
''SEMUA INI GARA-GARA KAMU, TUAN EDGAR YANG SOMBONG!!''
Sorot tajam wanita paruh baya itu ketika baru bertemu dengan mantan menantunya.
''Gara-gara saya??
Edgar geram, ia ingin marah. Namun, berusaha untuk mengendalikan emosinya supaya tidak berakibat fatal. Karena jika ia melakukan kesalahan, bukan namanya saja yang tercoreng, tetapi nama besar Raymond.
''Oke, saya meminta maaf atas kejadian ini. Saya benar-benar tidak sengaja. Dan mengenai pengobatannya, saya akan menanggung semuanya sampai benar-benar sembuh total.''
''Semudah itu kamu bilang tidak sengaja! sebenci itukah kamu sama Mychelle?''
''Puas kamu sekarang! anak saya hancur gara-gara kamu!''
Edgar menatap pada Mychelle yang terbaring. Bukan lagi perasaan cinta yang dulu teramat dalam.
''Saya benar-benar meminta maaf. Saya tegaskan sekali lagi, saya pasti bertanggung jawab. Untuk sekarang biarkan dokter menanganinya lebih lanjut.'' Edgar mencoba bicara tenang.
''Sampai terjadi apa-apa sama anak saya! kamu harus siap menanggung akibatnya!'' ancam wanita itu.
''Saya siap.''
Wanita itu menatap Edgar dengan tajam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
''Untuk sekarang, saya mohon izin untuk menyelesaikan urusan saya yang lain. Saya akan kembali lagi. Untuk biaya rumah sakit sudah saya urus.''
''Jangan anggap remeh ucapan saya!'' tegas wanita itu.
Edgar mengangguk.
Bagaimana pun juga, wanita dihadapannya itu pernah menjadi orang penting dalam hidupnya. Edgar menjabat tangan wanita itu, meskipun disambut dengan singkat.
Edgar langsung mengundurkan diri dari ruangan itu. Ia bergegas menuju parkiran rumah sakit. Sebelum menghidupkan mesin mobilnya, Edgar memasangkan headset bluetooth dan menelpon Jimmy.
''Nanti pulang dari kantor langsung ke rumah, Jim.''
''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.
Mentari yang sudah berada di dalam kamar sedari tadi enggan untuk keluar. Bahkan, makan siang yang diantar oleh Listi belum juga ia sentuh.
''Sayang!''
Edgar berdiri di tengah pintu, penampilannya sudah kusut. Setelah kembali dari rumah sakit, Edgar langsung kembali ke rumah. Saat membuka pintu, ia tidak mendapati keberadaan Mentari, ia khawatir kejadian beberapa waktu yang lalu terulang kembali ketika Mentari pergi dari rumah ini.
Namun, ia lega saat pintu menuju balkon terbuka sedikit. Dan sangat lega ketika memastikan sang istri berada di balkon. Meskipun terlihat menyedihkan.
Mentari tidak bergeming, mungkin ia sedang sibuk dengan pikirannya sehingga tidak mendengar suara Edgar.
''Sayang, aku minta maaf.''
Edgar memeluk Mentari dari belakang. Mentari pun terkejut, ia langsung menyeka airmatanya.
__ADS_1
''Kamu sudah pulang, Mas?''
''Gimana Mas? apa parah?''
Mentari masih menutupi apa yang ia lihat dan dengar tadi.
Edgar berputar duduk di hadapan Mentari.
''Kamu nangis? masih marah ya? aku minta maaf..'' Edgar mengusap lembut sudut mata Mentari.
''Aku nggak marah kok Mas.'' Mentari berusaha tersenyum.
''Mandi dulu gih, sudah aku siapkan baju ganti.''
Edgar menggeleng, lalu menggenggam erat tangan Mentari. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.
''Sayang..'' Edgar menatap lekat Mentari.
''Aku akan menceritakan kronologinya. Tapi, aku mohon, jangan marah ya..''
''Bentar Mas, kenapa perkataan kamu terdengar ambigu.. ada apa sebenarnya?''
Edgar menarik nafasnya lagi.
''Oke.''
''Jadi, tadi aku langsung meluncur, hampir sampai supermarket dimana kamu nunggu. Tapi, tiba-tiba saja ada seorang wanita menyeberang, aku sangat terkejut jadinya ngerem mendadak. Dan setelah itu aku turun untuk memastikan kondisinya karena orang itu tidak bangkit juga, ternyata dia pingsan, dan banyak sekali darah yang keluar. Aku panik, dan beberapa orang yang melihat langsung membantu untuk memasukkan ke mobil. Aku tidak berpikir untuk membawa ke rumah sakit besar, karena ada rumah sakit yang paling dekat dari sana, akhirnya aku membawanya kesana agar cepat-cepat ditangani.''
''Terus, kata dokter, dia mengalami luka yang cukup parah di bagian perut ke bawah.'' jawab Edgar.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lalu menatap udara.
''Sayang, ada hal yang lebih penting dari itu.'' imbuh Edgar dengan suara ragu.
''Maksudnya?''
Edgar menggenggam tangan Mentari semakin erat. Masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, tetapi jika dirahasiakan akan berakibat fatal. Apalagi jika ada pihak yang membocorkan kepada Mentari.
''Dunia ini sungguh sempit.''
''Orang yang ku tabrak adalah..''
''Siapa Mas?''
Edgar menatap mata Mentari, ia sudah banyak membuat wanita dihadapannya itu menangis.
''Masalaluku.'' kata Edgar lirih.
Mentari langsung tertunduk, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata tebakannya tidak salah.
Setelah beberapa saat keduanya sama-sama saling diam. Mentari mencoba membuka percakapan lagi.
__ADS_1
''Terus kenapa Mas kalau itu mantan kamu? kamu khawatir aku cemburu atau marah?''
''Poin disini bukan itu. Yang terpenting kamu bertanggung jawab untuk membuatnya sembuh lagi.''
''Besok ajak aku bertemu dengannya.'' imbuh Mentari.
Senyum Edgar langsung mengembang.
''Pasti, pasti sayang. Tapi, kamu harus hati-hati karena mereka masih marah.''
''Selama berada di dalam genggamanmu, aku akan aman, Mas..'' balas Mentari.
Edgar langsung memeluk Mentari dengan erat.
''Terimakasih sayang, terimakasiih..''
°°
Jimmy baru keluar dari kantor. Ia buru-buru menuju mobilnya. Hari ini wajah Edgar memenuhi trending topik atas insiden yang melibatkan dirinya dan juga pemilik brand kecantikan dan juga mantan seorang model. Yang tak lain adalah mantan istri Edgar.
Jimmy harus mengatasi semua ini agar nilai saham tidak anjlok. Dan Jimmy semakin yakin, kejadian ini pasti ada udang di balik bakwan.
Berita itu sudah di dengar oleh petinggi utama Raymond, yaitu Erick Raymond. Jimmy meyakinkan bosnya itu bahwa masalah ini akan segera teratasi.
Disana, Erick Raymond dan juga keluarganya sangat geram. Selain merutuki kecerobohan putranya, mereka juga kesal terhadap wanita yang pernah menjadi anggota keluarganya itu.
Di ruang kerja Edgar yang berada di rumah. Edgar memijat-mijat pelipisnya yang terasa sangat berat. Di hadapannya sudah ada Jimmy.
''Sepertinya kecelakaan ini bukan suatu kebetulan, Tuan.'' ujar Jimmy.
''Ya, aku juga merasa seperti itu, Jim.''
''Tapi, kita tidak punya bukti apapun. Dan sekarang dampaknya adalah nama Raymond dan juga istriku yang tidak tau menahu menjadi terbawa juga.''
Edgar kembali menyandarkan punggungnya.
''Apa dia benar-benar sudah gila melakukan aksi yang membahayakan keselamatan dia sendiri dan juga orang lain!''
''Itu juga masih menjadi pertanyaan besar saya, Tuan.''
''Aku serahkan sama kamu, Jim. Untuk langkah awal, usahakan turunkan semua pemberitaan bohong ini secepatnya.''
''Kalau itu sedang dalam proses, Tuan. Saya pastikan tidak lama lagi akan hilang.''
''Syukurlah.''
Setelah melakukan diskusi serius, Jimmy meninggalkan kediaman Edgar. Ia kembali ke apartemennya.
Rumah sakit yang tidak besar dan juga tidak kecil. Tempat dimana Mychelle mendapatkan perawatan.
''Kalian semua benar-benar bisa diandalkan, haha''
__ADS_1
''Dengan ini, sebentar lagi Edgar tidak bisa mengelak lagi. Tidak ada jalan lain kecuali menikahiku haha''