Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 138 : Teruslah Bersinar Disampingku


__ADS_3

''Menikah itu seru nggak Kak?'' tanya Erin dengan hati-hati.


''Ha? nikah?? serius Erin tanya tentang menikah?'' ujar Mentari meyakinkan adik iparnya itu.


Erin langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir agar Mentari mengurangi volume suaranya


Sssttttt!


''Jangan keras-keras dong Kak.. nanti si manusia es lilin denger.'' ujar Erin.


Mentari juga spontan karena pertanyaan itu sangat membuatnya terkejut.


Keduanya melihat arah pintu kamar mandi, setelah memastikan masih tertutup, keduanya kembali melanjutkan obrolannya.


''Kenapa Erin bertanya tentang menikah?'' tanya Mentari dengan menatap kedua bola mata adik iparnya itu. Apakah ada sesuatu yang membuatnya mengerti tentang fakta baru.


''E... itu, ya pengen tau aja sih Kak hehe. Suatu saat kan aku pasti menikah dong, nggak mungkin jomblo terus.'' ujar Erin.


Cara penyampaian Erin membuat Mentari menahan tawanya. Ia tau kalau adik iparnya itu tengah merahasiakan sesuatu hal.


Keduanya berbicara dengan pelan, karena takut dinding bisa mendengar. Karena kalau sampai Edgar mendengar pertanyaan itu, bisa-bisa ia di ulek bareng gado-gado.


''Kalau kamu lihat, pernikahan Kakak seru apa nggak?'' tanya Mentari.


Erin nampak berpikir sejenak.


''Em.. seru sih, aku tau kalian saling menyayangi. Meskipun begitu, kak Edgar bucin banget sama Kakak. Tapi, konflik kalian berat, apalagi bawa-bawa masalalu. Ahh itu bikin tensi naik.'' jawab Erin.


Mendengar jawaban Erin membuat Mentari tersenyum.


''Itulah menikah. Wajib disegerakan kalau kita benar-benar sudah siap. Siap mental dan juga materi itu penting, bukan matrealistis ya, tapi, Kakak bicara fakta, dan kita harus tau nih tujuan menikah itu untuk apa. Jangan sampai menikah karena buru-buru atau diburu-buru. Terdesak ataupun didesak. Terpaksa ataupun dipaksa. Apalagi cuma karena lihat teman dekat kita menikah, mantan kita menikah, eh kitanya kepanasan akhirnya cuma ikut-ikutan tanpa kesiapan. Itu bahaya untuk dirimu sendiri.''


''Cukup Kakak-kakak kamu yang mengalami situasi terdesak seperti itu.'' sambung Mentari sebelum di protes sama Erin

__ADS_1


''Setiap perjalanan selalu memiliki kisahnya masing-masing.''


''Tapi, Kak Mentari hebat ya, bisa sabar menghadapi semua ini.''


''Aku..''


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Erin langsung berhenti dan menunda melanjutkan kalimatnya.


''Besok lagi ya Kak, kita harus ngobrol banyak. Aku tagih pokoknya. Daaahhh.. good night..'' ucap Erin yang cepat-cepat berdiri dari sofa.


Melihat sang adik masih berada di dalam kamarnya membuat Edgar langsung menggeleng.


''Erin.. ini sudah malam, buruan balik ke kamar kamu sendiri. Ingat Kak Mentari masih hamil.''


''Iya Kakakku sayang, ini mau keluar.'' balas Erin.


''Daaaa Kak Mentari, daaaa Kak Edgar yang tampan.. muaaahhh, I love you..'' seru Erin lalu menutup pintu kamar kakaknya dengan kencang.


''Kesambet apa tu anak.'' gerutu Edgar


"Huusttt!"sergap Mentari.


Edgar mengunci pintu kamarnya. Ia tidak berniat melakukan aktivitas lagi diluar kamar karena sudah seharian beraktivitas. Malam pun ia harus pulang telat, waktunya untuk bersama dengan Mentari.


''Aku merindukanmu, sayang.'' ucap Edgar.


Edgar mendudukkan Mentari di pangkuannya. Ia pun mengusap lembut perut Mentari dengan senyum mengembang diwajahnya.


''Anak-anak Papa, maafkan Papa harus sering meninggalkan mama dirumah. Jaga Mama ya sayang..''


''Iya Pappaaa..'' jawab Mentari meniru suara anak kecil.


''Wahh kalian sudah bisa berbicara ya? keras sekali kalian Nak..'' canda Edgar yang berujung menggoda sang istri. Tadinya pura-pura mendengar di perut, kepalanya perlahan bergerak ke atas sehingga membuat Mentari sedikit terkejut.

__ADS_1


''Mas ih suka bikin kaget.'' protes Mentari.


''Gemes..'' ujar Edgar


''Mas, pake dulu bajunya.'' suruh Mentari.


''Nggak sabar lihat suaminya buka baju ya?'' goda Edgar sembari menurunkan Mentari.


''Ishh isshhhh mesum sekali anda Tuan Edgar..'' ujar Mentari dengan mengalihkan pandangannya.


Hahaha..


Edgar terkekeh sendiri sembari mengenakan pakaian tidurnya.


Pukul 22.00 keduanya masih terjaga. Tidak ada yang akan dilakukannya, Edgar masih kasihan kepada Mentari. Meskipun ada sesuatu yang sangat mendesak untuk keluar.


Mereka saling bercerita sebelum tidur. Hal yang harus rutin dilakukan, karena terkadang hancurnya sebuah hubungan apapun karena kurangnya komunikasi.


''Aku mencintaimu, Mentariku. Teruslah bersinar di sampingku, selamanya.'' ucap Edgar lalu memberikan kecupan lama di kening Mentari.


Mentari langsung mengeratkan pelukannya dengan kedua mata terpejam. Seperti ada alunan musik yang mengiringi kemesraan.


''Aku juga mencintaimu, suamiku. Teruslah memberikan energi agar aku terus memberikan sinar dihidupmu.'' balas Mentari.


...•••••••••••••••••...


Vote yuk Kak biar novel ini tidak tenggelam 🤭


Dan yang ingin berteman dengan Cimai di sosial media, ini akun Cimai ya 🙏


FB : Ci Author


IG : cimai_author

__ADS_1


__ADS_2