
Malam pertama di negara yang masuk ke dalam impian seorang Mentari. Selama ini rasanya seperti mustahil jika untuk mewujudkan mimpinya itu. Dari segala sisi, semuanya terasa berat. Jangankan untuk pergi ke negara ini, ke negerinya sendiri saja baru beberapa tempat yang sudah di ia kunjungi.
Mentari menatap cahaya malam hari yang indah, angin malam menusuk ke dalam tubuhnya. Ia berdiri di balkon dengan kedua tangannya menyilang di depan sembari mengusap-usap untuk memberikan kesan hangat.
''Eh Mas.'' Mentari terkejut dengan kedatangan Edgar yang langsung memeluknya dari belakang.
Ia mengulum senyumnya.
''Kenapa diluar? udara disini sangat dingin, sayang.'' ujar Edgar.
''Iya Mas, sangat dingin.'' jawab Mentari.
''Kamu sudah selesai ngobrol sama papi?''
''Sudah, sayang.''
''Masuk yuk..'' ajak Edgar.
Mentari pun mengangguk, tubuhnya juga sudah semakin kedinginan. Bahkan bibirnya sudah terlihat bergetar.
''Aku buatkan cokelat hangat untuk kamu.''
''Terimakasih Mas..''
Edgar mengangguk. Keduanya berjalan menuju kamar mereka.
''Ada di meja sayang.'' ucap Edgar sembari menutup pintu, sedangkan Mentari sudah melangkah lebih dulu.
Mentari menghentikan langkahnya, lalu menghadap Edgar.
''Iya Mas.''
Mentari menuju sofa yang di depannya terdapat meja. Segelas cokelat hangat sudah tersaji dengan disana. Tidak mau menunda, Mentari langsung menyeruput cokelat hangat tersebut sebelum berubah menjadi dingin.
Edgar langsung duduk di sebelah sang istri. Menatap wajah Mentari yang sedang menyeruput minuman hangat buatannya. Ia menopang kepalanya dengan telapak tangan, tatapan matanya pun tidak berkedip.
__ADS_1
Uhuk-uhuk
Mentari langsung meletakkan gelas tersebut ke atas meja. Tiba-tiba ia terbatuk-batuk ketika balik menatap sang suami yang tengah tidak berkedip menatapnya dengan tatapan dan senyuman yang membuatnya salah tingkah.
''Pelan-pelan sayang, aku nggak minta kok..'' goda Edgar sembari memberikan air mineral dan tisu.
Ia terkekeh gemas melihat sang istri.
''Jangan gitu ah Mas lihatinnya, aku grogi tau..'' protes Mentari sambil membersihkan sudut bibirnya.
''Kenapa hem? ada apa dengan mataku? hem?'' goda Edgar semakin mendekatkan wajahnya.
''Maasss..'' Mentari mendorong dada Edgar tanpa berani menatap.
Edgar langsung memeluk Mentari dan mendaratkan ciiumannya berkali-kali di wajah, kening, dan bibir.
''Maasss!!''
''Kalau nggak mau dilihatin berarti maunya langsung disentuh, iya kan?''
''Kayak gini?''
''Gini juga?''
Ganti ke kedua pipi Mentari.
''Seperti ini?''
Beralih ke bibir Mentari.
Mentari yang semakin menggeliat karena geli semakin membuat Edgar gemas dan semakin mengeratkan rengkuhannya.
''Ohh seperti ini???''
''MAASS!'' pekik Mentari karena geli dengan bibir sang suami yang tanpa permisi menempel di salah satu bukit kembar.
__ADS_1
Hahaha
''Mau mana lagi?'' goda Edgar.
''Mas udah ah, nanti nggak aku kasih jatah.'' ancam Mentari.
''Apa??''
''Enggak.'' jawab Mentari cepat.
''Itu cokelatnya belum habis, nggak boleh dibuat mubazir.'' sambung Mentari.
Edgar melepaskan rengkuhannya lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Kedua tangannya di rentangkan sembari menunggu sang istri menghabiskan minumnya.
Sejak setelah selesai makan bersama keluarga tadi, Mentari langsung di culik sama Erin. Edgar tidak melarangnya karena tidak ingin membuat sang adik bersedih karena sikapnya. Biarkan dua wanita kesayangannya itu saling melepas rindu.
Hari pertama tiba, ia tak ingin membawa sang istri kemana-mana. Edgar ingin Mentari beristirahat dirumah dan memulai perjalanan esok hari.
Mentari yang sudah menghabiskan minumnya langsung ikut bersandar. Kepalanya yang tepat berada di ketiak Edgar langsung membuat sang suami menekuk tangannya untuk mengusap-usap kepala Mentari.
''Terimakasih ya Mas, untuk kejutan hari ini, untuk cokelat hangatnya.'' ucap Mentari.
Mentari menusuk-nusuk jarinya ke dada Edgar dengan mendongakkan kepalanya untuk menatap sang suami.
''Euummm.. sama-sama sayang.'' jawab Edgar.
Edgar menekuk kedua tangannya untuk memeluk sang istri.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan senyuman yang tidak lepas dari bibir mereka.
"Terkadang kita memang harus merasakan kecewa dulu ya, sayang.." ucap Edgar.
"Iya Mas.. untuk menerima kebahagiaan yang hakiki, aamiin.." balas Mentari.
"Aamiin sayang."
__ADS_1
Edgar mengusap lembut perut Mentari.
"Aku sangat menantikan kehadiran buah hati kita disini." ucapnya lirih lalu kembali menatap sang istri.