Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 180 : Dasar Kak Edgar Pelit


__ADS_3

''Sorry ... saya tidak sengaja. Apakah anda baik-baik saja?'' ucap Erin dengan bahasa asing.


''Iya, saya tidak apa-a ..,'' jawab seseorang itu menggantung ketika wajahnya mendongak.


Seseorang itu langsung terbelalak saat menatap Jimmy, begitu juga dengan Jimmy yang bereaksi sama dengan seseorang itu.


''Jimmy?'' pekik seseorang itu. Wajahnya langsung berbinar seketika. Ia sudah memajukan kepalanya untuk cipika cipiki, tetapi Jimmy langsung sigap mundur satu langkah. Sehingga membuat wanita itu mengurungkan niatnya dan kembali berdiri seperti semula.


''I-iya.'' jawab Jimmy tiba-tiba gugup.


''Kakak kenal?'' tanya Erin menatap Jimmy dan wanita itu secara bergantian.


Jimmy pun mengangguk tanpa menutupi.


''Ya, kami,-'' jawab wanita itu antusias hendak menjawab pertanyaan Erin.


''Dia teman Kakak di waktu masih kecil sampai remaja, dan pernah kuliah di universitas yang sama. Kebetulan ini perjumpaan pertama kalinya setelah sekian tahun.'' jelas Jimmy.


''Dan ..,''


''Oh ya, kenalkan ini Erin, calon istriku.'' ujar Jimmy memotong sahutan wanita di hadapannya itu.


Erin mengulurkan tangannya terlebih dahulu, lalu wanita itu menyambutnya dengan malas.


''Jesslyn''


Tanpa ragu, Jimmy meraih pinggang Erin agar semakin dekat dengannya. Erin tak bisa melakukan apapun selain pasrah. Setidaknya sikap Jimmy membuatnya lega bercampur rasa bahagia karena dengan gamblangnya dirinya diperkenalkan sebagai calon istri di hadapan seorang wanita cantik dan seksi itu.


Wanita itu mengangguk-angguk dengan memberikan tatapan dari ujung kaki sampai ujung kepala Erin.


Hingga gerak bibir wanita itu seperti meremehkan sosok yang dikenalkan Jimmy sebagai calon istrinya.


''Padahal, aku sudah lama menantimu, Jim.'' wanita itu berdecak.


''Yahhh, lagi-lagi nasib sial menimpaku, ternyata apa yang ku usahakan dengan merawat tubuh dan penampilanku masih kalah juga sama dia.'' ujar wanita itu seakan sedih meratapi nasib.


''Dia punya nama, namanya Erin.'' ujar Jimmy mengingatkan lagi.


Erin pun sangat geram, banyak yang ingin ia pertanyakan pada Jimmy setelah kejadian ini. Namun, kejadian yang terjadi di tempat umum harus pandai-pandai untuk mengendalikan dan menjaga sikap agar tidak menimbulkan masalah.


''Ouuhh yes, Erin.''


''Sayang, sepertinya yang kamu cari tidak ada disini 'kan?''


''Ayo cari di tempat lain saja.'' ajak Jimmy langsung menggenggam tangan Erin dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.


''Iya, Kak.'' jawab Erin.


''Sorry, Jes. Kita pergi dulu.'' ucap Jimmy hanya menatap wanita itu sekilas.

__ADS_1


''Wait!'' seru wanita itu.


Jimmy dan Erin terpaksa menghentikan langkahnya yang baru beberapa langkah.


''Bisakah kamu meluangkan waktu untuk kita berbicara secara empat mata, Jim?''


Wanita itu tanpa ragu meraih lengan kanan Jimmy, tanpa mempedulikan Erin yang sudah diperkenalkan sebagai calon istri.


''Lepaskan, Jes! jaga sikap kamu!'' pekik Jimmy dengan menarik lengannya dengan kasar hingga terlepas dari wanita itu.


''Jim.''


''Tidakkah anda punya rasa malu sedikit saja, Nona?'' tanya Erin yang sudah semakin geram.


''Kamu anak kecil tidak perlu ikut campur!'' gertak wanita itu.


''Ck!''


''Saya tidak peduli siapa anda,-''


''Sudah, ayo kita pergi saja.''


Jimmy langsung memaksa Erin untuk pergi dari sana dan tidak meladeni hal yang menurutnya sangat tidak penting. Erin geram dengan wanita itu dan juga Jimmy. Dugaan bahwa wanita itu merupakan masalalu Jimmy semakin menduduki posisi pertama di pikirannya.


''Jimmy, tunggu!'' seru wanita itu.


''Sudah! cukup!''


Setibanya di samping mobil, raut wajah Erin sudah serius dan memerah bukan karena malu, tetapi menahan rasa marah. Erin langsung melepaskan tangannya dengan kasar.


''Siapa wanita itu, Kak? mantan Kakak? iya?!'' tanya Erin dengan raut wajahnya yang serius.


Dari kejauhan, wanita itu terlihat sumringah melihat pasangan itu tengah tidak baik-baik saja.


''Haha, pemandangan yang sangat indah, bukan?'' gumamnya dengan tersenyum sinis.


Wanita itu masih memperhatikan Jimmy dan Erin. Ia masih ingin melihat dan berharap pasangan itu tidak akan baik-baik saja, sehingga ia memiliki kesempatan.


''Gadis kecil sepertinya akan mudah terbakar api cemburu.'' gumam wanita itu dengan rasa percaya diri.


Jimmy berusaha meyakinkan Erin, bahwa wanita itu bukanlah siapa-siapa selain hanya teman biasa.


Erin sudah melipat kedua tangannya tanpa menatap Jimmy.


''Percayalah sama Kakak, dia hanya teman biasa. Kenapa Kakak bersikap seperti itu? karena dia berprofesi sebagai youtuber dan juga selebgram yang dikenal mudah membuat drama gimmick-gimmick supaya beritanya cepat viral.''


''Jujur, Kakak pernah menjadi korbannya saat masih awal-awal kuliah. Karena kami dulu berteman baik, dan setelah sekian lama tidak bertemu, ternyata dia menjadi sosok yang sekarang. Apapun akan dilakukannya hanya untuk mendompleng ketenaran.'' terang Jimmy.


''Tapi, kalau boleh lebih jujur lagi. Kakak memang sempat tertarik padanya saat masih SMP, itupun dia dengan kehidupannya yang dulu. Setelah pertemuan pada kuliah dan semakin mengenal dan memahami dia, rasa tertarik yang dulu ada menjadi hilang begitu saja.'' sambungnya.

__ADS_1


Jimmy tidak ingin Erin terus menduga-duga, lebih baik ia jelaskan apa adanya.


Erin menghadap Jimmy sehingga kedua pasang mata mereka saling bertemu. Erin memperhatikan dari sorot mata Jimmy, sepertinya Jimmy berkata dengan kejujuran.


''Kakak tau aku sangat khawatir?'' tanya Erin dengan pelupuk matanya yang sudah penuh genangan.


Jimmy mengangguk, lalu meraih bahu Erin untuk ia bawa ke dalam pelukannya.


''Iya, Kakak tau. Maafkan Kakak.'' ucap Jimmy.


Erin menyeka airmatanya, lalu membalas pelukan itu.


Wanita itu memandangi keduanya dengan geram, ia menghentakkan kakinya ke lantai yang tidak bersalah.


''Arghh sial!! kenapa sudah pelukan!''


''Kalau bisa mendapatkan Jimmy kan bagus untuk namaku kedepannya, bahkan dia terlihat semakin tampan. Pasti akan banyak sekali yang iri denganku jika aku berhasil mendapatkannya.''


Jimmy mengurai pelukannya.


''Kakak sudah dalam perjalanan resmi menjadi milikmu, sayang, begitu juga dengan kamu.''


Jimmy menangkup kedua pipi Erin.


''Dia hanyalah pemeran yang sekedar numpang lewat. Jangan pedulikan hal-hal seperti itu, tidak penting. Jangan sampai hanya karena dugaan-dugaan yang tidak benar, justru membuat kita saling meragu.''


Erin pun akhirnya tersenyum tipis.


''Don't leave me.'' pinta Erin.


''Tidak akan. Karena wanita spesial ini sudah berhasil membuat hatiku terkunci.'' balas Jimmy lalu mencubit gemas hidung Erin yang mancung.


Erin langsung terkekeh.


''Ketularan kak Edgar.'' ujar Erin.


''Bagaimana Kakak nggak ketularan kalau hampir setiap hari selalu bersamanya. Mungkin ketika kita sudah menikah nanti pun, hal itu tidak akan berubah. Jadi, bersiap-siaplah, sayang haha''


''Akan ku protes kak Edgar kalau sampai menyita waktu Kakak untuk aku.'' balas Erin antusias.


''Sudah tidak sabar?'' goda Jimmy yang membuat Erin langsung merona.


''Apa? nggak!''


''Sudahlah, ayo kita pergi ke tempat lain saja, keburu waktu Kakak habis.'' ujar Erin mengalihkan pembahasan.


''Dasar kak Edgar pelit!'' gerutu Erin sembari membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kencang.


Jimmy hanya bisa menahan tawanya mendengar gerutuan dari sang kekasih. Ia langsung cepat masuk ke dalam mobil, karena benar apa yang dikatakan oleh Erin, waktu terus berjalan, masih ada tempat yang ingin ia datangi bersa kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2