Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 115 : Instalasi Gawat Darurat


__ADS_3

Tidak seperti biasanya Edgar bersikap seperti ini. Apalagi ia yang meminta sang istri untuk menunggu. Justru kali ini ia berhasil membuat yang menunggunya menjadi gelisah.


Celetukan dari Listi juga sempat terlintas di benak Mentari. Namun, ia tidak mau berpikir jauh, ia berusaha berpikir positif mengenai suaminya. Bayangan-bayangan trauma masalalu kembali hinggap. Mentari segera menepis bayangan itu.


''Rumah sakit?''


Mereka berempat kompak menyebutkan rumah sakit ketika mobil milik Edgar masuk ke dalam sana.


Hari ini Edgar membawa mobil sendiri, untuk itu Mentari sangat penasaran bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi.


Perjanjian dibatalkan tidak masalah, asalkan memberikan kabar sehingga ia tak menunggunya. Namun, saat di perjalanan, Mentari justru melihat mobil sang suami. Dan rasa penasaran itu semakin mencuat ketika mobil Edgar masuk ke dalam rumah sakit yang tidak jauh dari supermarket tadi.


''Jangan turun dulu, Pak.. kita lihat dulu siapa yang membawa mobil itu.'' ujar Mentari.


''Baik Non.''


Tatapan mata Mentari tak berpaling, begitu juga dengan Listi yang berada di sampingnya.


Deg!


Jantung Mentari langsung berdetak kencang. Sorot matanya semakin menajam ketika yang turun dari mobil itu benar-benar suaminya. Setelah menghentikan laju mobilnya, pria itu turun dengan terburu-buru.


Edgar lalu berlari ke samping, ia tampak memanggil petugas rumah sakit tersebut. Wajah Edgar terlihat panik, ia tak menyadari ada mobil keluarganya disana.


Tak lama kemudian, dari pintu sebelah, dikeluarkan oleh petugas rumah sakit, seorang wanita yang terlihat tak sadarkan diri. Edgar tidak ikut menyentuh, ia memberikan perintah kepada para petugas itu. Lalu dibawanya masuk ke dalam ruangan Instalasi Gawat Darurat.


''Apa tuan Edgar habis menabrak orang? atau membantu orang itu pingsan dipinggir jalan?'' tebak driver.

__ADS_1


Mentari terdiam. Ia melihat ponselnya dan belum ada kabar apapun dari Edgar. Dan jawabannya sekarang ia sudah melihatnya secara langsung. Edgar sedang kepanikan di rumah sakit.


''Pak, saya turun disini, kalian langsung pulang saja.'' ujar Mentari.


''Tapi, Non?''


''Tidak apa-apa, Pak. Nanti saya bisa pulang dengan suami saya.'' jawab Mentari berusaha tenang.


''Yakin Non nggak papa?'' tanya Listi.


''Iya Listi, kamu sama Eva harus cepat-cepat pulang ya. Belanjaan kalian sudah ditunggu.'' jawab Mentari.


''Baiklah Non. Tapi, Non Mentari harus tetap hati-hati ya.. saya takut kena marah tuan Edgar.'' pungkas pak supir.


''Saya pastikan akan baik-baik saja Pak. Terimakasih..''


''Hati-hati dijalan ya..'' ucap Mentari sebelum menutup pintu.


''Non Mentari juga hati-hati.''


Mentari mengangguk. Ia langsung berbalik arah untuk masuk ke dalam rumah sakit. Ia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi terhadap suaminya.


Mentari memakai masker sebelum turun dari mobil. Ia berjalan santai masuk ke dalam IGD.


Sesampainya disana, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Edgar. Tidak perlu bersusah payah mencari, Edgar terlihat sedang memegang kepalanya. Mentari hendak mendekati, tetapi dari dalam keluar seorang dokter. Dan setelah selesai berbicara, Edgar dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan itu.


''Apa yang terjadi?'' gumam Mentari.

__ADS_1


''Permisi, maaf Dok..'' ucap Mentari pada seorang dokter yang baru keluar dari ruang IGD.


''Iya Bu, ada apa?'' balas dokter itu ramah.


''Pasien yang di dalam sakit apa ya?'' tanya Mentari hati-hati.


''Ohh, pasien tertabrak mobil, Bu.. tapi, syukurlah yang menabrak langsung tanggung jawab.'' jelas dokter tersebut.


''Tertabrak?'' Mentari shock dengan pikirannya.


''Betul Bu, pasien sudah mendapatkan penanganan yang baik. Tidak lama lagi akan dibawa ke ruang rawat inap.''


Mentari terdiam.


''Maaf Bu, apa ada hal lain yang akan ditanyakan? karena saya masih memiliki pekerjaan lain.''


''Ohh, tidak-tidak. Cukup Dok, terimakasih..'' ucap Mentari.


Setelah perginya dokter tadi. Mentari berusaha mencari tau.


Langkahnya terhenti ketika pintu ruangan tersebut terbuka. Mentari segera melipir ke tempat yang tidak terlihat oleh Edgar.


Setelah beberapa saat, Mentari hendak mencari ruangan itu. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering, kali ini telepon masuk dari suaminya.


Mentari yang sudah berada di koridor, langsung cepat-cepat mencari tempat yang sepi. Ia berjalan cepat menuju toilet.


''Hallo Mas..''

__ADS_1


__ADS_2