Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 238 : Erinka, Will You Marry Me?


__ADS_3

Jimmy tersenyum tipis sembari menatap wajah sang kekasih yang berada di hadapannya itu. Sementara Erin menjadi salah tingkah dengan tatapan itu. Ingin rasanya ia langsung sembunyikan dirinya di kolong meja. Tapi, takut nanti ditinggal pergi oleh Jimmy.


Beruntungnya, tak lama kemudian, dua pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Beberapa menu terbaik yang dimiliki oleh restoran tersebut sudah tersaji dengan rapi diatas meja.


''Terima kasih.'' ucap Erin pada pelayan yang sudah selesai menyusun menu-menu di atas meja.


Pelayan tersebut mengangguk. ''Sama-sama, Nona.'' jawabnya.


''Boleh langsung makan sekarang, 'kan?'' tanya Erin.


''Iya, sayang. Kamu pasti sudah sangat lapar, 'kan?'' balas Jimmy kemudian terkekeh kecil.


''Ssttt! jangan keras-keras, nanti kedengaran sama orang lain.'' bisik Erin melakukan peringatan.


Erin merupakan gadis blasteran yang perutnya sangat melokal. Karena porsi makannya pun sangat banyak dan ia bisa makan apapun, tidak harus makanan western. Karena baginya justru masakan orang luar tidak membuatnya kenyang, baginya cukup dijadikan cemilan. Hal itu mungkin karena mami dan asisten dirumahnya yang juga berasal dari Indonesia sering memasak masakan tanah air meskipun berada di luar negeri. Namun, kali ini, restoran yang mereka datangi adalah menu utamanya masakan khas Eropa.


Satu suapan pertama, Jimmy mengarahkan pada sang kekasih. Erin spontan memundurkan kepalanya karena kaget. Namun, menatap senyum Jimmy membuatnya membuka mulut untuk menerima suapan itu dengan sedikit malu-malu.


Kemudian keduanya sama-sama tersenyum dan lanjut menyuap untuk diri sendiri.


''Sudah kenyang belum, sayang?'' tanya Jimmy dengan suara pelan ketika mereka sudah menghabiskan makanan.


''Jangan ngejek ya, Kak!'' protes Erin dengan suara yang juga pelan, karena tidak ingin imagenya rusak ketika mendengar suara kerasnya.


Jimmy terkekeh kecil.


Meja mereka juga sudah kembali bersih.


''Sebentar ya.'' ujar Jimmy.


''Mau kemana?'' tanya Erin.


''Ke toilet sebentar.'' jawab Jimmy.


''Jangan lama-lama.'' pinta Erin karena malu duduk sendirian disana.


Jimmy mengangguk lalu mempercepat langkahnya.

__ADS_1


''Terima kasih sudah membantu untuk mempersiapkan ini semua.'' ucap Jimmy pada seseorang yang ia temui.


Seseorang tersebut mengangguk lalu memberikan bucket bunga yang berukuran besar pada Jimmy.


Jimmy yang sudah mengambil alih bucket bunga tersebut langsung bergegas kembali menemui Erin yang ia tinggalkan.


Jimmy menatap lalu melemparkan senyum pada beberapa orang yang sedang kumpul di satu tempat. Ia kembali mempercepat langkahnya.


Disaat ia kembali, sepertinya Erin sedang memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa takut dan malu. Tak lama Erin tampak celingukan menunggu sang kekasih.


''Nungguin ya?''


Erin langsung memutarkan badannya untuk menengok arah belakang. Mulutnya langsung menganga yang kemudian ia tutup dengan jari-jari tangan kanannya.


Jimmy langsung berputar, ia berlutut di hadapan Erin sembari mengangkat bucket bunga itu. Ia tersenyum semanis mungkin dengan memberikan tatapan mata yang lekat. Sementara tenggorokan Erin seperti tercekat karena ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun saat ini.


''Kak ..,'' lirihnya.


''Erinka, will you marry me?'' tanya Jimmy yang masih berjongkok itu.


Tidak terasa air mata Erin sudah keluar di sudut matanya. Ia begitu terharu dengan momen ini. Erin pun langsung menerima bucket bunga pemberian dari Jimmy sembari mengangguk.


Suara tepuk tangan pun langsung mengiringi jawaban Erin sehingga membuatnya terkejut dengan suara itu. Gadis itu langsung membungkukkan sedikit kepalanya yang masih posisi duduk pada beberapa pelayan yang menyaksikan momen bahagia mereka.


''Terima kasih sudah menerimaku, sayang.'' ucap Jimmy ketika suara tepuk tangan itu sudah berhenti.


Dengan menyeka air matanya, Erin memberikan anggukan kecil.


Masih dalam posisi jongkok, Jimmy merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu. Dan sebuah kotak cincin muncul di tangan Jimmy.


Mulut Erin langsung kembali menganga, sedangkan Jimmy membuka kotak tersebut. Satu pasang cincin yang tampak begitu simpel tapi, sangat cantik.


''Boleh Kakak memasangkan cincin ini di jari manismu?'' tanya Jimmy.


Tanpa pikir panjang, Erin langsung mengangguk seraya menyodorkan tangannya. Keduanya saling memasangkan cincin itu secara bergantian. Dan terlihat sangat manis di momen yang manis ini.


Erin hampir saja terperanjat ketika lagi-lagi mendengar suara tepuk tangan dan lebih riuh. Tapi, kali ini suaranya semakin mendekat sehingga membuat kepalanya langsung menoleh.

__ADS_1


''Hah?!'' pekik Erin yang langsung berdiri. Ia hampir tidak percaya dengan kedatangan orang-orang terdekatnya.


Erin langsung menoleh ke arah Jimmy untuk meminta jawaban. Pria itu justru tampak santai dan hanya tersenyum.


''Papi?''


''Mami?''


''Kak Edgar?''


''Kak Mentari?''


''Om?''


''Tante?''


Ya, keluarga Erin tiba-tiba muncul di restoran tersebut bersama orangtua dari Jimmy. Ini benar-benar membuat Erin masih belum bisa percaya. Jantungnya masih sangat shock.


''Selamat untuk kalian.'' ucap papi kemudian menciium kening putrinya itu. Lalu diikuti oleh mami.


''Terima kasih, Pi, Mi.'' ucap Erin.


Pandangan gadis itu langsung beralih pada kedua orangtua Jimmy.


''Tante, apa kabar? Om?'' tanya Erin sembari menjabat tangan mereka secara bergantian.


''Kabar kami sangat baik.'' jawab ibunya Jimmy.


Erin langsung celingukan, dengan tatapan matanya yang meminta sebuah jawaban atas momen malam ini.


''Ehm, kamu pasti terkejut ya?'' tanya Jimmy yang mendekati Erin.


''Tentu saja, Kak.'' jawab Erin lirih.


Mereka langsung terkekeh kecil, papi maju mendekati putrinya itu.


-

__ADS_1


-


Cie cieeeeee uhuy Eriiinn, haha 🤭


__ADS_2