seseorang yang masih berstatus single alias belum memiliki pasangan, atau lebih tepatnya jomblo. Erin selalu menjadi sasaran untuk menjadi tukang foto kedua kakaknya dan juga orangtuanya.


''Lihat aja nanti kalau aku sudah nikah.'' bathin Erin menggerutu.


''Yang ikhlas..'' protes Edgar.


''Ikhlas level maksimal.'' jawab Erin.


''Bagus kan hasil fotonya? yaiyalah Erin gitu loohh..'' ujar Erin membanggakan diri sendiri dengan mengibaskan rambutnya.


Edgar dan Mentari menggeser-geser layar camera dslr milik Erin untuk melihat hasil fotonya. Yang dibanggakan oleh sang adik memang sesuai dengan hasilnya yang bagus.


''Wahh bagus banget foto-fotonya, Kakak suka.'' ucap Mentari.


Erin semakin besar kepala, tujuannya berhasil untuk menyombongkan diri di depan kakaknya, Edgar.


''Udah gede niihh, udah pinter.'' ujar Erin.


Edgar langsung mengembalikan camera sang adik.


''Apaan sudah gede? anak kecil gitu.'' balasnya.


Erin menerima cameranya dengan bibir manyun.


''Ishh Kakak jahat!'' sungutnya.


Erin langsung menatap Mentari, keduanya saling bertatapan.


"Cie yang udah gede." goda Mentari.

__ADS_1


Erin menutup mulutnya yang hampir senyum-senyum malu.


Indahnya pemandangan disini, pemandangan orang-orang berjalan kaki kesana kemari dengan santai. Tanpa suara berbagai jenis kendaraan dan polusi yang menyesakkan dada. Mereka semua terlihat benar-benar menikmati suasana berlibur.


''Ayo kita makan dulu, cari yang hangat-hangat.'' ajak mami memberikan komando kepada anak-anaknya.


''Siap komandan.'' jawab Edgar.


Mereka mengunjungi salah satu restoran yang menyediakan berbagai macam makanan khas beberapa negara. Kali ini semua memesan makanan yang berkuah dan hangat.


Erin terlihat fokus menunduk memainkan ponselnya, ia yang duduk di sebelah Mentari membuat sang kakak ipar mengetahui.


Mentari menyenggol kaki Erin dengan kakinya. Sehingga membuat sang adik menoleh.


Mentari tersenyum jahil menggoda sang adik. Erin yang menatap bingung mengikuti arah kedipan mata Mentari yang tertuju pada ponsel yang berada di genggaman tangannya.


''Sstttt.'' Erin mengangkat jari telunjuknya di bibir.


Mentari menjawab dengan mengangkat jempol.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang, fokusnya pun beralih pada makanan yang sudah disajikan diatas meja.


°°


Berwisata di hari pertama cukup melelahkan, tapi, juga menyenangkan.


Keluarga ini menikmati keindahan malam hari dengan barbeque-an di halaman belakang rumah setelah seharian berjalan-jalan dari berwisata ke tempat surganya belanja.


Mami tidak mau menunda kesempatan bersama dua anak perempuannya untuk menemaninya shopping. Mentari yang tidak memiliki hobi tersebut akhirnya mengikuti keinginan sang mertua. Justru sang mertua lah yang memilihkan pakaian-pakaian untuknya dan juga Erin.

__ADS_1


Negara yang salah satu kotanya menjadi pusatnya mode dunia itu tentunya tidak perlu diragukan bagaimana kualitas dan karya-karya yang mendunia. Siapapun yang masuk ke tempat tersebut langsung khilaf, terutama bagi para wanita.


Edgar, Mentari, dan Erin membolak-balikkan daging agar tidak gosong. Cuaca malam ini sangat cerah, sehingga sangat mendukung untuk melakukan kegiatan di luar ruangan.


Malam ini tidak ada obrolan bisnis, mereka benar-benar ingin menjaga momen kebersamaan bersama keluarga yang tidak setiap hari bisa bersama.


Diluar dugaan Mentari, sosok tuan Erick Raymond yang ia segani ternyata pandai juga mencairkan suasana dengan guyonan-guyonannya yang santai tapi berhasil membuatnya tertawa. Jokesnya sangat khas dengan bapak-bapak.


''Masih pada penasaran nggak kenapa aku bisa menikah dengan istriku?''


Seketika tawa semuanya langsung terhenti dan langsung menatap Edgar. Mentari sampai tersedak, dengan sigap ia menenggak air mineral yang berada di depannya.


''Mas, apa-apaan? aku malu..'' ujar Mentari lirih. Ia menatap kedua mertuanya dan juga adik ipar secara bergantian.


''Aku penasaran.'' Erin mengacungkan tangan pertama kali dengan semangat.


Mentari melotot.


''Mami sama Papi sih penasaran dari dulu, tapikan terserah yang punya cerita. Ya nggak Pi?''


Papi mengangguk. ''Iya betul, Mi..''


''Nggak papa sayang, biar semuanya tau kalau kisah kita itu sangat spesial, unik, dan patut dilestarikan haha..''


Mentari menepuk paha Edgar.


''Memangnya warisan budaya pakai dilestarikan.'' protes Mentari.


Semuanya langsung tertawa mendengar protes yang dilakukan oleh Mentari.

__ADS_1


__ADS_2