Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 186 : Kedatangan Edgar dan Mentari


__ADS_3

"Apa kamu sudah menghubungi Rita, Jim?" tanya Edgar ketika mereka sudah perjalanan menuju pulang.


"Sudah, Tuan. Dia mengatakan akan mengusahakan untuk hadir, karena sekarang sedang cuti ke luar kota, dan posisi dia sekarang sedang di rumah saudaranya.'' jawab Jimmy.


"Oh, begitu ... Ya sudah tidak apa-apa."


Dengan jumlah karyawan yang sangat banyak, tentu saja tidak semuanya langsung berurusan dengan pemimpin pusat. Misalkan saja seperti cuti, setiap cabang memiliki pemimpin yang di percaya untuk memegang wewenang ini. Dengan di sesuaikan jatah cuti dan disinkronisasi dengan cuti karyawan lainnya supaya tidak saling berbenturan.


Mentari semakin tidak sabar menunggu kedatangan Edgar. ia berdiri di sisi kolam dengan menumpukan tangannya pada sandaran.


"Sebentar lagi Mama akan mengajakmu untuk bernostalgia, Nak." gumam Mentari sembari mengusap perutnya.


Menanti kedatangan Edgar rupanya masih belum menunjukkan tanda-tanda. Mentari kembali masuk ke dalam kamar karena sinar matahari pun masih sangat terik meskipun sudah menjelang sore. Tetapi balkon yang menghadap ke arah barat itu tentu saja masih menerima sinar matahari, apalagi tidak ada pohon tinggi yang menjadi penghalang sinar yang masuk.


Soal Rita, Mentari mencoba untuk berpikir positif dulu. Ia tidak ingin terlalu cemas lalu mengabaikan kesehatannya sendiri. Pasti akan ada waktunya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Rita.


Menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Mentari menyalakan televisi, tetapi tidak menemukan tayangan yang cocok. Namun, karena sendirian tanpa aktivitas lainnya, televisi tersebut tetap menyala. Mentari mengganti-ganti saluran sampai menemukan yang cocok, yaitu channel tayangan kartun.


"Ya, ini lebih baik." gumam Mentari lalu meletakkan remote control itu di sampingnya.


Mentari menaikkan kakinya ke sofa lalu diluruskan. Menonton kartun itu ternyata membuat membuatnya terhibur, ia tertawa cekikikan sendiri setiap hal-hal lucu terjadi.


"Aku pikir-pikir, ngidamku ini tidak terlalu parah seperti yang pernah ku dengar dari ibu-ibu hamil lainnya." gumam Mentari.


Mentari tersenyum. Beberapa waktu yang lalu, ia sempat menyukai aroma Edgar yang baru saja beraktivitas. Bahkan ia tak menyukai jika Edgar mandi. Sekarang, hal itu sepertinya hilang dengan tanpa kesadarannya.


Mengusap-usap lembut pada perutnya sendiri menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan bagi Mentari saat ini, mungkin juga bagi ibu hamil pada umumnya. Rasanya juga sudah tidak sabar menunggu tendangan-tendangan itu ia rasakan.


"Tumbuh sehat di perut Mama ya, sayang." gumam Mentari.


Bibir yang tadinya membentuk sebuah senyuman itu kini berubah bergetar, apalagi film kartun yang sedang di tonton sudah selesai dan berganti judul lainnya. Lagi dan lagi, Mentari menangis ketika mengingat sudah tidak ada sosok ibu dan tanpa pendampingan keluarga yang jelas. Tangisan seperti apapun memang tidak akan membawa keadaan itu kembali seperti dulu.


"Aku tidak boleh terus menerus seperti ini." gumam Mentari lalu mengusap air matanya.


"Penyesalan ini hanya akan membawaku pada hati yang tidak bersyukur."


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengusap wajahnya dengan cepat. Saat yang bersamaan, Edgar membuka pintu kamar. Mentari yang terkejut langsung berdiri dan memberikan senyuman. Dengan harapan Edgar tidak melihatnya saat menangis.


"Mas, sudah pulang?"


Mentari langsung menciium punggung tangan suaminya seperti biasa. Edgar pun juga langsung menciium kening Mentari, lalu menghujani ciiuman bertubi-tubi di wajah sang istri. Tak lupa mengusap lembut pada perut yang sudah berisi hasil karyanya itu.


"Sedang apa?" Tanya Edgar.


Mentari melirik ke arah televisi yang masih menyala dengan tayangan kartun.


Edgar pun terkekeh kecil melihat tontonan bumil yang satu ini.

__ADS_1


"Jangan meledek!" Protes Mentari.


"Tidak, sayang. Oh ya, aku langsung mandi saja ya, biar lebih cepat sampainya. Jangan sampai kemalaman." tutur Edgar.


Mentari mengangguk. Ia langsung menyiapkan pakaian ganti untuk Edgar. Ia sudah membayangkan pulang ke rumahnya dengan menaiki sepeda motor. Sudah beberapa bulan ini rasanya ia lupa bagaimana serunya berkendara saling mendahului dengan para pengendara roda dua lainnya. Sangat seru dalam bayangannya.


Pukul 16.35 WIB keduanya sudah siap. Mereka pun sudah berada di lantai bawah. Edgar membawa koper yang isinya sudah di siapkan oleh Mentari. Koper tersebut berisikan pakaian ganti untuk keduanya selama disana, sekitar dua malam.


"Lho, Pak Dar mau pergi kemana?" tanya Mentari saat melihat pak Dar sudah berpakaian rapi dengan jaket serta mengenakan helm.


"Ikut bersama anda, Nona." Jawab pak Dar.


Mentari menatap suaminya, sedangkan Edgar hanya tersenyum.


"Ayo, Pak." ajak Edgar pada pak Dar.


Edgar menggenggam tangan Mentari. "Ayo sayang."


Mentari sedikit bingung, kenapa Edgar tidak mengenakan pakaian yang layak untuk menaiki sepeda motor.


"Lho, kok bawa mobil, Mas? Nanti nggak bisa masuk ke gang, dong? Kamu mau jalan kaki, Mas? Kamu ingat kejadian hari itu 'kan?"


"Kalau aku sih tidak apa-apa jalan kaki."


Edgar terkekeh mendengar kekhawatiran Mentari.


"Itulah gunanya aku membawa pak Dar, sayang." Edgar mengecup bibir Mentari yang masih mode bingung.


Mentari masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Edgar.


Pak Dar berada di belakang mobil mereka seperti seorang pengawal. Jika pengawal biasanya menunggangi motor besar atau mobil, pak Dar justru menunggangi motor matic. Karena motor besar milik Edgar pasti akan membuat Mentari kesulitan.


''Sudah lama kita nggak menikmati sore seperti ini.'' tutur Edgar lalu menggenggam tangan Mentari. Tangan yang berada di dalam genggamannya itu ia ciumi tanpa dilepaskan.


''Perasaan belum lama-lama banget deh, Mas.'' jawab Mentari.


''Mungkin aku yang terlalu rindu.'' balas Edgar lalu mencium tangan Mentari lagi.


Mentari tersenyum melihat perlakuan sang suami padanya.


Setelah melewati jalan raya yang padat. Mobil yang dikendarai dengan kecepatan sedang itu akhirnya tiba di sebuah tepi jalan. Tepat di tempat saat pertama kali Edgar hendak mencari rumah Mentari karena akan mengantarkan KTP yang ia sita.


Pak Dar yang berada di belakangnya pun segera ikut menepi di depan mobil Edgar.


''Ooooohhhh.'' Mentari akhirnya paham kenapa Edgar membawa serta pak Dar dan membawa sepeda motor. Ternyata alasannya karena untuk bertukar kendaraan.


''Sekarang paham 'kan?'' tanya Edgar begitu mendengar kata oh panjang dari Mentari.

__ADS_1


''Iya paham.''


Koper yang dibawa sudah dialihkan ke motor. Edgar juga sudah memakai helmnya. Keduanya seperti seorang yang baru saja pulang dari bepergian atau baru pulang dari merantau.


''Aku nggak usah pakai helm, Mas. Kan sudah nggak jauh lagi.'' tolak Mentari saat Edgar hendak memasangkan helm di kepalanya.


''Hmmm, memakai helm itu untuk keselamatan, mau dekat ataupun jauh. Tidak boleh membantah.''


Mau tak mau Mentari pun nurut.


''Terima kasih, pak Dar.'' ucap Edgar.


Pak Dar membungkukkan tubuhnya. Pria itu sudah berdiri di sebelah pintu kemudi mobil Edgar.


''Silahkan Tuan, akan saya pantau dari sini.'' ucap pak Dar.


Edgar sudah naik di motor. Jika di pandang, ia sangat tidak cocok dengan motor matic itu. Badannya yang tinggi dan tegap seperti tengah duduk di kursi.


Sepanjang perjalanan melewati gang sempit itu, semua mata tertuju pada kedatangan mereka. Apalagi orang-orang yang sudah lama mengenali sosok Mentari. Mentari pun menyapa orang-orang dengan tersenyum.


Kedatangan Edgar dan Mentari langsung di sambut oleh beberapa orang yang sudah berada di rumah itu. Mentari takjub dengan persiapan yang dilakukan. Di halaman rumahnya sudah terpasang tenda seperti orang yang akan menggelar hajatan.


''Selamat sore Tuan Edgar dan Nona Mentari.'' sapa seorang wanita paruh baya itu. Di belakangnya berdiri sosok pria paruh baya.


''Iya sore, Bu.'' jawab Mentari.


''Ini Bu Titi dan beliau pak Ramlan. Mereka yang bekerja merawat rumah ini.'' ungkap Edgar.


''Ohhh, gitu? terima kasih banyak ya, Bu, Pak.'' ucap Mentari.


''Sama-sama, Non. Saya senang sudah mendapatkan pekerjaan disini.''


''Silahkan berisitirahat dulu, Tuan dan Nona.''


Keduanya mengangguk.


''Biar saya saja Tuan yang membawa kopernya.'' ujar pak Ramlan.


''Tidak apa-apa, Pak, biar saya bawa sendiri. Lagian masih banyak yang masih berserakan.''


Pak Ramlan melirik ke arah bawah tenda, banyak sekali kursi-kursi yang berserakan dan belum di pinggirkan. Karena rencananya akan disusun besok sore.


''Silahkan lanjutkan pekerjaan anda, Pak.''


Pak Ramlan pun akhirnya mengangguk dan mempersilahkan Mentari dan Edgar untuk beristirahat.


Edgar menarik kopernya dan dibawa masuk ke dalam rumah. Sementara Mentari melangkahkan kakinya dengan sangat pelan. Ia mengedarkan pandangannya menelisik keadaan rumah yang sudah lama tidak ia tempati itu.

__ADS_1


Masihkah seperti yang dulu atau telah terjadi perubahan tanpa sepengetahuannya.


Foto-fotonya masih utuh terpajang di dinding. Posisi sofa lamanya dan perabot tidak ada yang berubah, hanya terdapat penambahan. Mentari tidak berniat untuk bertanya, sudah pasti Edgar lah yang melakukan semuanya.


__ADS_2