Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 221 : Tetap Percaya Dengan Takdir


__ADS_3

Degup jantungnya yang berdegup kencang sudah berkurang secara perlahan karena Jimmy sudah meninggalkan ruangan itu.


Setelah mendengar suara mobil meninggalkan rumah, Erin bergegas keluar untuk mencari keberadaan sang kakak ipar.


''Kakak!'' seru Erin pada Mentari yang masih menatap ke depan.


Merasa ada yang memanggil, Mentari pun langsung menoleh.


''Cie, ehm.'' goda Mentari yang susah menahan senyumnya.


''Ssstttt!!! ih Kak Mentari jangan godain gitu.'' bisik Erin.


''Aku mau bicara pentiiing.''


Mentari menyilangkan kedua tangannya di depan, sekarang ada perut menonjol yang jadi penyangga tangannya.


''Sepenting itukaahh?'' goda Mentari lagi dengan berbisik.


''Aku serius, Kak.'' bisik Erin.


Mentari menangkup kedua pipi adik iparnya itu.


''Ya sudah ayo, dimana bicaranya adikku sayang?''


''Di kamar Kakak, hehe'' jawab Erin lalu cengengesan.


''Let's go.'' ajak Mentari.


Mentari dan Erin pun ke atas dengan bergandengan tangan. Papi dan mami melihat keduanya dengan senyum bahagia.


''Mami senang melihat mereka berdua bisa akrab dengan mudah.'' ujar mami.

__ADS_1


''Karena mereka bisa saling menerima, Mi.'' jawab tuan Erick yang masih menatap koran di tangannya.


Kedua kakak beradik ipar itu langsung menuju ke balkon. Sebelumnya Erin mengambil minuman dingin milik Edgar. Hatinya panas, pikirannya sedang tak karuan, ia perlu yang dingin-dingin. Tapi, bukan dingin sikap sang kakak padanya, hemmmm.


Mentari dan Erin duduk di pinggiran kolam dengan kaki dimasukkan ke dalam air.


''Pasti mau bicara tentang Jimmy ya?'' tebak Mentari.


Erin membuka tutup botol minuman dingin rasa jeruk itu, lalu meneguknya hingga sisa setengah.


''Kak Jimmy tadi bilang sama papi mami, nanti malam mau datang kesini, katanya ada yang mau dibicarakan dan tidak bisa dengan waktu yang buru-buru seperti tadi.'' jawab Erin.


Mentari menatap adik iparnya itu dengan senyuman. Erin pun juga menatap Mentari dengan raut wajahnya yang bingung.


''Menurut Kakak, kak Jimmy mau bicara apa?'' tanya Erin.


''Kakak belum bisa menebak. Tapi, kalaupun Jimmy akan meminta restu ke papi dan mami, Kakak sangat bahagia sekali.'' jawab Mentari.


''Kak Jimmy bikin aku terkejut tau, Kak. Sebelumnya nggak bahas kesitu, tadi tiba-tiba bilang seperti ya Kakak paham dong gimana jantungku.'' tutur Erin dengan ekspresi yang heboh.


Erin bercerita dengan bibirnya yang mengerucut seperti anak kecil.


''Kalau Jimmy bahas itu sebelum datang kesini, pasti kamu akan terus melarangnya, 'kan?'' tanya Mentari.


Erin langsung terdiam. Memang benar, ia selalu melarang kekasihnya itu untuk hubungannya diketahui oleh siapapun. Untung saja Jimmy sudah mencintai dengan sebenarnya sehingga bisa sabar menerima permintaan itu.


''Begini Erin ... Kakak melihat Jimmy benar-benar serius dengan hubungan kalian. Dia itu laki-laki yang berkomitmen jelas dengan tujuannya apa ketika menyatakan cintanya pada seseorang, dia tidak mau main-main, apalagi membuang-buang waktu.''


''Kamu pun juga sangat mencintai Jimmy, 'kan?'' tanya Mentari sembari mengusap lengan adik iparnya itu.


Erin balik menatap kakak iparnya, lalu menghabiskan minuman yang masih dalam genggamannya.

__ADS_1


''Aku sangat mencintai kak Jimmy, Kak.'' jawab Erin dengan sorot mata yang jujur bahwa ia begitu mencintai pria itu.


Mentari tersenyum mendengar ungkapan hati Erin.


''Jimmy membutuhkan kepastian. Dia belum bisa memastikan apakah papi sama mami merestui hubungan kalian. Untuk itu, kalaupun ini benar, nanti malam kedatangan Jimmy akan mengatakan yang sebenarnya, itu hal yang bagus karena mumpung kalian berada disini.''


''Seandainya ... ini seandainya dari sudut pandang dan pola pikir Kakak. Seandainya kalian menjalani hubungan sudah lama tanpa sepengetahuan keluarga, disaat kamu sudah siap, saat waktu Jimmy meminta restu dan ternyata orangtua tidak merestui, semua itu akan sangat menyakitkan dan perjalanan selama ini terasa sia-sia.'' terang Mentari.


Erin menatap kakak iparnya itu dengan sendu.


''Bagaimana kalau seandainya itu benar, Kak?''


Mentari tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Erin.


''Terkadang hati dan pikiran kita harus menyiapkan pengandaian yang tidak kita harapkan supaya seandainya kebenaran yang terjadi memang seperti itu kita sudah siap. Tapi, kalau kenyataan yang kita terima adalah hal yang kita harapkan, kita bisa sangat bahagia.'' jelas Mentari.


Erin menunduk dalam dan mencerna kalimat yang diucapkan oleh Mentari. Ia menyadari bahwa permintaannya untuk merahasiakan hubungan itu memang tidak sepenuhnya benar. Karena segala kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tak selalu orang yang sudah lama berada di dekat kita akan di terima dengan mudah.


''Baiklah, Kak. Aku harus mulai menyiapkan diri untuk lebih bisa dewasa lagi dalam menjalani hubungan ini.'' tutur Erin.


''Menurut Kakak, apakah papi dan mami merestui kak Jimmy untuk jadi menantunya?'' tanya Erin.


Mentari mengangkat kedua bahunya.


''Kamu sudah tidak sabar ya?'' tanya Mentari dengan sedikit menggoda sang adik.


''Ah, Kakak ... aku jadi malu.''


Erin mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain. Sedangkan Mentari tertawa kecil.


''Tetap percaya dengan takdir, tenangkan hati dan pikiran. Oke!!''

__ADS_1


Erin langsung memeluk kakak iparnya itu dengan erat. Ia mengusap lembut perut Mentari dengan sedikit candaan.


__ADS_2