Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 299 : Baby Elgio dan Baby Elzia (Last Episode)


__ADS_3

Sebelum pulang, Rita melihat kembali baby Elgio dan baby Elzia. Semua orang sangat gemas dengan kelahiran bayi-bayi itu, hidungnya sangat mancung seperti Edgar, meskipun Mentari juga mancung, tetapi tidak semancung hidung Edgar. Sedangkan bulu matanya lentik hitam seperti milik Mentari.


''Kolaborasi yang cocok, xixixi.'' bathin Rita terkikik sendiri.


''Semoga kamu juga segera mendapatkan jodoh yang baik ya, Rita.'' ujar mami.


''Eh, iya, aamiin ... terima kasih banyak, Nyonya. Itu do'a yang saya harapkan saat ini, hehe.'' jawab Rita jujur dan juga kaget.


Di sebelahnya ada Lenna, wanita itu tersenyum mendengarnya. Tapi, tidak tau harus berbicara apa, ia juga tak pandai bicara dengan orang baru.


''Maaf Nyonya, saya pamit dulu, soalnya sudah semakin sore.'' ucap Rita yang juga sungkan berada di kamar ini.


''Ohh, iya-iya, terima kasih ya atas kehadirannya.'' balas mami.


Rita pun mengangguk. Kemudian ia juga berpamitan dengan Lenna.


''Mari, Nyonya.''


Rita membungkukkan badannya di depan mami dan Lenna, ia langsung keluar dari kamar tersebut.


Saat rombongan bu Maryam pulang, mami dan Lenna tidak turun karena tengah menunggu baby Elzia dan baby Elgio.


Setelah berpamitan dengan mami dan Lenna, juga kedua ponakannya yang masih tidur, Rita kembali turun ke bawah. Edgar dan Mentari sudah kembali masuk ke dalam.


''Anak-anakku masih tidur kah?'' tanya Mentari.


''Iya, pengin banget tak uyel-uyel. Tapi, kasian emaknya, hehe.''


''Kalau sampai kamu uyel-uyel, tak uyel-uyel ganti.'' jawab Mentari dengan tawa kecil.


Rita memperhatikan ruangan itu, sudah sepi dari tamu undangan. Hanya tersisa dirinya yang merupakan orang lain.


Edgar sudah pindah duduk ke sebelah Ardi, ia ingin lebih akrab dengan sepupunya itu. Selain itu, ia memberikan tempat untuk Rita agar duduk di sebelah Mentari.


''Jangan buru-buru pulang dong, Rit.'' pinta Mentari pada teman baiknya itu. Sekarang mereka benar-benar sudah sangat jarang bertemu.


Rita langsung nyengir karena memang dirinya akan segera pamit. Apalagi sudah pamit dengan dua oma yang tengah berada di kamar.


Untuk membuat Mentari tersenyum, Rita mengurungkan niatnya untuk langsung pulang. Mereka mengobrol terlebih dahulu sembari ngemil. Lebih tepatnya Rita yang ngemil, karena Mentari dibuatkan makanan khusus. Keluarga suaminya benar-benar memperhatikan kesehatannya tanpa cela.


Rita melirik jam di pergelangan tangannya, sepertinya waktu sudah semakin sore. Ia pun langsung memantapkan hati untuk pamit pada pemilik acara.


''Ehm, Bu bos, aku pamit pulang dulu ya.'' pamit Rita dengan suara pelan.


''Aku masih kangen banget, Rit. Tapi, kamu pasti punya kesibukan juga, ya sudah kita ketemu kapan-kapan lagi ya.'' balas Mentari.

__ADS_1


''Aku juga kangen, tapi, malu nanti makanan kamu habis sama aku, hihi.'' jawab Rita.


''Haha dasar, ya sudah pulang sana.'' usir Mentari yang disertai candaan.


Rita pun beranjak dari kursinya. Ia langsung berpamitan dengan yang lainnya. Di sana benar-benar aura orang kaya sangat terasa, sehingga membuat Rita deg-degan.


''Kamu bawa motor sendiri kah, Rit?'' tanya Mentari sedikit menaikkan volume suaranya.


Seketika langkah Rita langsung terhenti, ia kembali menghadap Mentari.


Rita menggeleng, ''Aku tadi naik taksi online.'' jawabnya.


''Oh, hati-hati ya.'' ujar Mentari.


Rita mengangguk, ia kembali membungkukkan badannya karena semua tengah menatap ke arahnya.


''Mari.'' pamit Rita.


Gadis itu langsung berjalan ke depan, ia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Sementara di dalam, semua langsung serempak menatap Ardi, padahal tidak ada yang janjian. Di waktu yang sama, Lenna juga turun.


''Tunggu apa lagi, Ar?'' ujar tuan Erick. Sedangkan ayahnya malah tertawa melihat keraguan putranya itu.


Semua langsung menoleh ke arah wanita itu.


Semuanya pun tersenyum. Ardi tampak menyembunyikan senyumnya, ia menatap satu persatu, semua memberikan jempol untuknya agar mengupayakan sesuatu yang sudah membuatnya tersenyum lebar hari ini.


''Tunggu apa lagi Bro? mau keduluan orang lain lagi?'' timpal Edgar.


''Kalian mendukung?'' tanya Ardi.


''Sangat.'' jawab Mentari.


''Laki-laki harus memperjuangkan.'' timpal ayahnya.


''TERIMA KASIH.'' ucapnya dengan suara lantang.


Senyum Ardi pun semakin lebar, ia langsung berlari ke depan. Ia mencari keberadaan Rita, ternyata gadis itu sudah akan keluar dari pagar rumah Raymond.


''Rita, tunggu!'' seru Ardi.


Halaman yang luas membuat Ardi mempercepat larinya. Rita pun menahan langkahnya yang sudah dekat dengan gerbang.


Ardi menarik nafas panjang setelah berlarian, ia tidak peduli dengan tatapan keluarga dan juga orang-orang yang berada di sana.

__ADS_1


''Maaf, ada apa ya?'' tanya Rita.


''Kamu sudah pesan taksi?'' tanya Ardi.


''Belum ada yang merespon, ini mau cari taksi di depan.'' jawab Rita.


''Oh, syukurlah. Jangan ke depan, biar saya saja yang mengantarkan kamu pulang.'' balas Ardi.


''Aduh, terima kasih, tidak perlu repot-repot, saya biasa kok naik taksi.'' ujar Rita tidak enak.


Dengan segala paksaan, akhirnya Rita pun mengiyakan tawaran dari Ardi. Mereka sudah berada di dalam satu mobil.


''Oh, jantungku deg-degan parah.'' bathin Rita.


''Semoga kamu tidak malu memiliki teman mantan tahanan seperti saya.'' ujar Ardi.


''Ah, hehe iya, tidak masalah kok, asalkan semua itu hanya masalalu dan menjadikan semua itu pelajaran agar lebih baik kedepannya. Semua orang memiliki masa depan yang masih suci.'' jawab Rita.


Ardi pun tersenyum.


Setelah memastikan Ardi mengantarkan Rita, Edgar dan Mentari kembali masuk, mereka langsung menuju kamar.


''Mami istirahat saja dulu.'' ujar Edgar.


''Bilang aja mau minta jatah.'' balas maminya.


''Hahaha, Mami paham deh kalau anaknya juga masih butuh yang eksklusif.'' jawab Edgar semakin brutal.


''Dasar!'' mami pun melangkah keluar sembari menimpuk lengan putranya itu.


Mentari hanya menggelengkan kepalanya. Ia sedang memperhatikan baby Elgio dan baby Elzia yang belum bangun.


Karena saking gemasnya, Edgar dan Mentari pun mengangkat kedua bayinya. Edgar menggendong baby Elzia, sementara Mentari menggendong baby Elgio. Mereka menciumi hidung bayi-bayi lucu itu.


''Sang Pencipta sudah menakdirkan jodohnya masing-masing, dia dengannya, dan kamu untukku, sayang.'' tutur Edgar yang menciium bibir Mentari.


''I love you, sayang.'' ucap Edgar.


''We love you so much, Papaa.'' balas Mentari.


...****************...


...S E L E S A I...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2