Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 214 : Jika Kalian Masih Dalam Golongan Manusia


__ADS_3

Setelah melalui proses operasi dan masa pemulihan beberapa hari di rumah sakit, akhirnya hari ini Rita diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Namun, mengingat kesehatannya yang belum benar-benar pulih, Mentari meminta bu Titi untuk menemani Rita terlebih dahulu, meskipun awalnya Rita sempat menolak karena merasa sudah terlalu banyak merepotkan.


Awalnya Mentari meminta Rita untuk di ajak pulang ke rumah lamanya, tetapi Rita menolak dan Mentari tidak bisa memaksakan. Namun, mengingat Rita sendiri di rumah tersebut membuat Mentari tidak tega membiarkan begitu saja. Dan akhirnya Rita mengiyakan bu Titi yang ikut ke rumahnya karena Mentari terus menegaskan tidak akan membiarkannya sendirian sampai benar-benar sehat.


Bu Titi sudah lebih dulu datang ke rumah Rita dengan diantar oleh pak Ramlan, tentu saja sudah memiliki izin dari pemilik rumah. Sedangkan Rita kembali ke rumahnya bersama Edgar dan Mentari. Jimmy sedang mendapatkan tugas dari Edgar untuk sebuah pertemuan dengan rekan bisnis.


''Kamu harus tetap menjaga kesehatanmu ya, Rit.'' ujar Mentari saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Mentari menoleh ke belakang untuk berbicara dengan Rita. Rita langsung mengangguk.


''Bu Titi jadi datang ke rumah kah?'' tanya Rita.


''Iya, beliau sudah dirumahmu. Beliau sudah dari tadi pagi diantar sama pak Ramlan.'' jawab Mentari.


''Aku selalu merepotkan banyak orang ya.'' keluh Rita lirih. Namun, Mentari mendengar suara itu dengan jelas.


''Buang jauh-jauh pikiran negatifmu.'' ucap Edgar dengan tegas.


Rita terdiam karena terkejut mendapatkan respon dari Edgar. Ia langsung menunduk dalam. Mentari melirik ke suaminya dan mereka pun semuanya sama-sama diam.


Mobil yang dikendarai oleh Edgar sudah memasuki komplek perumahan tempat tinggal Rita. Jalanan komplek terlihat sepi karena mayoritas penghuninya adalah para pekerja yang beraktivitas di luar sana dan biasa kembali ke rumah minimal sore hari.


''Siapa yang datang ke rumahmu, Rit?'' tanya Mentari.


Di halaman rumah Rita yang sempit itu terdapat sebuah mobil berwarna putih yang terparkir dengan rapi.


Rita langsung melongok ke arah rumahnya dan menelisik mobil siapa itu.


''Ma-ma..,'' gumam Rita kemudian langsung menutup mulutnya karena tidak percaya.


''Mama?'' pekik Mentari dan Edgar bersamaan dengan menatap Rita lalu kompak beralih menatap mobil tersebut.


Rita mengangguk samar-samar.


''Mobilnya sama, aku sangat mengenali.'' jawab Rita lirih.


Ketiganya langsung membuka pintu masing-masing, Mentari bergegas untuk membantu Rita turun dari mobil.


''Hati-hati, Rit.'' ucap Mentari sambil memegangi lengan Rita.


''Ah, iya.''


Wanita paruh baya muncul dari dalam rumah itu dengan langkah cepat saat melihat kedatangan mobil Edgar.


''Syukurlah Mbak Rita sudah sembuh.'' ucap bu Titi dengan tersenyum senang dan membantu Rita.


''Iya, Bu, karena kalian selalu mendo'akanku.'' balas Rita.


''Siapa di dalam, Bu?'' tanya Rita yang kembali fokus.


''Ituu, beliau bilang mamanya Mbak Rita, begitu.'' jawab bu Titi sedikit ragu.


Rita semakin tidak sabar untuk memastikan seseorang yang sudah ada di dalam sana.


Edgar dan Mentari saling menatap, lalu mengikuti Rita yang sudah lebih dulu masuk ke rumah dengan dibantu oleh bu Titi.

__ADS_1


''Rita..,''


Rita dan wanita yang sudah berada di dalam rumah itu sama-sama saling menatap.


''Mama..,''


Wanita itu datang bersama dengan keluarganya. Namun, yang lain masih diam dengan wajah menunduk. Apalagi saat melihat kedatangan Edgar dan Mentari yang muncul di belakang Rita.


''Maafkan Mama.''


''Maafkan Mama.''


Bu Titi pun langsung meninggalkan ruang tamu tersebut dan membiarkan keluarga itu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang tidak ia ketahui sama sekali.


Wanita itu tidak bisa membendung air matanya ketika kembali bertemu dengan anak angkatnya. Perasaan bersalah terus menyelimuti hatinya atas keputusan untuk melepaskan Rita sebagai anaknya.


Anak bayi tanpa kedua orangtua yang ia asuh dengan penuh kasih sayang. Anak bayi tanpa dosa yang ia janjikan akan dirawat dan dijaga sampai kapanpun. Dengan tega ia lepas begitu saja demi anak kandung yang belum bisa berpikir bijak.


Sebagai orangtua, ia merasa gagal. Seharusnya bisa membuat anak kandungnya berpikir bijak. Bukan malah menuruti egonya yang menyakiti hati Rita. Namun, semua itu sudah terlanjur. Sekarang tersisa penyesalan.


Flashback on


Dua hari yang lalu, seseorang mendatangi kediaman ibu angkat Rita, dan memberikan informasi tentang Rita yang sedang tidak baik-baik saja.


Ya, Jimmy yang datang atas perintah dari Edgar dan Mentari. Sebelum mendapatkan perintah dari Edgar dan Mentari pun sebenarnya Jimmy juga memiliki pikiran yang sama untuk mencari keberadaan keluarga Rita.


Keluarga itu langsung terbengong melihat foto-foto Rita yang Jimmy berikan dengan amplop coklat.


''Anda yang mengangkatnya menjadi anak, tanpa dia minta. Itu artinya anda harus siap bertanggung jawab atas kehidupannya, bukan?''


''Dengan memberikan rumah itu sebagai kenangan-kenangan, tidak cukup buat seorang anak. Anak hanya butuh orang-orang disekitarnya selalu bersama.''


"Bukankah dia tidak memiliki orangtua kandung lagi?"


"Dan kalianlah yang menjanjikan sebuah kasih sayang itu?"


''Apa dia membuat kesalahan yang besar sehingga kalian tega melepaskan begitu saja?''


Semua anggota keluarga itu hanya bisa diam.


''Dan kalian! sebelum kalian lahir di dunia ini. Kakak kalianlah yang sudah lebih dulu memberikan kebahagiaan bagi ibu kalian.''


''Kenapa kalian tidak berpikir sampai sana?''


Lagi-lagi, mereka hanya menunduk.


Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam.


''Rita keluar dari rumah sakit lusa. Jadi, silahkan pikirkan baik-baik apa yang sudah saya sampaikan.''


''Jika kalian masih dalam golongan manusia, maka, kalian akan meminta maaf pada Rita!''


''Permisi!''


Flashback off

__ADS_1


Rita dan mama angkatnya saling berpelukan lama. Satu persatu adik-adiknya dan juga ayah angkatnya menyusul untuk mendekati Rita.


''Kakak kangen sama kalian.'' ucap Rita dengan air mata yang semakin tidak terbendung.


''Kakak boleh marahin aku, Kakak boleh kalau mau tampar aku sekarang, Kak.'' ujar adik perempuannya itu dengan menitikkan air mata.


Rita menggeleng, bibirnya bergetar dan tidak bisa menjawab. Ia langsung kembali merangkul kedua adiknya itu.


Mentari ikut menangis tanpa suara di dalam dekapan Edgar. Ia yakin orangtua angkat Rita sangat menyayangi teman baiknya itu, hanya saja ego anak kandungnya sendiri yang membuat mereka tidak bisa membuat keputusan yang adil.


''Ah, iya, kenapa masih pada berdiri?''


''Silahkan duduk.'' ujar Rita sembari mengusap wajahnya yang basah.


Rita duduk di sofa dengan dibantu oleh adik-adiknya. Ia tak menolak karena sangat senang dengan pertemuan ini.


''Rita, kamu sangat beruntung bisa menjadi teman dekat dari beliau.'' ujar ayah angkat Rita dengan menunjuk ke arah Mentari.


''Iya, Pa.'' jawab Rita ikut menatap Mentari dengan senyum.


''Beliau yang menyadarkan kami semua untuk bersikap sebagaimana normalnya manusia yang harus bertanggung jawab atas keputusan yang sejak awal kami ambil, yaitu memilihmu untuk menjadi anak kita.''


Meskipun pria itu bukanlah orang yang pertama menjadi ayah angkatnya, ia tetap menerima keberadaan Rita.


''Maksudnya?'' tanya Rita belum mengerti. Ia menatap Mentari dan keluarganya secara bergantian.


''Saya meminta Jimmy untuk mencari keberadaan keluarga kamu.'' jawab Edgar.


''Ha?!'' pekik Rita.


Mentari bergeser untuk duduk lebih dekat dengan Rita.


''Kami ingin kamu selalu bahagia, Rit. Dan aku berharap kalian menjadi keluarga yang utuh, menjadi keluarga yang saling memberikan dukungan.'' ujar Mentari.


Kedua mata Rita kembali berkaca-kaca, ia langsung memeluk Mentari.


''Pelan-pelan, Rit. Nanti kena bekas jahitan kamu.''


''Aku lupa.'' sesal Rita yang langsung mengurai pelukannya itu.


"Ternyata kalian yang mengatur semua ini, terima kasih." ucap Rita.


Mentari mengangguk dan tersenyum sembari mengusap pipi Rita yang masih tirus.


''Maaf, saya tidak bisa berlama-lama disini, karena istri saya harus banyak istirahat." tutur Edgar.


"Kita ketemu lagi di lain waktu ya, Rit." ujar Mentari lirih.


"Terima kasih sekali lagi, Bu Bos." ucap Rita yang memaksakan untuk tertawa kecil.


"Cepat sehat, biar ketemu pangeran tampanmu." bisik Mentari.


Mereka langsung berdiri, kecuali Rita karena dilarang oleh Mentari.


"Bu Titi nanti sore akan di jemput sama pak Ramlan. Mama kamu akan tinggal disini." ujar Mentari.

__ADS_1


Rita mengangguk.


Mentari bernafas sangat lega hari ini. Ketika masuk ke dalam mobil, ia langsung memeluk Edgar dengan sangat erat. Ia pun berkali-kali mengucapkan terima kasih pada suaminya itu.


__ADS_2