
Mentari hendak masuk ke dalam kamar Erin yang pintunya sedikit terbuka. Namun, langkahnya terhenti ketika tidak sengaja ia mendengarkan seseorang tengah berbicara di dalam sana. Sepertinya adik iparnya itu sedang berbicara melalui sambungan telepon
''Nggak salah kah?'' Mentari spontan sedikit melongokkan kepalanya.
Adik iparnya itu sedang berbicara dengan suara yang terdengar manja. Bahkan pergerakan tubuhnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, malu-malu kucing.
Mentari semakin dibuat penasaran oleh adik iparnya itu. Akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk dengan hati-hati.
''Erin.'' panggil Mentari.
''Kak Mentari!'' pekik Erin spontan menyembunyikan ponselnya. Sebelumnya ia tengkurap membelakangi pintu, begitu mendengar suara Mentari langsung duduk dengan cepat dan menyembunyikan ponselnya di belakang punggung.
Mentari maju selangkah sembari tersenyum.
''Sejak kapan Kakak disitu?'' tanya Erin sedikit melongok ke belakang Mentari untuk mencari sosok lain.
''Barusan masuk kok, Kakak lihat pintu kamarnya nggak ditutup jadinya langsung masuk.'' balas Mentari.
Erin terlihat menghela nafas lega.
''Lagi telponan ya?'' tanya Mentari dengan langkahnya yang semakin dekat.
''Ah? nggak Kak, nggak kok..'' jawab Erin gugup.
''Ohh.. tadi Kakak kayak dengar kamu lagi bicara, tapi, kurang jelas juga sih..''
''Mungkin Kakak salah dengar.'' sambung Mentari.
''Hehe eh iya sepertinya Kak Mentari salah denger. Aku lagi nonton film.'' ujar Erin.
Mentari mengangguk-angguk.
Erin dan Mentari duduk berdampingan di sisi ranjang. Keduanya tiba-tiba langsung diam, Erin juga terlihat gugup.
''Erin..'' panggil Mentari.
''Hah? iya Kak Mentari? ada apa?''
Mentari terkekeh kecil.
__ADS_1
''Kenapa kaget?'' tanyanya.
''Nggak kok Kak, aku nggak kaget.'' bantah Erin.
''Ohh, kirain kaget..''
''Yaudah Kakak mau keluar dulu, mau siap-siap.'' ujar Mentari dan dijawab anggukan kecil dari Erin.
Mentari hanya tersenyum, lalu beranjak dari sisi ranjang sang adik untuk meninggalkan kamar tersebut
''Kita siap-siap sekarang.'' ujar Mentari.
''Iya Kak.'' jawab Erin.
Mentari berjalan untuk meninggalkan kamar adik iparnya tersebut. Namun, baru beberapa langkah, ia terhenti dan membalikkan badannya menatap Erin.
''Kakak tau kamu sedang jatuh cinta, ntah sama siapapun itu, Kakak harap kamu utamakan menyayangi dirimu sendiri dulu.''
Mulut Erin menganga, ia semakin khawatir kakak iparnya itu tidak bisa diajak kompromi untuk merahasiakan apa yang diketahuinya.
''Kakak, aku mohon jangan kasih tau ke kak Edgar.'' pintanya.
''Tidak, Kakak tidak akan memberitahu kepada siapapun. Itu hak kamu, urusan pribadi kamu. Maaf Kakak tadi tidak bermaksud lancang, Kakak tadi benar-benar tidak sengaja. Kakak tidak mendengar perbincangan kamu tadi sama sekali. Tapi, dari pergerakan yang kamu tunjukkan, Kakak tau.''
Mentari mengusap bahu adiknya itu.
Erin sedikit lega. Ia khawatir Kakak iparnya itu akan mengadu kepada Edgar.
''Terimakasih Kakak.'' ucapnya.
Mentari tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan kamar Erin.
Sepeninggalan kakak iparnya, Erin merutuki kecerobohannya yang tidak mengunci pintu kamar. Beruntung bukan kedua orangtuanya ataupun sang kakak, Edgar.
''Gblg banget sih, Eriiinnn!!!!!''
''Untung kak Mentari, gimana kalau yang masuk tadi tuh kak Edgar?! gimana coba?!!!! bayangkan???'' Erin berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sembari merutuki diri sendiri.
Huuuuhhhhhh
__ADS_1
Erin membuang nafas kasar ke udara.
''Ya ampun tadi tiba-tiba aku matikan.''
Erin langsung mencari ponselnya dan segera mencari panggilan masuk terakhir yang tiba-tiba ia matikan tanpa izin.
Sekarang sudah ia pastikan pintu kamarnya ia kunci rapat. Erin langsung melakukan panggilan video.
Tidak berapa lama, sosok wajah laki-laki muncul di layar ponselnya dengan tersenyum.
''Kepergok ya?'' tebak laki-laki itu.
''Maaf, tadi tiba-tiba ada kak Mentari masuk kamar, aku lupa tidak mengunci pintu.'' ucap Erin merasa bersalah.
''Lain kali lebih berhati-hati ya..''
''Iya Kak.'' jawab Erin dengan memberikan anggukan.
''Hmmm, aku juga tidak tau kapan kakakmu memberikan izin. Padahal kedekatan kita kalau secara sembunyi-sembunyi terus seperti ini juga tidak nyaman, kan?''
"Padahal kalau diminta untuk menikahimu sekarang juga, aku sudah siap." imbuhnya membuat Erin menutupi wajahnya karena malu.
Erin lalu tersenyum tipis.
"Jangan bermimpi terlalu jauh, Kak.. nasib pernikahanku ada di tangan kak Edgar." ujar Erin
''Tapi, apapun itu, kakakmu sangat menyayangi kehidupanmu. Dia tidak ingin kamu salah dalam melangkah.Termasuk menentukan dengan siapa kamu berjodoh.''
"Yang sabar, aku akan terus menunggu momen itu, my future wife.."
Erin menutup layar ponselnya dengan telapak tangan. Wajahnya sudah memerah tak terkendali mendengar kalimat "my future wife" dari laki-laki itu. Bahkan detak jantungnya berdebar kencang.
''Ya sudah Kak, aku mau siap-siap, nanti keburu kak Edgar ngomel, bye.'' ujar Erin.
''Iya, salam untuk kakak ipar.'' ucap laki-laki itu.
''Iya.'' jawab Erin.
''Eh ya nggak mungkinlah Kak!''
__ADS_1
Laki-laki itu terkekeh lalu menutup panggilan video mereka.