
Akhir pekan tanpa kegiatan kantor, Jimmy mengendarai mobil menuju tempat gim yang sudah biasa ia kunjungi untuk berolahraga.
''Bisa-bisanya tuan Edgar berpikirnya aku dekat sama Rita?'' gumam Jimmy lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Apa gara-gara beberapa kali aku satu mobil sama dia? terus beberapa kali juga berurusan sama dia?''
''Itu semua juga karena perintahnya.''
''Atau ... jangan-jangan tuan Edgar dan nona Mentari memang sengaja mau jodohkan aku dengan Rita?'' tebak Jimmy.
Meskipun tangannya masih mengendalikan besi bulat itu, pikirannya sudah ke arah yang lain.
''Tapikan nona Mentari sudah tau sekarang.''
''Arrghh!! jangan sampai tuan Edgar membahas hal itu di depan Erin. Bisa-bisa akan salah paham.''
Tak terasa, dari tadi sibuk dengan pikirannya akhirnya Jimmy tiba di tempat ngegim.
Laki-laki maupun wanita banyak yang mengunjungi tempat ini. Karena pemilik dan tempatnya sangat membuat nyaman.
Jimmy berbincang-bincang dengan beberapa orang yang ia temui dan memang sudah saling mengenal karena seringnya bertemu disini.
Sementara itu, Edgar dan Mentari sudah berada di villa. Mereka berangkat kemarin sore agar bisa menikmati pagi ini di villa.
Mentari membuka tirai, pemandangan di luar villa sangat sejuk. Mengingatkan ketika pertama kalinya berada disini beberapa waktu yang lalu. Saat Edgar mengajaknya tanpa rencana, tanpa memberitahu terlebih dulu. Saat keduanya sama-sama masih enggan untuk menyimpulkan perasaannya masing-masing.
''Kita kembali lagi kesini, sayang.'' ucap Edgar memeluk Mentari dari belakang.
__ADS_1
Mentari tersenyum, menumpuk tangan diatas tangan suaminya.
''Iya Mas, aku juga teringat hari itu.'' jawab Mentari.
Mentari lalu memutar arah menghadap sang suami. Edgar pun masih tetap melingkarkan tangannya.
''I love you.'' ucap Edgar.
''I love you too.'' balas Mentari.
Edgar langsung mendaratkan ciiumannya di bibir Mentari dengan lembut.
''Tapi, saat itu kamu nyebelin, Mas.''
Tiba-tiba Mentari cemberut karena mengingat momen-momen waktu itu.
''Malah ketawa.'' protes Mentari.
''Lucu aja sayang kalau ingat.'' balas Edgar masih dengan tawanya yang ditahan.
''Keluar yuk.'' ajak Edgar.
Mentari mengangguk.
Keduanya sudah berada di luar kamarnya, menikmati udara pagi hari yang segar di area villa.
''Gimana dengan wisuda Erin, Mas?'' tanya Mentari.
__ADS_1
Edgar langsung menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Mentari. Mereka duduk di sebuah kursi kayu yang tidak jauh. Tempat itu akan sangat panas jika sudah menjelang siang, karena saat ini masih pagi, udara pun masih terasa sejuk.
''Erin tetap minta kita nggak usah datang.'' jawab Edgar.
''Mungkin Erin kasihan sama aku, Mas.''
''Sebetulnya tidak masalah kalau kamu akan pergi, itu hari spesial untuk Erin, Mas. Di rumah juga banyak orang dan aku juga tidak keberatan kalau harus di rumah aja selama kamu pergi.''
''Aku yang tidak bisa pergi sendirian, sayang. Dan kalau mengajak kamu ... aku sangat khawatir, aku tidak mau membawa kamu ke perjalanan yang membuatku ragu. Karena kita bukan lagi berdua, sayang, ada kepercayaan yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya.''
Mentari menatap kedua mata suaminya itu dengan lekat.
Beberapa orang di luar sana mengatakan kalau kehilangan itu akan sembuh dengan sendirinya ketika waktu terus berjalan. Nyatanya, itu hanyalah teori saja bagi yang belum pernah merasakan pedihnya kehilangan.
Kalaupun ada yang sama, pernah mengalami kehilangan tetapi mengungkapkan bahwa dirinya sudah sembuh dengan cepat, itu hanyalah segelintir orang yang hubungannya tidak terlalu dekat dengan sosok yang telah pergi.
Ketika kita sudah berdamai dengan keadaan dan sudah cukup bisa mengendalikan rasa trauma dalam diri, Tuhan akan memberikan kita sesuatu yang lain. Ntah itu dalam wujud yang sama, atau dalam hal lain.
Tugas kita, sebagai manusia adalah menjaga dengan sebaik-baiknya apa yang sudah diberikan-Nya itu.
''Iya Mas. Aku minta maaf ... aku hanya khawatir gara-gara aku, kalian tidak bisa berkumpul di momen itu.'' ujar Mentari lalu menunduk.
''Aku tau kalian semua sangat menerimaku dan mengerti semua ini. Ya, kembali lagi itu hanya perasaanku saja, Mas.'' imbuhnya.
''Maaf.''
Edgar meraih tengkuk Mentari untuk ia tarik ke dalam pelukannya.
__ADS_1
''Aku mengerti, sayang. Jadi berhentilah meminta maaf atas apapun yang bukan kesalahanmu.'' balas Edgar.