
Lima hari pasca insiden kecelakaan palsu itu terjadi. Pihak Edgar masih berusaha menutupi fakta yang sudah diketahuinya. Pihak Edgar memberikan kepastian akan membuat keputusan setelah keluarnya Mychelle dari rumah sakit tersebut.
Setelah fakta sebenarnya sudah diketahui, Mentari sudah meminta maaf kepada suaminya mengenai amarahnya pagi itu. Edgar pun melakukan hal yang sama.
Hari ini, pihak Mychelle mengatakan sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit. Untuk itu, pihaknya mendesak supaya pihak Edgar segera membuat keputusan atau akan benar-benar membawa kasus ini ke jalur hukum.
''Infonya hari ini tuan Erick akan datang, Tuan?'' tanya Jimmy.
''Iya Jim.''
''Apa perlu saya yang menjemput, Tuan?''
Edgar yang masih berada di depan laptopnya langsung menghadap Jimmy.
''Tumben menawarkan diri. Tapi, nggak perlu. Papi sudah dijemput sama pak Iwan.''
''Ya, barangkali pak Iwan sibuk, Tuan hehe.'' balas Jimmy.
''Sibuknya pak Iwan karena perintah dari pak Erick.'' balas Edgar.
Jimmy menggaruk tengkuknya karena tidak memiliki balasan lagi.
''Info dari rumah sakit, nona Mychelle keluar nanti malam, Tuan.''
''Ya, kamu urus semuanya, nanti papi juga akan datang kesana.''
''Baik Tuan.''
Erick Raymond, beserta istri dan anaknya tiba di Indonesia. Kedatangannya tentu saja untuk memastikan permasalahan yang tengah menimpa putranya dan juga berdampak pada perusahaan itu akan segera selesai.
Mentari yang mendapatkan kabar bahwa mertuanya akan datang, ia ikut membantu menyiapkan makanan karena sebentar lagi waktu makan siang. Keluarga Raymond berangkat pada saat malam hari dari sana, sehingga siang hari sudah mendarat di tanah air.
''Eva, kamu sakit ya?'' tanya Mentari.
Mentari melihat Eva yang seperti tidak tenang.
''Tidak, Non. Sa-saya baik-baik saja.'' jawab gadis itu gugup.
''Oh, syukurlah. Kalau sakit istirahat saja nggak papa. Atau minta antarkan pak Mul periksa ke dokter.'' ujar Mentari.
__ADS_1
''Nggak kok Non.'' balas Eva.
Mentari mengusap lengan gadis itu.
''Jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit, nggak enak rasanya sakit.'' ujar Mentari.
Gadis yang sedang menyusun piring-piring di meja bersama dengan Mentari itu langsung tersenyum tipis.
''Iya Non.''
''Oh ya, sepertinya sudah selesai. Saya ke atas dulu ya, mungkin sebentar lagi akan datang.''
''Baik Non.''
Mentari mengelus pundak gadis itu dengan memberikan senyuman.
°°
''Kakak, aku rindu..!!'' seru Erin.
''Kakak juga rindu.'' balas Mentari dengan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan adik iparnya itu.
''Mami..''
''Maafkan Edgar ya, sayang..'' ujar mami lirih.
Mentari mengurai pelukan mertuanya.
''Iya Mi, mungkin ini tahap yang harus kita hadapi untuk naik level.'' jawab Mentari.
(Seperti tulisan receh Cimai ini, semoga segera naik level wkwkwk🤣)
Mami tersenyum.
Melihat Erick Raymond baru masuk ke dalam rumah, Mentari izin melepaskan tangannya dari genggaman ibu mertua.
''Papi..''
''Mantuku.. kamu sehat kan?''
__ADS_1
''Sehat Pi.''
''Syukurlah, kami semua sangat khawatir.''
Mentari tersenyum untuk meyakinkan mertuanya bahwa dirinya baik-baik saja. Mungkin lebih tepatnya sudah baik-baik saja setelah sempat terpancing emosi dan cemburu.
Keluarga itu pun berkumpul di ruang tengah sambil istirahat dulu karena baru saja datang. Mereka saling bertukar cerita setelah beberapa waktu tidak bertemu karena berada di negara yang berbeda. Biasanya hanya dengan kecanggihan teknologi mereka berkomunikasi. Namun, tetap saja rasanya akan berbeda dengan bertemu secara langsung.
''Sepertinya ada suara mobil masuk.'' ujar Erin menghentikan obrolan Mentari dan kedua orangtuanya.
Dan benar saja, tak lama kemudian, dua laki-laki masuk ke dalam rumah tersebut.
''Pi, Mi.. sudah dari tadi datangnya?'' tanya Edgar.
''Belum lama kok.'' jawab mami.
Edgar beralih ke adiknya yang duduk di sebelah Mentari. Ia pun langsung mengacak-acak rambut adiknya itu. Tapi, Erin hanya mendengus tanpa mengomel.
''Tumben kalem? nggak kangen sama Kakaknya?!'' cibir Edgar ke adik satu-satunya itu dan kembali mengacak-acak rambut adiknya.
''Ish Kakak! manja sama kakaknya salah, kalem juga salah!'' protes Erin dengan suara pelan.
"Hahaha"
Setelah puas menjahili adiknya, Edgar langsung menciium kening Mentari dan duduk di tengah antara adik dan istrinya. Mau tidak mau, Erin harus bergeser tanpa protes.
''Jim, sehat kan?'' tanya tuan Erick pada Jimmy.
''Sehat Tuan.'' jawabnya.
''Oh ya, sudah waktunya makan siang, lebih baik kita langsung saja ke meja makan.'' ujar Mentari.
''Kebetulan Papi sudah sangat lapar.''
''Papi mah sekarang lapar terus.'' ledek mami.
''Jangan bongkar rahasia dong Mi..''
Anak-anaknya pun langsung tertawa, seketika lupa dengan permasalahan yang terjadi.
__ADS_1
Jimmy yang berada paling pinggir merasa salah tingkah melihat kemesraan bos besarnya itu, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.