Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 220 : Cinta Bikin Nggak Waras!


__ADS_3

Jimmy menyingkap tirai di kamarnya untuk melihat pemandangan sejuk pagi ini. Sejak kemarin perasaannya terasa sangat bahagia, senyumnya pun selalu sumringah.


Hal yang sama tengah dilakukan oleh Erin di dalam kamarnya. Keduanya sama-sama menyingkap tirai kemudian tersenyum menatap udara pagi di tempat yang berbeda.


Bahkan kemarin pria itu tampak beberapa kali tersenyum sendiri. Saat kemarin masih di kantor, di mobil, sedang mandi, makan dan lainnya. Edgar pun sampai menegurnya karena merasa sebal. Senyum Jimmy semakin membuat darah Edgar mendidih.


''Jangan sampai cinta membuat manusia kehilangan kewarasan diri!'' celetuk Edgar lirih, tapi, dengan intonasi yang menekan.


Jimmy pun langsung tersadar bahwa sejak tadi ia senyum-senyum sendiri dan Edgar menyadarinya.


''Maaf, Tuan.'' ucap Jimmy.


Jimmy terkikik geli sendiri mengingat kemarin. Lalu bergegas menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan badannya.


''Ah, padahal tuan Edgar sudah lebih dulu kehilangan kewarasan karena cinta.'' gumam Jimmy sembari memberikan shampo di rambutnya.


''Hmmm, mungkin karena sudah belajar dari pengalaman.'' gumamnya lagi terus mengguyurkan air.


''Perhatian juga calon kakak ipar.'' gumamnya lagi dan segera menuntaskan mandinya.


Di kamar Edgar dan Mentari, seperti biasa aktivitas yang rutin sebelum turun ke bawah untuk sarapan. Mentari memasangkan dasi dan juga memastikan bahwa penampilan sang suami sudah rapi.


''Suamiku yang selalu tampan ... ingat ya, tidak boleh marah-marah.'' rayu Mentari supaya Edgar tidak lupa.


Edgar terkekeh pelan sembari menarik bahu Mentari ke dadanya.


''Iya, di usahakan.'' jawab Edgar lalu memberikan kecupan mesra di kening Mentari.


Getaran di hati Erin semakin kuat tak karuan. Ia mondar-mandir lagi di depan ranjang. Pesan dari Jimmy membuatnya tidak tenang karena kekasihnya itu mengatakan sudah siap menuju kediaman Raymond.


Erin kembali berdiri di depan cermin dengan mendekatkan wajahnya.


''Aku sudah cantik belum?'' tanyanya pada cermin dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sehingga rambutnya yang di kuncir kuda itu ikut bergerak.


Hening, tak ada jawaban. Namanya juga bertanya pada benda mati. Erin menertawai dirinya sendiri.


''Jangan sampai aku jadi crazy, hiihhh amit-amit!!''


Erin langsung mengetuk-ngetuk pelan kepala lalu meja rias di depannya itu.


Gadis itu pun merapikan rambutnya dan juga bajunya yang tampak simpel karena untuk di rumah saja. Ia pun langsung keluar dari kamar karena sudah dipastikan sebentar lagi waktunya sarapan bersama.


Di waktu yang bersamaan, kedua kakaknya juga mau turun, Mentari langsung menyapa sang adik. Mereka bertiga pun turun secara bersamaan. Sementara Edgar masih seperti sebelumnya, diam saja.


''Maafkan Kakak, sebenarnya Kakak tidak marah. Hanya saja untuk membahas hubungan percintaanmu, Kakak belum siap. Sekalipun itu dengan seseorang yang sudah lama bersama kita.'' bathin Edgar lalu mendongak ke atas sembari menghembuskan nafas panjang ke udara.


Mentari mengajak Erin untuk berbicara, agar berkurang kesan canggung di antara kakak beradik itu. Ia berada di posisi tengah, tak ingin ada perselisihan.


Semua anggota keluarga sudah lengkap di meja makan untuk sarapan bersama.


Setelah selesai, mereka langsung berkumpul di ruang tengah. Mami duduk di samping menantunya. Wanita itu sangat memperhatikan kondisi kehamilan sang menantu.

__ADS_1


''Kapan jadwal kontrol ke dokter, sayang?'' tanya mami.


''Lusa, Mi.'' jawab Mentari diikuti senyumnya.


''Sama Mami aja ya, sayang.''


''Boleh, Mi, tapi ...,'' Mentari langsung menoleh ke arah Edgar yang ada di sisi kanannya.


''Sama aku, dan Mami boleh ikut.'' jawab Edgar.


''Oke.'' sahut mami.


Di tengah obrolan mereka, datanglah pak Dar yang memberikan informasi bahwa Jimmy telah datang. Dan informasi itu membuat Erin langsung mengangkat wajahnya dengan kedua mata membulat sempurna. Tetapi sesaat kemudian ia berhasil mengontrol ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja.


''Langsung ajak masuk kesini saja, Pak.'' ujar tuan Erick.


''Baik, Tuan.'' balas pak Dar.


Bukan ekspresi terkejut, karena Erin sudah tau bahwa Jimmy akan datang. Tetapi, setiap pertemuan setelah status berubah menjadi pasangan kekasih, perasaannya juga ikut berubah. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya saling berbenturan dengan hati.


Tak lama kemudian, Jimmy yang sudah berpakaian lengkap dan siap beraktivitas di kantor itu memasuki ruangan tersebut.


Jimmy membungkukkan badannya menghadap tuan Erick dan nyonya Neeta.


''Selamat pagi, Tuan ... Nyonya.'' ucap Jimmy.


''Pagi.. apa kabar, Jim?'' tanya tuan Erick dengan ramah.


''Silahkan duduk dulu, Jim.'' suruh mami.


''Terima kasih, Nyonya.'' balas Jimmy dengan tersenyum. Kemudian ia menatap ke arah Erin, ia pun menyapanya seperti biasa, sedangkan Erin justru hanya nyengir.


Mereka mengobrol singkat terlebih dahulu. Karena waktu terus berjalan, Edgar dan Jimmy langsung beranjak dari sofa. Edgar berjalan lebih dahulu dengan di antar oleh Mentari ke depan. Sementara Jimmy masih bertahan di ruang tengah.


''Maaf Tuan, Nyonya.'' ucap Jimmy.


Erin langsung mendelik. ''Apa yang mau kak Jimmy katakan pada mami dan papi?'' tanyanya dalam hati.


''Ada apa, Jim?'' tanya tuan Erick.


''E ... apakah nanti malam Tuan dan Nyonya ada kegiatan di luar?'' tanya Jimmy.


Erin mendengar pertanyaan Jimmy dengan sangat jelas. Ia menatap kedua orangtuanya dan juga Jimmy dengan jantungnya yang berdegup lebih kencang.


''Sepertinya kami tidak akan kemana-mana, Jim. Kami masih mau istirahat dulu.'' jawab tuan Erick dan mendapatkan setuju dari mami.


Jimmy tersenyum lega.


''E ... jika memang tidak ada kesibukan, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada Tuan dan Nyonya secara langsung. Dan tidak mungkin saya katakan dengan waktu yang terburu-buru seperti sekarang.'' jelas Jimmy.


''Sepertinya hal itu sangat penting, Jim. Wajah kamu sangat serius sekali.'' balas mami sedikit becanda.

__ADS_1


Jimmy tersenyum.


''Ya, datang saja nanti malam, kami tidak akan pergi.'' sambung tuan Erick.


Jimmy mengangguk.


''Terima kasih, Tuan, Nyonya ... saya permisi.'' ucap Jimmy dengan sopan yang langsung mendapatkan balasan anggukan kepala dari calon mertuanya itu.


Tak lupa juga Jimmy menyapa Erin yang langsung nyengir karena gugup.


Sedangkan di luar, Edgar yang sudah tidak sabar karena Jimmy belum juga muncul, hendak menyusulnya ke dalam. Tetapi Mentari terus menahannya, karena ia yakin Jimmy sedang menyampaikan hal yang serius. Hal apapun itu, Mentari juga belum bisa memastikan.


''Jangan-jangan Jimmy lagi merayu Erin!'' kesuh Edgar.


Mentari menepuk keningnya sendiri.


''Jangan aneh-aneh deh, Mas.'' balas Mentari.


Edgar mendengus kesal. Saat yang bersamaan, Jimmy muncul dari dalam.


''Itu dia, Jimmy sudah datang.'' ujar Mentari.


Edgar langsung menoleh dengan memberikan tatapan tajam.


''Habis ngapain?!'' tanya Edgar lirih dengan tatapan tajamnya. Ia tidak mau pertanyaannya di dengar oleh orang lain.


''Sedang pendekatan dengan calon mertua, Tuan.'' jawab Jimmy lirih, kemudian tersenyum lebar.


''Mari, Tuan. Sepertinya sudah semakin siang.'' lanjut Jimmy sebelum Edgar menimpuk lengannya.


Mentari terkekeh melihat ekspresi kegeraman di wajah Edgar, namun, ia menutupi bibirnya dengan telapak tangannya.


''Ya sudah, Mas, sana berangkat. Semangat kerjanya ya, i love you sekebon.'' ucap Mentari.


Meskipun paginya dibuat mendidih oleh Jimmy, Edgar tetaplah bersikap manis pada sang istri.


''Jalan dulu ya, sayang.'' ucap Edgar lalu menciium kening Mentari dan beralih ke perut yang sudah tampak menonjol itu.


''Hati-hati, Pappaaa.''


Edgar menciium kening Mentari lagi, lalu segera berjalan ke arah Jimmy.


Jimmy menyaksikan adegan mesra itu sembari membayangkan masa depannya sendiri dengan sang kekasih. Bayangannya membuat ia senyum-senyum sendiri.


''Cinta bikin nggak waras!'' celetuk Edgar lalu masuk ke dalam mobil.


Suara itu langsung membuat Jimmy tersadar dan masuk ke dalam mobil.


''Walaupun ketemu, jangan macam-macam! ingat perjanjian!'' tegas Edgar.


''Baik Tuan.'' jawab Jimmy langsung menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2