Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 294 : Sepaket Emas


__ADS_3

Pemakaman hari itu berlangsung sangat haru dan tertutup.


Setelah kematian itu dipastikan, Jimmy membacakan surat yang ditinggalkan oleh bapaknya Mentari. Salah satu dari isi surat tersebut adalah ketika pria itu meninggal, ia meminta untuk dimakamkan di tempat pemakaman umum yang sama dimana ibunya Mentari di makamkan. Dan juga tidak perlu mengabari sanak saudaranya yang ada di kampung, karena ia sudah tidak saling komunikasi. Ia juga menuliskan kekhawatiran akan keluarganya yang memanfaatkan keluarga Edgar nantinya.


''Maaf Mami baru datang setelah pemakaman bapak kamu, sayang.'' ucap mami yang mendekati Mentari.


''Iya, Mi, nggak apa-apa.'' jawab Mentari sembari menyeka air matanya lagi.


Wanita paruh baya itu menatap menantunya yang masih berusaha untuk tersenyum, tetapi matanya sampai terlihat sipit karena kesulitan untuk menghentikan air matanya.


''Kasian sekali kamu, sayang.'' bathin mami.


Tuan Erick ataupun Erin tidak berani berbicara banyak-banyak. Mereka bergabung bersama yang lain untuk memanjatkan do'a.


Meskipun ini pertemuan kembali antara Jimmy dan Erin setelah beberapa waktu harus menjalani hubungan jarak jauh, mereka tetap menghargai keadaan ini. Mereka hanya berbicara sekedarnya saja, meskipun sesekali Mentari meminta mereka untuk tidak merasa tak enak hati.


...


Malam ini sudah selesai tahlilan hari ke tujuh. Ada hikmah yang terkandung dalam kejadian ini. Keluarga Ardi dan Edgar akhirnya bertemu secara langsung dengan lengkap.


Para tamu undangan yang hadir sudah meninggalkan kediaman Raymond satu persatu. Tersisa dari keluarga saja.


''Teman Kakak nggak datang ya?'' tanya Erin.


''Iya, dia izin karena kebetulan bareng sama acara di keluarganya.'' jawab Mentari.


Rita juga sangat menyesalkan waktunya yang tidak bisa hadir. Ia datang saat pemakaman bapaknya Mentari.

__ADS_1


Erin mengangguk-angguk.


Satu minggu berada di tanah air tanpa rencana dan serba mendadak karena mendapatkan kabar dari Jimmy. Tuan Erick pun masih tidak menyangka kalau secepat ini. Namun, ketika berbicara mengenai takdir, manusia tidak ada yang bisa menolaknya.


Mami dan Erin menemani Mentari untuk jalan pagi. Perut Mentari yang semakin membesar membuat mereka tak sabar.


Setelah melalui berbagai macam konsultasi, akhirnya Mentari menyetujui untuk melahirkan secara operasi. Ia berharap bisa melahirkan secara normal, tetapi kondisinya tidak memungkinkan, apalagi mengandung bayi kembar. Keputusan itu baru diambil beberapa hari yang lalu, karena sebelum-sebelumnya Mentari masih kekeh meminta lahiran normal.


''Mi, maaf karena saya belum bisa menjadi ibu yang sempurna.'' ucap Mentari.


Ucapan itu membuat langkah mami dan Erin berhenti.


''Sayaang, kata siapa melahirkan secara operasi itu tidak bisa menjadi ibu yang sempurna?''


Mentari menggeleng pelan.


''Untuk menjadi ibu yang sempurna itu di saat dia bertanggungjawab atas apa yang sudah Tuhan titipkan padanya, yaitu anak. Melahirkan normal ataupun sesar itu sama saja kok. Yang nggak normal itu kalau menghakimi hidup orang lain.'' balas mami.


''Terima kasih, Mi, Erin.'' ucap Mentari.


Kedua wanita itu langsung memeluk lengan Mentari, karena posisi Mentari ada di tengah. Mereka sudah cukup melakukan jalan pagi hari ini, lalu dilanjutkan kembali ke rumah.


...


Ketika masih di kelilingi oleh banyak orang, Mentari bisa menutupi kesedihannya. Tetapi ketika sendiri, kesedihan itu kembali memenuhi ruang pikirannya yang masih sangat merindukan pelukan hangat dari seorang ayah.


''Pak, kenapa harus secepat ini?'' lirih Mentari sembari membaca selembaran kertas.

__ADS_1


Bapaknya meninggalkan sepaket emas untuk Mentari dan didalamnya ada sebuah kertas. Kertas itu berisi pesan untuk anak perempuannya.


...Maafkan Bapak yang tidak bertanggungjawab atas kehidupanmu selama ini, Nak....


...Hadiah kecil ini sudah pasti tidak bisa membayar kekecewaanmu....


...Bapak minta maaf, Bapak selalu menyayangimu....


...Terima dan percayalah ini Bapak dapatkan dari bekerja secara halal....


Mentari melipat kertas itu lagi sembari mengusap air matanya.


''Sayang.'' panggil Edgar yang baru saja masuk ke kamar. Ia baru saja lembur bersama ayahnya dan juga Jimmy di ruang kerja.


''Sudah selesai, Mas?'' tanya Mentari.


''He'em.'' jawab Edgar.


''Ehh, istriku abis nangis ya?''


Edgar yang baru mendekati sang istri baru menyadari kalau mata Mentari kembali sembab.


''Sudah biasa nangis 'kan, Mas? hehe''


''Jangan dibiasakan dong, sayang. I love you, i love you.''


Edgar menghujani wajah Mentari dengan ciiuman sehingga membuat Mentari tertawa.

__ADS_1


''Emmm, sudah, sekarang kita tidur ya, sayang. Kamu jangan banyak pikiran.'' pinta Edgar.


Mentari mengangguk.


__ADS_2